NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lorong markas terlihat sepi ketika Clara melangkah melewatinya. Suara langkahnya menggema, mengikuti bayangan tubuhnya yang panjang di bawah cahaya lampu temaram.

Clara menghela napas pelan.

"Kebodohan yang sama lagi," gumamnya.

Dia membenci keributan. Namun orang-orang seperti Dova selalu datang tanpa permisi. Semakin dia diam, semakin orang menganggapnya sasaran empuk.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada bau aneh. Sesuatu yang asing. Clara meraba pinggangnya, senjatanya masih ada.

Dia mendongak sedikit.

Ck.

Orang itu datang lagi.

"Dari tadi kau mengikutiku, mau apa?"

Dari balik sudut lorong, seorang pria bertopeng muncul. Tubuhnya atletis, gerakannya ringan seperti tak membawa beban sedikit pun.

"Perintah atasan," katanya singkat.

Clara mendengus. "Tentu saja."

Pria itu menyerang tanpa peringatan.

Clara mengangkat tangan, menangkis pisau pendek yang hampir menyentuh pipinya. Percikan kecil terdengar ketika logam bertemu logam.

"Apa ini?" Clara memiringkan kepala.

"Mereka ingin menyingkirkanku lagi?"

Penyerang itu tak menjawab. Dia kembali menyerang.

Clara tidak menghindar. Dengan gerakan cepat, dia menangkap lengan penyerang, memutarnya, lalu menendang lututnya hingga pria itu roboh.

"Ada pesan?" tanya Clara santai.

Penyerang itu mencoba menusuknya dari bawah. Clara menginjak lengan itu sampai terdengar suara retakan keras.

"Aaaghh!"

"Pesan?" ulang Clara.

"…mati."

Clara tersenyum tipis. "Terlalu umum."

Dia meraih kepala penyerang itu, menghentakkan ke dinding hingga pria itu pingsan seketika.

Clara berdiri pelan, menatap tubuh lemas itu. "Hidupku benar-benar… menyebalkan."

Langkah-langkah bergema dari ujung lorong. Clara menoleh. Figur seorang pria berwajah tampan dengan mata tajam berdiri di sana, menatapnya lama.

Namanya Lucian De Vero, wakil ketua Blade orang yang paling jarang bicara… namun paling mematikan.

Dia menatap tubuh penyerang di lantai, lalu kembali menatap Clara.

"Organisasi ini mulai bosan hidup sepertinya." Suaranya rendah, namun tegas.

Clara mengangkat dagu sedikit. "Kenapa? Kau mau menambah masalahku? Ah, atau kau ingin berduel?"

Lucian melangkah mendekat. Tiap langkah membuat udara di lorong semakin berat.

"Aku pikir," katanya tanpa memalingkan pandangan, "kau yang akan menambah masalahku… Clara."

Clara menahan napas. Entah kenapa, detik itu dunia seperti berhenti.

Apa lagi ini? Konflik baru? Ancaman? Atau… Lucian tiba-tiba berhenti sangat dekat. Tatapannya tidak lagi dingin melainkan seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi.

"Kau berbeda hari ini," katanya pelan.

"Dan aku ingin tahu… kenapa."

"Tidak ada alasan khusus, harusnya aku yang bertanya padamu."

Lucien meraih rambut panjang Rora, lalu menggulungnya di jari telunjuknya. "Bertanya tentang apa?"

"Kenapa aku mendapat serangan dadakan seperti ini?"

Tawa Lucien pecah. "Ada insiden yang cukup merugikan organisasi kita, dan kau adalah dalang utamanya."

Aneh, jelas sekali Clara tidak pernah mendengar jika ada insiden merugikan terlebih itu tentang organisasinya dan dia dalang utamanya? Bagaimana mungkin itu terjadi?

"Aku tidak paham maksudmu, Lucien?" Kata Clara.

"Wajar, karena penghianat tidak mungkin mengakui perbuatannya sendiri."

Kedua tangan Clara terkepal di sisi tubuhnya, dia bukan penghianat dan tidak akan menjadi penghianat. Itulah prinsip yang selam ini dia pegang, namun sekarang... dia justru mendapat cap seperti itu tanpa tahu alasan di baliknya.

"Aku bukan penghianat!" Suara Clara meninggi. "Dari mana kau mendapatkan julukan menjijikan seperti itu?"

"Menjijikan? Haha, aku setuju dengan julukan itu. Kau tahu itu menjijikan, tapi kenapa kau melakukannya, Clara?!"

Clara mendengus sebal. "Aku tidak melakukannya, kau sendiri yang memberi julukan itu. Jangan memutar balikan fakta, Lucien."

"Berhentilah berkata omong kosong! Lebih baik kau mengakui semuanya dan menyerah."

"Menyerah?" Clara menepis kasar tangan Lucien dari rambutnya. "Sampai mati sekalipun, aku tidak mau mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan."

Ketegangan di antara mereka berdua semakin menguap, Lucien menatap Clara penuh amarah dan kekecewaan. Sedangkan Clara, tetap acuh tak acuh.

Dia tahu dirinya sedang di fitnah, namun sulit baginya menjelaskan pada Lucien karena pria itu terlihat jelas tidak mau mendengarkan penjelasannya.

"Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Lucien mengeluarkan pistol dari saku celananya.

Lucien tidak langsung menodongkan pistol itu. Dia memutarnya perlahan di jemari, seolah benda itu hanyalah mainan yang tidak berbahaya.

Namun Clara tahu itulah kebiasaan Lucien setiap kali seseorang sudah masuk ke dalam daftar mati.

"Kau terlalu keras kepala," ujar Lucien datar. "Dan keras kepala selalu berakhir buruk di Blade."

Clara menyeringai tipis. "Ancaman murahan. Kalau kau mau menembakku, lakukan sekarang. Jangan banyak drama."

Alih-alih marah, Lucien justru tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.

"Tenang saja," katanya pelan. "Aku tidak akan membunuhmu."

Alis Clara sedikit terangkat. "Lalu?"

Lucien melangkah mundur setengah langkah, memberi jarak. "Aku hanya perlu memastikan satu hal."

Udara di lorong terasa semakin pengap. Lampu di langit-langit berkedip pelan, seolah ikut gelisah dengan situasi yang terjadi. Clara menggeser kakinya, bersiap. Nalurinya menjerit bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa?" tanya Clara dingin.

Detik berikutnya, Lucien mengangkat pistol dan menembak. Namun bukan ke arah Clara.

Peluru itu menghantam dinding tepat di samping kepalanya. Ledakan kecil memecah keheningan. Secara refleks, Clara melompat ke samping, tubuhnya berputar, tangannya sudah menggenggam belati yang tersembunyi di balik jaket.

"Kurang ajar!" geramnya.

Dia menerjang ke arah Lucien, belati mengarah ke leher pria itu. Jarak mereka tinggal sejengkal. Clara yakin satu gerakan lagi, dan Lucien akan roboh.

Namun sebelum belati itu menyentuh kulit Lucien—

DOR!

Sesuatu yang keras menghantam bagian belakang kepalanya. Pandangan Clara berkunang-kunang. Dunia terasa terbalik. Belatinya terlepas dari genggaman, jatuh beradu dengan lantai, berbunyi nyaring.

Dia terhuyung, lututnya hampir menyentuh lantai.

"Apa—" napasnya terengah.

Lucien sudah tidak ada di depannya. Clara memaksa berbalik dengan kondisi belakang kepalanya berdarah. Di belakangnya berdiri seseorang yang sejak tadi tidak dia sadari kehadirannya.

Pria itu mengenakan mantel hitam panjang. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya tenang yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa melihat kematian setiap hari.

Mata Clara membelalak.

"Ketua…" bisiknya lirih.

Ketua organisasi Blade.

Orang yang selama ini hanya dia lihat dari kejauhan. Sosok yang namanya saja sudah cukup membuat anggota lain menunduk tanpa berani membantah.

Di tangan pria itu, sebuah pistol masih mengepulkan asap tipis.

Lucien berdiri di sampingnya, ekspresinya kosong. Tidak ada kebingungan. Tidak ada keterkejutan. Semua ini… sudah direncanakan.

"Kau lengah," ujar sang ketua dengan suara rendah. "Kesalahan fatal."

Clara ingin tertawa. Ingin berteriak. Ingin menyangkal semuanya. Namun tubuhnya tidak lagi mau menuruti perintah.

Satu tembakan kembali terdengar.

Dor!

Peluru itu menembus bagian belakang kepala Clara sekali lagi.

Rasa sakitnya hanya sesaat seperti sengatan singkat sebelum segalanya menjadi hening.

Tubuh Clara terjatuh ke lantai dengan bunyi berat. Mata itu terbuka, namun kosong. Darah mengalir pelan, merembes membentuk genangan tipis di bawah kepalanya.

Hening.

Lorong itu kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Lucien menatap tubuh Clara tanpa ekspresi. "Jadi… dia memang bukan penghianat?"

Sang ketua tidak menjawab. Dia hanya menatap jasad di lantai dengan pandangan dingin.

"Benar atau tidak," katanya akhirnya, "dia sudah menjadi masalah sejak sulit di kendalikan."

Lucien terdiam.

Beberapa detik berlalu, sampai suara sang ketua kembali terdengar.

"Bereskan mayatnya, jangan sampai ada yang tahu bahwa aku yang membunuhnya."

"Baik, ketua."

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!