NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bilik Nomor 5

Sofia memilih mengambil cuti, dia merasa tidak enak badan hari ini. Dia sudah mengabari Leo untuk tidak menjemputnya, juga sudah memberi kabar ke Zea.

Hari ini dia hanya ingin beristirahat, sambil membaca buku?

...----------------...

“Kenapa aku harus terus mempertahankan Bilik Nomor Lima untuk diriku sendiri?”

Suara Madame Giry terdengar tajam di tengah keributan yang mulai memenuhi koridor.

“Ini sungguh konyol!”

Aku yang kebetulan berada tidak jauh dari sana segera menoleh.

Di hadapan Madame Giry berdiri sang manajer baru, dengan wajah merah padam karena amarah.

Aku memperlambat langkah.

Itu Madame Giry... dan manajer baru.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dari nada suara mereka, jelas bahwa pertengkaran itu bukan sesuatu yang sepele.

“Kau adalah usher yang bertanggung jawab melayani para tamu VIP,” kata sang manajer tajam. “Siapa lagi yang memiliki kesempatan untuk membuat lelucon semacam ini?”

Aku mengernyit.

Usher.

Aku pernah mendengar istilah itu sebelumnya, tetapi di gedung opera ini, pekerjaan mereka jauh lebih banyak daripada sekadar mengantar seseorang ke tempat duduk.

Seorang usher bertugas menyambut para penonton dan memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Mereka memeriksa tiket, mengantar tamu VIP ke kursi atau bilik mereka, memberikan program pertunjukan, membantu para pengunjung menemukan berbagai fasilitas, bahkan menyajikan makanan ringan bila diperlukan.

Dan malam ini, salah satu dari mereka tampaknya telah melakukan kesalahan besar.

“Bilik Nomor Lima adalah bilik Phantom!” seru Madame Giry.

Beberapa orang yang mendengar perkataannya langsung terdiam.

“Kau mengabaikan aturan dan menjual kursinya. Tentu saja Phantom akan tersinggung!”

“Sudah cukup.”

“Kau membuatnya marah,” lanjut Madame Giry, tidak menghiraukan perintahnya. “Itulah sebabnya dia menyakiti para pelanggan. Dan kaulah yang harus menanggung akibatnya.”

Aku menahan napas.

Phantom lagi.

Sejak kematian Joseph, nama itu terus menghantui gedung opera.

Kami bahkan belum sempat mengembalikan ketenangan tempat ini, dan sekarang sesuatu yang baru kembali terjadi.

“Jangan gunakan hantu itu sebagai alasan untuk membuat aturan!” bentak sang manajer. “Aku tidak peduli dengan cerita omong kosong semacam itu!”

Madame Giry menatapnya dengan mata menyipit.

“Aku rasa kau hanya ingin memiliki bilik terbaik agar dapat menjual kursinya dengan harga tinggi dan mendapatkan uang sampingan.”

Wajah Madame Giry berubah pucat.

“Beraninya kau menuduhku!”

Suaranya bergetar karena marah.

“Setiap tempat yang baik memiliki aturannya sendiri. Aku telah bekerja di sini selama beberapa dekade. Aku mengetahui tempat ini lebih baik daripada siapa pun!”

“Manajer sebelumnya mungkin takut dengan trik-trik kecilmu,” jawabnya dingin, “tetapi aku tidak.”

Ia melangkah maju, “Aku tidak akan membiarkan pembuat onar mengatur gedung opera ini.”

Matanya menunjuk ke arah Bilik Nomor Lima.

“Bilik itu milik gedung opera. Dan milik siapa pun yang membayar untuk duduk di sana. Bukan milik hantu.”

Suasana menjadi semakin tegang.

“Kau akan membayar kebodohanmu,” kata Madame Giry pelan. “Phantom sendiri yang akan memberitahumu betapa sombongnya dirimu.”

“Bawa dia pergi.”

Dua orang staf segera mendekati Madame Giry.

“Lepaskan!”

Salah satu dari mereka mencoba memegang lengannya.

“Berhenti menarikku! Aku bisa berjalan sendiri!”

Ia meronta dengan marah.

“Suatu hari nanti, kau semua akan memohon agar aku kembali!”

“Madame Giry!”

Aku tidak dapat menahan diri.

Aku melangkah maju, “Mau ke mana?”

Namun teriakanku tenggelam di antara suara orang-orang yang berkerumun.

Madame Giry bahkan tidak menoleh.

Ia terus berjalan menjauh hingga sosoknya menghilang di ujung koridor.

“Sudah cukup!”

Suara manajer menggema. Semua orang kembali diam.

“Jika ada orang lain yang berani menggunakan hantu sebagai alasan untuk melakukan sesuatu yang aneh, mereka juga akan diusir!”

Ia menunjuk ke arah koridor, “Persis seperti dia!”

Manajer itu benar-benar kehilangan kendali.

Pakaiannya telah berantakan, rambutnya tidak lagi tertata, dan wajahnya merah karena kemarahan. Ia terus menggerutu sambil merapikan pakaiannya dengan gerakan kasar.

Aku menatapnya dalam diam.

Manajer benar-benar mengirim Madame Giry pergi?

Aku kemudian melirik ke arah beberapa penari yang berdiri tidak jauh dariku.

Apa sebenarnya yang terjadi di Bilik Nomor Lima?

Aku mendekati mereka.

“Maaf.”

Salah seorang penari menoleh.

“Ada apa?”

“Apa yang sebenarnya terjadi di Bilik Nomor Lima?”

Kedua penari itu saling berpandangan.

“Katanya para pengunjung mendengar suara Phantom berbicara kepada mereka.”

Aku mengerutkan kening.

“Berbicara?”

“Ya.”

Penari itu menelan ludah.

“Seorang pria begitu ketakutan sampai ia jatuh dari tangga.”

“Apakah dia terluka?”

“Kabarnya kakinya patah.”

Aku terdiam.

Penari lainnya menghela napas panjang.

“Sekarang kita benar-benar tidak bisa merahasiakan keberadaan Phantom lagi.”

“Tidak heran manajer begitu marah.”

“Aku harap aku tidak pernah bertemu dengan hantu menakutkan itu.”

Ia mengusap kedua lengannya.

“Merinding hanya dengan membicarakannya.”

Kemudian mereka pergi.

Aku masih berdiri di tempat.

Pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Suara Phantom...

Bilik Nomor Lima...

Semuanya mulai membentuk sebuah pola yang membuatku semakin tidak nyaman.

Aku akhirnya berbalik untuk pergi.

Namun langkahku terhenti. Di balik tumpukan peti dan berbagai perlengkapan panggung yang berserakan, aku melihat sesuatu.

Seseorang.

Sosok tinggi berpakaian gelap berdiri diam di balik kekacauan.

Ia tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Tidak melakukan apa pun.

Namun entah bagaimana, keberadaannya terasa jauh lebih mencolok daripada orang-orang yang sedang berlalu-lalang di sekitarnya.

Para staf meninggalkan area itu satu demi satu. Tidak seorang pun memperhatikannya.

Hanya aku.

Aku menahan napas. Apakah itu pria yang kulihat pada malam perjamuan?

Tubuhku menegang.

Meg pernah mengatakan bahwa mungkin dialah Phantom. Aku menatap sosok itu lebih lama.

Haruskah aku memberi tahu seseorang?

Aku hendak berbalik ketika...

sosok itu menghilang.

“Apa?”

Aku segera maju. Mataku menyapu lorong.

Tidak ada siapa pun.

Aku berlari kecil menuju persimpangan koridor. Lalu kulihat bayangannya.

Ia bergerak cepat menuju tangga.

“Itu dia.”

Aku bahkan tidak sempat berpikir.

Kakiku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

Aku mengejarnya. Sosok itu menghilang di ujung koridor. Aku mempercepat langkah.

Jika dia hanya seorang pekerja aneh yang mencoba menakut-nakuti orang, mungkin semuanya tidak lebih dari sebuah lelucon.

Namun bagaimana jika tidak?

Bagaimana jika dia benar-benar Phantom?

Jantungku berdegup semakin keras.

Aku teringat Joseph. Tubuhnya yang ditemukan tergantung di bawah panggung. Mawar merah yang ditemukan di bawah kakinya.

Ketakutan yang menyelimuti seluruh gedung opera.

Jika seseorang berada di sana ketika Joseph diserang...

Bagaimana jika seseorang datang tepat waktu?

Mungkinkah Joseph masih hidup?

Pikiran itu membuat langkahku semakin cepat.

Rasa takut dan rasa tanggung jawab bertarung di dalam diriku.

Aku tahu aku seharusnya mencari bantuan.

Aku tahu aku seharusnya tidak mengejar seseorang sendirian.

Tetapi naluri dalam diriku mengatakan bahwa kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

Aku mengepalkan tangan.

Aku harus mengikutinya.

Aku terus berlari.

Aku harus mengikutinya.

Tangga di depanku semakin gelap.

Suara langkah kaki pria itu terdengar samar di atas.

Aku mengangkat rok panjangku agar tidak tersandung.

Sepatu bertumitku mengetuk lantai dengan suara yang menurutku terlalu keras.

Tak. Tak. Tak.

Aku merasa ia akan menoleh kapan saja.

Aku bahkan beberapa kali yakin bahwa ia telah mendengarku.

Namun pria itu tidak pernah berhenti. Ia terus berjalan.

Sampai akhirnya...

ia menghilang di balik sebuah tirai.

Aku berhenti. Napas terengah-engah.

Mataku perlahan mengikuti arah langkahnya.

Di hadapanku terdapat sebuah bilik yang pintunya hampir tertutup.

Aku mengenalinya. Jantungku serasa jatuh ke dasar perut.

Bilik Nomor Lima.

Aku berdiri membeku.

Tempat yang sejak tadi menjadi bahan pertengkaran.

Tempat yang dikatakan sebagai milik Phantom.

Tempat yang seharusnya tidak didatangi siapa pun.

Madame Giry mengatakan bahwa ini adalah bilik Phantom.

Aku menelan ludah. Mungkinkah sosok itu benar-benar Phantom?

Aku melangkah mendekat.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Aku mengulurkan tangan dengan hati-hati dan menyentuh tirai.

Aku hendak membukanya ketika...

sepasang tangan muncul dari balik kegelapan.

Aku bahkan tidak sempat berteriak.

Lengan seseorang langsung melingkari tubuhku dan menarikku masuk.

Tubuhku membeku. Sebuah suara rendah berbisik tepat di dekat telingaku.

“Jangan bergerak.”

Aku menahan napas.

“Diam.”

Seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak berani menoleh.

Karena saat itu aku tahu...

aku tidak sedang mengejar Phantom.

Phantom-lah yang sejak tadi membiarkanku mengejarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!