NovelToon NovelToon
Ending Scene

Ending Scene

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:43k
Nilai: 5
Nama Author: Alyra Una

Sinopsis

Dunia ternyata bisa setidak adil ini baginya, Verisa Dinata. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini, ibunya, setelah kepergian ayahnya dua tahun lalu. Itu sungguh membuatnya sangat terpukul dan hancur.

Lucky tidak bisa menutup mata ketika melihat gadis itu terdiam dalam tangis di depan makam kedua orang tuanya. Ia seolah ikut merasakan sedih yang gadis itu rasakan. Verisa, anak dari pemilik perusahaan yang Lucky jalankan kini, sekarang hidup sebatang kara. Dan, Lucky tahu bagaimana rasanya itu. Karena ia pun sebatang kara. Lucky telah berjanji kepada kedua orang tua gadis itu jauh sebelum kejadian ini terjadi, untuk menjaganya dan menggantikan sosok orang tuanya.

Namun, akankah Verisa menerima kehadiran Lucky di hidupnya? Mampukah Verisa melanjutkan hidup dengan orang asing di sisinya? Dan, bagaimanakah akhir dari kehidupan tidak adil Verisa ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Kecil Pendiam

Sore itu, Verisa tak bisa menahan rindunya ingin kembali menemui ibu dan ayahnya, tepatnya ke makam kedua orang tuanya. Sejujurnya, Verisa masih tidak bisa percaya dengan takdir yang menimpa hidupnya ini, tapi inilah kenyataannya. Verisa tak bisa melawannya.

Ia meminta Lucky untuk tetap menunggunya di parkiran, sementara ia pergi ke dalam area pemakaman. Sendirian. Beralasan ia hanya ingin melepaskan rindunya bertiga saja dengan kedua orang tuanya. Tanpa orang lain. Dan Lucky menurutinya.

“Ayah, Ibu, apa kalian bahagia di sana?” Pertanyaan pilu pertama Verisa saat sudah berada di antara kedua makam orang tuanya. Bahkan ia sendiri bisa mendengar getar dalam suaranya.

Namun, Verisa berusaha tegar dan tidak mau menangis. Ia mendongakkan kepalanya dan mengambil napas dalam

sebelum berkata lagi,

“Jujur ... aku benci keadaan ini, Ayah, Ibu. Aku benci sendirian. Aku masih belum percaya kalau kalian pergi secepat ini ninggalin aku. Setelah Ayah, sekarang Ibu juga. Aku ngerasa ... nggak akan sanggup ngejalanin semuanya sendiri.”

Verisa menatap nisan ibunya. “Kalau aku sedih nanti, siapa yang akan ngehibur aku? Kalau aku punya masalah di sekolah, siapa yang akan jadi tempat ceritaku?” Tatapannya beralih ke makan ayahnya, “Dan ... kalau aku menikah nanti, siapa yang akan mewalikanku?”

Air mata Verisa jatuh juga, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh terduduk. Dalam benaknya, ia tak  pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Bahkan secepat ini, tapi lagi-lagi, inilah takdir. Verisa tidak bisa memilih atau melawannya. Sungguh takdir yang tak pernah Verisa harapkan.

Verisa kembali berdiri dan menatap nisan kedua orang tuanya bergantian. Ia menarik napas dalam sebelum berkata,

“Ayah ... Ibu ... aku udah putusin kalau hari ini adalah hari terakhirku jadi diriku sebelumnya. Aku bakal ngelupain kebiasaanku sama kalian. Aku akan berubah. Aku akan ... ngelupain kalian. Jadi ...” Verisa menarik napas dalam, “maaf.”

Setelah mengatakan itu dengan sangat berusaha menahan sesak di dadanya, ia pergi meninggalkan makam itu. Dengan hati yang berat.

***

“Kamu nggak apa-apa, Verisa?” tanya Lucky setelah melihat Verisa kembali dari makam dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa pun.

Lucky hanya mengikuti Verisa dan ikut masuk ke dalam mobil. Sesaat ia menatap Verisa yang tetap diam menghadap jendela, ia urung bertanya. Gadis itu pasti masih sangat sedih. Ia bisa melihat jejak air mata yang masih membekas di pipinya. Juga, matanya yang memerah. Nanti ia akan mengajaknya bicara ketika gadis itu sudah lebih tenang.

Dengan pikiran itu, Lucky melajukan mobilnya menuju rumah Verisa.

Sesampainya di rumah, gadis itu langsung turun. Masih tidak mengatakan apa pun pada Lucky. Ia menatap Verisa heran, kenapa Verisa menjadi sangat diam seperti itu?

Khawatir gadis itu akan melakukan hal yang tidak terduga, Lucky segera mengikutinya. Ketika gadis itu masuk ke kamarnya, Lucky hampir menyusulnya. Namun, Verisa justru membanting pintunya, tepat di depan wajahnya, membuatnya terkejut.

Lucky ingin memastikan Verisa tidak melakukan hal bodoh di dalam kamarnya. Ia khawatir jika Verisa ... ah tidak, jangan berpikir buruk tentang gadis itu. Ia yakin Verisa tidak akan melakukan hal sebodoh itu, tapi jika sampai sesuatu terjadi di dalam ....

Pikiran tentang Verisa benar-benar membuatnya khawatir. Apa sebaiknya ia menerobos masuk ke dalam? Tidak, Verisa pasti akan sangat marah.

“Verisa,” panggil Lucky akhirnya, sambil mengetuk pintu kamar itu. “Boleh saya masuk?” ijinnya.

Selama beberapa saat tidak ada jawaban dari dalam. Lucky semakin khawatir. Apa ia masuk saja dan ....

Pintu terbuka sedikit. “Aku mau istirahat, Kak,” Verisa berkata datar, lalu menutup pintunya lagi. Namun, Lucky sempat menahan pintu itu.

“Tunggu sebentar!”

Verisa hanya menatap Lucky, datar.

Lucky mendesah pelan. “Oke. Saya akan minta Bibi menyiapkan makan malam. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa memanggil saya. Saya akan tetap di rumah ini sampai nanti malam,” beritahu Lucky dengan senyum tenangnya.

Verisa mengangguk pelan, lalu kembali menutup pintunya. Masih tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu.

Lucky hanya bisa mendesah berat menanggapinya. Butuh waktu untuknya bisa memahami gadis itu. Selama ini, Lucky hanya sibuk mengurusi perusahaan ayah Verisa. Ia tidak terlalu sering bertemu dengan gadis itu, berbincang pun tidak pernah. Hanya sapaan saja, itu pun jika mereka bertemu. Mungkin, sebaiknya ia bertanya pada Bi Minah tentang keseharian Verisa.

***

Dengan enggan Verisa keluar menuju ruang makan, ketika Lucky memanggilnya untuk makan malam. Jika tidak, pria itu justru akan membawa makan malamnya ke kamar. Dan Verisa tidak suka ada orang lain, terutama pria asing yang masuk ke kamarnya sembarangan.

“Apa kamu sudah ngerasa lebih baik, Verisa?” tanya Lucky ketika Verisa baru duduk di kursi di ruang makan.

“Aku baik-baik saja,” balasnya datar.

Verisa melirik Lucky yang duduk di seberangnya. Tidak ada piring di hadapannya. Apa ini makan malamnya sendiri? Lalu, untuk apa pria itu memanggilnya dan hanya duduk menungguinya di sini?

Ia melihat menu makanan yang Bi Minah siapkan. Semua makanan kesukaannyaa, tapi malam ini ia sama sekali tidak nafsu makan.

“Kenapa? Bukannya ini semua makanan kesukaanmu?” tanya Lucky.

Verisa menggeleng, lalu mengangguk. Enggan menjawab, tapi akhirnya ia mengambil setengah centong nasi dan udang saus tiram kesukaannya.

Ketika ia memasukkan sesuap makanan ke mulutnya, Verisa mengerutkan kening, lalu meletakkan sendoknya. Makanan ini enak, tapi kenapa makanan ini justru terasa hambar di mulutnya?

“Kenapa lagi, Verisa? Ada yang aneh dengan rasa makanannya?” tanya Lucky, cemas.

“Rasanya hambar,” sebutnya.

Lucky mengambil sendok dan mencobanya. “Ini enak. Nggak hambar,” beritahu Lucky.

Verisa melengos, tidak mau menanggapi. Karena memang kenyataannya makanan ini tidak hambar. Lidahnya saja

yang hambar.

“Kamu butuh sesuatu, Ve? Oh maaf, maksudku Verisa,” ralat Lucky.

“Ve? Lebih enak didengar, sih. Aku nggak masalah sama panggilan singkat itu. Dan sekarang, aku mau balik ke kamar,” Verisa berkata, masih datar. Ia berdiri hendak kembali ke kamarnya, tapi Lucky sudah menahan tangannya.

“Apa kita bisa bicara sebentar?”

“Aku lagi nggak mau ngomongin hal apa pun. Jadi ...” Verisa menatap tangan Lucky yang masih menahan tangannya, “lepasin tangan Kak Lucky. Tolong.”

Lucky melepaskannya. “Tapi, seenggaknya habisin makananmu dulu dan minum obatnya. Biar kamu cepat sembuh.”

Verisa menatap Lucky sekilas. Tapi, tidak menuruti perkataan Lucky. Verisa justru pergi ke kamar, meninggalkan  pria itu.

Di atas tempat tidurnya, Verisa duduk bersandar sambil menekuk lutut. Untuk saat ini, Verisa sungguh ingin sendiri. Meski ia tidak ingin benar-benar sendirian, sebenarnya.

Ketika Lucky berjanji untuk ada di sisinya dan bertanggung jawab atas hidupnya sebagai pengganti orang tuanya, Verisa sedikit merasa lega. Tapi, ada rasa aneh yang ia rasakan juga. Dan entah apa. Mungkinkah itu rasa harapnya karena ada Lucky di sini sebagai pengganti orang tuanya?

Ia tahu siapa Lucky. Ayah pernah bercerita tentang bagaimana Lucky bisa menjadi orang kepercayaan ayahnya di perusahaan. Ketika Lucky masih menjadi karyawan biasa di perusahaan Ayah yang masih dirintisnya, Ayah pernah hampir ditipu dan dicurangi oleh rekan kerjanya sendiri. Saat itu Lucky sempat melihat bagaimana rekan kerja Ayah melakukan kecurangan itu di belakang Ayah. Hingga suatu ketika dalam rapat penting para pemegang saham, rekan kerja Ayah memberikan bukti palsu tentang kecurangan Ayah di perusahaan. Sehingga Ayah terancam dipecat dan dipidana.

Namun, tepat sebelum Ayah di seret keluar ruang rapat atau bahkan kantornya sendiri, Lucky datang dengan membawa bukti rekaman jika Ayah tidak bersalah. Dari situlah, Ayah percaya pada Lucky. Dan kini memercayakan perusahaan di tangannya setelah Ayah meninggal.

Mengingat bagaimana Lucky berjanji kemarin, bahkan pria itu mencoba menguatkannya, memeluknya dengan tulus hingga Verisa tertidur. Verisa sedikit merasa bersalah karena bersikap kurang baik pada pria itu sejak sore tadi. Ia hanya ingin tidak terlihat lemah. Mencoba untuk kuat dan menerima semua takdirnya. Meski hatinya hancur.

Ia masih mengingat perkataan Ayahnya ketika ia masih SMP dulu,

“Takdir itu selalu tertulis baik untuk setiap manusia, Ve. Entah itu hal buruk sekalipun, itulah takdir yang Tuhan catat untuk makhluknya. Yang perlu manusia lakukan hanya bersyukur dan jalani. Tanpa penyesalan. Karena hidup hanya sekali. Jadi, jangan pernah sia-siakan hidupmu.”

Dengan pesan itu, Verisa menguatkan diri untuk menerima takdirnya, meski terasa sangat menyakitkan. Tapi, Ayah bilang hidup hanya sekali dan tidak boleh di sia-siakan. Jadi, dengan keputusan Verisa kemarin di depan makam orang tuanya, ia akan menerima hidupnya saat ini. Ia akan menjalaninya dengan cara melupakan semua kenangan bersama keluarganya. Meski itu akan sulit juga baginya, tapi ia tidak sanggup jika terus terbayang ayah dan ibunya ketika ia sudah tidak memiliki mereka lagi.

Itu keputusannya. Ia akan mulai menjalaninya.

***

Lucky sempat terkejut, ketika pagi itu Verisa memintanya untuk melepaskan semua foto keluarga yang terpajang di rumah Verisa. Gadis itu tak mengatakan alasannya kenapa, tapi ia bilang ia hanya ingin melepaskannya dan menyimpannya.

“Apa kamu yakin, nggak apa-apa kalau nggak ada fotomu dan keluargamu di rumah ini?” Lucky masih memastikan.

“Itu justru lebih baik,” ucapnya dingin.

Kening Lucky berkerut, berpikir. Ada apa sebenarnya dengan Verisa? Kenapa sikapnya berubah dingin begini?

Ketika permintaan Verisa sudah selesai dikerjakan, Lucky melihat Verisa yang sedang mengamati sekeliling. Seolah memastikan tidak ada lagi foto, di sudut mana pun. Mendapati semua foto sudah diturunkan, Verisa mendesah berat setelahnya.

Lalu, ia meminta Lucky untuk memberinya kendaraan sendiri.

“Nggak bisa, Ve. Kamu belum cukup umur untuk membawa kendaraan sendiri,” tolak Lucky.

“Aku cuma mau belajar mandiri. Apa salahnya?” Verisa beralasan.

“Tetap nggak bisa apa pun alasannya. Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab saya. Apa pun yang kamu butuhkan, saya yang akan siapkan. Tapi, nggak untuk kendaraan. Saya sendiri yang akan mengantar dan menjemputmu ke sekolah. Juga dengan ke mana pun kamu pergi, saya yang akan mengantarmu,” putus Lucky tegas, membuat Verisa menatapnya kesal.

“Ini demi kebaikanmu dan janjiku pada orang tuamu, Ve,” Lucky berkata lebih lembut.

“Aku nggak peduli,” dengusnya kasar, lalu pergi ke kamarnya.

Lucky masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia khawatir meninggalkan Verisa sendiri dalam keadaan emosi seperti ini. Mau tidak mau, Lucky meminta bantuan Bi Minah untuk menjaga dan mengawasinya.

“Tolong, jangan biarin Verisa keluar rumah dulu ya, Bi. Saya harus kembali ke kantor karena ada pertemuan penting,” beritahu Lucky.

“Baik, Pak Lucky. Saya dan Mang Karso akan menjaga Non Verisa,” balas Bi Minah sopan.

“Pastikan Verisa makan dengan teratur dan hubungi saya jika terjadi sesuatu,” pesan Lucky yang dibalas persetujuan Bi Minah. Lalu, Lucky benar-benar pergi ke kantor.

***

Selama rapat di kantor, Lucky merasa ponselnya bergetar beberapa kali di saku celananya. Ia tidak bisa mengangkatnya sekarang karena sedang mempresentasikan pekerjaannya.

Ketika Lucky selesai dengan presentasinya, ia meminta ijin pada kliennya untuk keluar sebentar. Ia khawatir itu telepon dari Bi Minah. Dan benar saja, ada lima panggilan tak terjawab dari Bi Minah.

“Ada apa, Bi?” ucap Lucky ketika menelepon balik Bi Minah.

Namun, mendengar jawaban dari seberang, Lucky tidak bisa menahan kepanikannya. “Bi Minah tenang dulu, ya. Saya segera pulang.”

Lucky harus kembali ke ruang rapat, meminta ijin untuk meninggalkan rapat, dan mengalihkan rapatnya pada sekretaris dan manajernya. Dengan cepat, Lucky berlari menuju parkiran dan segera memacu mobilnya menuju rumah Verisa. Dalam hati ia berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Verisa.

Sampai di depan rumah Verisa, Lucky turun dari mobil dan berlari ke dalam. Bi Minah sudah menunggu Lucky di depan pintu kamar Verisa.

“Apa yang terjadi, Bi?” Lucky bertanya panik.

“Saya mau mengantar makan siang buat Non Verisa, Pak, tapi waktu saya ketuk pintunya, Non Verisa tidak mau membukakan pintunya. Lalu, saya coba membujuknya. Karena tidak ada jawaban dari dalam, saya khawatir terjadi sesuatu pada Non Verisa. Dan tadi ... saya sempat mendengar Non Verisa menjerit di dalam. Tapi, pintunya di kunci, jadi saya bingung harus bagaimana,” terang Bi Minah.

Lucky mencoba mengetuk pintu kamar Verisa dan memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Apa Lucky harus mendobraknya?

Ya, sebaiknya begitu. Lucky tidak mau terjadi sesuatu yang buruk di dalam sana. Lucky meminta Bi Minah mundur, lalu ia mengambil jarak dari pintu sebelum menerjang pintunya beberapa kali. Di terjangan ke lima, pintu itu berhasil terbuka. Lucky langsung lari ke dalam kamar dan mencari Verisa.

“Verisa!” panggil Lucky, panik.

Setelah mengecek semua ruangan yang ada di kamar itu, Lucky panik ketika tidak menemukan Verisa di sana. Namun, ketika ia akan mencarinya keluar, Lucky sempat mendengar isakan pelan dari dalam lemari besar di kamar Verisa.

Lucky mendekati lemari itu dan membuka pintunya. Ia bisa melihat Verisa duduk dengan menekuk lutut di dalam lemari di bawah bajunya yang digantung. Lucky mencelos melihat air mata Verisa.

“Ada apa, Ve?” tanya Lucky lembut. Sambil perlahan membantu Verisa keluar dari persembunyiannya.

Lucky menuntun Verisa hingga duduk di sisi tempat tidur. Menariknya dalam pelukannya, sambil menepuk pelan punggungnya. Menunggunya lebih tenang.

***

1
Ri Da
oooo so sweeeettttt......
Naftali Hanania
WAW.....duka bgt sm cerita ini.....karakternya yg nggak gampangan...bahkan baik & jujur...semoga aja msh banyak orang² bersifat& bersikap kayak lucky,verisa,william,putra di jaman sekarang....sukses selalu buat Author...🤗🎉👏
Alyra Una: makasih dukungannya ya.
total 1 replies
trisya
novel emg bodoh 😆😆😆😆😆
Fitri Lin
aaaaaa...princess..
Fitri Lin
umur lucky berapa sih.?penasaran aku...
Fitri Lin: wah seumuran aku nih kayaknya...
total 2 replies
trisya
lucky gak mikirin verisa. terlalu emosi, harusnya main cantik dong. panggil polisi, dan cari bantuan. kalo kayak gitu kan malah kasian verisa, di saat verisa sakit, lucky dengan bodohnya nyetor nyawa
Alyra Una: Hehehe tenang², jangan emosi, Kak.
Makasih ya, udah mampir.
total 1 replies
trisya
ceroboh cuma itu yg cocok sama verisa
udah tau lagi cedera harusnya bisa lebih hati hati lagi. kalaupun mau keluar harus bisa jaga diri.
pangeran
huahahaha... manusia bodoh... dan didunia nyata gak ada laki2 sebodoh lucky... udah susah jd kaya tp bodoh... saking bodohnya lupa kalua ini dunia novel dgn mdhnya bs dibuat sedemikian rupa... tp syg krna karakternya lucky gak buat novel ini jd bagus
Alyra Una: Tengkyuuuu
total 1 replies
pangeran
kampret... cerita kaga jls
Alyra Una: Makasih, Kak Fitri Lin buat dukungannya. Semoga terhibur sama ceritanya ya.
Abaikan aja komentar yang tidak membangun, nanti malah bikin badmood lagi. hehehe
total 3 replies
pangeran
baru kali ini merasa dibodohi baca novel...
pangeran
udah punya bukti malah berbuat bodoh... dia pikir dia siapa... sosok yg aneh dan gak relefan
pangeran
ternyata lucky bodoh ya... demi like terserah lo mau buat kaya gmna
trisya
cerita udh tau cidera tapi ceroboh . akhirnya kan merugikan diri sendiri dan lucky.
pangeran
terlalu lama dramanya... seputar itu trs
Rou Hui: Maaf numpang promo
Yuk baca novel tamat "KEMELUT CINTA" 💕💕💕

Rasa bersalah karena merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu. Namun cintanya telah ia berikan pada Stevi. Mampukah Kevin menetapkan pilihan hatinya?
total 1 replies
pangeran
cerita bodoh
Naftali Hanania
suka ceritanya....tulus nya lucky
Alyra Una: Makasih, Kak Naftali Hanania.
Semoga terhibur.
total 2 replies
Te el Moncos el
lanjuuut Kya nya seru ni
yesread
kereeeen. di tunggu extra extra extraaaa partnya~ atau bahkan season duanya.
Alyra Una: Makasiihh... rencana mau lanjutin, tapi nunggu selesai event di tempat lain dulu. hehehe

makasih banget udah mampir ya. semoga terhibur.
total 1 replies
yesread
pantesan will kesannya tiba tiba suka Verisa. buat ini toh wkwk
Alyra Una: Nah, kan. Sekarang tau deh William cuma mancing doang.
total 1 replies
yesread
pas perjalanan suka Verisa-Lucky lama banget, pernyataan cintanya Will jadi terkesan terburu buru dan mendesak. tapi, cinta mungkin bisa segila itu sih. hihi
Alyra Una: Makasih masukannya ya...
Tapi, emang sengaja sih Will ujug2 bilang suka gitu ke Verisa. 😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!