NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Gemuruh halus mesin jet pribadi menyelimuti kabin mewah yang melayang di atas lautan awan. Di luar jendela oval, pemandangan langit sore yang kemerahan perlahan berganti menjadi kegelapan malam. Di dalam ruangan privat pesawat yang temaram, waktu seolah berhenti, mengisolasi Kenzo dan Clara dari peradaban bumi jauh di bawah sana.

Clara duduk bersandar di sofa kulit berukuran jumbo, matanya menatap pendaran lampu kota yang mulai tampak samar di kejauhan. Kelelahan fisik dan mental setelah tragedi berdarah di Karibia masih berjejak di tubuhnya. Namun, yang paling membakar dadanya saat ini bukanlah bayangan itu, melainkan sosok pria yang kini berdiri tepat di depannya.

Kenzo melonggarkan dasinya, melempar jas mewahnya ke sembarang tempat. Bahunya yang masih dibalut perban tipis tak mengesampingkan aura dominasi yang terpancar kuat dari postur tubuhnya. Pria itu merendahkan tubuhnya, terkunci pada Clara dengan pandangan mata yang menggelap oleh campuran hasrat, kegilaan, dan rasa kepemilikan yang tak bertepi.

"Di Karibia kau hampir merenggut nyawaku dengan rasa cemas, Clara,"

bisik Kenzo dengan suara rendah yang menggetarkan leher Clara.

Tangannya yang hangat dan kokoh menyusup ke sela-sela rambut Clara, memaksa gadis itu mendongak.

"Di atas awan ini, tidak ada musuh, tidak ada pengawal, Hanya ada kita berdua."

Sentuhan Kenzo yang berani dan tanpa keraguan membakar sisa pertahanan diri Clara. Dalam ruang sempit di atas ketinggian belasan ribu kaki itu, batas antara kebencian, ketakutan, dan rasa keterikatan yang pekat melebur sepenuhnya.

Kenzo mengecup bibir Clara dengan kedalaman yang menuntut kepasrahan, menyesap tiap hela napas sang adik tiri dalam tautan intim yang membakar. Setiap usapan jemari Kenzo di sepanjang lekuk tubuh Clara, desah napas yang tertahan, dan gejolak intimasi yang terhampar di atas pembaringan kabin jet pribadi itu menjadi simbol dari takdir mereka yang sudah terikat mati.

Di atas awan, Clara membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran gairah dan kehangatan posesif Kenzo, sebuah pelarian manis yang menyamarkan kenyataan pahit.

Beberapa jam kemudian, jet pribadi mendarat mulus di Mexico. Rombongan mobil SUV hitam yang dikawal ketat langsung membawa mereka membelah jalanan malam kota menuju kawasan perumahan paling elit di Mexico, kediaman utama keluarga besar mereka.

Suasana kediaman megah itu terasa amat dingin dan menekan. Gerbang besi raksasa terbuka lambat, menyambut kepulangan sang putra mahkota dan putri tiri yang telah menghilang selama berminggu-minggu.

Saat melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama yang berdinding kayu jati tinggi, Clara merasakan firasat buruk menyengat tengkuknya. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut beruban yang disisir rapi, ayah kandung Kenzo sekaligus ayah tiri Clara.

Fred memegang cangkir tehnya dengan tenang, namun tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci Kenzo dan Clara yang berjalan berdampingan.

"Kalian akhirnya pulang,"

suara Fred bergema berat di ruangan yang sunyi itu.

Kenzo tetap memegang pergelangan tangan Clara, langkahnya tegap tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Ada hal penting yang harus diurus di Karibia, Ayah."

TAK!

Fred meletakkan cangkir porselennya ke atas meja kaca dengan hentakan keras yang memecah keheningan. Pria tua itu berdiri, menatap Kenzo dengan ekspresi kemarahan mendalam.

"Jangan berbohong padaku, Kenzo!"

bentak Fred dingin.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di Karibia? Kematian Diego, pertempuran armada kapal, dan bagaimana kau menyembunyikan Clara di pulau terpencil itu?!"

Clara tersentak kecil, cengkeraman tangannya pada kemeja Kenzo mengerat.

"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melindungi keluarga ini,"

balas Kenzo tenang, suaranya mengandung nada penentangan yang halus.

"Kau tidak sedang melindungi keluarga, Kenzo! Kau sedang menuruti obsesi gila dan tak masuk akalmu pada adik tirimu sendiri!"

tegas Fred, matanya beralih menatap Clara sekejap sebelum kembali menatap putra tunggalnya.

"Rumor di kalangan pebisnis dan pejabat sudah mulai liar. Sikap posesifmu yang tidak rasional ini bisa menghancurkan dinasti bisnis yang kubangun puluhan tahun!"

Fred melangkah mendekat, berdiri hanya satu meter di depan Kenzo. Suasana di antara ayah dan anak itu mendadak menjadi begitu tegang, seperti dua predator yang saling mengukur kekuatan.

"Keputusanku sudah bulat,"

ujar Fred dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.

"Minggu depan, kau akan berangkat ke London untuk memimpin ekspansi holding di sana. Kau akan menetap di sana setidaknya selama dua tahun."

Kata-kata itu menghantam ruangan seperti petir.

Kenzo menyipitkan matanya, rahangnya mengeras tajam.

"Dan jika aku menolak?"

"Jika kau menolak, aku akan mencabut seluruh hak aksesmu atas aset keluarga, memecatmu dari posisi CEO, dan mengirim Clara ke fasilitas kediaman tertutup di Swiss yang takkan pernah bisa kau temukan,"

ancam Fred dingin.

"Pilih, Kenzo. Pergi ke London secara terhormat, atau kau kehilangan dia dan kekuasaanmu sekaligus.

Di samping Kenzo, dada Clara berdegup kencang. Setelah pertempuran berdarah di Karibia dan intimasi membara di atas pesawat beberapa jam lalu, dinding pertahanan Kenzo kini justru dihantam oleh ancaman nyata dari sang ayah kandung.

Kenzo tidak menjawab seketika. Genggaman tangannya pada jemari Clara justru makin mengerat hingga terasa menyakitkan, sebuah sinyal bahwa pria itu lebih baik membakar dunia daripada harus berpisah dari gadis yang menjadi pusat gravitasinya.

Ketegangan di dalam ruang tamu itu merambat begitu cepat, membekukan udara di sekitar mereka. Lampu gantung kristal yang memancarkan pendaran kuning temaram seolah tak mampu menghangatkan suasana yang kini diliputi kemarahan dingin sang monster.

Fred melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegap memamerkan wibawa seorang penguasa tunggal yang belum pernah sekalipun dipatahkan keputusannya. Matanya yang tajam menelisik setiap detail penampilan putra tunggalnya, mulai dari kemeja yang kusut, perban di balik kain halus, hingga genggaman jemari Kenzo yang seolah tak berniat melepaskan Clara sama sekali.

"Jangan menatapku seperti itu, Kenzo,"

ujar Fred dengan nada suara yang makin merendah namun amat mematikan.

"Aku yang membesarkanmu. Aku tahu betul jalan pikiranmu. Kau pikir dengan kekuasaan kecil yang kupinjamkan di perusahaan, kau sudah bisa bertindak seperti raja yang kebal hukum? Kau salah besar."

Kenzo menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sarat akan cemoohan. Pria muda itu mengambil satu langkah maju, menarik Clara makin merapat ke sisi tubuhnya, menjadikannya perisai tak kasat mata dari tekanan sang ayah.

"Ayah bisa mencabut seluruh sahamku. Ayah bisa memecatku dari kursi CEO besok pagi jika itu memang membuat Ayah merasa menang,"

balas Kenzo, suaranya tenang tanpa sedikit pun nada gemetar.

"Tapi jangan pernah sekali-kali berpikir Ayah bisa menyentuh Clara atau memisahkannya dariku. Tempat ini, aset-aset itu tak ada artinya bagiku dibanding dia."

Clara menahan nafasnya, dadanya bergemuruh hebat mendengar pengakuan terang-terangan dari Kenzo di depan ayah kandungnya sendiri. Keberanian Kenzo untuk menantang sang ayah demi mempertahankannya terasa begitu mengerikan, sekaligus mengikat jiwanya makin dalam ke dalam pusaran obsesi ini.

Fred terkekeh pelan, sebuah tawa tanpa nada humor yang terdengar begitu dingin.

"Kita lihat saja sejauh mana obsesi gilamu itu bisa bertahan tanpa uang, tanpa pengawal, dan tanpa nama besar keluarga ini, Kenzo. Pergi ke kamarmu. Dan Clara... kamu tidur di sayap timur malam ini, berpisah dari Kenzo."

"Dia tidur denganku,"

potong Kenzo mutlak, tak memberikan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.

Tanpa menunggu balasan sang ayah yang memerah menahan amarah, Kenzo mencengkeram jemari Clara erat-erat lalu menuntunnya melangkah naik menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Di belakang mereka, tatapan benci dan cemas sang Ayah terus mengiringi, menandai awal dari perang terbuka di dalam keluarga mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!