Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitek Kepala dan Tamu Alam Mimpi
Hi namaku Shavia Aurelien, biasa di panggil Via. Aku orang yang senang berkhayal, bagiku dunia khayalan itu jauh lebih menyenangkan daripada dunia nyata yang sering kali terasa abu-abu dan melelahkan.
Di dalam kepala ini, aku adalah arsitek dari takdirku sendiri. Aku bisa membangun kota dari awan, menciptakan simfoni dari keheningan, dan yang paling penting, aku bisa menciptakan dia.
Sering sekali aku bergelut dengan pikiranku sendiri, terjebak dalam labirin romansa yang kuanyam sendiri.
Dimana didunia nyata, cinta selalu datang bersama syarat, ekspektasi, dan rasa sakit. Namun di balik pelupuk mata yang kupejamkan, cinta adalah sesuatu yang utuh.
Aku sering kali memilih pergi dari keramaian, menarik diri dari obrolan hambar teman-teman sebayaku, hanya untuk berada bersama orang yang kuanggap sebagai sosok sempurna itu.
Dia tidak memiliki cela. Wajahnya adalah perpaduan dari semua garis fiksi terbaik, dan suaranya adalah ketukan lembut yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalaku. Saat dunia nyata menuntutku untuk menjadi ini dan itu, dia hanya memintaku untuk ada bersamanya, itu sudah cukup.
"Via... Lo ngelamun lagi," sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
Deg.
Kesadaranku tersentak kembali ke realitas. Aku langsung mengerjapkan mata, menyadari kehangatan sosok fiksi yang baru saja memelukku di kepala mendadak menguap.
Ruang perpustakaan kampus yang sunyi kembali menyapa penglihatanku. Di hadapanku, bukan lagi hamparan kota awan, melainkan tumpukan buku tebal tugas Metodologi Penelitian yang menanti untuk kuselesaikan.
Di seberang meja, sahabatku, Rara, sedang menatapku sambil menopang dagu dengan satu tangan. Tangan satunya lagi sibuk memutar-mutar pulpen.
"Ya Tuhan, Shavia Aurelien. Lo tuh ya, diajakin kerja kelompok malah melalang buana ke alam gaib" omel Rara, meski nada suaranya tertahan agar tidak ditegur penjaga perpus.
Aku meringis pelan, buru-buru membetulkan posisi dudukku.
"Siapa yang ke alam gaib, sih? Aku cuma... lagi nyari inspirasi buat bab pendahuluannya, Ra."
Rara memutar bola matanya malas, lalu menunjuk pipiku dengan pulpennya.
"Inspirasi matamu. Tadi lo senyum-senyum sendiri, Vi. Serem tau gak"
"Gimana kalau Lo kesurupan penunggu perpus kampus, gue ogah ya gotongnya, lu tuh berat tau." Lanjut Rara.
"Sialan kamu Ra," bisikku sambil melempar penghapus karet kecil ke arahnya, yang dengan mudah ditangkap oleh Rara.
"Aku cuma mikir aja. Coba ya, tugas kuliah bisa selesai sendiri pakai kekuatan pikiran."
"Ngaco," Rara terkekeh, lalu mencondongkan badannya ke depan, menatapku lebih intens.
"Vi, jujur deh sama gue. Lo lagi mikirin cowok, kan? Muka lo tadi tuh muka-muka orang kasmaran yang mentok di ubun-ubun."
Aku tertegun sebentar. Dadaku mendadak terasa agak sesak oleh kerinduan yang aneh pada sosok tanpa cela yang baru saja kutinggalkan di balik pelupuk mataku.
Di luar jendela, rintik hujan mulai membasahi jalanan kota, sewarna dengan hatiku yang mendadak abu-abu karena harus kembali ke bumi.
"Enggak lah, cowok mana coba," elakku sambil membolak-balik halaman buku secara acak, pura-pura sibuk.
"Kamu tahu sendiri kan, kalau aku malas urusan sama cowok-cowok kampus yang kalau nge-chat isinya cuma 'P' doang atau 'lagi apa?'. Basi."
Rara menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu perpus yang berderit pelan.
"Ya gak semua cowok kayak gitu, Via sayang. Tuh, si Bagas anak Teknik kemarin nanyain lo lagi ke gue. Dia baik, pinter, gak chat 'P' doang pastinya."
"Aku lagi gak pengen mikirin itu, Ra."
"Sampai kapan?" Rara menatapku dengan tatapan lembut, kali ini tanpa nada bercanda.
"Gue kadang khawatir tahu gak, liat lo sering banget narik diri. Tiap kita nongkrong sama yang lain, lo lebih sering diem, main HP kagak, tapi tatapan lo kosong kayak lagi ada di tempat lain. Lo selalu milih sembunyi di kepala lo sendiri."
Kalimat Rara menghantamku tepat di ulu hati. Dia benar, tapi dia tidak akan pernah mengerti. Mereka semua tidak mengerti. Di dunia nyata ini, cinta selalu datang bersama syarat, ekspektasi, dan rasa sakit yang polanya selalu sama.
Tapi di dalam kepalaku, bersamanya, cinta adalah sesuatu yang utuh dan aman dari patah hati.
"Aku cuma... lebih suka ketenangan, Ra," jawabku pelan, nyaris berbisik.
Rara menatapku lama, seolah mencoba membaca apa yang kusembunyikan di balik mataku. Akhirnya, dia mengembuskan napas pasrah dan menepuk punggung tanganku.
"Ya udah, terserah deh," ujar Rara mencoba mencairkan suasana.
Dia lalu menggeser buku tugasnya ke hadapanku.
"Tapi sekarang, tolong turun dulu dari langit ya, Neng Via. Nih, bantuin gue nyari jurnal internasional buat teori yang ini. Kepala gue udah mau meledak."
Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan nyata dari perhatian seorang sahabat.
"Iya, iya. Sini aku liat."
Sambil mulai membaca baris-baris kalimat di jurnal tersebut, sebuah pertanyaan kecil yang sejak tadi mengusik, kembali menyelinap ke benakku: Sampai kapan aku bisa terus bersembunyi di sini, sebelum dunia nyata memaksaku untuk bangun?
...----------------...
Malam pun tiba, membawa kejutan yang sama sekali tidak kuprediksi, sesuatu yang luar biasa terjadi di alam bawah sadarku.
Di dalam mimpi itu, dia datang terasa begitu nyata. Wajahnya sangat tampan, dengan garis rahang tegas dan tatapan hangat yang selalu mengingatkanku pada sosok idolaku, Andy William.
Tapi yang membuatku ingin tertawa sekaligus baper setengah mati adalah pakaian kami,
Kami berdua masih memakai seragam SMA disana.
Didalam mimpi itu, Di bawah terik matahari pagi yang cerah, dia tiba-tiba menarik pergelangan tanganku, menuntunku berjalan menjauh dari jalur menuju gerbang sekolah.
"Eh. Sayang, kita mau ke mana? Ini kan jam masuk kelas!" protesku sambil berusaha menyeimbangkan langkah kaki dengan rok abu-abu yang agak sempit.
"Hari ini kita bolos saja, ya?" Dia menoleh, memamerkan senyuman jailnya yang sangat tampan.
"Hah... Bolos?" Aku membelalakkan mata.
"Kamu kok jadi nakal begini sih? Nanti kalau ketahuan guru piket gimana?"
"Nakalnya sama kamu aja kok, jadi tidak apa-apa kan?" dia mengacak rambutku dengan gemas.
"Lagipula, aku mau bermesraan sama kamu di rumah."
Mendengar kata 'bermesraan', pipiku langsung terasa panas. Aku merengut berpura-pura kesal, padahal di dalam hati, aku sama sekali tidak ingin menolak.
Ada rasa senang yang membuncah karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama pacar khayalanku, yang sekarang berwujud di dalam mimpi.
"Alasan saja," gumamku pelan, menyembunyikan senyum.
"Sini, biar kugandeng lebih erat agar kamu tidak tertinggal," ucapnya lembut, menyisipkan jemarinya di sela-sela jariku.
Dia membawaku masuk ke rumahnya yang megah dan tenang. Di dalam rumah itu, dunia rasanya hanya milik kami berdua.
Kami duduk berdampingan di sofa ruang tengah yang empuk sambil menyalakan TV.
"Lihat deh tokoh kartun itu, mukanya lucu banget pas jatuh!" kataku sambil tertawa lepas, menunjuk ke arah layar kaca.
"Lebih lucu mukamu kalau lagi panik karena kuajak bolos tadi," godanya sambil mencubit pelan hidungku.
"Ih, Sayang... Sakit tahu!" keluhku sambil mengusap hidung, tapi sedetik kemudian ikut tertawa bersamanya.
Kami tertawa bersama, berbagi kehangatan yang belum pernah kurasakan di dunia nyata. Namun perlahan, suasana di ruangan itu berubah. Tawa kami mereda, digantikan oleh keheningan yang mendadak terasa sangat intim.
Dia menggeser duduknya, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang khas.
Pria itu mengulurkan tangannya, menangkup pipiku dengan lembut dan menatap mataku lekat-lekat. Tatapannya begitu mantap, dalam, dan penuh dengan riak kasih sayang yang mengunci seluruh kesadaranku.
"Ada apa, Sayang. Kenapa kamu melihatku seperti itu?" bisikku gugup.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya dengan suara berat yang begitu menenangkan.
"Aku hanya ingin menatap wajah cantik kamu lebih lama saja."
"Gombal," sahutku pelan, mencoba memalingkan wajah karena malu.
"Aku tidak sedang menggombal, Shavia..."
Suaranya berat terdengar seperti melodi paling indah yang baru saja ku dengar.
Sebelum aku sempat membalas ucapannya, dia memiringkan wajahnya. Detik berikutnya, sebuah ciuman hangat tiba-tiba mendarat dengan sempurna di bibirku. Sentuhannya terasa begitu lembut, nyata, dan mendebarkan.
Gasp!
Aku tersentak bangun, langsung terduduk di atas ranjang kamarku yang gelap. Napasku terengah-engah, dan dadaku bergemuruh hebat. Aku mengerjapkan mata, menyadari bahwa fajar belum sepenuhnya menyingsing.
Secara refleks, jemariku bergerak menyentuh bibirku sendiri. Sensasi hangat dan lembut dari ciumannya tadi seolah masih tertinggal di sana, melekat erat di kulitku.
"Bisa-biasanya..." gumamku lirih dengan wajah yang mendadak panas.
Ada rasa kaget yang luar biasa karena alur mimpi ini bergerak di luar kendaliku. Namun, di sela rasa terkejut itu, sebuah senyuman lebar perlahan terukir di bibirku.
Aku merasa sangat senang, seolah seluruh jiwaku baru saja dipenuhi oleh energi kebahagiaan yang utuh.
Drrrtt... Drrrtt...
Getaran ponsel di atas meja belajarku mendadak membuyarkan sisa-sisa rasa manis itu. Layarnya menyala, menampilkan nama sahabatku, Rara.
Dengan malas aku menggeser tombol hijau dilayar hpku dengan nyawa yang masih belum terkumpul penuh.
"Halo?" suaraku serak khas orang baru bangun tidur.
"Heii! Lo baru bangun ya?!" teriakan Rara langsung menusuk telingaku tanpa ampun.
"Via, hari ini kita ada kelas pagi jam delapan, ya! Jangan bilang lo mau bolos lagi gara-gara keasyikan melamun!"
Aku menghela napas berat, mengubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang.
"Ra... kamu merusak momen indah aku tahu gak."
"Momen indah apa sih? Palingan lo habis pacaran lagi sama cowok fiksi lo itu, kan?" tebak Rara di seberang telepon.
Suaranya terdengar sangat hafal dengan kelakuanku. Aku tersenym tipis, melemparkan pandangan ke arah seragam SMA lamaku yang tergantung di balik pintu lemari.
"Kali ini beda, Ra. Dia... dia beneran datang ke mimpi aku semalam."
"Oh ya? Terus lo berdua ngapain aja di sana?" tanya Rara. Nadanya berubah, terdengar mulai tertarik sekaligus heran.
"Dia tampan banget, Ra, mirip Andy William! Terus kita pakai seragam SMA, bolos bareng ke rumahnya, dan dia... dia mencium aku!"
Hening sejenak di seberang sana. Satu detik... dua detik... sebelum akhirnya Rara tertawa terbahak-bahak sampai terdengar terbatuk-batuk.
"Hahaha! Gila lo udah stadium akhir ya, Vi. Khayalan lo sekarang udah punya jadwal tayang di mimpi, bahkan pakai acara ciuman segala. Lucu banget, sumpah!" cetus Rara di sela tawa renyahnya.
"Ih, aku serius, Rara!" belaku sambil cemberut, meskipun dia tidak bisa melihatnya.
"Iya, iya, si paling romantis di alam mimpi!" ejek Rara, tawanya mulai mereda tapi nadanya masih meledek.
"Sekarang buruan mandi, Shavia Aurelien! Nanti siang pokoknya lo ikut gue. Gue mau kenalin lo sama cowok nyata di kampus, biar lo cepet bangun dari kegilaan ini!"
Pip. Telepon ditutup sepihak sebelum aku sempat protes.
Aku menurunkan ponsel dari telingaku. Pandanganku kembali kosong, kembali menyentuh bibirku sendiri dengan senyuman yang belum luntur. Selama ini, akulah yang selalu mencari dirinya di dalam kepala saat dunia nyata terasa terlalu bising.
Namun kali ini berbeda. Dialah yang datang mencariku, mengetuk pintu tidurku, dan memberikan kejutan manis yang membuatku semakin malas menghadapi kenyataan hari ini.