**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Pagi yang Meruntuhkan Segalanya
"Kamu siapa?!"
Suara Kirana pecah bersama nyeri yang menghantam pelipisnya.
Bau buah persik yang terlalu manis bercampur dengan aroma tubuh laki-laki memenuhi kamar asing itu. Tenggorokannya kering. Lidahnya pahit. Ketika ia mencoba bangun, telapak tangannya menyentuh kain kusut yang dingin oleh tumpahan minuman.
Gaun krem yang dipakainya semalam tergeletak di lantai. Salah satu talinya putus.
Di bawah gaun itu, sebuah undangan berwarna putih gading telah terinjak dan sobek menjadi dua. Huruf emas M dan R masih tampak di antara kelopak mawar yang rontok dari dekorasi makan malam keluarga.
Lalu laki-laki di sisi ranjang bergerak.
Kirana menahan napas. Punggung telanjang yang semula membelakanginya menegang, kemudian pemiliknya duduk dengan gerakan cepat. Kirana mundur, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh dari ranjang dan lututnya membentur lantai.
"Jangan mendekat!"
Laki-laki itu langsung berhenti.
Ia meraih kemeja hijau zaitun dari sandaran kursi, mengenakannya tanpa berusaha mendekat. Wajahnya keras, rahangnya tegas, rambutnya berantakan seperti baru terbangun dari perkelahian. Namun matanya tidak liar. Tatapan itu justru terlalu tenang untuk keadaan sekacau ini.
"Aku tidak akan menyentuhmu," katanya.
"Ini di mana? Apa yang kamu lakukan padaku?"
Kirana menarik seprai untuk menutupi tubuhnya. Saat itulah matanya jatuh pada bercak merah samar di kain putih. Perutnya seketika mual.
Potongan ingatan semalam menyambar tanpa urutan. Senyum Melati. Gelas tinggi berisi es dan irisan persik. Suara kakaknya yang terdengar lembut, menyuruhnya menghabiskan minuman agar tidak dianggap menghina keluarga Adiningrat. Lorong yang bergoyang. Sebuah tangan menahan bahunya. Pintu kamar yang tertutup.
Setelah itu, gelap.
"Jawab aku!" Kirana meraih vas kecil di meja samping ranjang dan mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Kalau kamu berani mendekat, aku pecahkan ini di kepalamu."
"Namaku Bagas."
Nama itu terasa familier. Kirana pernah mendengarnya semalam dari percakapan beberapa tamu, seorang perwira muda dari desa yang kebetulan sedang berada di Surabaya. Orang-orang menyebutnya seperti menyebut seseorang yang tidak penting, lelaki kampung yang beruntung bisa berdiri di antara keluarga-keluarga besar.
Bagas mengancingkan kemejanya satu per satu. "Semalam kamu hampir jatuh di lorong. Seorang pelayan bilang kamar ini sudah disiapkan supaya kamu bisa istirahat. Aku membawamu masuk."
"Lalu?"
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah Bagas retak. Ia menatap cangkir kopi yang pecah di dekat pintu.
"Seseorang mengantarkan kopi untukku. Setelah dua teguk, kepalaku berat." Suaranya turun. "Aku tidak ingat semuanya."
Vas di tangan Kirana berguncang hebat.
"Bohong."
"Aku tidak minta kamu percaya." Bagas mengambil ikat pinggangnya dari lantai. "Tapi kita berdua dijebak."
Kalimat itu baru saja jatuh ketika suara langkah berlari terdengar dari koridor.
"Kamarnya yang ini, kan?"
"Astaga, pintunya terbuka!"
Cahaya dari luar menerobos melalui celah pintu. Sesaat kemudian terdengar bunyi kamera ponsel, sekali, lalu berkali-kali.
Klik. Klik. Klik.
Darah Kirana seperti berhenti mengalir.
Bagas bergerak lebih cepat. Ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang, melemparkannya kepada Kirana, kemudian berdiri di depan pintu. Tubuhnya yang tinggi menutup sebagian besar pandangan orang-orang di luar.
"Simpan ponsel kalian," katanya datar.
Tak ada yang langsung menurut.
Seorang perempuan berbisik terlalu keras, "Itu Kirana, bukan? Bukankah dia yang dijodohkan dengan putra keluarga Adiningrat?"
"Laki-laki itu siapa?"
"Perwira dari Magelang itu. Yang keluarganya dari desa."
Bisikan berikutnya berubah menjadi dengung. Nama Kirana berpindah dari satu mulut ke mulut lain, kehilangan kehormatan setiap kali diucapkan. Beberapa orang mengangkat ponsel lebih tinggi untuk mencari celah di antara bahu Bagas dan kusen pintu.
Bagas melangkah maju.
Ia tidak meninggikan suara. "Saya bilang, simpan."
Entah karena posturnya, seragam yang belum sepenuhnya rapi, atau tatapan yang tidak menyisakan ruang untuk membantah, satu demi satu ponsel turun. Seorang pria masih mencoba merekam dari belakang. Bagas menoleh tepat ke arahnya.
"Hapus. Sekarang."
Pria itu menelan ludah dan menunduk pada layarnya.
Kirana mencengkeram selimut sampai buku-buku jarinya memutih. Ia ingin bangkit dan berteriak bahwa semua ini tidak seperti yang mereka pikirkan. Namun tenggorokannya seperti disumbat kapas. Gaun yang sobek, ranjang yang kacau, dan laki-laki asing di kamar yang sama telah memberikan kesimpulan kepada semua orang sebelum ia sempat mengucapkan satu kalimat pun.
Di ujung kerumunan, Melati berdiri dengan satu tangan menutup mulut.
"Kirana?" panggilnya, seolah tidak percaya. "Ya Allah, bagaimana bisa kamu..."
Kalimatnya menggantung dengan sempurna. Cukup panjang untuk terdengar prihatin, cukup pendek untuk membiarkan orang lain mengisinya dengan tuduhan.
Kirana menatap kakak tirinya. Melati masih mengenakan kebaya biru muda dari jamuan semalam. Tidak ada lipatan pada kainnya, tidak ada lingkar gelap di bawah matanya. Di tengah kekacauan itu, ia tampak terlalu rapi.
Sesaat saja, tangan yang menutupi mulut Melati turun. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Sangat tipis, tetapi Kirana melihatnya.
"Mbak Melati."
Kirana memaksa dirinya berdiri. Dunia miring di bawah kakinya. Ia mengikat selimut di dada, lalu melangkah melewati gaun dan pecahan cangkir.
"Minuman yang kamu berikan kepadaku semalam..."
"Rana!"
Suara Ratna memotongnya.
Ibunya datang dengan napas tersengal, menyibak kerumunan tanpa memedulikan protes siapa pun. Wajah Ratna pucat saat melihat keadaan kamar. Namun ia tidak membiarkan keterkejutan itu tinggal lama. Ia melepas selendang dari bahunya, menutupi kepala dan dada Kirana, lalu berdiri di antara putrinya dan semua mata yang menghakimi.
"Keluar," perintah Ratna kepada orang-orang di lorong. "Kalian tidak punya hak menonton anak saya seperti tontonan."
"Bu Ratna, kami hanya ingin membantu," kata Melati lembut.
"Kalau ingin membantu, tutup pintunya."
Tatapan Ratna membuat senyum prihatin Melati membeku. Ia mundur setapak, tetapi sebelum pergi, matanya sempat beralih kepada Bagas. Bukan terkejut. Bukan pula bingung. Tatapan itu seperti seseorang yang sedang memastikan sebuah rencana telah berjalan sesuai keinginannya.
Bagas melihatnya juga.
Rahang laki-laki itu mengeras.
Pintu akhirnya ditutup. Bunyi kuncinya terdengar kecil, tetapi Kirana merasa seolah seluruh hidupnya baru saja dikurung di dalam kamar itu.
Ratna memegang kedua pipinya. "Lihat Mama. Kamu terluka?"
Kirana ingin menjawab tidak. Ia ingin tetap menjadi Kirana Ayu Prawira yang tidak pernah menangis di depan orang lain, putri yang selalu sempurna di setiap acara keluarga. Namun saat membuka mulut, yang keluar hanya embusan napas patah.
"Aku tidak ingat, Ma."
Ratna memeluknya erat.
"Aku cuma minum yang diberikan Mbak Melati. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa."
Tubuh Ratna menegang. Tangannya mengusap punggung Kirana, tetapi matanya beralih tajam kepada Bagas.
"Dan kamu?"
"Saya juga diberi minuman," jawab Bagas. "Saya akan cari tahu siapa yang mengantarnya."
"Mencari tahu tidak akan menghapus foto-foto tadi."
"Saya tahu."
Jawaban itu begitu tenang sampai Kirana ingin membencinya. Mengapa laki-laki itu bisa berdiri tegak ketika dunianya sendiri telah runtuh? Mengapa ia tidak tampak takut pada nama Adiningrat, pada skandal, atau pada puluhan orang yang baru saja memandang mereka seperti pesakitan?
Dari balik pintu terdengar suara beberapa lelaki yang lebih tua berdebat. Kata nama baik, keluarga, dan tanggung jawab meluncur bergantian. Lalu satu kata menembus daun pintu dengan sangat jelas.
Nikah.
Jari Kirana mencengkeram lengan Ratna.
"Tidak," bisiknya.
Ratna menatap putrinya, dan untuk pertama kalinya Kirana melihat ketakutan tanpa penutup di wajah ibunya.
"Mama akan bicara dengan mereka. Kamu ganti pakaian dulu. Jangan keluar sebelum Mama kembali."
"Ma, aku tidak mau menikah dengan orang yang bahkan tidak kukenal."
"Mama tahu."
"Aku tidak melakukan ini dengan sadar."
"Mama tahu, Nduk."
Suara Ratna pecah pada kata terakhir. Ia mengecup dahi Kirana, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh kepada Bagas.
"Keluargamu mungkin akan menyuruhmu pulang dan melupakan ini," kata Ratna. "Kalau itu terjadi?"
Bagas tidak langsung menjawab. Ia melirik pecahan cangkir, lalu ponsel Kirana yang mati, seakan sedang menyusun daftar bukti di kepalanya.
"Saya tidak akan pergi sebelum jelas siapa yang melakukan ini," ujarnya. "Apa pun keputusan setelahnya, saya akan menghadapinya."
Kirana menatapnya. Itu bukan janji manis, apalagi permintaan maaf. Namun untuk pertama kalinya sejak terbangun, ada seseorang selain ibunya yang tidak memperlakukannya sebagai sumber aib.
"Jaga jarak darinya."
Bagas mengangguk. "Baik, Bu."
Ratna keluar, meninggalkan pintu sedikit terbuka. Suara perundingan di lorong semakin panas. Ada yang menyebut karier militer Bagas. Ada yang menyebut perjodohan lama keluarga Prawira dengan keluarga Adiningrat. Seseorang berkata masalah ini harus diselesaikan sebelum foto menyebar lebih jauh.
Kirana tidak sanggup mendengarnya.
Ia berlutut untuk mengambil tas tangan yang tergeletak di bawah meja. Jemarinya menyentuh benda logam dingin di antara lipstik dan ponsel yang kehabisan daya.
Sebuah gelang bayi.
Logamnya kusam, nyaris hitam di beberapa bagian, tetapi beratnya tidak seperti aksesori murahan. Di permukaan luarnya ada ukiran kecil berbentuk sulur. Benda itu pasti terselip di atas ranjang lalu masuk ke tangannya saat ia panik. Kirana tidak ingat kapan ia menyimpannya.
"Ini milikmu?" tanyanya.
Bagas yang berdiri di dekat pintu segera memeriksa saku celananya. Wajahnya berubah sangat tipis.
"Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Di ranjang."
Kirana hendak melemparkannya, tetapi suara di lorong mendadak mendekat. Refleks, ia menutup telapak tangannya dan memasukkan gelang itu kembali ke dalam tas. Ia tidak ingin satu benda lagi menjadi bahan tontonan orang-orang.
"Nanti akan kukembalikan."
Bagas tidak menjawab. Ia hanya memandang tas itu lebih lama daripada seharusnya.
Kirana kembali ke ranjang dan meringkuk di sudut, membungkus tubuhnya dengan selimut. Bagas berdiri di ambang pintu, punggungnya lurus, menghadapi keluarga-keluarga berpengaruh di luar tanpa sedikit pun menundukkan kepala.
Di dalam tas Kirana, gelang bayi itu bergeser. Cahaya pagi menyentuh sisi dalamnya, memperlihatkan guratan-guratan sebuah nama yang belum sempat dibaca Kirana.