"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedih dan rapuh.
Menyaksikan sorot mata Abil seolah memintanya ikut menemui Daddy-nya Sonia, Tomi pun tak enak hati untuk mengutarakan penolakan. Sonia dan Abil lantas memasuki ruangan, hendak menemui Daddy-nya Sonia, dan Tomi pun menyusul di belakang langkah keduanya.
Air mata Sonia semakin berlinang deras menyaksikan begitu banyak alat-alat bantu rumah sakit yang terpasang di tubuh Daddy-nya.
Di tengah rasa sakit yang tengah dirasakannya, Daddy tetap memaksakan senyum dibibirnya.
"Jangan menangis, nak!." Daddy berusaha menekan rasa sakit yang tengah dirasakannya.
"Sebaiknya Daddy beristirahat, jangan banyak bicara dulu!." Sonia meminta Daddy untuk tidak banyak bicara karena ia takut hal itu akan memperburuk kondisi Daddy.
"Daddy harus kuat, sebentar lagi dokter akan melakukan tindakan operasi pada Daddy! Sonia yakin Daddy pasti akan kembali sehat seperti sediakala." Sonia berusaha terlihat tegar dihadapan Daddy-nya. Namun, sorot mata tak dapat berbohong, Daddy tahu betul jika saat ini Putri semata wayangnya tersebut sangat bersedih dan rapuh atas kondisinya.
Dengan tenaga yang tersisa, Daddy berkata pada putrinya. "Daddy sudah tidak kuat lagi, Sonia."
"Daddy tidak boleh bicara seperti itu!." Sonia tak suka mendengar Daddy berbicara seperti itu, karena ia sangat berharap Daddy-nya bisa sembuh.
Bukannya merespon ucapan putrinya, Daddy justru memandang ke arah Tomi yang kini berdiri beberapa langkah dibelakang Abil.
"Nak Tomi, mendekat lah!." Pinta Daddy-nya Sonia dengan suara lemahnya. Dengan seribu pertanyaan di hati, Tomi menuruti permintaan Daddy-nya Sonia.
Tomi dapat merasakan tangan Daddy yang bergetar kala memegang tangannya.
"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Waktu saya sudah tidak banyak lagi. Saya bisa pergi dengan tenang setelah melihat putri saya menikah dengan pria yang sangat dicintainya." Bukan hanya Tomi yang terkejut mendengar permintaan Daddy-nya Sonia, Abil dan Sonia pun tak kalah terkejut mendengarnya. Apalagi atas perkataan Daddy-nya Sonia tentang perasaan putrinya pada Tomi.
Deg.
Bagaimana Daddy bisa tahu perasaannya terhadap Tomi, sedangkan selama ini ia tidak pernah bercerita kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya. Sonia jadi bingung sekaligus malu di hadapan Tomi, namun kondisi Daddy-nya saat ini mampu membuat Sonia mengabaikan rasa malunya itu.
"Tapi, tuan...."
"Saya mohon pada nak Tomi!."
"Uncle tidak boleh berbicara seperti itu, Abil yakin uncle pasti akan sembuh seperti sediakala setelah dioperasi nanti." Abil yang sejak tadi hanya diam saja, akhirnya ikut bersuara.
Daddy-nya Sonia menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Uncle sudah tidak kuat lagi, Abil." Suara Daddy-nya Sonia terdengar semakin melemah hingga pada akhirnya Abil pun menatap pada sahabatnya, Tomi. Tatapan sarat akan permohonan tersebut membuat Tomi berat hati untuk menolak, apalagi selama ini Abil sudah banyak membantunya. Di saat perusahaannya sedang mengalami krisis keuangan, Abil lah yang telah berbaik hati menolongnya.
"Tolong berikan saya waktu sebentar untuk berpikir!."
Daddy-nya Sonia mengangguk lemah.
Di salah satu koridor rumah sakit yang nampak sepi, di sinilah Tomi dan Abil berada sekarang.
"Bagaimana jika aku tidak sanggup membahagiakan Sonia?." Maksud Tomi di sini bukan dalam urusan materi, melainkan dalam urusan perasaan karena faktanya ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap adik sepupu Abil tersebut.
"Sebagai kakak sepupu Sonia, tentunya aku sangat berharap Sonia dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia. Tetapi jika memang hal itu tidak bisa diindahkan, kau tetap tidak bisa membuka hati untuknya, maka pulangkan dia padaku dengan cara baik-baik!." Sebenarnya bukan hanya Tomi saja yang kepalanya serasa ingin pecah menghadapi permintaan Daddy-nya Sonia, Abil pun demikian. Akan tetapi melihat kondisi Daddy-nya Sonia saat ini, Abil tak sanggup menolak permintaan beliau walaupun sebenarnya ia pun merasa tidak enak hati telah menyebabkan sahabatnya tersebut berada di dalam situasi seperti saat ini. Ya, Abil yakin saat ini Tomi pasti merasa sangat tertekan.
"Baiklah, aku akan menikahi Sonia." Tutur Tomi setelah cukup lama terdiam.
Setelah Tomi memberikan keputusannya, Abil pun meminta asisten pribadinya untuk mengurus semuanya. Membawa penghulu ke rumah sakit. Di saat yang hampir bersamaan, Tomi menghubungi orang tuanya. Tomi menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya tanpa ada yang ditutupi oleh pria itu. Kedua orang tua Tomi yang memang menginginkan putranya bisa move on dari masa lalunya, tentu sangat mendukung keputusan Tomi untuk mewujudkan permintaan Daddy-nya Sonia.
Lima belas menit kemudian asisten pribadi Abil tiba di rumah sakit bersama penghulu. Tanpa membuang-buang waktu, penghulu pun menikahkan Tomi dan Sonia dihadapan Daddy-nya Sonia dan beberapa saksi pernikahan, termasuk papah Abimana salah satunya.
"Terima kasih telah mengabulkan permintaan saya, nak Tomi. Sekarang saya sudah tenang meninggalkan Sonia."
Tomi yang bingung harus memberikan respon seperti apa, hanya menganggukkan kepala sopan.
"Please... Jangan lagi bicara seperti itu, Dad! Sebentar lagi perawat akan membawa Daddy ke kamar operasi, dan Daddy pasti akan baik-baik saja setelah dioperasi oleh dokter." Berusaha kuat namun sorot mata tak dapat berdusta. Saat ini hati Sonia benar-benar rapuh.
Daddy tak lagi dapat merespon ucapan putrinya, lidahnya sudah terasa kelu, hanya bibirnya yang nampak bergerak pelan untuk mengucap dua kalimat syahadat, sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya untuk selamanya.
"Daddy.... Dad ... bangun Daddy....." Sonia mengguncang tubuh Daddy-nya, berharap cinta pertamanya itu kembali membuka mata.
Tim dokter yang siaga, meminta Sonia untuk memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan tugasnya. Namun tim dokter tak dapat berbuat apa-apa lagi, pasien sudah meninggal dunia.
Hati Sonia semakin hancur lebur saat dokter menghampirinya dan menyampaikan waktu kematian Daddy-nya.
"Beberapa saat lalu Mommy yang pergi meninggalkan Sonia, dan sekarang Daddy pun ikut meninggalkan Sonia. Kenapa kalian pergi tanpa mengajak Sonia, kenapa?." Sonia tak lagi histeris, melainkan bergumam layaknya orang linglung, sorot matanya pun nampak kosong.
"Jangan bicara seperti itu, dek!." Abil memeluk tubuh rapuh adik sepupunya itu. Abil tak sanggup lagi membendung air matanya saat mendengar tangis pilu Sonia.
Sementara Tomi, pria itu nampak diam mematung, semua kejadian hari ini seperti mimpi baginya. Kini ia sudah resmi menjadi suami bagi Sonia, gadis yang sudah hampir setahun menjadi sekretarisnya di kantor, Gadis yang baru saja menyandang gelar yatim-piatu akibat kehilangan kedua orang tuanya di hari yang sama.
*
Kini jenazah kedua orang tua Sonia telah dibawa pulang ke kediaman papah Abimana, sebelum nantinya akan di makamkan.
Sonia duduk di samping jenazah kedua orang tuanya. Kini tangan-tangan lembut yang biasa memeluknya di saat sedang rapuh, tak akan ada lagi.
Sudah saatnya Sonia mengantarkan jenazah kedua orang tuanya ke tempat peristirahatan terakhir. Hampir semua pelayat yang hadir siang hari itu ikut menangis mendengar tangis pilu Sonia yang baru saja ditinggal oleh kedua orang tuanya sekaligus.
Sebagai pria yang kini berstatus sebagai suami bagi Sonia, tentu saja Tomi ikut mendampingi Sonia hingga ke pemakaman.