Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Di pagi hari sekitar jam 6 pagi seorang wanita tengah tertidur lelap di ranjangnya.
Dia adalah zielga Nadine.
Tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja kecil di sisi ranjang berdering membuat ziel membuka matanya.
Ziel menegakan bahunya dan duduk di sisi ranjang sambil meraih ponselnya.
Dia segera menekan tombol hijau yang telah ada di layar ponsel dan meletakkan ponsel tersebut ke telinga kirinya.
"Halo" sapa ziel dengan nada yang malas.
"ziel kau harus segera ke sini, ada pembunuhan yang sangat mengerikan!" Ujar seseorang di sebrang ponsel membuat energi ziel segera kembali.
"Baiklah bisa sherlok lokasinya, aku akan ke sana!"
Tut
Ziel segera mematikan ponselnya dan bergegas bersiap pergi untuk melihat ke jadian yang telah aksa katakan tadi.
***
Di sebuah gang sempit kota Rovers, suara sirene polisi memecah suasana pagi.
Tali kuning sudah terpasang menutup akses masuk, sementara beberapa petugas berjaga agar warga tidak mendekat.
Sebuah mobil hitam kecil berhenti di area kerumunan.
Pintu pengemudi terbuka, memperlihatkan seorang wanita berseragam polisi yang rapi. Dia mengenakan mantel panjang untuk menutupi pakaiannya.
Ziel mendekati TKP, menerima sarung tangan dan pelindung sepatu yang disodorkan petugas lain. Setelah mengenakannya, da melangkah melewati garis polisi.
Bunyi klik kamera dan kilatan flash menyambutnya.
Ziel melangkah melihat seorang laki-laki yang mengenakan celana pendek dengan baju pendek sedang tergeletak tak bernyawa.
Kedua telapak tangan nya menyatu dengan satu bilah pisau yang tertancap ke tanah, darahnya mengalir namun telah mengental layaknya orang yang di hukum salib, mata laki-laki itu terbuka lebar dengan kapak yang menancap di kepala bagian depan nya membuat wajahnya di hiasan oleh cairan merah.
Kedua kaki laki-laki itu terdapat banyak sekali luka memar yang telah membiru hampir memenuhi kakinya.
"Mengerikan!" ucap ziel dengan raut mirip orang yang shock.
Dia segera berjongkok melihat keadaan sang mayat yang begitu mengenaskan.
Aksa Evano, polisi yang memanggilnya tadi, menghampiri dan ikut berjongkok di sampingnya.
"Kejadian nya tengah malam" ucap aska di saping ziel yang sedang mengamati mayat.
"Apa ada bukti keberadaan pelaku" tanya ziel masih mengamati sang mayat.
"Tidak, semalam hujan deras menyapu bersih semua bukti yang kita butuhkan, daerah sini juga minim cctv membuat kejadian ini lebih misteri" jawab aksa dengan matap.
Dia segera memperhatikan ziel yang mengamati area sekitar mencoba mendapatkan petunjuk yang di perlukan dalam penyelidikan nya dan melihat sebuah tongkat baseball yang tergeletak di dekat korban.
Ziel menatap tongkat besball itu sedikit lama sebelum mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kapan kejadian ini di laporan" ziel bertanya kembali sambil mengamati sekitar.
"Eee sebenarnya aku yang menemukan nya, sekitar pukul 05:00 aku biasa pergi joging di sekitar sini dan ya hari ini hal yang tak terduga terjadi" aksa menjelaskan semua yang dia alami tadi pagi.
"Kita harus melakukan otopsi pada korban, apa dia punya keluarga" tanpa basa basi ziel segera mengatakan apa yang di perlukan.
"Kami masih mencari tau, namun akan segera terlaksana" jawab aska segera bertindak.
***
Di negara yang bernama duksfall terdapat satu kota sebagai ibukota negara tersebut yang bernama kota roves.
Kota rover adalah ibukota negara duksfall yang terkenal kesibukan dengan banyak nya gendung-gendung bertingkat di sana.
Di setiap kota tentu saja memiliki departemen kepolisian.
Dan di kota roves terdapat satu departemen yang sedang heboh karena sebuah kasus misterius yang baru saja tejadi.
Di dalam departemen tersebut sebuah ruangan dengan meja berbetuk persegi panjang telah duduk 4 orang yang sedang mendengar 1 orang berbicara di ujung bagian meja dekat monitor layar komputer.
"Korban bernama mirza gevan, seorang pekerja kantoran yang bekerja di industri maka ringan" davis Shaquille seorang polisi baru yang telah setengah tahun ikut bersama tim melakukan penyelidikan.
Dia menjelaskan semuanya data yang baru ia dapat.
"Ia memiliki ayah yang telah tiada tahun lalu, hidup sendiri di perumahan bertingkat"
"Hanya ada cctv di gedung tempat ia tinggal, pukul 23:11 korban membuat sampah keluar pekarangan rumah, dan di sinilah korban bertemu dengan pelaku yang tiba-tiba menyerang sang korban membuat korban panik dan berlari menjauhi pekarangan rumahnya"
Davis menampilkan rekaman CCTV yang kualitasnya seperti video lama hitam-putih.
Di video terlihat jelas laki-laki yang tengah membuang sampah yang terletak di pinggir jalan.
Saat laki-laki ingin kembali ke dalam gedung tiba-tiba seseorang yang mengenakan jas hujan hitam dengan dengan topi dan masker yang menutupi identitas orang tersebut menyerangnya dengan pisau mengenai pipi kirinya.
Dengan ketakutan laki-laki itu awalnya ingin kembali ke rumahnya namun melihat peluang yang sedikit dia segera pergi menjauh ke arah yang tak memiliki rekaman pengawas.
" di sini terlihat jelas bahwa pelaku yang menggunakan jas hujan seolah memprediksi bahwa akan terjadi hujan, karena hujan pula kita kehilangan harapan untuk menemukan pelaku!"
"Jadi apakah ini di sebut pembunuhan berencana" arzi arkiano polisi yang masuk serempak dengan davis segera mengajukan pertanyaan.
"Ya, kemukiman besar pelaku memiliki dendam pribadi pada korban" jawab davis dengan yakin.
"Baiklah bagaimana dengan hasil otopsi sang korban" aksa segera mempersilakan davis untuk duduk ingin mendengarkan pernyataan dari zielga.
Zielga yang Mengerti apa yang telah aksa katakan segera bangkit mengantikan posisi davis.
Dia dengan tenang segera menyuruh mika elysia sang asisten sekaligus muridnya yang telah bekerja selama 1 setengah tahun bersama ziel untuk membuka layar proyektor untuk menampilkan foto yang telah di siapkan.
"Dalam otopsi dan cctv terlihat jelas bahwa luka pertama yang korban dapatkan adalah luka di pipi kirinya, hal ini seolah memberikan tekanan psikologi pada seseorang untuk membuat seseorang takut dan berlari dengan kondisi pikiran yang kacau" ujar ziel sambil menunjukkan beberapa foto luka yang telah proyektor perlihatkan.
"Setelah luka di pipi kami memperkirakan bahwa pelaku menusuk bahu sang korban membuat korban kesakitan hingga terjatuh!" Semuanya diam memperhatikan penjelasan dari ziel.
"Menyaksikan korban terjatuh, pelaku melakukan pemukulan terhadap korban menggunakan tongkat besseball pada kedua kaki sang korban hingga membuat bagian tulung kaki korban hampir remuk"
"Dengan ini pelaku membuat korban tak dapat melarikan diri!" Ziel mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan
"Karena tengah malam dan, di sertai hujan yang sangat lebat dan deras membuat teriakan sang korban hanya terdengar samar oleh orang-orang yang tinggal di sekitar sana"
"Setelah melakukan pelumpuhan pada kaki korban, pelaku kemungkinan besar menyatukan kedua telapak tangan korban dan menusukkan nya dengan pisau yang sangat tajam membuat korban tak dapat melawan lagi"
Aksa menaikkan alisnya "Apa ada alasan bahwa pelaku menusuk tangan korban terlebih dahulu sebelum menancapkan kapak ke kepala sang korban" tanya aska segera meminta penjelasan dari teori ziel.
"Sejujurnya, seperti yang di katakan oleh davis pelaku kemungkinan besar memiliki dendam"
Kami menemukan benda yang mengerikan di dalam mulut korban yaitu serpihan beling yang di masukan secara paksa kepada sang korban"
"Karena sepihak tersebut masuk dan menancap di dalam tenggorokan begitu dalam, ini membuktikan bahwa serpihan beling tersebut di masukan selagi korban masih hidup membuat otot bagian tenggorokan secara reflek menekan benda apa pun yang di makan, ini memungkinkan kami meneliti bahwa sang korban di buat tak berdaya dulu sebelum menelan benda tersebut." aksa yang mendengar penjelasan ziel segera mengangguk mengerti namun tak ayal bulu kudunya merinding mendengar bahwa korban di perlakuan seperti itu.
Saat ziel melihat aksa mengangguk dia melanjutkan penjelasannya.
"Setelah melakukan hal tersebut pelaku melayangkan kapak pada sang korban untuk mengakhiri nyawanya"
"Dari kesimpulan ini terlihat jelas pada pelaku adalah seorang yang memiliki dendam pribadi pada korban" kedua telapak tangan ziel kini menekan di meja membuat kesimpulan nya terlihat lebih kuat.
Semau yang ada di ruangan saling menatap, kemudian mengangguk setuju dengan pernyataan ziel.
"Tapi dalam investigadi ini, ada dua kemungkinan lain" mendengar ucapan ziel empat orang yang ada di sana menatap lekat dirinya, meminta penjelasan.
"Kemungkinan pertama adalah pembunuh bayaran, di lihat dari aksi dan cara sang pelaku melakukan pembunuhan tanpa jejak menjelaskan bahwa ini seperti pembunuhan profesional, dan kemungkinan ke dua adalah bahwa pelaku seorang psikopat yang hanya ingin melampiaskan nafsu membunuh dan menyiksa sang korban!" Perkataan ziel membuat empat orang yang duduk berpikir lebih serius karena ucapan ziel masuk akal.
"Kalo begitu kita harus menyelidiki siapa saja yang berhubungan dengan korban hingga sang pelaku di temukan" ucap aksa membuat semua orang yang ada di sana mengangguk setuju, sebelum akhirnya mereka melakukan penyelidikan lebih lanjut.
****
Tapp.
Tapp.
Suara langkah kaki menuruni tangga memasuki ruang bawah tanah yang gelap.
Langkah itu berhenti di depan sebuah papan tulis besar berbingkai kayu jati, diterangi sebuah lampu kecil.
Di papan itu terdapat sembilan foto wajah berbeda, ditata melingkar seperti jam.
Setiap foto dipaku dan dihubungkan benang merah yang mengarah pada satu kata di tengah:
KEADILAN.
Seseorang berdiri di depan papan itu, mengambil spidol merah lalu memberi tanda silang pada foto korban yang baru saja diselidiki polisi.
Siluet itu akhirnya terlihat jelas—seorang wanita berwajah cantik dengan rambut yang dikuncir rapi.
Ia tersenyum tipis penuh kepuasan.
“Satu selesai… tinggal delapan lagi,” ucap Ziel pelan, menikmati rencana yang berjalan sempurna.