NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1&2

Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur Benua Arcapada. Langit masih berupa hamparan kanvas abu-abu yang perlahan disapu warna ungu pucat.

Di ketinggian pegunungan barat, Perguruan Lembah Kabut masih terlelap dalam selimut embun yang tebal dan dingin.

Suasana hening, hanya terdengar gemericik air dari pancuran bambu di taman tengah dan suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah berbatu.

Bara menikmati keheningan ini.

Baginya, pagi buta adalah waktu paling jujur di dunia. Tidak ada kepalsuan, tidak ada tatapan merendahkan, dan tidak ada hiruk-pikuk politik antar murid.

Pemuda itu duduk di tepi undakan batu di belakang dapur umum perguruan. Di tangannya, ada kain lap kasar yang sudah dekil. Dengan gerakan pelan dan berirama, ia menggosok sepasang Kujang yang tergeletak di pangkuannya.

Kujang itu tampak menyedihkan. Logamnya menghitam, penuh bintik karat, dan tidak memiliki pamor yang berkilau selayaknya senjata pusaka (Wesi Aji).

Bagi mata orang awam, itu hanyalah besi tua yang seharusnya sudah dilebur menjadi cangkul.

"Kau menggosokku terlalu keras hari ini, Mitra," sebuah suara berat berdengung di dalam kepala Bara. Suara itu terdengar purba, seperti gesekan dua lempeng bumi.

Bara tidak menghentikan gerakannya. Ia menjawab dalam hati, nadanya datar seperti permukaan danau yang tenang.

"Diamlah, Garuda. Kalau aku tidak merawat wadah ini, kau akan kehujanan."

"Hmph. Wadah rongsokan," cemooh Hyang Garuda dari balik segel kesadarannya.

"Dulu, aku tidur di kawah gunung berapi, beralaskan emas cair. Sekarang aku terjebak di dalam besi karatan milik bocah manusia yang bahkan belum mencapai tingkat Prana Vayu¹."

Bara tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Bersabarlah. Pagi ini dingin, kau butuh sedikit kehangatan dari gesekan kain ini."

Bara meletakkan kain lapnya. Ia mengangkat Kujang itu, mensejajarkannya dengan cahaya matahari yang baru saja mengintip dari celah dedaunan.

Meski terlihat rusak, keseimbangan senjata itu sempurna. Bara tahu, senjata ini memilihnya bukan karena ia kuat, tapi karena ia mengerti arti menunggu.

Sebagai murid tingkat Adhikara² tahap dasar—setidaknya itulah yang diketahui orang-orang—tugas harian Bara bukanlah berlatih jurus-jurus memukau, melainkan pekerjaan kasar: membelah kayu, mengangkut air, dan membersihkan pelataran.

Ia berdiri, menyisipkan kedua Kujang itu ke pinggangnya yang tertutup kain ikat sederhana. Langkah kakinya ringan, nyaris tanpa suara saat ia mengangkat dua ember kayu berisi air penuh. Tidak ada air yang tumpah sedikitpun, meski ia berjalan di atas bebatuan licin.

Sebuah kontrol fisik yang mengerikan, namun tersembunyi dalam kemasan pekerjaan babu.

Di sisi lain perguruan, di asrama murid elit, suasana jauh berbeda.

Arya membuka matanya saat pelayan pribadinya menuangkan teh melati hangat ke cangkir porselen.

Sebagai pewaris muda dari Wangsa Agnimara³, Arya terbiasa dengan kenyamanan. Bahkan di perguruan terpencil ini, kamarnya dilapisi sutra dan dupa wangi cendana.

Ia bangkit dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya. Hawa panas tipis menguar dari pori-pori kulitnya, tanda bahwa tenaga dalamnya meluap-luap.

"Tuan Muda, ujian kenaikan tingkat akan dimulai tiga hari lagi," ucap pelayannya sambil membungkuk, menyerahkan jubah latihan berwarna merah menyala dengan bordiran naga api.

Arya mendengus pelan, mengambil cangkir tehnya. "Ujian? Itu hanya formalitas. Dengan tingkat Wira Sukma⁴ tahap awal yang kucapai bulan lalu, tidak ada murid di angkatan ini yang bisa menatap mataku lebih dari sepuluh detik."

Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah halaman belakang perguruan. Matanya menyipit saat melihat sosok berpakaian lusuh sedang mengangkut air di kejauhan.

Bara.

Entah kenapa, setiap kali melihat pemuda yatim piatu itu, darah Arya mendidih. Bukan karena Bara kuat—semua orang tahu Bara adalah sampah tanpa bakat—tapi karena sikapnya.

Bara tidak pernah menunduk saat Arya lewat. Bara tidak pernah terlihat takut, marah, atau iri. Pemuda itu hanya... ada. Seperti batu kali yang tidak peduli pada arus sungai yang deras. Dan bagi seseorang yang gila hormat seperti Arya, ketidakpedulian adalah penghinaan tertinggi.

"Siapkan pedangku," perintah Arya dingin. "Aku ingin pemanasan pagi ini."

Bara baru saja meletakkan ember terakhir di bak penampungan dapur ketika bayangan panjang menutupi tubuhnya.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Hawa panas yang tidak terkontrol dan aroma parfum mahal yang menyengat sudah cukup menjadi penanda.

"Rajin sekali, Babu," suara Arya terdengar ramah, namun penuh bisa.

Bara membalikkan badan perlahan. Ia menepuk-nepuk debu di celananya, lalu menatap Arya. Tatapan Bara tidak tajam, namun teduh dan dalam.

"Selamat pagi, Tuan Muda Arya. Air untuk mandi pagi anda sudah siap."

Arya melangkah maju, diikuti dua pengikut setianya yang cengar-cengir. Ia menendang pelan salah satu ember kosong di dekat kaki Bara. Ember itu menggelinding jauh, menimbulkan suara gaduh yang memecah keheningan pagi.

"Aku tidak butuh air," kata Arya, kini berdiri hanya satu jengkal di depan wajah Bara.

 Tinggi mereka hampir sama, namun aura Arya menekan dan agresif, sementara Bara tenang dan kokoh. "Aku dengar kau mendaftar untuk ujian kenaikan tingkat lusa nanti? Apa kau bosan hidup?"

Bara diam sejenak. Ia tidak melihat ke arah Arya, melainkan ke arah ember yang menggelinding tadi.

"Ember itu aset perguruan, Tuan Muda. Jika pecah, bendahara akan memotong jatah makan siang saya," jawab Bara tenang, nadanya seolah sedang mendiskusikan cuaca.

Wajah Arya memerah. Lagi-lagi. Bara tidak menanggapi provokasinya. Bara tidak marah. Bara hanya peduli pada ember.

"Kau..." geraham Arya bergemeretak. Tangan kanannya mulai berpendar merah, uap panas muncul dari telapak tangannya.

"Kau pikir kau siapa bersikap sok tenang di depanku? Dengan Kujang karatan di pinggangmu itu, kau hanya akan mempermalukan Perguruan!"

Bara akhirnya menatap mata Arya. Ada kilatan aneh di mata Bara, sesuatu yang membuat insting purba di dalam diri Arya berteriak waspada untuk sepersekian detik.

"Saya hanya murid bodoh yang mencoba nasib, Tuan Muda," ucap Bara, suaranya memberat, mengandung wibawa yang ganjil untuk seorang pelayan.

"Sebaiknya anda simpan tenaga api itu. Membakar sampah di pagi hari hanya akan membuat seragam mahal anda bau asap."

Arya terdiam, tangannya yang berpendar perlahan meredup karena bingung. Kalimat itu terdengar sopan, tapi rasanya seperti tamparan keras di pipi.

Sebelum Arya sempat membalas, lonceng besar di aula utama berdentang tiga kali. Tanda kumpul pagi.

"Kita lihat nanti di arena, Sampah," desis Arya, meludah ke tanah di dekat kaki Bara, lalu berbalik pergi dengan jubah merahnya yang berkibar angkuh.

Bara menghela napas panjang. Ia berjalan santai memungut ember yang tadi ditendang Arya.

"Anak itu punya bakat," komentar Garuda di kepalanya, terdengar bosan. "Api-nya lumayan murni untuk ukuran manusia."

"Dia hanya anak manja yang belum pernah tersandung batu," balas Bara dalam hati sambil memeriksa kondisi ember itu. "Tapi dia benar satu hal. Ujian nanti akan merepotkan."

Bara menengadah menatap langit yang kini mulai terang. Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma hutan dan tantangan yang akan datang. Ia tersenyum tipis, lalu berjalan menuju dapur, seolah ancaman dari pewaris keluarga terkuat itu tak lebih penting dari menu sarapan pagi ini.

Catatan Kaki (Glosarium Bab 1)

 1. Prana Vayu: Tingkatan kedua dalam kultivasi, di mana seorang pendekar mulai bisa mengolah napas menjadi energi internal.

 2. Adhikara: Tingkatan pertama (dasar). Fokus pada pembentukan otot, tulang, dan stamina fisik. Belum bisa menggunakan tenaga dalam untuk menyerang.

 3. Wangsa Agnimara: Klan/Keluarga bangsawan pengendali api. Salah satu dari empat kekuatan besar yang mendominasi dunia persilatan.

Wira Sukma: Tingkatan ketiga. Pendekar di tahap ini sudah bisa memadatkan energi menjadi aura pelindung atau memperkuat senjata.

Bab 2: Riak di Kolam Tenang dan Tamu dari Kota Raja

Matahari perlahan merangkak naik, menyinari atap-atap sirap kayu ulin Perguruan Lembah Kabut. Cahaya paginya tidak menyengat, melainkan lembut menyapa embun yang masih bergayut manja di ujung daun pakis.

Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat dibandingkan di dunia luar. Angin pegunungan membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi bunga sedap malam yang mekar terlambat.

Namun, ketenangan pagi itu hanyalah selubung tipis. Di balik dinding-dinding kayu dan pilar batu, ratusan ambisi sedang diasah, ratusan ego sedang dipupuk, dan takdir-takdir besar sedang menunggu giliran untuk bertabrakan.

Perpustakaan Pustaka Loka adalah bangunan tertua di perguruan ini. Konon, bangunan ini didirikan di atas reruntuhan candi pemujaan kuno yang sudah ada sebelum Catur Wangsa¹ menguasai Benua Arcapada.

Aroma di dalamnya khas: perpaduan antara bau kertas tua, tinta fermentsi, dan debu sejarah yang mengendap selama berabad-abad.

Bagi kebanyakan murid, tempat ini membosankan. Mereka lebih memilih memamerkan otot di pelataran latihan atau menggoda murid perempuan di kantin. Tapi bagi Bara, tempat ini adalah sanctuarium.

Bara berdiri di antara rak-rak kayu jati yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Tangannya memegang sebuah gulungan lontar yang sudah rapuh, berjudul Babad Perang Bubat: Jatuhnya Sang Garuda.

Matanya menelusuri aksara Kawi² yang tertulis di sana.

> "Dan pada masa itu, Hyang Garudeya mengamuk tanpa alasan, membakar tiga kerajaan pesisir menjadi abu dalam satu malam. Keserakahannya akan emas dan darah membuatnya buta, hingga Sembilan Dewa turun tangan untuk membelenggunya..."

>

Bara berhenti membaca. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum sinis yang samar.

"Pembohongan publik," suara berat itu mendesis di dalam kepalanya. "Penulis sejarah manusia memang punya imajinasi yang menggelikan."

Bara menutup gulungan lontar itu perlahan, sangat hati-hati agar tidak merusak serat daunnya yang sudah tua. "Mereka menulis apa yang ingin mereka percayai, Garuda.

 Pemenanglah yang memegang pena sejarah."

"Aku tidak membakar kerajaan itu karena serakah," gerutu Garuda, nadanya penuh dengan kekesalan yang sudah terpendam ribuan tahun. "Raja mereka mencuri telurku untuk dijadikan ramuan keabadian. Apa yang kau harapkan? Bahwa aku akan diam saja dan mengirimkan surat protes?"

"Tentu saja tidak," jawab Bara dalam hati, sambil mengembalikan gulungan itu ke tempat semula. "Kau membakar mereka. Dan karena kau kalah, kau jadi penjahatnya. Itu hukum alam."

Bara berjalan menyusuri lorong perpustakaan yang sunyi. Langkah kakinya tidak menimbulkan bunyi, sebuah kebiasaan yang terbentuk dari tahun-tahun menjadi "bukan siapa-siapa".

Dia tidak menyembunyikan hawa keberadaannya, dia hanya menyelaraskannya dengan lingkungan sekitar. Seperti bunglon yang menyatu dengan dahan pohon.

Di dunia ini, kecerdasan seringkali dianggap remeh jika tidak disertai dengan otot yang besar. Tapi Bara tahu, otot tanpa otak hanyalah daging yang menunggu untuk dicincang. Selama sepuluh tahun terakhir, di sela-sela tugasnya sebagai pesuruh, ia telah membaca hampir 80% isi perpustakaan ini. Strategi perang, peta topografi benua, sejarah garis keturunan klan, hingga resep racun dan obat-obatan.

Pengetahuannya luas, melampaui para tetua perguruan sekalipun. Namun, ia menyimpannya rapat-rapat di balik topeng wajah datarnya.

Saat ia hendak keluar dari pintu utama perpustakaan, ia berpapasan dengan Penjaga Perpustakaan, Ki Sastra. Orang tua itu buta, matanya tertutup selaput putih, duduk di kursi goyang sambil mengelus seekor kucing hitam gemuk.

"Kau sudah selesai membaca bagian Sejarah Kelam, Nak?" tanya Ki Sastra tanpa menoleh. Suaranya serak seperti gesekan kertas pasir.

Bara berhenti sejenak dan membungkuk hormat, meski orang tua itu tidak bisa melihatnya.

"Sudah, Ki. Sejarah memang selalu menarik, meski penuh dengan lubang."

Ki Sastra terkekeh pelan. "Hanya orang yang jeli yang bisa melihat lubang itu. Hati-hati, Nak Bara. Terkadang, mengetahui kebenaran lebih berbahaya daripada memegang pedang tajam. Ujian lusa nanti... kau akan butuh lebih dari sekadar buku."

"Terima kasih atas nasihatnya, Ki," jawab Bara sopan.

Ia melangkah keluar, disambut oleh sinar matahari yang kini mulai terik. Di kejauhan, terdengar suara terompet kerang ditiup. Suaranya panjang dan bergema, memantul di dinding lembah.

Itu bukan tanda bahaya. Itu tanda kedatangan tamu agung.

Di gerbang utama perguruan, kesibukan sedang mencapai puncaknya.

Kirana, gadis berusia tujuh belas tahun dengan rambut hitam panjang yang dikepang satu, sedang sibuk mengatur barisan pelayan.

 Ia mengenakan kebaya putih sederhana dengan kain batik motif Parang Rusak berwarna cokelat. Wajahnya manis, dengan sepasang mata bulat yang memancarkan ketulusan dan—bagi mereka yang peka—sedikit aura mistis.

Kirana bukan murid biasa. Dia berasal dari keluarga abdi dalem yang melayani perguruan secara turun-temurun. Namun, ia memiliki bakat langka yang disebut Netra Batin³ (Mata Batin). Ia bisa melihat warna aura seseorang, merasakan niat jahat, bahkan kadang melihat sekilas bayangan masa depan.

"Ayo, cepat! Gelar karpet merahnya!" seru kepala pelayan. "Rombongan dari Wangsa Tirtamaya⁴ sudah terlihat di tikungan lembah!"

Jantung Kirana berdegup kencang. Wangsa Tirtamaya. Keluarga Penguasa Air dan Es. Salah satu dari Catur Wangsa yang paling kaya dan berpengaruh. Kedatangan mereka ke perguruan kecil di pinggiran ini adalah peristiwa langka.

Kabarnya, mereka datang untuk memantau ujian kenaikan tingkat, mencari bibit-bibit unggul untuk direkrut menjadi pasukan pribadi klan mereka.

Dari balik kabut tebal yang menyelimuti jalan masuk, muncullah iring-iringan itu.

Bukan kuda biasa yang menarik kereta kencana mereka, melainkan empat ekor Kuda Sembrani—kuda putih bersayap kecil di kakinya yang tidak menapak tanah, melainkan melayang sejengkal di atas permukaan jalan.

 Kereta itu terbuat dari kayu gaharu berlapis perak, dengan ukiran ombak yang tampak hidup.

Di belakang kereta, berbaris dua lusin pengawal dengan zirah biru mengkilap, tombak-tombak mereka memancarkan hawa dingin yang membuat udara di sekitar gerbang turun suhunya secara drastis.

Kereta berhenti tepat di depan gerbang. Pintu kereta terbuka.

Sosok yang turun pertama kali membuat semua murid laki-laki yang berbaris menyambut menahan napas.

Seorang gadis muda, seusia dengan Kirana, melangkah turun dengan anggun. Kulitnya seputih pualam, kontras dengan gaun sutra biru laut yang dikenakannya. Rambutnya hitam legam, dihiasi tusuk konde perak berbentuk bunga teratai.

Rara Anjani. Putri Jenius dari Wangsa Tirtamaya.

Wajahnya cantik luar biasa, namun dingin. Matanya tajam, seolah bisa membekukan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama. Ia tidak tersenyum. Ia memandang sekeliling perguruan dengan tatapan menilai—dan sedikit meremehkan.

Saat Rara Anjani berjalan melewati barisan penyambut, mata Kirana tanpa sengaja menangkap aura gadis itu.

Warnanya biru tua, pekat dan bergolak seperti lautan dalam saat badai. Kuat sekali. Kirana harus memalingkan wajah karena silau oleh intensitas energi Prana yang memancar dari tubuh ramping itu. Tingkat kekuatannya jauh di atas murid-murid senior di sini. Mungkin sudah mencapai Wira Sukma tingkat akhir, atau bahkan menyentuh Agni Yuda⁵.

Namun, di balik aura biru yang megah itu, Kirana melihat sepercik warna abu-abu di dada Anjani. Kesepian. Dan tekanan yang luar biasa berat.

"Selamat datang di Lembah Kabut, Nimas Rara Anjani," sambut Ketua Perguruan, Ki Ageng Seta, dengan senyum ramah.

Anjani mengangguk kaku, gerakan hormat yang minim namun tetap sopan sesuai etika bangsawan. "Terima kasih, Ki Ageng. Ayahanda mengirim salam. Kami berharap perjalanan jauh ini tidak sia-sia dan kami bisa melihat pertunjukan yang menarik saat ujian nanti."

Suaranya merdu, tapi tajam seperti denting lonceng kaca.

Kirana menghela napas lega saat rombongan itu berlalu menuju aula utama. Tekanan udaranya perlahan kembali normal. Namun, matanya kemudian menangkap sosok lain di kejauhan, di balik pilar dekat dapur.

Bara berdiri di sana, bersandar santai sambil memegang sapu lidi.

Bara juga sedang melihat ke arah Rara Anjani. Tapi tidak seperti murid lain yang menatap dengan penuh kekaguman atau nafsu, tatapan Bara... kosong. Datar. Seolah ia sedang melihat pohon atau batu, bukan gadis tercantik di benua ini.

Kirana tersenyum kecil. Hanya Mas Bara yang bisa bersikap seperti itu, batinnya. Namun, Kirana juga khawatir. Aura Bara adalah satu-satunya yang tidak bisa ia baca. Gelap, pekat, seperti lubang hitam yang menyerap cahaya. Kadang, ia melihat bayangan sayap api raksasa di belakang punggung Bara, bayangan yang membuatnya gemetar ketakutan.

"Mas Bara..." bisik Kirana pelan. "Semoga kau tidak melakukan hal gila di ujian nanti."

Sore harinya, Anjani memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi perguruan. Ia menolak ditemani pengawal ataupun penjilat-penjilat dari perguruan yang berusaha mencari muka. Ia butuh udara segar.

Perguruan ini lebih kumuh dari istana tempat tinggalnya. Bangunannya tua, fasilitasnya minim. Bagaimana mungkin tempat seperti ini bisa melahirkan pendekar hebat? Ayahnya pasti bercanda mengirimnya ke sini hanya untuk "mencari pengalaman".

Langkahnya membawanya ke sebuah taman kecil di bagian belakang, dekat tebing yang menghadap ke jurang berkabut. Di sana, ada sebuah kolam ikan koi dengan jembatan kayu kecil.

Di atas jembatan itu, seseorang sedang menaburkan pakan ikan.

Seorang pemuda dengan pakaian latihan yang sudah pudar warnanya, dan sepasang senjata aneh berkarat di pinggangnya. Anjani mengenalinya sekilas tadi pagi, salah satu pelayan atau murid rendahan.

Anjani berniat melewatinya begitu saja. Ia tidak punya urusan dengan kaum lemah. Namun, saat ia melintas, ia mendengar gumaman pemuda itu.

"Makanlah yang banyak. Menjadi gemuk itu baik, tapi jangan sampai terlalu lambat, atau kalian akan dimangsa bangau."

Kalimat itu sederhana, tapi nada bicaranya menarik perhatian Anjani. Bukan nada bicara seseorang yang sedang memberi makan hewan peliharaan, tapi seperti seorang jenderal yang sedang memberi instruksi pada prajurit.

Anjani berhenti. "Filosofi yang aneh untuk sekadar memberi makan ikan," komentarnya datar.

Pemuda itu—Bara—berhenti menabur pakan. Ia menoleh perlahan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya saat melihat tamu agung berdiri di sana. Ia hanya mengangguk sopan, tanpa membungkuk berlebihan seperti orang lain.

"Alam mengajarkan keseimbangan, Nimas," jawab Bara tenang. "Di kolam yang sempit, kecepatan lebih berharga daripada ukuran."

Anjani mengangkat alisnya sebelah. Menarik. Pelayan ini berani menatap matanya langsung. "Dan kau? Kau ikan koi, atau bangau?"

Bara menatap kolam itu lagi. Seekor ikan koi emas besar sedang berebut makanan dengan ikan-ikan kecil, menimbulkan cipratan air. "Saya? Saya hanya airnya, Nimas. Mengalir, menampung, dan diam menyaksikan siapa yang dimakan dan siapa yang memakan."

Anjani tertegun sejenak. Jawaban itu... arogan. Sangat arogan untuk ukuran seseorang yang tidak memancarkan hawa Prana sedikitpun. Tapi entah kenapa, Anjani tidak merasa tersinggung. Ia justru merasa tertantang.

"Air bisa mengalir," kata Anjani, melangkah maju mendekati pagar jembatan, hawa dingin tipis mulai menguar dari tubuhnya, membuat permukaan kolam sedikit membeku di pinggirannya. "Tapi air juga bisa beku dan hancur jika suhunya cukup dingin. Menjadi penonton itu aman, tapi pengecut."

Bara melihat lapisan es tipis yang terbentuk di kolam akibat aura Anjani. Ia tersenyum, kali ini senyum yang tulus, meski masih tipis.

"Es itu keras, Nimas. Tapi yang keras itu mudah patah. Air yang cair... tidak bisa dipotong oleh pedang manapun." Bara menegakkan tubuhnya, menyelipkan sisa pakan ikan ke sakunya.

"Maafkan kelancangan saya. Angin sore mulai dingin, sebaiknya Nimas kembali ke asrama tamu sebelum masuk angin. Permisi."

Bara berbalik dan berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Rara Anjani yang terpaku di atas jembatan.

Gadis itu mengepalkan tangannya. Lapisan es di kolam retak dan hancur. Sepumur hidupnya, belum pernah ada laki-laki seumuran yang berani memunggunginya dan menguliahi dia soal filosofi elemen air—elemen kebanggaan keluarganya sendiri!

"Siapa namanya?" gumam Anjani pada dirinya sendiri, menatap punggung Bara yang menjauh. "Menarik. Sangat menyebalkan, tapi menarik."

Malam telah larut. Bulan purnama menggantung tinggi, menyinari lembah dengan cahaya perak yang mistis.

Bara tidak berada di asramanya. Ia menyelinap keluar, menembus hutan di belakang perguruan, menuju sebuah gua tersembunyi di balik air terjun Curug Sewu.

Ini adalah tempat rahasianya. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Bara masuk ke dalam gua yang lembap itu. Di tengah gua, terdapat sebuah batu datar yang licin. Ia duduk bersila di sana, melepaskan baju atasannya.

Di dadanya yang bidang, tepat di ulu hati, terdapat sebuah tato rajah (segel) berbentuk motif Batik Kawung⁶ yang rumit. Garis-garis tato itu hitam pekat, kontras dengan kulit sawo matangnya.

"Baiklah, Garuda. Waktunya makan malam," bisik Bara.

Ia menutup mata, mengatur napas.

"Mantra: Buka Gapura Sukma."

Seketika, tato di dadanya menyala. Bukan cahaya biasa, melainkan cahaya oranye kemerahan seperti bara api yang ditiup angin. Suhu di dalam gua meningkat drastis. Air yang menetes dari stalaktit langsung menguap sebelum menyentuh tanah menjadi uap panas (steam).

Sakit.

Rasanya seperti ada timah cair yang dituangkan ke dalam pembuluh darahnya. Ini adalah harga yang harus dibayar Bara setiap malam. Hyang Garuda memiliki energi yang terlalu besar dan liar (Chaotic Prana). Tubuh manusia biasa akan meledak jika menampungnya.

Bara harus terus menerus memutar energi itu, menyaringnya, memurnikannya, dan mengembalikannya ke segel, hanya mengambil saripatinya sedikit demi sedikit untuk memperkuat otot dan tulang.

"Kau lemah hari ini, Mitra," suara Garuda terdengar lagi, kali ini lebih jelas, seolah berdiri tepat di depannya.

Di alam bawah sadar Bara, ia melihat wujud itu. Seekor burung Garuda raksasa dengan bulu-bulu emas yang terbakar api abadi. Matanya seperti dua matahari, paruhnya tajam berkilau berlian. Kedua kakinya dirantai oleh pasak-pasak cahaya yang menancap ke kehampaan.

"Gadis dari Wangsa Tirtamaya tadi..." Garuda berbicara sambil merebahkan kepalanya yang besar. "Dia punya bakat. Elemen air murninya bisa jadi penyeimbang yang bagus untuk apiku. Jika kau menikahinya, anak kalian mungkin bisa menjadi wadah yang lebih baik darimu."

Bara, yang sedang menahan rasa sakit luar biasa di dunia nyata, mendengus dalam meditasinya. "Jangan mulai jadi mak comblang, Burung Tua. Fokus saja pada penyaluran tenaga."

"Cih. Kau membosankan. Tapi hati-hati, Bocah. Segel ini makin tipis. Saat kau bertarung di ujian nanti, jika emosimu tidak stabil, aku bisa keluar tanpa sengaja. Dan jika itu terjadi..." Garuda menyeringai, memamerkan deretan gigi tajam di dalam paruhnya. "Lembah ini akan jadi kawah baru."

Bara mengertakkan gigi. Keringat bercucuran membasahi celananya. Otot-otot punggungnya menegang, membentuk peta kekuatan yang mengerikan. Uap panas mengepul dari tubuhnya, mengisi gua itu dengan kabut tebal.

"Aku... yang pegang kendali," desis Bara di dunia nyata.

Perlahan, cahaya di dadanya meredup. Rasa sakit itu perlahan menghilang, digantikan oleh sensasi kekuatan yang mengalir deras di setiap serat ototnya. Ia membuka mata. Iris matanya berubah menjadi vertikal seperti mata reptil dan berwarna emas menyala selama beberapa detik, sebelum kembali normal menjadi hitam legam.

Bara menghela napas panjang, menghembuskan asap putih dari mulutnya.

Ia mengambil Kujang-nya yang tergeletak di samping batu. Besi berkarat itu bergetar pelan. Bara menyentil bilahnya.

Ting.

Suaranya bukan lagi suara besi mati, tapi suara berdenting yang nyaring dan jernih, bergema memantul di dinding gua.

"Tingkat Prana Vayu tahap Puncak," gumam Bara, mengevaluasi kekuatannya sendiri. "Secara teknis, aku masih di bawah Arya atau si gadis es itu. Tapi dengan fisik ini..."

Bara mengepal tangannya, lalu memukul udara kosong di depannya.

BOOM!

Udara meledak. Tekanan angin dari pukulannya menciptakan gelombang kejut yang menghantam dinding gua lima meter di depannya, meninggalkan retakan berbentuk jaring laba-laba di batu cadas yang keras. Tanpa menggunakan Prana. Murni kekuatan fisik (Raga Besi).

"Sudah cukup," katanya, bangkit berdiri dan memakai kembali bajunya.

Saat ia berjalan keluar dari balik air terjun, langkahnya terhenti. Instingnya yang tajam menangkap sesuatu.

Di kejauhan, di atas pohon pinus yang tinggi, sepasang mata sedang mengawasinya. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, menyatu dengan bayangan malam.

Seorang mata-mata. Mungkin dari Wangsa Bayu Aji⁷? Atau pengawal Anjani?

Bara tidak menoleh. Ia pura-pura tidak tahu. Ia terus berjalan santai kembali ke asrama, bersiul pelan.

Biarkan mereka penasaran. Biarkan mereka menduga-duga. Karena saat ujian dimulai lusa nanti, semua dugaan mereka akan diputarbalikkan.

Malam itu, Benua Arcapada tidur dengan tenang, tidak menyadari bahwa seekor naga—dan seekor garuda—sedang menggeliat bangun di sebuah lembah berkabut.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 2

 1. Catur Wangsa (Empat Keluarga): Empat klan besar yang mendominasi politik dan kekuatan militer di benua ini. Mereka adalah Wangsa Agnimara (Api), Tirtamaya (Air), Bayu Aji (Angin), dan Giri Wana (Tanah).

 2. Aksara Kawi: Aksara kuno Nusantara (berasal dari huruf Pallawa) yang digunakan dalam prasasti dan naskah-naskah kuno Jawa/Bali. Di novel ini, digunakan sebagai bahasa teks sejarah dan kitab jurus.

 3. Netra Batin: Kemampuan spiritual untuk melihat hal-hal gaib, aura, atau energi yang tidak kasat mata. Bakat langka yang biasanya dimiliki oleh dukun atau pendeta.

 4. Wangsa Tirtamaya: Klan penguasa elemen air dan es. Dikenal tenang, elegan, namun mematikan. Mereka menguasai jalur perdagangan laut.

 5. Agni Yuda: Tingkatan ke-4 dalam kultivasi (Api Perang). Tahap di mana pendekar sudah bisa memanipulasi elemen alam menjadi senjata mematikan.

 6. Batik Kawung: Motif batik tertua yang berbentuk bulatan-bulatan lonjong (seperti buah kolang-kaling) yang disusun geometris. Melambangkan kesucian dan umur panjang. Di sini digunakan sebagai bentuk segel penahan Garuda.

 7. Wangsa Bayu Aji: Klan penguasa elemen angin. Dikenal sebagai penghasil mata-mata dan pembunuh bayaran terbaik karena kecepatan dan kemampuan mereka menghilangkan hawa keberadaan.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!