Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
“Bun, aku masih 21 tahun. Aku baru masuk kuliah semester satu. Belum waktunya nikah,” ucap seorang gadis menolak permintaan orang tuanya yang disampaikan beberapa menit lalu.
“21 tahun itu sudah dewasa, Sayang. Kamu perlu seseorang yang bisa menjaga dan mendampingi kamu,” ucap sang Bunda mencoba menjelaskan.
“Bunda, dewasa bukan berarti aku harus langsung menikah. Aku masih ingin menikmati masa kuliahku,” balas Jessica.
“Jessica, dengarkan Ayah. Perjodohan ini sudah disetujui oleh kedua belah pihak. Tidak akan bisa diganggu gugat!” tegas sang Ayah.
Jessica memandang kedua orang tuanya dengan sinis.
“Disetujui kalian lebih tepatnya,” ucapnya dengan nada kesal.
“Calon suami kamu juga sudah setuju,” kata Bunda.
Jessica memutar bola matanya malas.“Sudahlah, Sayang. Menurut saja, Nak,” bujuk William, ayah Jessica.
“Terserah kalian, deh!”
Jessica memilih meninggalkan ruang tamu dan beranjak naik ke kamarnya di lantai dua. Gadis itu benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan kedua orang tuanya. Usianya memang sudah menginjak 21 tahun, tetapi bukan berarti dia siap menikah dalam waktu dekat.
Apalagi, Jessica baru saja memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswa semester satu. Dia masih ingin menikmati dunia perkuliahan, bertemu teman-teman baru, mengikuti berbagai kegiatan kampus, dan meraih cita-citanya. Namun, semua impian itu seolah harus berhadapan dengan satu kenyataan yang tidak pernah dia inginkan: perjodohan.
Di lain tempat, dengan topik yang sama dan posisi yang tidak jauh berbeda.
“Dia masih terlalu muda untuk menikah, Mom, Dad.”
“Cuma fotonya saja yang kelihatan masih muda. Aslinya cantik, kok,” ucap sang Daddy.
“Reyhan nggak bilang dia jelek, Dad. Tapi usia dia masih muda. Dia baru mulai kuliah. Harusnya dia punya kesempatan menikmati masa mudanya dulu sebelum memikirkan rumah tangga.”
“Ayolah, Rey. Keluarga calon istri kamu juga sudah setuju. Bahkan Jessica sendiri juga sudah mau,” ucap Alma, Mommy Reyhan, meyakinkan putranya.
“Memangnya dia benar-benar mau atau cuma terpaksa karena orang tuanya?” tanya Reyhan.
Alma terdiam sejenak.“Pokoknya, kalian harus belajar saling mengenal setelah menikah nanti.”
Reyhan mengembuskan napas panjang.“Gimana bisa belajar saling mengenal kalau awalnya saja kami dijodohkan tanpa benar-benar mengenal satu sama lain?”
“Reyhan, kamu itu sudah dua puluh sembilan tahun. Sudah waktunya menikah,” sahut Hugo, Daddy Reyhan.
“Reyhan tahu, Dad. Tapi bukan berarti Reyhan harus menikah dengan perempuan yang bahkan belum pernah Reyhan ajak bicara sebelumnya.”
“Pokoknya harus mau! Titik. Tidak ada penolakan!” tegas Hugo.
Reyhan mengusap wajahnya kasar.
“Terserah kalian. Reyhan capek. Mau istirahat.”
Laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai tiga.
Yang benar saja, usianya sudah 29 tahun dan oleh kedua orang tuanya dijodohkan dengan seorang gadis berusia 21 tahun yang baru memasuki semester pertama perkuliahan.
Jarak usia mereka delapan tahun.
Reyhan bukan mempermasalahkan usia Jessica semata. Baginya, pernikahan adalah keputusan besar yang seharusnya diambil oleh dua orang yang benar-benar siap, bukan sekadar karena keinginan keluarga. Walaupun harus diakui, gadis yang dilihatnya melalui foto tadi memang terlihat sangat cantik dan manis.
“ARGGHHH!”
Laki-laki itu menggeram sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Dia masih waras. Ingatkan itu!
Namun, apakah orang tuanya mau mendengarkan pendapatnya? Bahkan argumen yang sangat masuk akal sekalipun?
Tentu tidak.
Kedua orang tua itu tetap kukuh pada pendiriannya. Perjodohan sudah disetujui dan harus dilaksanakan.
Sangat menyebalkan memang.
Sejak pagi, Reyhan sudah berusaha melupakan persoalan tersebut. Namun, bukannya dibiarkan tenang, orang tuanya justru mengabari bahwa malam nanti akan diadakan makan malam bersama keluarga Jessica di kediaman keluarga Damian.
Pertemuan itu dimaksudkan untuk membahas rencana pernikahan mereka. Dan tentu saja, Reyhan harus ikut. Kalau tidak, Hugo bisa marah besar kepadanya.
Akhirnya, Reyhan hanya mengangguk sekenanya untuk menyetujui rencana tersebut.
Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam.
Jessica sudah rapi dengan gaun hitam yang melekat indah di tubuhnya. Dengan polesan makeup natural, wajahnya tampak semakin cantik. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit sentuhan gelombang di bagian ujung.
Gadis itu terlihat anggun, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan antusiasme.
Setelah memeriksa penampilannya di depan cermin, Jessica menghela napas panjang sebelum keluar dari kamar. Dia segera menuruni tangga untuk menemui kedua orang tuanya.
Di ruang makan, terlihat kedua orang tuanya dan sang abang, Rio, sedang asyik berbincang dengan sepasang suami istri yang tidak dikenalnya.
Jessica mengernyit heran. Namun, dia tetap melangkah mendekati mereka.
“Kamu Jessica, ya? Ternyata lebih cantik daripada di foto.”
Seorang wanita paruh baya yang tampak seumuran dengan Bundanya menyambut Jessica dengan pujian.
Jessica tersenyum malu.“Makasih, Tante,” ucapnya sopan.
“Nama Tante Alma. Panggil Tante Mommy, ya, Sayang.”
Jessica sedikit kebingungan mendengar permintaan tersebut. Namun, dia tetap mengangguk kecil.
“Iya, Tante.”
“Anak kamu mana, Ma?” tanya Sarah sambil menoleh ke arah Alma.
“Katanya macet di jalan. Sebentar lagi sampai,” jawab Alma.
Sarah mengangguk, kemudian kembali melanjutkan obrolan mereka.
Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar mendekat dan menginterupsi percakapan mereka. Seorang asisten rumah tangga muncul diikuti seorang laki-laki muda dengan setelan jas yang terlihat begitu rapi.
“Nah, itu dia orangnya. Akhirnya datang juga,” ucap Hugo lega.
“Permisi, Tuan. Tuan muda Anderson telah datang,” ujar asisten rumah tangga tersebut.
Jessica yang merasa penasaran pun mendongak.
Matanya membulat sesaat ketika melihat pria yang baru saja datang.
Tampan banget.
Itulah pikiran pertama yang muncul di benaknya.
Pria itu memiliki rahang tegas, hidung mancung, dan sorot mata tajam yang membuat penampilannya terlihat berwibawa. Setelan jas yang dikenakannya semakin menonjolkan kesan dewasa dan elegan. Namun, ketika menyadari Jessica sedang menatapnya, Reyhan membalas tatapan gadis itu dengan ekspresi datar yang sulit diartikan.
Jessica buru-buru menunduk karena gugup.
“Maaf, Mom, Dad. Tadi jalanan macet banget,” ujar Reyhan sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Kamu itu harusnya minta maafnya ke keluarga Damian, dong,” sahut Alma.
Reyhan mengembuskan napas kecil, kemudian mengalihkan pandangan kepada William dan Sarah.
“Om, Tante, maaf, ya, sudah membuat kalian menunggu lama.”
William dan Sarah saling menatap sebelum tersenyum maklum.
“Iya, nggak apa-apa, kok,” tutur William.
Kemudian, dia mengedarkan pandangan ke seluruh anggota keluarga. “Mari, kita makan dulu.”
Suara denting sendok dan garpu mulai memenuhi ruangan, diiringi obrolan para orang tua yang membahas banyak hal, mulai dari bisnis hingga kenangan masa muda mereka.
Sementara itu, Jessica dan Reyhan hanya menyimak sesekali.
Tanpa disadari, keduanya beberapa kali saling mencuri pandang.
Jessica penasaran dengan pria yang katanya akan menjadi suaminya itu. Sementara Reyhan berusaha mencari tahu seperti apa kepribadian gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Namun, setiap kali tatapan mereka bertemu, Jessica buru-buru mengalihkan pandangan.
Hal itu tidak luput dari perhatian Rio.
Cailah, saling curi pandang, gumam Rio dalam hati sambil menahan tawa.
“Kamu setuju dengan perjodohan ini, kan, Reyhan?” tanya William tiba-tiba.
Tanpa menunggu lama, Reyhan mengangguk.
“Saya setuju, Om.”
Jessica langsung terkejut.
Dia menatap Reyhan dengan ekspresi tidak percaya. Bukankah pria itu tadi juga keberatan dengan perjodohan mereka?
Mengapa sekarang dia justru menyetujuinya?
Sementara itu, Reyhan tetap menunjukkan ekspresi datar seperti sebelumnya.
Keempat orang tua mereka tampak tersenyum lega. Rio pun terlihat puas karena percaya bahwa Reyhan adalah pria baik-baik yang mampu menjaga adik satu-satunya.
Sarah dan Alma bahkan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka.
“Kalau begitu, dua minggu lagi pernikahan kalian akan dilaksanakan. Semua persiapannya akan kami atur,” putus Hugo.
Jessica hampir tersedak mendengar perkataan tersebut.
Dua minggu lagi?!
Dia bahkan belum sempat menerima kenyataan bahwa dirinya akan menikah, tetapi kedua keluarga itu sudah menentukan tanggalnya.
Jessica mendengus lirih.
Bahkan, dia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk menyela. Semua sudah direncanakan begitu matang oleh orang tua mereka.
Dan lagi-lagi, gadis itu hanya bisa terdiam.
“Om, Tante, saya izin mau ngobrol sama Jessica sebentar. Boleh?” tanya Reyhan tiba-tiba.
William dan Sarah mengangguk, memberikan izin.
Reyhan kemudian berdiri dan memberi isyarat kepada Jessica untuk mengikutinya.
Jessica bangkit dengan sedikit ragu. Dia berjalan mengikuti pria itu menuju teras rumah.
Teras rumah Damian terasa sejuk dengan semilir angin malam. Air mancur di halaman memantulkan cahaya lampu taman yang temaram.
Jessica memilih duduk di salah satu kursi teras. Pandangannya sengaja diarahkan ke air mancur untuk menghindari tatapan Reyhan.
Sementara itu, Reyhan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Sampai akhirnya, Reyhan membuka suara.
“Kamu yakin menerima perjodohan ini?”
Jessica terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi membuatnya bingung harus menjawab apa.
“Kenapa diam?” tanya Reyhan lagi.
Jessica akhirnya mengangkat wajahnya.“Kalau Mas sendiri gimana?”
Reyhan sedikit mengernyit mendengar panggilan tersebut. Namun, dia tidak mempermasalahkannya.
“Aku tanya kamu dulu.”
Jessica mengembuskan napas panjang.
“Jujur, aku nggak pernah kepikiran menikah secepat ini. Aku baru masuk kuliah semester satu. Masih banyak yang ingin aku lakukan. Aku juga masih ingin menikmati masa kuliahku.”
Reyhan memperhatikan Jessica tanpa menyela.“Tapi kalau aku menolak, Bunda sama Ayah pasti kecewa. Mereka sudah menyetujui semuanya tanpa benar-benar bertanya apa yang aku inginkan.”
Jessica menunduk, memainkan jemarinya sendiri.
“Aku cuma nggak mau mengecewakan mereka."
Reyhan terdiam sesaat.
Jawaban itu justru memperkuat kecurigaannya bahwa Jessica menerima perjodohan tersebut bukan karena benar-benar menginginkannya.
“Dengar, Jessica.”
Jessica kembali menatapnya.
“Aku juga sebenarnya nggak pernah merencanakan pernikahan seperti ini. Tapi orang tua kita sudah mengambil keputusan. Kalau memang pernikahan ini harus terjadi, aku mau kamu tahu satu hal.” Reyhan berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku nggak mau kamu merasa harus melakukan semuanya hanya karena takut mengecewakan orang tua. Pernikahan itu bukan permainan. Aku sudah dua puluh sembilan tahun, dan kamu dua puluh satu tahun. Kita punya kehidupan, keinginan, dan tanggung jawab masing-masing.”
Jessica terdiam mendengarkan.
“Aku nggak bisa menjanjikan semuanya akan berjalan mudah. Tapi aku juga nggak berniat memperlakukan kamu seenaknya hanya karena status kita nanti sebagai suami istri.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Jessica menatap Reyhan dengan sedikit berbeda.
Pria itu memang terlihat dingin, tetapi perkataannya terdengar serius.
“Aku cuma mau kita sama-sama serius menjalani pernikahan ini. Kalau ada masalah, kita bicarakan. Kalau ada sesuatu yang kamu nggak suka, bilang. Jangan cuma diam dan memendam semuanya.”
Jessica mengangguk pelan.
“Mas benar-benar mau menikah sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Reyhan terdiam beberapa saat.
Dia sendiri belum sepenuhnya memahami mengapa akhirnya menyetujui keputusan orang tuanya. Namun, dia tahu bahwa jika pernikahan itu benar-benar terjadi, dia tidak ingin menjalaninya dengan setengah hati.
“Aku setuju untuk menjalani proses ini dengan serius. Tapi aku juga ingin kita saling mengenal, bukan cuma mengikuti kemauan orang tua.”
Jessica menatapnya lekat-lekat.
“Jadi, Mas nggak keberatan aku tetap kuliah setelah menikah?”
“Kenapa harus keberatan?”
Jessica tampak sedikit terkejut.
“Aku masih mau menyelesaikan kuliahku.”
“Kalau itu memang keinginan kamu, selesaikan. Pernikahan bukan berarti kamu harus mengubur cita-cita sendiri.”
Entah mengapa, perkataan itu membuat dada Jessica terasa sedikit lebih lega.
Setidaknya, pria yang akan menjadi suaminya nanti tidak langsung melarangnya melanjutkan pendidikan.
“Terima kasih, Mas,” ucap Jessica lirih.
Reyhan mengangguk kecil.
“Sekarang, ayo masuk. Nanti orang tua kita malah mengira kita kabur.”
Jessica terkekeh pelan untuk pertama kalinya malam itu.
“Mas bisa aja.”
Reyhan berdiri lebih dulu, disusul Jessica yang berjalan di belakangnya.
Mereka kembali memasuki ruang makan dengan pikiran masing-masing.
Malam semakin larut. Acara makan malam akhirnya selesai dan keluarga Anderson bersiap pulang.
Setelah mengantar para tamu hingga ke depan rumah, Jessica kembali membantu Sarah dan asisten rumah tangga membereskan beberapa piring kotor.
Setelah semuanya selesai, dia melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Jessica langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Pandangannya beralih ke cincin pertunangan yang kini melingkar di jari manisnya.
Dia mengangkat tangannya, memperhatikan benda kecil yang seolah menjadi tanda dimulainya babak baru dalam hidupnya.
Dua minggu lagi.
Dua minggu lagi dia akan menjadi seorang istri.
Jessica memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya yang berantakan.
Dia masih ingin kuliah, mengejar cita-cita, dan menikmati masa mudanya. Namun, kini dia juga harus bersiap menghadapi kehidupan baru bersama seorang pria berusia 29 tahun yang baru dikenalnya malam ini.
Pria yang dingin, tegas, dan sulit ditebak.
Reyhan Anderson.
Jessica mengembuskan napas panjang.
“Semoga aja aku nggak salah langkah,” gumamnya pelan.
Sementara itu, di dalam mobil yang membawanya pulang, Reyhan menatap keluar jendela dengan pikiran yang tidak kalah rumit.
Bayangan Jessica terus muncul di kepalanya.
Gadis itu memang cantik. Namun, lebih dari itu, ada sesuatu dari sikapnya yang membuat Reyhan sadar bahwa Jessica sebenarnya belum siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.
Reyhan menyandarkan kepala ke kursi.
Pernikahan yang awalnya hanya dianggap sebagai keputusan orang tua kini perlahan menjadi sesuatu yang harus dipikirkannya dengan lebih serius. Sebab, dua minggu lagi, hidupnya tidak akan lagi sama.
Dan begitu pula dengan hidup Jessica.