menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
karina marah
"Karina, langit mendung mau hujan kayaknya. Itu jemuran belum diangkat." Teriak Bu Marni dari arah warung.
Posisi Karina saat ini sedang tiduran didalam kamarnya ,jadi tidak mendengar teriakkan mertua nya.
"Duh mana sih itu anak. bentar ya Bu Sri, saya manggil mantuku dulu takut keburu hujan ini."
"Yaudah sih Bu Marni, tinggal diangkat dulu jemuran nya. siapa tau Karina nya lagi sibuk didalam." Ucap Bu Sri.
"Sibuk ngapain ,lah wong Karina itu anaknya pemalas kok. kalau gak disuruh ya nggak bakal dikerjain. Anak jaman sekarang mesti sering dikasih tau Bu Sri, biar nggak manja dan leha-leha saja bisanya."
Bu Marni masuk kedalam rumah sambil berteriak memanggil menantunya, "Karin, Karina... kamu dimana? angkat jemuran ini sudah mau hujan!".
Tetap saja tidak ada jawaban dari Karina.
Dokkk.. dokkk.. dokkk.. Bu Marni menggedor-gedor pintu kamar Karina dengan kencang.
Dengan enggan Karina membukakan pintu kamarnya, "Apa sih Bu berisik banget, ganggu aja deh."
Bu Marni melotot mendengar ucapan menantunya, "Apa kamu bilang ibu ganggu. Dari tadi dipanggil gak nyaut nyaut teryata malah asik asik tidur ya. Tuh angkat jemuran sudah mau hujan." tunjuk Bu Marni kearah luar rumah.
"Astaga, ibu teriak-teriak cuma buat nyuruh aku angkat jemuran? Bu timbang angkat jemuran doang apa susahnya. Udah aku cuciin loh semua baju satu keluarga disini."
"Gak usah membantah ya kamu! Cepat angkat jemuran, kamu tuh harus sadar kalau..."
"Kalau aku cuma numpang disini kan ,aku hanya orang asing yang kebetulan dinikahi oleh anak ibu iya kan." Belum selesai Bu Marni bicara, Karina sudah menyahut.
"Nah tuh, kamu sadar siapa kamu disini. Udah sana buruan ibu masih ada pembeli." Bu Marni keluar terlebih dahulu meninggalkan Karina.
"Dasar, orang tua manggil dari ternyata malah enak-enak tidur dikamar." Gerutu Bu Marni dengan suara kencang, sengaja agar orang yang belanja di warungnya mendengar.
"Biarkan saja to Bu Marni, siapa tau Karina memang capek jadi tidur. Perkara angkat jemuran saja gak usah dipanjangin." ,Sahut Bu Ratih tetangga yang sedang belanja diwarung Bu Marni.
"Iya tu Bu Marni, kan kasihan Sinta pasti capek beberes rumah sendirian." sahut Bu Sri.
"Eh itu memang sudah kewajiban seorang istri dan menantu Bu ibu. Karina kan istrinya Rudi, jadi wajar dia yang lakuin semua pekerjaan rumah." ucap Bu Marni.
"Eh Bu Marni ,Karina itu istri dan menantu bukan pembantu tau." bela Bu Sri.
Para tetangga disekitar sini sudah tau kelakuan buruk keluarga Rudi terhadap Karina yang semena-mena.
Dari dalam rumah Sinta keluar bersama dengan Rina, "Tuh Rin, angkat jemuran yang sudah kering nanti yang masih belum kering kamu taruh diteras sana." Tunjuk Karina ke arah tali jemuran yang berada di teras.
"Iya." jawab Rina singkat .
"Loh loh, kok jadi Rina yang angkat jemuran." Bu Marni tak terima salah satu anak kembarnya disuruh suruh oleh Karina.
"Tau tuh bu, mbak Karin maksa. kalau gak mau besok gak bakal di cuciin bajuku katanya."
Bu Marni melotot tajam kearah Karina, "Enak saja kamu nyuruh nyuruh anakku. Gak bisa Rina itu harus belajar."
"Bu, anak perawan tuh jangan diajarin males dong. timbang angkat jemuran sebentar doang. Justru ibu harus terimakasih sama aku, karena mau mendidik anak ibuk biar gak jadi gadis pemalas. Iya kan Bu ibu?" ,Tanya karina yang mencari pembelaan.
"Iya Bu Marni, biarin aja sih. Biar Rina nanti bisa ngelakuin pekerjaan rumah tangga." Sahut Bu Sri.
"Bu." Ucap Rina.
"Udah buruan angkat sekarang atau..."
"Iya iya, ih nyebelin banget sih mbak." Rina berjalan dengan menghentakkan kakinya.
Bu Marni Hanya bisa diam menyaksikan anaknya disuruh oleh Karina. Mau melawan tapi disini sedang ada ibu ibu yang sedang belanja.
"Bu Marni, aku sudah nih belanjanya."ucap Bu Sri.
Bu Marni mulai menghitung belanjaan yang dibeli oleh Bu Sri. " Semua jadi 34 ribu."
Bu Sri memberikan uang pecahan 20 ribuan sebanyak 2 lembar.
"Nih kembaliannya 6 ribu." Bu Marni memberikan kembalian kepada Bu Sri.
"aku juga sudah Bu Marni." ucap Bu Ratih.
***
Pukul 16.30 jam kerja usai. Kini para karyawan bersiap siap untuk pulang tak terkecuali Rudi. Rudi langsung berjalan menuju parkiran.
"Sore pak Rudi, udah mau pulang pak?" Tanya Lisa salah satu bawahan Rudi di pabrik.
"Sore Lisa ,iya nih mau pulang. aku duluan ya."
"Eh anu pak Rudi ,maaf bisa numpang ikut pulang gak ya kebetulan kita kan searah nih. Motor aku tadi pagi dibengkel."
"Oh boleh Lisa, sekalian kita kan searah juga."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lisa senang karena di perbolehkan untuk pulang bersama. Sejujurnya, Lisa sangat mengagumi sosok Rudi atasannya. Menurut Lisa, Rudi itu orangnya sudah ganteng ,seorang direktur, gaji juga pasti oke dong ya.
walaupun sudah memiliki istri, tak mengurangi rasa kagum Lisa terhadap sosok Rudi.
Awalnya Rudi biasa saja terhadap Lisa. tapi lama kelamaan Rudi merasa nyaman dekat dengan Lisa. Namanya juga laki-laki, kalau disodorkan barang gres juga pasti lama-lama kepincut juga.
"Sudah sampai Lis."
Posisi saat ini Rudi membonceng Lisa. dengan Lisa memeluk erat dari belakang. Bahkan dada Lisa sengaja dipentokkan dipunggung Rudi.
"Ah terimakasih banyak pak Rudi. sampai tidak sadar saya saking nyaman nya bersandar dipunggung pak Rudi hehehe.. Mampir dulu yuk pak rudi." Ajak Lisa.
"Kapan-kapan saja ya Lis, takut istri di rumah nyariin."
"Yasudah hati-hati dijalan ya pak Rudi."
Rudi pun mengangguk, kemudian melanjukan kembali motornya untuk pulang kerumah.
"Akan aku buat kamu mencintaiku pak Rudi. aku tidak peduli Kamu itu pria yang sudah beristri. Aku bahkan rela jika harus jadi yang ke dua." Gumam Lisa begitu Rudi sudah tidak terlihat.
***
"Tumben baru sampai mas?." Tanya karina begitu Rudi masuk kedalam rumah.
"Iya jalan macet banget." Rudi berbohong, padahal habis nganterin cewek pulang.
"Yasudah mandi dulu sana mas, setelah itu kita makan malam." ,Rudi mengangguk patuh lalu berjalan menuju kamar mandi.
Kini semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam.
"Yah sayur tadi pagi, bosen tau mbak." Protes Rani saat mengetahui makan malam dengan sayur sisa tadi pagi.
"Kalau tidak suka gak usah makan." Karina membalas sinis ucapan adik iparnya.
"Tuh Rud, kamu lihat sendiri bagaimana kelakuan istrimu. Adikmu cuma ungkapin unek-uneknya ,toh kenyataannya memang benar begitu kan. Apa yang dibilang Rani memang benar. Apa kamu gak bosan makan pakai itu itu Mulu."
Karina tidak peduli dengan ucapan mertuanya, lebih memilih menikmati makanan untuk mengisi tenaga. Debat dengan keluarga toxic seperti ini juga butuh tenaga ekstra.
"karin besok masak lah ayam, aku juga bosan makan pakai itu itu Mulu. Benar kata Rani."
karina menengadahkan kedua tangannya didepan muka Rudi.
"Kenapa itu tangan?." Tanya Rudi.
"Minta uang lah buat beli ayam besok. Kamu pikir makan enak cukup pakai uang satu juta buat sebulan. Aku juga bosen sih makan kangkung tempe terus, pengen juga makan ikan atau ayam gitu."
"Baru dua Minggu aku kasih jatah kan untuk belanja sehari-hari. satu juta masa iya udah habis sih." Protes Rudi.
"Rud, istrimu tuh gak becus mengelola uang. boros dia itu pasti uangmu ditilep sama dia." Bu Marni pun ikut mengompori Rudi.
Bruak.. Karina menggebrak meja.
Karina marah ,selalu dituduh seperti itu. Bayangkan saja satu juta untuk satu bulan,itu pun untuk 1 keluarga yang isinya 4 orang dewasa mana cukup coba.
"Cukup ya mas! kamu kira kalau gas habis, minyak, beras, bumbu dapur semua pada habis terus beli pakai uang apa coba? Ya uang 1 juta itu. Dan ibu juga, aku sudah terlalu sabar ya ngeladenin ucap ibu. jangan mentang-mentang aku cuma numpang disini kalian bisa seenaknya memperlakukan aku seperti ini.
Kalau ibu mau makan enak ya modal, keluarin duit buat beli makanan enak. jangan bisanya nuduh aku boros lah ,tidak pintar kelola duit lah. Kalian pikir duit 1 juta itu gede? Hello, gimana kalau mulai sekarang aku minta jatah uang untuk belanja harian saja.
Setiap hari aku minta jatah khusus untuk beli sayur saja. urusan gas beras dan lainnya tidak termasuk didalamnya. Mas Rudi ngasih banyak ya kita makan enak. begitu juga sebaliknya kalau ngasih nya kecil ya jangan harap makan enak. Oke mulai sekarang aku putuskan untuk meminta uang belanja harian biar kalian tau tiap hari aku belanja habis berapa." ucap Karina mengutarakan unek-uneknya.
"Sudahlah hanya masalah kecil jangan kamu besar-besar kan Karin, ini kita mau makan loh." Ucap Rudi.
Karina meletakkan sendok dengan kasar, "Apa kamu bilang mas, masalah sepele? Tapi kalian semua selalu mengungkitnya. Kamu pikir aku tidak punya perasaan mas. pernah gak kamu bela aku disaat keluarga mu menghina aku? Gak pernah mas, justru kamu sama saja malah ikutan menghinaku."
Bu Marni dan kedua anak kembarnya hanya diam menyaksikan percekcokan antara Rudi dan karina. Padahal awal mulanya juga karena mereka, tapi jika Karina sudah ngomel-ngomel mereka hanya bisa diam saja.
Setelah makan malam Karina masuk kedalam kamarnya disusul oleh Rudi.
"Ngapain pakek dikunci segala mas?" ,tanya karina yang curiga karena suaminya ikut masuk kedalam kamar dan menguncinya.
Rudi tersenyum manis penuh n4fsu dan mendekat kearah Karina, "Mas kangen karin, mas kepengen."
"Halah kamu nih mas, giliran minta jatah baik-baikin bicaranya manis bener kayak gula. Tapi giliran dimintai duit aja pelit banget."
"Iya maafin mas ya, kita harus sadar diri disini hanya numpang."
"Ya makanya ayo kita pindah mas, kita ngontrak berdua saja." Ajak Karina.
"Iya nanti mas pikirkan ya. Sekarang mas mau minta jatah kangen ni."
Karina hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya. Akhirnya Rudi dan karina pun melakukan olahraga malam bersama.
"Ah." ,ucap Rudi ketika sudah mencapai klimaksnya. Seketika tubuh Rudi pun ambruk kesamping.
"Yaampun mas baru mau enak, belum ada 10 menit udah selesai aja sih. Mas bangun dong aku kan belum selesai." , Karina menggoyang-goyangkan tubuh Rudi yang sudah tertidur dikasur.
"Aku capek karin, udah ah aku mau tidur." ,Rudi membungkus tubuh nya dengan selimut lalu tidur membelakangi Karina.
"Kebiasaan, maunya enak sendiri gak mau enakin istri. Giliran udah selesai ditinggal molor, dasar laki-laki egois. Kalau begini terus gimana mau punya anak coba." Gerutu Karina.
Bersambung...