Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah permohonan
"Glen, baru sadar langsung kemari yah?" tanya Dinda, wanita paruh baya yang tampak masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda.
"Iya Tante, khawatir banget sama Amira, apa lagi karena Aku, Amira begini," jawab Glen merasa bersalah, karena secara tidak langsung dirinya adalah penyebab utama kekasihnya celaka.
"Jangan nyalahin diri sendiri, itu sudah takdir," jawab Dinda berusaha untuk menenangkan, wanita itu memang selalu tenang dan damai dalam keadaan apapun, padahal Glen melihat bahwa ada guratan kesedihan di mata wanita itu.
Glen kini akhirnya memberanikan diri, untuk mendekat ke arah ranjang Amira, membuat Farel langsung menghapus air mata nya, pria itu lah yang tampak terlihat tidak baik-baik saja di banding istrinya yang tampak terlihat tegar.
"Ya sudah, kau temani dia dulu, kami berdua keluar," ucap Dinda langsung menarik tangan Suaminya yang tampak menyedihkan dan diam saja, tanpa berniat menyapa Glen.
Glen hanya mengangguk saja, setelah melihat pintu di tutup, pria itu langsung duduk di samping ranjang Amira dan memegang tangan nya.
"Mira, jika waktu itu kita gak pulang bareng, apa mungkin kamu gak akan mengalami hal seperti ini?" kata Glen merasa bersalah.
"Mira jika kamu gak sadar dalam waktu dekat, apa kamu rela, biarkan Aku menjemput Kakak mu yang entah ada di mana?" lanjut Glen bertanya panjang lebar, walaupun tidak ada jawaban ataupun respon yang terdengar hanya bunyi alat monitor dan jarum jam.
Pandangan mata Glen kini menyapu ke seluruh ruangan, karena ini pertama kali nya masuk ke dalam kamar kekasih nya, Ruangan itu di penuh warna pink sesuai gadis pada umumnya, lalu pria itu menatap ke arah sebuah bingkai foto yang terpajang di meja samping ranjang.
Foto itu menampilkan wajah ke tiga remaja yang tampak terlihat aneh menurut nya karena, di foto itu tampak seorang pemuda cemberut dengan satu wanita yang memeluk lehernya seperti seorang kekasih dengan tersenyum senang, dan satu gadis lainnya yang tampak mirip dengan gadis itu di samping nya berpose mengangkat dua jari.
"Ini beneran kembar? Apa yang Mama bilang beneran? Jadi kemana kembaran Amira?" batin Glen bertanya-tanya, sejenak melupakan rasa sedih nya berusaha untuk berpikir keras.
Sementara di dalam kamar, Dinda tampak menatap ke arah suaminya yang tampak menyedihkan.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi, Aku gak kuat lihat kamu begini, sudah dua hari loh kamu murung gak kelihatan seperti Iron man ku yang kuat," ucap Dinda menatap ke arah suaminya yang tampak menyedihkan.
"Aku sudah membuat Amara mengalami banyak hal buruk, bahkan selama 7 tahun dia gak mau kembali, sekarang Amira kita juga keadaan nya sangat begitu memperihatinkan, gimana Aku gak merasa bersalah," ungkap pria paruh baya itu dengan penuh sesal.
"Kalo kamu peduli dengan Amara? Kenapa kamu gak pernah mengizinkan Aku menjemput atau menemui nya?" balas Dinda dengan ekspresi kesal, karena merasa rindu dengan putri nya itu.
"Dia sangat membenciku, Aku cuma gak mau Dia melibatkan mu, kalo kau menemui nya, Dia bisa saja berucap kasar, sehingga melukai hatimu," jelas Farel mengingat betapa pedasnya mulut putrinya itu saat marah.
"Kau terlalu playing Victim, padahal kau sendiri yang membuat semua ini terjadi, sekarang berlagak menyesal, kau gak tahu kan? gimana perasaan nya saat di paksa untuk ke luar negeri, betapa dia berusaha membuktikan kalo dirinya tidak gila," sarkas Dinda meluapkan kekesalannya pada suaminya, karena Dia merasa kesabaran nya sudah habis.
"Adin, kamu gak tahu apa-apa jadi jangan terlalu menyalahkan ku, atas apa yang terjadi," bentak Farel merasa tidak terima dengan tuduhan istri nya.
"Ini semua ulah putra kesayangan mu juga kan? Karena Kamu terlalu memanjakan nya," lanjut nya menyudutkan istrinya membuat Dinda tampak menatap suaminya dengan air mata yang hendak jatuh.
"Jangan membentak Bunda yah pak tua, itu semua juga kesalahan mu," ucap Darel yang baru saja masuk, Dia merasa tidak terima jika Bundanya di bentak.
"Heh Aku ini Ayah mu, jangan kurang ajar yah," balas Farel menatap putranya dengan tatapan tajam.
"Aku gak akan kurang ajar, kalo kau tidak menyakiti Bundaku yah," jawab Darel dengan kesal.
Darel bukan nya takut justru malah membalas tatapan Farel,tak kalah tajamnya, membuat Dinda menghela nafas panjang .
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu itu membuat Dinda merasa lega, karena merasa selamat dengan situasi mencengkram itu, bagi Dinda menghadapi suami dan putranya itu tidak ada habisnya.
Wanita itu berjalan menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Setelah membuka pintu Dia melihat Glen yang berdiri di depan pintu dengan wajah gusar.
"Ada apa Glen? Apa ada masalah dengan Amira?" tanya Dinda dengan raut khawatir.
"Tidak ada," jawab Glen menggeleng cepat.
"Apa Om Farel di sini? Aku ingin berbicara dengan nya, Tante?" lanjut Glen bertanya dengan wajah tegang.
Dinda langsung memanggil suami nya yang tampak masih saling menatap tajam dengan putranya itu, membuat Farel langsung berjalan ke arah pintu.
"Aku ingin berbicara dengan Om, berdua bisa?" ucap Glen saat melihat Farel hanya diam saja, pria itu tidak seperti biasanya.
Farel pun mengangguk saja, lalu berjalan ke arah ruang kerjanya, Glen pun mengikuti pria paruh baya itu tanpa sedikitpun berbicara, karena Dia merasa tegang sendiri, terlebih aura Farel sangat begitu dingin.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Farel tude poin setelah mempersilahkan Glen duduk.
"Om, sebelumnya, Aku minta maaf soal kecelakaan ini, karena secara tidak langsung, Aku sudah buat putri Om terluka," ucap Glen merasa bersalah membuat Farel mengerutkan keningnya heran.
"Kasus masih di selidiki, tapi Mama bilang, ada kemungkinan bersangkutan dengan keluarga dari ibu tiri ku," lanjut Glen menjelaskan panjang lebar.
"Berarti ada sangkut pautnya dengan si Laura itu?" tanya Farel sambil mengepalkan tangannya geram, karena Farel tidak tahu apapun, pria itu baru pulang dari luar kota setelah mendengar putri nya kecelakaan dan di pindahkan ke rumah.
"Ya, Ada kemungkinan begitu masih dalam penyelidikan," jawab Glen sambil mengangguk.
"Tapi Om, bisa kasih tahu di mana keberadaan kembaran nya Amira?" lanjut nya sambil memegang tangan Farel dengan penuh harap.
"Tahu darimana kau tentang kembaran nya Amira?" tanya Farel dengan terkejut langsung menyingkirkan tangan Glen yang memegang tangan nya.
"Om gak perlu tahu, yang penting Om bantu Aku yah, ijinkan Aku menikah dengan nya, Mira koma, kalo pernikahan nya batal, nasib perusahaan terancam," ucap Glen panjang lebar, sambil menarik-narik ujung kemeja Farel seperti seorang anak kecil yang merengek minta mainan.
"Dasar gila, kau pikir pernikahan hanya candaan dan lelucon? Kau pikir kedua putri ku hanya alat mu?" bentak Farel merasa emosi Lalu langsung pergi meninggalkan Glen, yang tampak menyedihkan.
Glen yang tidak putus asa dia justru malah mengikuti Farel lalu duduk di depan kamar nya, menggedor-gedor pintu membuat Farel menggerutu di dalam kamar, sedangkan Dinda tampak heran namun Farel malah mengajak istrinya tidur cepat saja, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan malas juga untuk makan malam karena kesal.
Pagi harinya Dinda tampak terkejut dengan keberadaan Glen yang tertidur di depan pintu kamar nya.
"Glen, kenapa tidur di sini?" tanya Dinda menatap Glen dengan heran.
"Biarkan saja dia, jangan pedulikan dia, dia itu sudah gila," ucap Farel langsung merangkul pundak istri nya karena tidak ingin membuat Dinda kepikiran.
"Om, beritahu Aku saja, di mana Dia, kalo Aku berhasil bukan nya Om senang putri Om bisa berkumpul kembali," ucap Glen sambil memeluk kaki Farel membuat Farel merasa kesal di buatnya.
"Om, tidak kasihan dengan Papaku, perusahaan itu sudah dia kembangkan dengan besar, masa om tega membiarkan nya hancur di tangan kakak tiri ku.Selama ini Papa selalu kerja tanpa pamrih loh saat bekerja di perusahaan Om, apa Om tega," lanjut nya sambil mengungkit jasa Papa nya agar pria itu merasa iba.
"Kau itu sama gila nya seperti Melani, menyebalkan sekali bikin orang gak tega," dengus Farel mengacak rambut nya frustasi, karena merasa bingung sendiri.
Lalu pada akhirnya, Farel memutuskan untuk membantu Glen untuk berdiri dan berjalan ke arah ruang kerjanya, sedangkan Dinda yang tidak mengerti apapun hanya menuruni anak tangga menuju ke arah dapur karena tidak ingin menduga-duga sendiri.
Farel pun menceritakan di mana putrinya berada dan menjelaskan bahwa hubungannya tidak baik dan renggang karena kesalahannya, hanya itu saja yang Farel ceritakan dia tidak mau terlalu banyak membuka luka masa lalu.
"Putri ku bukan lah seorang gadis, dia sudah pernah menikah dan melahirkan anak," ucap Farel tidak mau menutupi kebenaran nya.
"Tidak masalah, mau janda ataupun gadis, asalkan bukan istri orang," jawab Glen dengan yakin.
"Tapi putri ku keras kepala dan bermulut pedas, Om gak yakin Dia mau jadi pengantin pengganti, terlebih dia trauma dengan pernikahan sebelumnya," jelas Farel mengingat masa lalu dan sifat putri nya itu yang sangat keras kepala seperti diri nya.
"Aku akan mencoba nya, Om tinggal pinjamkan jet pribadi saja, Aku akan terbang sekarang juga," ucap Glen dengan antusias.
"Dasar gila dan tidak setia," cibir Farel merasa kesal dengan tingkah Glen yang menurut nya aneh.
Namun Glen tidak tersinggung sama sekali, pria itu langsung berjalan menuju ke ruangan Amira, setelah sampai di ruangan Amira Glen mengecup kening gadis itu yang tampak terlihat tetep seperti posisi yang kemarin Glen lihat.
"Setelah kau menikah dengan nya kau harus melepaskan Amira," ucap Farel memperingati Glen karena Dia tidak ingin putri nya terluka lagi, ya walaupun nantinya Amira juga pasti terluka.
Glen pun mengangguk saja, walaupun mata nya tampak terlihat sendu dan merasa bersalah dengan Amira,tapi dia juga tidak ingin usaha Papa nya hancur begitu saja.
Sebelum Glen pergi Farel membisikan sesuatu untuk menyusun rencana apa yang harus Glen lakukan setelah sampai di luar negeri, Glen pun hanya mengerutkan keningnya heran tapi dia tetep mengangguk saja mungkin itu rencana yang bisa membuat Glen berhasil.
Hingga akhirnya jet pribadi itu lepas landas menuju negara Los Angeles, atau yang sering di sebut Amerika Serikat, perjalanan itu memakan waktu yang lebih cepat yaitu 17 jam, Glen kini tampak merasa senang setelah sampai di negara itu, Dia mengingat saat dirinya kuliah dulu.
BERSAMBUNG