Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Penemuan 'Harta Karun'
"Wah, wah... selamat pagi, Tuan Kepiting. Sepertinya kehadiranmu di sini adalah takdir yang mempertemukan kita dengan utang tiga tael perak," bisik Wanru pada dirinya sendiri, seraya menyunggingkan senyuman penuh muslihat.
Ia berdiri perlahan, dan melepaskan kantong kainnya di atas batu kering agar tidak basah. Dengan langkah senyap bagaikan seekor kucing hutan, ia mendekati aliran sungai berbatu. Airnya terasa dingin menusuk kulit saat ia merendam separuh kakinya tapi ia tidak menyerah.
Akan tetapi, kepiting itu rupanya menyadari kehadiran manusia. Binatang berkarapas itu mengangkat kedua capitnya yang besar tinggi-tinggi, dan mengambil posisi siaga bertahan seolah sedang menantang Wanru berduel di atas batu kali.
"Hoo, masih berani melawan rupanya? Kau belum tahu siapa yang kau ajak berdebat di meja perundingan," cibir Wanru geli.
Ia tidak langsung mencengkeram kepiting itu dengan tangan kosong, karena ia tahu capit hewan itu bisa menjepit jarinya hingga berdarah.
Sebaliknya, ia menggunakan sebatang ranting bercabang yang kuat untuk menekan cangkang belakang kepiting dengan presisi sudut 45 derajat, melumpuhkan titik tumpu capitnya, lalu dengan cepat menyambar tubuh hewan itu dari belakang.
Sabet!
"Kena kau!" seru Wanru sukses mengamankan kepiting tersebut ke dalam genggamannya, meski kepiting itu meronta-ronta hebat mengibaskan kakinya ke udara.
Namun, di tengah rasa bahagianya berhasil menangkap kepiting buruan pertama, sebuah insiden kecil yang memalukan terjadi. Saat ia berbalik hendak melangkah naik ke daratan, sebelah sepatu kain usangnya terpeleset di atas batu kali berlumut licin.
"Aduh!" pekik Wanru tertahan.
Bum!
Wanru terjatuh terduduk tepat di tengah aliran sungai yang dangkal. Air dingin langsung membasahi separuh tubuh bagian belakangnya, hingga membuat pakaiannya basah kuyup dan rambutnya yang dikuncir berantakan terciprat air sungai.
Kepiting di tangannya pun hampir lepas, beruntung berhasil ia dekap erat ke dadanya dengan refleks kilat.
Ia terduduk di tengah air, dan menatap bajunya yang basah kuyup, lalu menghela napas panjang sambil mengusap air di wajahnya.
"Sial... di dunia modern aku tidak pernah jatuh terpeleset separah ini, bahkan saat memakai sepatu hak tinggi di lantai es," gerutu Wanru pada dirinya sendiri, meski kemudian ia tertawa kecil menyadari betapa konyol pemandangan dirinya saat itu, seorang mantan CEO agrikultur elit yang basah kuyup di sungai antah berantah karena berebut kepiting dengan batu kali.
"Beruntung disini tidak ada kamera pengawas yang akan mengabadikan momen konyol ku ini hehehe..."
Setelah membersihkan sisa lumpur di pakaiannya seadanya dan mengamankan kepiting serta hasil buruan herbal ke dalam kantong kain, Wanru memutuskan untuk berjalan sedikit lebih jauh ke arah lereng bukit di dalam hutan.
Matahari kini sudah berada tepat di atas kepala, memancarkan kehangatan yang menembus kanopi hutan. Udara terasa lembab dan beraroma tanah subur.
Tiba-tiba, penciumannya menangkap aroma harum yang khas, aroma manis bersahaja yang bercampur dengan keharuman rempah lembut. Wanru menghentikan langkahnya, dan menghirup udara dalam-dalam untuk memastikan dari mana arah aroma tersebut berasal.
Ia menepis rumpun semak pakis berduri di dekat sebuah tebing kecil. Dan di sana, tersembunyi di balik naungan akar pohon ginseng tua, tumbuh segerombolan tanaman dengan batang kemerahan dan buah kecil berwarna merah menyala, dikelilingi oleh daun-daun berurat lima.
Jantung Wanru berdetak sedikit lebih kencang. Matanya membelalak tak percaya.
"Tidak mungkin... Apakah ini benar-benar...?" gumamnya setengah berbisik.
Itu adalah Ginseng Liar Berusia Tua (Wild Mountain Ginseng). Di era dinasti kuno, ginseng liar pegunungan dengan ukuran akar sebesar itu adalah komoditas medis paling dicari dan paling mahal di seluruh kekaisaran.
Para tabib istana atau pedagang obat kaya raya di ibu kota sanggup membayar ratusan tael perak hanya untuk seakar ginseng liar berkualitas tinggi yang berkhasiat memperpanjang umur dan memulihkan vitalitas tubuh yang sekarat!
Wanru segera berlutut dengan sangat hati-hati. Ia tidak langsung mencabut tanaman itu sembarangan, karena jika akarnya patah, nilai jualnya akan merosot drastis. Menggunakan pisau kecilnya, ia mulai menggali tanah di sekitar tanaman tersebut dengan sangat telaten, sabar, dan penuh perhitungan ilmiah.
Setiap butir tanah disingkirkan perlahan menggunakan jemarinya. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun ia sama sekali tidak peduli.
Di hadapannya saat ini bukan lagi sekadar tanaman liar, itu adalah tiket emas kebebasan keluarganya, modal awal kerajaan bisnisnya, dan alat pemukul telak untuk membungkam mulut sombong Paman Lin Dehai serta warga desa yang merendahkanya.
"Tiga tael perak?" Wanru tersenyum dingin seorang diri di tengah kesunyian hutan, sementara jemarinya berhasil mengangkat seakar ginseng utuh yang besar dan bercabang indah dari dalam tanah. "Paman Dehai, bersiaplah. Besok aku akan datang melempar uang itu tepat ke mukamu."
**
Matahari perlahan mulai merosot ke ufuk barat, memancarkan bias cahaya jingga kemerahan yang menerobos masuk di antara celah dahan-dahan pohon Hutan Hantu.
Lin Wanru berjalan melangkah keluar dari batas hutan dengan langkah yang jauh lebih ringan, meskipun sekujur tubuhnya terasa lelah dan pakaian bagian belakangnya masih sedikit lembab bekas terpeleset di sungai tadi.
Di dalam kantong kain usangnya, tersimpan rapi sekumpulan jamur tiram liar, tanaman herbal pegagan dan akar manis, seekor kepiting air tawar berukuran besar, serta seakar ginseng liar bernilai astronomis yang dibungkus dengan daun lebar agar tetap segar.
Perjalanan hari ini membuktikan satu hal kepada dirinya, jika di tangan seorang yang memiliki pengetahuan, strategi, dan mental baja, tidak ada tempat yang benar-benar putus asa, bahkan sudut paling miskin di dinasti kuno sekalipun.
Saat ia mulai mendekati area permukiman Desa Hutan Batu, beberapa warga desa yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan rumah mereka melihat ke arahnya dengan tatapan terkejut dan bercampur curiga.
Mereka saling berbisik-bisik melihat gadis itu pulang dari Hutan Hantu dalam keadaan hidup-hidup dan bahkan membawa kantong kain yang tampak cukup berat, tanpa ada goresan luka sedikit pun di tubuhnya.
Wanru mengabaikan bisikan-bisikan tersebut. Ia mengangkat dagunya dengan elegan, seraya menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan di bibirnya, lalu mempercepat langkahnya menuju gubuk reyot di ujung desa.
Bersambung...