Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Letusan Tembakan
Bella Lombardi - 20 tahun
Seharian ini aku membantu Mama menyiapkan jamuan amal keluarga kami. Acara yang digelar Rumah Sakit Memorial Rossi ini salah satu yang terpenting sepanjang tahun. Bukan hanya untuk rumah sakit, tapi juga bagi banyak proyek sosial yang bergantung pada donasi ini agar bisa terus membantu mereka yang kekurangan.
Aku selalu suka ikut serta di hari seperti ini. Aku petugas sosial di rumah sakit, dan juga menjalankan proyek di panti asuhan serta perpustakaan umum, tempat aku memberi pelatihan untuk anak-anak dan remaja. Dengan bekerja untuk orang lain, aku menemukan ketenangan. Dengan merawat mereka yang membutuhkan, aku bisa melupakan, walau hanya beberapa jam, hantu-hantu dalam hidupku sendiri.
Sebab di balik perempuan yang mengabdi pada kegiatan sosial, ada kenyataan lain.
Aku Bella Lombardi.
Putri mafia.
Aku lahir di tengah kekuasaan, uang, dan aturan yang tak pernah kupilih untuk dituruti. Sejak kecil aku belajar bahwa di keluarga kami, kewajiban selalu di atas keinginan. Perasaan jarang diperhitungkan ketika nama belakang lebih berat daripada mimpi apa pun.
Dan aku tahu, cepat atau lambat, nasibku akan diputuskan.
Aku akan menikah.
Menikah bukan masalahnya. Aku tak pernah bermimpi hidup sendirian. Yang membebani hatiku adalah kemungkinan aku tak akan pernah punya hak memilih pria yang akan berbagi hidup denganku.
Aku ingin mencintai.
Aku ingin dicintai.
Aku ingin menatap pria di sampingku dan merasa bahwa kami saling memilih, bukan sekadar satu lagi kesepakatan antar keluarga berkuasa.
Mungkin aku terlalu muluk bermimpi.
Atau mungkin, jauh di dalam hati, aku masih percaya bahwa bahkan seorang putri mafia pun bisa menulis kisahnya sendiri.
Tahun demi tahun berlalu, dan aku belum juga menemukan cinta.
Untuk sekarang, aku masih punya hak memilih. Aku masih boleh bermimpi tentang pria yang membuat jantungku berdebar, seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan karena nama keluarga yang kusandang.
Tapi aku tahu kebebasan ini ada masa berlakunya.
Di dunia tempatku hidup, semuanya bisa berubah dalam sekejap. Satu kesepakatan. Satu aliansi. Satu jabat tangan antara pria-pria berkuasa... dan tiba-tiba masa depanku bukan lagi milikku.
Itulah yang menghantuiku.
Aku menghela napas sambil merapikan sanggul untuk terakhir kalinya di depan cermin. Kuluruskan kain gaun yang anggun, memeriksa riasan, lalu tersenyum tipis pada bayanganku.
"Ayo, Bella..." gumamku pada diri sendiri.
Aku keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu, tempat aku akan menunggu anggota keluarga lainnya sebelum kami berangkat bersama ke jamuan amal.
Begitu menginjak anak tangga terakhir, kulihat Papa mondar-mandir. Jelas dia tidak sabar, berulang kali memeriksa jam.
Tapi begitu matanya bertemu mataku, seluruh ketidaksabarannya lenyap.
Senyum lebar menerangi wajahnya.
Dia menghampiri, menggenggam tanganku dengan lembut, dan mengamatiku beberapa saat, seakan sedang melihat gadis kecil yang sama dari tahun-tahun lalu.
"Ya Tuhan..." Dia menggeleng, geli. "Papa harus menyembunyikanmu dari dunia, principessa."
Aku tertawa pelan.
"Tidak sampai segitunya, Papa."
"Tentu saja segitunya. Kamu cantik sekali. Kalau begini terus, Papa bisa membatalkan acaranya dan mengunci kamu di rumah."
Aku memutar mata, geli.
"Papa tahu Mama tidak akan pernah membiarkan itu."
Dia terbahak.
"Mamamu satu-satunya alasan Papa belum melakukannya."
Aku tersenyum dan menggamit lengannya.
Papa memang pria yang ditakuti banyak orang, tapi bagiku dia tetap Papa... pria yang meski memimpin sebuah kerajaan, tetap memandangku seolah akulah hartanya yang paling berharga.
Beberapa menit kemudian, Mama akhirnya turun.
Papa berhenti bernapas sesaat.
Tatapannya mengikuti setiap langkah Mama, terpukau sepenuhnya. Seolah setelah bertahun-tahun menikah, dia masih jatuh cinta lagi setiap kali melihatnya.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Inilah yang kuinginkan untuk diriku.
Bukan kekayaan yang lebih besar. Bukan kekuasaan lebih banyak. Bukan perhiasan atau gaun mahal.
Tatapan itu.
Pemujaan itu.
Cinta yang tetap hidup bahkan setelah bertahun-tahun.
Mama memberi kami senyum jenaka.
"Berangkat? Kita sudah terlambat."
Aku mengangkat sebelah alis.
"Lucu... yang terlambat kan Mama."
Dia menatapku dengan pura-pura tersinggung.
"Detail."
Papa tertawa dan menawarkan lengannya pada Mama, yang langsung menerimanya.
Kami berangkat bersama menuju acara.
Perjalanannya singkat, dan begitu mobil kami berhenti di depan teater, aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Sangat berbeda.
Fotografer ada di mana-mana.
Wartawan.
Kru televisi.
Jauh lebih banyak dari yang lazim untuk sebuah jamuan amal.
Begitu kami turun dari mobil, hujan lampu kilat meledak di depan kami.
Para pengawal membuka jalan saat kami berjalan ke pintu masuk teater.
Keningku berkerut penasaran.
Aku mencondongkan kepala ke arah Papa.
"Siapa selebritas yang datang malam ini?"
Dia menyeringai miring tanpa memperlambat langkah.
"Presiden mengonfirmasi kehadirannya."
Mataku membelalak sesaat.
"Presiden?"
Papa hanya mengangguk.
"Ya. Kehadirannya baru dipastikan menjelang sore. Makanya seramai ini."
Aku kembali menatap sekeliling, mengamati jumlah wartawan yang luar biasa banyak.
Sekarang semuanya masuk akal.
Ini bukan sekadar malam amal biasa.
Malam ini, semua mata tertuju pada satu pria.
Teaternya tampak sempurna.
Setiap rangkaian bunga, setiap meja, setiap detail dekorasi dirancang dengan teliti. Aku cukup mengenal Mama untuk tahu betapa kerasnya dia bekerja demi malam ini. Di sisinya, Om Giovanni mengamati semuanya dengan senyum puas yang tersamar. Keduanya hanya bertukar sedikit kata, tapi tatapan "tugas selesai" itu sudah cukup bicara.
Lampu meredup, dan acara dimulai.
Di panggung, proyek-proyek sosial Rumah Sakit Memorial Rossi dipaparkan, disusul lembaga-lembaga penerima bantuan lainnya. Video-video yang mengharukan menampilkan anak-anak, lansia, dan keluarga yang hidupnya berubah berkat donasi.
Mustahil tidak terharu.
Malam-malam seperti inilah yang membuat semua kerja keras terasa berharga.
Tapi tiba-tiba kudengar dengung bisik-bisik menyebar di dalam teater.
Percakapan berhenti.
Semua kepala menoleh ke pintu utama.
Kehadiran Riccardo Colombo yang berwibawa akhirnya terlihat.
Bahkan dari kejauhan, sikapnya menuntut rasa hormat.
Tinggi, rapi, dengan setelan yang dipotong sempurna, dia melintasi aula dikelilingi tim pengamanan. Lampu kilat kembali menyala tanpa henti.
Pria itu tampan.
Itu tak terbantahkan.
Dan, mengesampingkan pilihan politik apa pun, tak bisa dipungkiri pula bahwa dia memerintah dengan sangat baik.
Aku mengamati adegan itu hanya beberapa detik sebelum mengalihkan perhatian kembali ke panggung.
Bagaimanapun, alasan sebenarnya malam ini adalah proyek-proyek sosial itu.
Sayangnya, ketenanganku tak bertahan lama.
"Bella..."
Aku mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.
Michele Lucena.
Putra salah satu pengusaha dan dermawan terbesar di negeri ini.
Dan menurut pendapatku yang sederhana...
Anak orang kaya yang menyebalkan.
Aku tersenyum sopan.
"Selamat malam, Michele."
Dia memegang tanganku terlalu lama dan memulai percakapan yang jelas tak ingin kuladeni.
Aku menjawab sekadar sopan santun, menanti kesempatan pertama untuk kabur.
Begitu akhirnya berhasil melepaskan diri, aku berterima kasih dalam hati.
Diam-diam aku berjalan ke pintu keluar teater.
Aku butuh beberapa menit jauh dari keramaian.
Jauh dari kamera.
Jauh dari percakapan kosong.
Aku menemukan taman kecil yang diterangi lampu-lampu kuning lembut.
Aroma bunga memenuhi udara, dan angin sejuk menyentuh wajahku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Lalu mendongak ke langit.
Malam yang indah.
Bintang-bintang bersinar terang, dan sesaat, seluruh kebisingan dunia seperti lenyap.
Untuk pertama kali malam itu...
Aku menemukan sedikit kedamaian.
Tapi kedamaian itu singkat.
Aku mendengar langkah mendekat di taman. Aku menghela napas, yakin Michele memutuskan membuntutiku. Namun ketika berbalik, yang kulihat adalah Presiden Riccardo Colombo, berjalan sambil bicara di telepon dengan pikiran melayang.
Aku berniat menyapanya.
Sebelum satu kata pun keluar, sebuah letusan tembakan membelah keheningan malam.
Tubuhku membeku.
Riccardo bereaksi seketika. Dia mencengkeram pinggangku dan menjatuhkanku ke tanah, sebelah tangannya melindungi kepalaku sebelum membentur lantai.
Tembakan lain menggema di kejauhan.
Jantungku berpacu.
Ketika kubuka mata, aku bertemu matanya.
Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Kurasakan napasnya bercampur dengan napasku saat dia mengamatiku, memastikan aku baik-baik saja.
Sesaat, seluruh dunia lenyap.
Hanya ada mata biru itu... dan kami berdua.
Tanpa berpikir, kuangkat tangan menyentuh wajahnya.
Dan, dengan dorongan hati, kupertemukan bibirku dengan bibirnya.