NovelToon NovelToon
OKAY BOSSS

OKAY BOSSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.


bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.

Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NENEK LAMPIR

Setelah memastikan mobil sagara berjalan meninggalkan area depan kosan,silla

Ia hendak membuka pintu dengan kedua tangan penuh kantong belanjaan. Namun, begitu pintu kamar kosnya yang sedikit terbuka ia dorong, senyum di wajahnya langsung lenyap

Di atas kasur busa miliknya, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian mencolok dan kuku merah menyala yang sibuk memainkan ponsel. Ratih, ibu tirinya yang licik dan jahat seperti iblis menurut silla.

"Ngapain lu di kamar gue?!" tembak Sila langsung, tanpa basa-basi. Ia membanting kantong belanjaannya ke atas meja kecil hingga menimbulkan suara berdebum keras.

Ratih mendongak melihat penampilan silla,dia melirik Sila dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan yang terlihat begitu jelas.

"Heh, gak sopan ya kamu. Datang-datang bukannya cium tangan mamah, malah bentak-bentak. Begitu didikan mu di kos-kosan murah ini?" ucap Ratih dengan nada manis yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kelicikan.

"Gak usah sok jadi ibu deh lu! Lu bukan ibu gue!" Sila melangkah maju, berkacak pinggang.

Matanya menatap tajam, penuh kilatan amarah. Sifat berani dan temperamental nya langsung tersulut hanya dengan bertatap langsung dengan ratih ..ibu tiri sekaligus musuh bebuyutan nya selama ini.

"Gue tanya sekali lagi, ada perlu apa nenek lampir kayak lu dateng ke kosan gue? Mau maling?"

Ratih tertawa sinis ia menatap ke arah silla dengan tatapan tajam, ratih berdiri dari kasur sambil melipat tangannya di dada. "Maling? Kamar sekecil ini mau dimaling apa? Ibu cuma mau minta uang bulanan dari ayahmu yang kamu simpan. Ayahmu bilang, sisa uang proyek kemarin ada di kamu. Siniin. Ibu butuh buat bayar arisan sekarang juga."

Sila tertawa renyah, tawa yang penuh dengan kekesalan. "Ooh, modus lu ternyata! Denger ya, Ratih. Uang itu uang keringat ayah buat biaya berobat dia, bukan buat gaya hidup lu yang hedon! Gak akan gue kasih sepeser pun!lagian gue ngasih duit buat makan lu aja apalagi ngasih buat lu foya foya!!"

"Kamu berani ya sama saya?!" Ratih mulai emosi, wajahnya yang penuh riasan tebal itu mengencang. Ia melangkah mendekati Sila, berniat mengintimidasi.

"Saya ini istri sah ayahmu! Saya punya hak!"

"Hak buat morotin ayah? Iya?!" Sila sama sekali tidak mundur. Ia justru memajukan wajahnya, menantang langsung mata licik Ratih ia menatap nya tajam..netra nya tak menunjukan rasa hormat dan rasa takut pada wanita berpakaian modis itu.

"Lu dengerin baik-baik, nenek lampir. Gue gak takut sama ancaman lu. Sekarang juga, angkat kaki dari kamar gue sebelum gue panggil warga dan teriakin lu maling! Keluar!"

Sila berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar, lalu menunjuk ke luar koridor kos dengan jari gemetar menahan amarah yang sudah di ubun-ubun,amarah nya sudah di ujung tanduk

Jika wanita sialan itu masih ada di hadapan nya

Bisa bisa ia jadi kriminal.

Ratih yang melihat keberanian Sila yang meledak-ledak akhirnya merasa ciut, meski wajahnya tetap berusaha terlihat angkuh dan sombong. Ia menyambar tas branding KW-nya di kasur. "Kurang ajar kamu ya! Liat aja nanti, saya adukan kamu ke ayahmu biar kamu di hukum!" ancam Ratih sambil berjalan keluar.

"Aduin aja! Paling lu yang malu karena ketahuan busuknya! Dasar lampir!" teriak Sila tepat di depan wajah Ratih sebelum membanting pintu kosnya dengan sangat keras.

BRAAAKK!

Sila bersandar di balik pintu, napasnya memburu penuh emosi, namun ia sangat  puas karena berhasil mendepak wanita licik itu dari teritorinya.

Jika kamu ingin melanjutkan ceritanya, beri tahu saya:

••••••

silla menonton televisi sambil memakan cemilan ringan yang ada di tangan nya tiba tiba Layar ponsel Silla bergetar hebat. Nama "Ayah" berkedip di sana. Silla menarik napas dalam-dalam, sudah menduga badai ini akan datang. Baru hitungan jam setelah ia menendang Ratih keluar dari rumahnya, wanita bermuka dua itu pasti langsung menjalankan aksi andalannya: memutarbalikkan fakta.

Silla menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Belum sempat ia mengucap salam, suara berat dan penuh amarah Danu sudah menggelegar dari seberang telepon.

"Silla! Apa-apaan kamu ini?! Kenapa kamu jadi anak tidak tahu sopan santun begitu?!" bentak Danu tanpa basa-basi. "Ratih datang ke rumahmu baik-baik, mengantarkan bekal makanan yang dia masak sendiri dengan susah payah. Tapi apa balasanmu? Kamu lempar makanan itu? Kamu maki-maki dia sampai dia menangis gemetar seperti itu?!"

Silla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras mendengarkan aduan domba yang begitu rapi dari ibu tirinya. Wanita licik itu benar-benar pandai berakting menjadi korban.

"Oh, jadi perempuan bermuka dua itu mengadu begitu ke Ayah?" sahut Silla. Suaranya dingin, tenang, namun sarat akan ketegasan. Sama sekali tidak gentar.

"Silla! Jaga bicaramu! Dia itu ibu tirimu, strikes Danu, suaranya meninggi mendengarkan nada bicara putrinya yang tanpa penyesalan. "Ayah tidak pernah mendidik kamu jadi anak durhaka yang tidak menghargai pemberian orang lain!"

"Ayah, dengar!" potong Silla dengan suara lantang yang seketika membungkam bentakan Danu. "Enak saja aku difitnah! Aku tidak akan tinggal diam dituduh melakukan hal rendah seperti itu."

Silla menarik napas sejenak, menstabilkan emosinya agar kalimatnya terdengar menghujam langsung ke logika ayahnya.

"Ayah mau tahu cerita yang sebenarnya? Ratih datang ke sini bukan karena peduli atau mau mengantarkan bekal. Bekal itu cuma kedok, Ayah! Dia datang ke sini untuk memalak uangku! Dia minta uang puluhan juta tabungan yang sudah aku siapkan hanya untuk bayar iuran arisan sosialitanya yang sama sekali tidak penting itu!"

Seberang telepon sempat hening sesaat. Danu tampaknya terkejut, namun ego dan pengaruh Ratih tampaknya masih terlalu kuat. "Tapi tidak perlu sampai melempar makanan dan memaki dia, Silla..." Suara Danu sedikit merendah, namun masih membela ratih.

Silla tertawa sinis. "Melempar makanan?aku bahkan tidak menyentuh rantang bawaannya.

Dia sendiri yang sengaja menjatuhkan bekal itu di depan pagar saat aku menolak memberikan uang, lalu dia pergi sambil pura-pura menangis supaya tetangga lihat! Dia sengaja membuat skenario ini untuk mengadu domba kita, Ayah!"

Silla menegapkan pundaknya, memantapkan suaranya agar Ayahnya sadar siapa yang sedang mereka bicarakan.

"Kalau Ayah lebih memilih percaya pada air mata buaya perempuan licik itu daripada anak kandung Ayah sendiri yang selama ini bekerja keras, silakan. Tapi mulai hari ini, jangan harap satu peser pun uangku akan mengalir ke dompet istri baru Ayah itu. Dan kalau dia berani datang ke rumahku lagi untuk memalak, aku tidak akan segan-segan memanggil polisi!"

Klik.

Silla langsung memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan napas yang masih memburu. Dadanya naik turun karena emosi, namun ada rasa puas yang membuncah. Ia tidak akan pernah membiarkan Ratih menang dalam permainan kotor ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!