Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa
"Dasar gadis tidak berguna! kau bahkan tidak bisa mengerjakan semuanya dengan benar!"
Suara meninggi itu ditunjukkan pada seorang gadis yang kini meringkuk gemetar di tempatnya, bersimpuh di lantai dengan pecahan kaca dan mengelilingi. Dia adalah Pramahita, singkatnya adalah sosok yang tak pernah diinginkan.
Setelah mendapat takdir bahwa ibunya bunuh diri tepat setelah ia lahir, kini Pramahita juga harus menerima takdir-takdir buruk lainnya yang ia dapatkan dari keluarga sang ayah.
Pramahita terlalu sabar, atau bahkan ia tak tau harus bagaimana lagi untuk menghadapi hidupnya sendiri. Begitu berat rasanya untuk menjalani hari sebagai bayang-bayang keluarga Wijaya yang harmonis.
"Apa yang kau tunggu?! Bersihkan!" bentak Flora—sang ibu tiri yang sejak tadi terlihat buruk suasana hatinya.
Dengan anggukan pelan yang kaku, Pramahita berjongkok dan segera membersihkan pecahan-pecahan itu dengan tangan kosong, meletakkannya di atas nampan kayu yang tadinya ikut tergeletak di lantai.
Tangan gadis itu gemetar, menatap ujung hak tinggi mahal ibu tirinya saat bekerja. Pramahita sering diperlakukan seperti ini, seperti pembantu alih-alih sebagai seorang putri seperti saudara tirinya.
Saat Flora akhirnya pergi melewatinya dengan suara ketukan yang semakin menjauh, Pramahita menghela napas panjang dan meraih nampan berisi pecahan kaca itu dan berdiri.
Saat melangkah ke dapur, pikirannya terpacu oleh sikap Flora yang tampaknya dipicu oleh suasana hatinya yang buruk.
Setahu Pramahita, Flora akan sering marah-marah jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, saat dia merasa tak bahagia.
Tapi rasanya itu tak masuk akal jika terjadi sekarang. Bagaimana mungkin Flora tak bahagia dihari pernikahan putrinya sendiri?
Saat memasuki dapur, Pramahita membuang belahan kaca itu pada tong sampah berwarna merah, khusus untuk sampah pecah belah.
Samar-samar Pramahita bisa mendengar bisikan-bisikan pelayan yang juga tengah sibuk mempersiapkan rumah untuk hari pernikahan Loria.
Pramahita menajamkan pendengarannya, mencoba mendengar lebih jelas apa yang sekiranya sedang mereka bicarakan.
"Apakah nona Loria sudah ditemukan?"
"Aku tidak tau, tapi aku dengar-dengar dari para penjaga keamanan bahwa dia belum ditemukan."
"Tuan Arseno pasti sangat cemas sekarang, mengingat dia sangat menyayangi nona Loria."
"Kau benar. Semoga saja nona Loria cepat ditemukan."
Kerutan terlihat di sepanjang garis di dahi Pramahita saat mendengar bisikan-bisikan itu. Loria? Ditemukan? Kata-kata itu membuat Pramahita semakin penasaran dan tak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kemana perginya Loria hingga para pelayan membicarakannya seperti itu?
Setelah meletakkan nampan di atas meja, Pramahita melangkah mendekati beberapa pelayan yang tengah menyiapkan dekorasi. Kehadirannya dirasakan oleh mereka, dan Pramahita langsung dilempari oleh tatapan sinis.
"Maaf," ucap Pramahita pelan. "Aku mendengar kalian membicarakan tentang... Kak Loria. Apa yang terjadi padanya?" tanya Pramahita, namun tak mendapatkan jawaban apapun dari pelayan-pelayan itu.
Bahkan di saat seperti ini tak ada yang mau bicara dengannya. Ia seolah-olah tak dianggap ada, seperti angin lalu yang tak perlu dipedulikan.
Saat tak kunjung mendapatkan jawaban, Pramahita menghela napas dan pamit untuk kembali ke dapur. Namun baru saja ia hendak berbalik, suara yang begitu familiar tiba-tiba memanggilnya.
"Hita," panggil Arseno yang segera membuat pemilik nama itu menoleh. Pelayan-pelayan itu menyingkir, segera menjauh dan melanjutkan pekerjaan saat melihat sang majikan.
"Ayah?" gadis itu tersenyum tipis, menatap ayahnya yang mendekat. "Ada apa? Apa ayah butuh sesuatu?" tanyanya, dibalas oleh gelengan pelan Arseno.
"Tidak, ayah tidak butuh apapun," balas laki-laki itu tersenyum teduh, sebelum perlahan-lahan menghilang. "Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu, Hita. Sesuatu yang penting."
"Sesuatu yang... penting?"
Arseno mengangguk.
Entah mengapa, Hita merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Ayahnya memang sering mengajaknya bicara dan mengobrol, namun entah mengapa saat kata 'penting' itu ditekankan, ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Pramahita mengangguk, sebelum mengikuti ayahnya yang melangkah ke teras.
...****************...
"Loria kabur, dan ayah telah berbicara dengan Dirga mengenai hal ini. Dia tak ingin dirugikan, oleh karena itu pernikahan ini harus tetap terjadi walaupun bukan Loria yang akan menjadi mempelai wanita. Ayah ingin kamu melakukan ini, menyelamatkan reputasi kita semua, dan ayah tau bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakan ayah, Hita."
Kata-kata Arseno terngiang-ngiang di kepala Hita, membuat gadis itu merasa pusing bahkan mual saat membayangkan ia yang tiba-tiba akan dijadikan pengantin pengganti.
Saat sampai di teras, Arseno menceritakan semuanya, termasuk Loria yang kabur tanpa tau apa alasan kuat yang membuatnya mengambil keputusan memalukan itu. Dan bagian terbesarnya, Hita yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang kini menjadi sosok yang begitu penting untuk reputasi kedua belah pihak.
Hita kenal siapa Dirga, namun ia tak pernah bicara sepatah katapun dengan laki-laki itu. Dia tampak sangat mencintai Loria, bahkan Hita dengar Dirga menjauhi banyak perempuan-perempuan diluar sana yang mengincarnya hanya demi Loria.
Yang selama ini Hita lihat pula mereka saling mencintai, tapi entah mengapa ini bisa terjadi. Entah siap atau tidak, Hita harus masuk ke dalam kehidupan Dirga yang pastinya tak mengharapkannya.
Ini hanya karena terpaksa, bahwa ia melakukan ini hanya karena Loria yang kabur dan ayah yang memohon padanya.
Jalanan malam itu terasa sepi saat Hita melangkah di tepi jalan. Ia baru saja selesai membuang sampah-sampah yang menumpuk, sisa-sisa dekorasi yang tak terpakai setelah bicara dengan sang ayah.
Tepat saat hendak menyebrang, Hita mendengar suara keras yang berasal dari dekat-dekat klub kecil yang jaraknya sekitar dua puluh meter. Karena penasaran, Hita menoleh dan samar-samar melihat sosok laki-laki bertubuh bongsor dengan kemeja putih kusut ambruk di trotoar.
Hita yang melihat itu langsung terbelalak, mengambil melangkah mendekat karena naluri melindungi yang selalu ia miliki pada lingkungan sekitar.
Hita berhenti tepat satu langkah di samping pria yang ambruk dengan posisi telungkup itu, berjongkok dengan tangan melayang ragu di atas pundak yang lebar.
Hita mengamati penampilan pria itu—Kemeja mahak yang tampak kusut, bersama dengan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan. Dilihat dari penampilannya, agaknya pria itu adalah sosok yang berada.
"Pak?" panggil Hita, menepuk pelan bahu pria itu berupaya menyadarkan. "Pak? Bapak baik-baik saja?"
Hita mengerutkan keningnya, tangannya berhenti bergerak tatkala tak mendengarkan jawaban apapun dari si pria. Ada satu kemungkinan yang pasti saat ini, bahwa pria itu pasti mabuk di club dan berakhir ambruk di sini karena tak tahan lagi.
Hita menoleh ke sekeliling, berharap ada orang yang bisa ia mintai bantuan untuk menyadarkan pria asing ini. sayangnya jalanan itu sudah sepi karena sudah larut malam.
Hita sempet berpikir untuk masuk ke club dan meminta bantuan, namun ia rasa itu adalah ide yang buruk mengingat ia adalah seorang perempuan.
Banyak cerita yang Hita dengar bahwa di dalam sana ada banyak pria mabuk yang tak sadarkan diri, yang bisa melakukan apapun tanpa mereka sendiri sadari.
Dengan keraguan yang ia tepis jauh-jauh, Hita sekuat tenaga mencoba membalikan tubuh laki-laki itu, membuatnya terlentang hingga Hita bisa sekiranya mengenali dan melihat wajahnya sejenak.
Membutuhkan waktu sekitar lima menit penuh untuk Hita bisa membalik tubuh laki-laki itu, membuatnya sedikit kelelahan dan itu terduduk di trotoar yang kotor.
Namun saat ia menyipitkan mata dan mencoba mengenali wajah si pria dalam gelapnya malam, sontak Hita terbelalak saat berhasil mengenai pria itu.
"Kak Dirga?!"
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga