Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 002: Hari Pertama di Sekolah Baru
"Reyna, bangun. Sudah pagi," panggil Pak Ardan sambil mengguncang pelan bahu putrinya.
Reyna membuka mata perlahan, mengerjapkannya beberapa kali agar pandangannya jelas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan tanpa menatap ayahnya, ia berjalan santai menuju kamar mandi. Sikap dingin dan acuh tak acuh Reyna kembali membuat dada Pak Ardan sesak. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan keluar dari kamar putrinya. Di luar, Lisa sudah menunggunya dengan senyum lembut.
"Reyna sudah bangun, Mas?" tanya Lisa ramah.
Pak Ardan tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala istrinya. "Sudah, Sayang. Dia sudah bangun."
Meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.45, Reyna masih bergerak santai. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, lalu mengikat rambut panjangnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Tak ada sedikit pun rasa gugup atau antusiasme di wajahnya untuk hari pertamanya bersekolah di tempat baru.
Tak butuh waktu lama, Reyna sudah memacu motor sportnya membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Ia sama sekali tidak peduli dengan umpatan atau klakson marah dari pengendara lain yang ia salip. Baginya, jalanan adalah miliknya. Ia terus melaju hingga sampai di gerbang sekolah barunya yang sudah tertutup rapat karena jam masuk sudah lewat.
"Pak, tolong buka gerbangnya!" teriak Reyna pada bapak satpam yang sedang bertugas.
Pak satpam mengamati Reyna sejenak. "Anda murid baru ya, Nak?" tanyanya ramah.
"Iya, Pak," jawab Reyna singkat dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Gerbang pun dibukakan. Reyna melajukan motornya masuk hingga area parkir, lalu dipandu oleh Pak Satpam menuju ruang kepala sekolah. Di tengah koridor yang sepi, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang berjalan dengan wibawa, dialah Reyhan, sang Ketua OSIS sekolah ini.
"Selamat pagi, Nak Rey," sapa Pak Satpam.
"Pagi, Pak. Mau ke mana?" tanya Reyhan, baru menyadari ada sosok lain di belakang pak satpam.
"Ini, saya mau antar murid baru ke ruang kepala sekolah," tunjuk Pak Satpam ke arah Reyna.
"Biar saya saja yang antar, Pak. Bapak kembali ke pos saja," potong Reyhan sopan.
Pak Satpam pun pamit pergi. "Ayo, saya antar," ajak Reyhan.
"Hem," sahut Reyna pelan.
Reyhan berjalan di depan, sementara Reyna mengikutinya dari belakang dengan langkah santai. Sepanjang jalan, tak ada sepatah kata pun terucap. Suasana hening tercipta di antara keduanya. Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Reyhan mengetuk pintu.
"Masuk," jawab suara dari dalam.
Mereka masuk, dan Reyhan langsung melapor. "Pak, ini murid baru."
Kepala sekolah mengangguk singkat. "Antar dia ke kelas XI IPA 1, Rey."
"Baik, Pak."
Mereka kembali berjalan menuju kelas. Reyhan menoleh sebentar. "Ayo, ke kelas."
Sesampainya di depan kelas XI IPA 1, Reyhan menatap Reyna tajam. "Ini kelasmu. Ingat, besok jangan terlambat lagi. Kalau sampai telambat, jangan salahkan gue kalau gue kasih hukuman berat," ucap Reyhan tegas. Reyna hanya diam dan menatap malas. Baginya, ucapan ketua OSIS itu tak ada gunanya.
Tok... Tok... Tok...
Bu Sukma membuka pintu dan tersenyum melihat Reyhan. "Ada apa, Rey?"
"Maaf mengganggu, Bu. Saya cuma mengantar murid baru ini," jawab Reyhan sopan sambil menunjuk Reyna.
"Masuklah, Nak," ucap Bu Sukma ramah.
Bu Sukma lalu menghadap seluruh siswa di kelas. "Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru. Silakan perkenalkan dirimu."
"Reyna Mauren A," ucap Reyna datar, suara dinginnya terdengar jelas di ruangan itu.
Seisi kelas seketika heboh, terutama para siswa laki-laki yang terpesona oleh wajah cantik dan aura memikat Reyna.
"Wah, cantik banget!"
"Bidadari turun ke bumi nih!"
"Calon istriku sudah datang nih, teman-teman."
Reyna hanya menatap mereka dengan tatapan bosan. Pujian seperti itu sudah biasa ia dengar seumur hidupnya.
"Silakan duduk di dekat Citra ya. Citra, angkat tanganmu," perintah Bu Sukma.
Seorang gadis mengangkat tangan. Reyna berjalan santai menuju bangku itu dan duduk. Bukannya siap belajar, Reyna malah langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja, memeluk kepalanya dengan kedua tangan. Citra yang menjadi teman sebangkunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah teman barunya yang sangat cuek.
Bel istirahat pun berbunyi nyaring. Reyna terbangun dari tidur singkatnya. Ia bangkit dan berjalan keluar kelas menuju kantin. Perutnya mulai terasa lapar. Ia langsung memesan semangkuk bakso dengan nada datar.
"Bakso," ucapnya singkat pada penjual.
Setelah pesanannya jadi, Reyna membawa mangkuk itu berjalan mencari tempat duduk kosong. Ia memilih duduk di bangku paling pojok, menjauh dari keramaian dan hiruk pikuk siswa lain. Ia memang lebih suka kesendirian daripada harus berbaur dengan orang-orang yang tak ia kenal.
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.