Fitriyani Nurjannah adalah seorang guru honorer selama 15 tahun di SMA 2 namun ia tak pernah menyerah untuk memberikan dedikasi yang luar biasa untuk anak didiknya. Satu persatu masalah menerpa bu Fitri di sekolah tempat ia mengajar, apakah pada akhirnya bu Fitri akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Saja Orang yang Benci
Pagi itu, mentari pagi mulai menyinari Kota tempat Fitriyani tinggal. Ia sudah siap dengan seragamnya dan motor matic kesayangannya. Tak lupa, ia berpamitan kepada suami dan anak-anaknya sebelum berangkat kerja.
"Assalamualaikum, Mas, Kenzi, Mega," ucap Fitri sambil mencium tangan suami dan kedua anaknya.
"Waalaikumsalam," jawab Dito dan anak-anaknya serentak.
"Hati-hati di jalan, Bu," pesan Dito.
"Iya, Mas," jawab Fitri.
Fitri kemudian melajukan motor maticnya menuju sekolah tempat ia mengajar. Ia adalah salah satu guru yang paling rajin datang di sekolahnya. Hampir setiap hari ia datang bersamaan dengan siswa-siswi yang baru datang.
Sesampainya di sekolah, Fitri langsung menuju ruang guru. Ia menyapa teman-teman sejawatnya dan kemudian mempersiapkan materi pelajaran yang akan ia ajarkan hari itu.
"Selamat pagi, Bu Fitri," sapa seorang guru.
"Selamat pagi juga," jawab Fitri sambil tersenyum.
"Rajinnya Ibu hari ini," kata guru tersebut.
"Harus semangat dong," jawab Fitri. "Kita harus memberikan contoh yang baik untuk para siswa."
Bel masuk pun berbunyi. Fitri segera menuju kelas untuk memulai pelajaran. Ia mengajar dengan penuh semangat dan sabar. Ia berusaha untuk membuat para siswa tertarik dengan materi yang ia sampaikan.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang cerita novel," kata Fitri.
Para siswa mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Fitri. Mereka terlihat antusias dengan materi yang akan mereka pelajari.
Fitri kemudian memberikan contoh cerita novel yang menarik. Ia juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bertanya atau menyampaikan pendapat mereka.
Pelajaran hari itu berjalan dengan lancar. Para siswa terlihat senang dan termotivasi untuk belajar.
****
Namun, di balik semua kebaikan dan kerajinan Fitri, ternyata ada saja orang yang tidak menyukainya. Salah satunya adalah Bu Ida, sesama guru bahasa Indonesia yang sudah senior. Bu Ida sudah berstatus sebagai PNS dan telah mengajar selama 28 tahun.
Bu Ida memiliki suami seorang perwira polisi. Hal ini membuatnya seringkali bersikap angkuh dan suka memamerkan kekayaannya. Ia sering terlihat mengenakan gelang dan cincin emas yang mahal, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya.
Bu Ida tidak menyukai Fitri karena Fitri dianggap terlalu cari muka dan terlalu bersemangat dalam mengajar. Bu Ida juga iri dengan Fitri karena Fitri lebih disukai oleh para siswa.
"Fitri itu terlalu sok cari muka," kata Bu Ida kepada teman-temannya. "Dia pikir dia yang paling benar saja."
"Iya, Bu," timpal seorang guru. "Dia juga terlalu bersemangat. Saya jadi merasa malu kalau tidak semangat seperti dia."
"Sudahlah, biarkan saja dia dengan idealismenya itu," kata Bu Ida. "Nanti juga dia akan capek sendiri."
Namun, Fitri tidak pernah menghiraukan omongan pedas dan nyinyir dari Bu Ida. Ia tetap fokus pada pekerjaannya dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi para siswanya.
Suatu hari, Bu Ida melihat Fitri sedang berbicara dengan seorang siswa yang terlihat murung. Bu Ida kemudian menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Bu Ida.
"Ini, Bu," kata siswa tersebut. "Saya sedang ada masalah dengan keluarga saya."
"Sudah, jangan bersedih," kata Fitri kepada siswa tersebut. "Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."
Bu Ida kemudian pergi meninggalkan mereka. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Fitri yang selalu berusaha untuk membantu orang lain.
****
Di ruang guru, Bu Ida, Bu Vivi, Bu Nur, dan Bu Nilam sedang asyik bergosip tentang Fitri. Mereka berempat memang sudah lama membentuk semacam geng di sekolah tersebut.
"Fitri itu sok cari muka dengan siswa," kata Bu Ida dengan sinis. "Dia selalu saja berusaha untuk terlihat baik di depan mereka."
"Iya, Bu," timpal Bu Vivi. "Dia juga sok baik. Semua yang dia lakukan harus dipuji."
"Dia juga sok pintar," kata Bu Nur. "Dia selalu saja ingin memberikan yang terbaik untuk siswa, padahal kita juga sama saja."
"Sudahlah, biarkan saja dia dengan kesokannya itu," kata Bu Nilam dengan jutek. "Nanti juga dia akan sadar sendiri."
Mereka berempat tertawa puas setelah membicarakan Fitri. Mereka merasa senang karena telah berhasil "menjatuhkan" Fitri.
Namun, tanpa mereka sadari, Fitri mendengar semua yang mereka bicarakan. Ia tidak menyangka bahwa teman-teman sejawatnya sendiri ternyata tidak menyukainya.
Fitri merasa sedih dan kecewa. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebaikan dan ketulusannya justru dianggap sebagai sesuatu yang negatif oleh orang lain.
Namun, Fitri tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia tetap berusaha untuk menjadi dirinya sendiri dan memberikan yang terbaik bagi para siswanya.
"Biarlah mereka berkata apa saja," kata Fitri dalam hati. "Aku akan tetap menjadi diriku sendiri dan melakukan yang terbaik untuk para siswa."
****
Pagi itu di kelas XII IPA 1, suasana terasa tegang dan mencekam. Bu Vivi, guru matematika yang terkenal galak, baru saja memberikan soal-soal yang sulit kepada para siswa. Namun, setelah beberapa menit berlalu, tidak ada satu pun siswa yang mampu menjawab soal-soal tersebut dengan benar.
Bu Vivi pun naik pitam. Ia mulai mengomeli para siswa dengan kata-kata yang kasar dan merendahkan.
"Kalian ini bagaimana, sih?" bentak Bu Vivi. "Soal-soal seperti ini saja tidak bisa kalian kerjakan. Apa kalian tidak belajar semalam?"
"Sudah kelas XII masih saja bodoh," lanjut Bu Vivi. "Kalian ini mau jadi apa nanti kalau tidak bisa matematika?!"
Para siswa hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala. Mereka merasa malu dan takut dengan kemarahan Bu Vivi.
Alih-alih memberikan penjelasan atau bimbingan, Bu Vivi terus saja mengumpat dan merendahkan para siswa. Ia bahkan membanding-bandingkan mereka dengan siswa dari kelas lain yang dianggap lebih pintar.
"Lihat itu kelas XII IPA 2," kata Bu Vivi. "Mereka semua bisa mengerjakan soal-soal seperti ini. Kenapa kalian tidak bisa seperti mereka?"
Para siswa semakin merasa putus asa. Mereka merasa bahwa Bu Vivi tidak lagi peduli dengan mereka sebagai manusia. Bu Vivi hanya melihat mereka sebagai objek yang harus bisa mengerjakan soal-soal matematika.
Setelah puas mengomeli para siswa, Bu Vivi pun meninggalkan kelas dengan wajah masam. Para siswa masih terdiam dan menundukkan kepala. Mereka merasa sedih dan kecewa dengan sikap Bu Vivi.
****
Setelah Bu Vivi keluar dari kelas dengan wajah masam, Fitri masuk dengan senyum hangat dan tatapan penuh kasih sayang. Ia melihat wajah-wajah murung para siswa dan merasakan kesedihan yang mereka rasakan.
"Anak-anakku, Ibu tahu kalian sedang kecewa dan sedih," kata Fitri dengan lembut. "Tapi, jangan biarkan kekecewaan dan kesedihan itu menguasai diri kalian."
Fitri kemudian memberikan dorongan moral dan semangat kepada para siswa. Ia mengatakan bahwa mereka semua adalah anak-anak yang hebat dan memiliki potensi yang luar biasa.