NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 04

UPACARA PERNIKAHAN, LENGKAP.

Upacara telah usai. Di halaman depan yang masih menyisakan kesunyian, Kieran dan Eleanor berdiri berhadapan dengan Vincenzo dan Killian. Di belakang mereka, Laura berdiri diam, menunduk sedikit, mencoba menjadi bayangan yang tak diperhatikan. Kieran tersenyum tipis, berusaha tampak tulus.

"Kami menyerahkan putri kami sepenuhnya ke tangan kalian," ucapnya, suaranya berwibawa namun menyiratkan permohonan tersembunyi. "Semoga tidak ada yang tersembunyi, semoga tidak ada pengkhianatan. Damai ini harus terjaga agar tidak ada lagi pertumpahan darah."

Killian berdiri tegak, kedua tangannya di belakang punggung, tatapannya dingin dan tajam, menembus seolah ia dapat melihat apa yang tersembunyi di balik senyum pria di hadapannya. Ia tidak tersenyum.

"Pengkhianatan tidak lahir dari satu pihak saja, Tuan McManaman," jawabnya, suaranya rendah namun menusuk. "Ia tumbuh di tempat yang sejak awal tidak pernah jujur. Jika damai ini retak, jangan cari siapa yang memulainya — cukup tahu bahwa yang berbohong akan menjadi yang pertama jatuh."

Kata-kata itu sederhana, namun menghantam mereka begitu keras hingga Kieran dan Eleanor terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Bibir Kieran bergerak, namun tak ada suara yang keluar. Killian tetap diam, menatap mereka tanpa mengedip, seakan menantang mereka untuk menyangkalnya.

Kieran menarik napas panjang, berusaha mengembalikan ketenangannya. Ia melangkah mundur, memberi isyarat pada Eleanor. Bersama-sama mereka menghampiri Laura yang berdiri sendirian di belakang.

"Laura," panggil Kieran pelan, seolah melepas kerinduan yang tulus, padahal nada bicaranya menegang. "Kau sudah berada di tempat tujuan. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan." Ia mendekatkan wajahnya, berbisik agar hanya didengar gadis itu. "Tetaplah menurut. Jika kau bergerak sedikit saja di luar rencana kami, nyawa adikmu yang menjadi taruhan."

Laura mendongak menatapnya tajam, matanya menyala penuh keberanian yang tak disangka-sangka.

"Tentu. Tapi kalian juga harus andil," jawabnya, suaranya rendah namun tegas, menohok tepat ke dada pria itu. "Jika sesuatu terjadi pada Lily, aku akan membongkar semuanya. Siapa aku sebenarnya, siapa yang dikirim ke sini, dan apa rencana kalian. Kita semua akan mati bersama, Tuan McManaman."

Kieran tertegun, kaku menatapnya. Ancaman itu datang dari seseorang yang mereka kira tak punya kuasa untuk melawan. Ia ingin membentak, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan — ia tahu gadis itu tidak bercanda. Eleanor menatap Laura lekat-lekat, penuh amarah, namun tak berkata apa-apa.

"Baik..." Kieran menelan ludah. "Ingat posisimu."

"Dan ingatlah janji kalian," balas Laura tegas.

Keduanya terdiam, saling menatap dengan kebencian yang kini terbuka. Tak lama kemudian, Kieran berbalik kembali menuju Vincenzo dan Killian. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Kami pamit," ucapnya singkat.

Vincenzo menyambut jabatannya, mantap dan singkat. "Semoga perjalanan pulang kalian aman."

Killian hanya mengangguk pelan, tanpa senyum. Kieran dan Eleanor naik ke mobil mereka, diikuti beberapa kendaraan anak buah yang mengawal. Deru mesin perlahan menghilang, meninggalkan kediaman Marcano dalam keheningan kembali.

Vincenzo menatap ke arah jalan yang sepi, lalu berbicara pelan pada putranya.

"Kita tidak bisa mempercayai siapa pun," ucapnya.

Killian ikut menoleh, lalu pandangannya jatuh pada Laura yang masih berdiri di tempat yang sama — diam, berusaha tampak tegar meski tangannya saling meremas di balik punggung. Vincenzo memperhatikannya cukup lama, menilai sosok gadis itu dari ujung kaki hingga wajah yang berusaha tak rapuh. Kemudian ia melangkah maju, melewati Laura tanpa berhenti.

"Bantu pengantin baru ke kamarnya," perintahnya pada pelayan yang berdiri di dekat situ.

Laura menunduk lebih dalam saat sosok ayah mertuanya lewat. Ia tahu Killian masih berdiri di tempatnya, menatapnya. Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Pria itu berhenti tepat di hadapannya.

"Seseorang yang menyimpan rahasia tidak akan berani menatap," ucap Killian datar, matanya menegang.

Tentu saja Laura mendongak merasa disindir, menatapnya balik dengan tatapan yang sama tajamnya. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, wajah pria itu sudah mendekat. Bibirnya menyentuh bibir peach tersebut— ciuman yang dalam, singkat, dan penuh kekuasaan, tanpa kelembutan sedikit pun. Sebelum Laura sempat meronta atau menarik diri, ia sudah melepaskannya.

"Pernikahan selesai," ucapnya dingin, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah panjang yang angkuh, meninggalkan Laura terpaku di tempatnya dengan napas tertahan, jantungnya berdegup kencang karena marah sekaligus takut.

Pria itu benar-benar keterlaluan!

Tak lama, pelayan mendekat dengan sopan. "Nyonya, silakan ikut saya."

Laura menelan ludah, mengangguk pelan. Ia tidak menolak. Ia mengikuti pelayan itu melangkah masuk, dan seketika matanya terbelalak melihat keindahan yang mengelilinginya.

Lantai marmer berkilau lembut, dinding-dinding tinggi dihiasi hiasan ukir yang indah, lampu gantung besar memancarkan cahaya keemasan yang tenang. Lorongnya panjang, luas, terasa megah sekaligus sepi. Laura berjalan menatap punggung pelayan itu, pikirannya berputar — betapa besarnya tempat ini, namun seakan tak ada tempat untuk bernapas dengan bebas.

Mereka tiba di lantai paling atas, di ujung lorong yang terpisah dari ruangan lain. Pintu besar terbuka, dan pelayan mempersilahkannya masuk.

"Ini kamar Tuan Killian, Nyonya," ucapnya lembut. "Semua pakaian dan kebutuhan Anda sudah tersedia di lemari. Jika ada yang Anda perlukan, cukup panggil pelayan, kami akan segera datang."

Laura mengangguk. "Ya, aku mengerti. Terima kasih."

Pintu tertutup, dan ia sendirian.

Kamar itu luas, elegan, namun bernuansa gelap — perabotan kayu berwarna pekat, tirai tebal berwarna hitam, tempat tidur besar yang terlihat nyaman namun dingin. Keheningan menyelimuti ruangan itu, terasa berat dan menakutkan. Laura berjalan perlahan menyusuri lantai yang tertutup karpet lembut, lalu duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela besar yang tertutup gorden.

Ia bangkit, berjalan mendekat, dan menarik sedikit sisi gorden. Dari balik kaca bening, ia melihat halaman luas di bawah. Beberapa pria bergerak sibuk memindahkan kotak-kotak besar yang tertutup rapat. Sesekali ia melihat ujung senjata yang terlihat saat kotak terbuka — senapan laras panjang, benda-benda berkilau yang tidak seharusnya terlihat di tempat seperti ini.

Laura mengerutkan kening, berbisik pelan pada dirinya sendiri.

"Perdagangan senjata... Bukankah itu ilegal?"

Di kejauhan, di dekat tumpukan kotak, berdiri seorang pria mengenakan kemeja putih, merokok santai sambil mengawasi pekerjaan mereka. Seakan mendengar bisikan hati gadis itu, Muchus berbalik perlahan, menatap tepat ke arah jendela tempat Laura mengintai.

Bibirnya menyunggingkan senyum licik, penuh arti.

Menyadari hal itu, Laura cepat-cepat menarik kembali gorden, menutup pandangan ke luar sepenuhnya. Ia berdiri membelakangi dinding, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang kembali berdegup kencang.

Saat ia berbalik...

Darah seakan membeku di pembuluhnya.

Ya. Killian sudah berdiri di sana, di tengah ruangan, diam, menatapnya. Entah sejak kapan ia masuk? Namun yang pasti kini Laura benar-benar tercekat.

...°°°...

Hai guysss!!!!! Aku kembali lagi dengan Cerita yang lebih 😲😲😲

Semoga kalian ini ceritanya lebih bagus dan menarik ya dan tidak membosankan uyyyy. Aku akan update setiap hari double ya guysss so.... Berikan aku semangat kalian uyyyy!!!!

Like

Komen

Vote

Favorit

Rate ⭐ 5

Akan ada banyak yang berdebar-debar nantinya dan penuh action MAFIA 🖤

Thanks and See Ya Bagi kalian yang sudah standby di sini huhuhu 🥹

1
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
Tiara Bella
what happen ya....
Four.: sesuatu yang..... 😮
total 1 replies
Kinara Widya
ada apa dg masalalu Laura atau mungkin masalalu mereka
Four.: gak ada kokkk/Slight/
total 1 replies
Eci Rahmayati
musuhnya kiliannn
Four.: yap, benar
total 1 replies
Tiara Bella
Fiona dibeli sm orng bermarga vattel ternyata....
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
🤭🤭🤭anehhh" ajaaa kamu Killian mana mungkin itu racun
Four.: eh mungkin aja lohh/Slight/
total 1 replies
Tiara Bella
Lily aja tw soal Santiago....
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
ada hubungan apa keluarga Laura dengan Santiago...lanjut kak
Kinara Widya: ooh...gitu
total 2 replies
vnablu
lanjut uppp Thor semangat yaaa 😄😄
Four.: wokayyyy
total 1 replies
vnablu
kasihan jugaaa kamuu Fiona dilelang kayakk ginii😓😓
Four.: yaaa mau bagaimana lagi, nasib sudah menjadi bubur /Grimace/
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka thor namanya jg mafia gak ada lembut²nya...jangan² Joli sm Santiago vatel ortunya killian lg....nebak lg nh aku...klu salah ya gpp ya thor...
Four.: itu mungkin aja tapiii masak iyeee
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak..
Four.: wokayyy
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Santiago vatel Vicenzo....
Tiara Bella: heheheh kan tebak² buah manggis
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!