Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 2 - Sarapan Bersama
Begitu Ashilla menyatakan tekadnya untuk menikahi pria yang diinginkan ayahnya sebagai menantu, senyum tipis langsung terbit di wajah pria itu.
“Bagus,” ujarnya puas. “Ayo kita sarapan bersama.”
Di meja makan semua orang sudah duduk disana kecuali Kaison.
Ashilla berdiri di tangga dan memandang orang-orang itu, sejenak ia merasakan kebencian di dadanya mulai melonjak tak terkendali lagi, dan tangannya yang memegang pegangan tangga tiba-tiba mengencang.
Melihat Ashilla keluar, Laura–ibu tirinya segera tersenyum dan bertanya dengan ramah, "Ashilla, bagaimana tidurmu?"
Ia menatap wanita yang sedang tersenyum palsu padanya, rasa mual menyeruak dari lubuk hatinya, menyebabkan perutnya sakit, ia menarik napas dalam-dalam dan menahan keinginan untuk muntah.
Setelah duduk barulah ia menjawab "Lumayan.."
Ayahnya yang beberapa hari belakangan tidak dalam suasana hati yang baik karna penolakan Ashilla untuk menyetujui ide sang ayah kini duduk dengan wajah sumringah.
Ia secara pribadi menyerahkan sepotong roti kepada Ashilla, memintanya untuk makan lebih banyak.
"Kenapa Kaison belum bangun? Apa anak itu bermain game sampai tengah malam setiap hari, apa kau tidak mengawasinya?" Setelah memerankan drama ayah penyayang dan anak berbakti, Miller mulai bertanya tentang putranya.
Laura tersenyum, "Sekarang masih libur musim panas, tidak ada salahnya membiarkan dia bermain lebih banyak, bukankah Kaison mengatakan beberapa waktu lalu bahwa dia ingin mendirikan perusahaan game dengan teman-temannya yang dari keluarga Yang dan Widson? Dia sedang melakukan hal-hal yang serius sekarang."
Camila tertawa saat mendengarnya, "Bu, apakah Ibu masih percaya padanya? Dia mengatakan hal-hal yang baik, tetapi sebenarnya dia hanya mencari-cari alasan untuk bermain game. Kemarin aku baru saja mengisi ulang hampir 100.000 yuan untuk game, yang hampir cukup untuk membeli tas. Sungguh pemborosan uang."
Wajah Miller tiba-tiba berubah buruk saat mendengarnya, hal itu membuat Laura menatapnya dengan saksama, "Kau biasanya menghabiskan lebih banyak uang untuk pakaian dan tas daripada Kaison. Beraninya kau mengatakan bahwa orang lain boros."
Kemudian dia berkata kepada Miller, "Kaison mengatakannya dengan serius saat itu. Aku rasa dia tidak hanya membuat alasan. "
Miller sendiri tidak benar-benar marah, ia hanya berkata, "Jangan biarkan ia begadang di masa mendatang. Bagaimana mungkin kita bisa hidup tanpa dia setiap pagi?" dan begitulah masalah itu berlalu.
Melihat ini, Camila melengkungkan bibirnya karena tidak puas, saat dia hendak mengatakan sesuatu namun Laura sudah berbicara kepada Ashilla terlebih dahulu, "Ashilla, ada pesta malam ini. Bibi akan mengantarmu ke sana, ya?"
Ashilla benar-benar tidak ingin berbicara dengan orang-orang ini lagi, ia hanya mengangguk ketika mendengarnya, ekspresinya ini membuat Miller berfikir bahwa ia adalah gadis yang pemalu, namun tidak papa, setidaknya ia patuh pada orangtuanya.
Ketika Camila mendengar kata 'pesta', ia tidak dapat menahan diri untuk tidak berkata kepada Laura, "Apakah nanti akan ada penata rambut yang datang ke rumah kita, kan? Bisakah ia menata rambutku juga?"
Laura sedikit mengernyit, "Hanya Ashilla yang menghadiri jamuan makan hari ini, tidak bisakah kau menata rambut di hari lain?"
Camila mendengus tidak puas, "Biarpun di tata dengan secantik mungkin, dia tetap orang desa kan?"
"Setidaknya aku lebih cantik darimu," jawab Ashilla dengan enteng, jawaban itu membuat semua orang melirik satu sama lain, mereka tak percaya dengan jawaban Ashilla. Pasalnya selama ini gadis itu selalu diam saat di tindas mereka.
"K-kau!," Camila mencengkram gelasnya dengan kuat, bersiap untuk melempar air ke wajah Ashilla yang menatapnya dengan santai.