Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Ternyata usia kandungan Cia sudah delapan belas minggu atau sudah empat bulan. Dokter sampai mengajukan jempol, bahwa Cia dan calon bayi mereka kuat. Dokter memberi obat vitamin untuk Cia dan juga memberitahukan jadwal kontrol kembali.
Fransiska Theo letting Ino, melihat Cia dan Ino baru keluar dari dokter kandung. Saat ini mereka sama - sma berada di klinik berobat, bedanya Siska ke dokter penyakit dalam memeriksa keadaan tubuhnya, karena beberapa hari ini dia demam dan batuk juga flu.
"Dari dokter kandungan?"
"Iya Cia hamil."
"Selamat ya Cia."
"Terima kasih mba."
"Kamu sakit apa?"
"Aku ada beritahu di grup kalian berlima aja yang sibuk jadi ngak peduli aku sakit."
"Maaf."
Akhirnya kami kembali ke unit apartemen kami bersama Siska letting Ino dengan menggunakan mobil yang sama.
"Berapa bulan usia kandungan kamu Cia."
"Sudah lima delapan belas minggu sekitar empat bulan lebih."
"Oooo tetapi perut kamu belum terlihat membesar ya." Cia tersenyum.
"Iya mba. Mungkin jalan lima atau enam bulan."
"Ko sudah dua tahun menikah baru hamil, sengaja ya menunda."
"Bukan urusan kamu kan, kami mau menunda atau tidak." Ino langsung menjawab pertanyaan Siska. Dia sedikit tidak suka, Siska mencampuri urusan rumah tangganya.
"Oooo.... mohon maaf."
"Ngak masalah mba. Kami ngak perna menunda, hanya baru di beri kepercayaan sama Tuhan sekarang."
Kami sudah berada di unit kami. Tadi kami berpisah dengan Siska di lif.
"Mas... Ngak usah ketus begitu jawabnya. Kasihan mba Siska."
"Aku hanya ngak suka dia ikut campur urusan rumah tangga kami."
"Itu pertanyaan wajar sayang. Adek ngak masalah." Ino langsung memeluk istrinya, perempuan yang dia cintai. Dengan Cia, Ino merasakan bagaimana dicintai oleh seorang perempuan dengan hebat, walaupun awalnya dia harus berjuang keras untuk merebut perempuan introvert dan mandiri ini, sama seperti almarhum mamanya dari cerita yang Ino dengar dari mulut orang - orang terutama mamanya Max anggotanya.
Ino tidak sempat mengenal mamanya Cia, karena saat Ino bertugas di Biak, bersamaan dengan meninggalnya mamanya Cia, karena itu pertama kali dia melihat Cia, perempuan yang menggunakan stelan woody hitam, duduk seorang diri di ruang tunggu dan juga pada saat di pesawat hanya tersenyum kepadanya pada hal mereka duduk sederet. Saat itu ada perasaan aneh yang tumbuh, semakin hari dia kembali di dekatkan dengan sosok perempuan ini. Ternyata tujuan mereka sama kota Biak, dan lebih heran lagi Tuhan mempertemukan mereka kembali dalam duka atas meninggal mamanya di gereja.
Berkali - kali mereka bertemu, sampai dia tahu bahwa Gracia Anastasya perempuan yang menjadi istrinya dan sekarang sedang mengandung anaknya buah cinta mereka adalah cucu dari pensiunan pegawai sipil di kesatuannya bekerja. Hal itu yang membuat Cia dan keluarganya tetap beribadah di gereja didalam kesatuan dan menjadi warga jemaatnya. Berkali - kali bertemu di gereja dan Ino semakin memiliki perasaan jatuh cinta ketika mereka kembali bertemu di pesawat penerbangan ke Jakarta, saat itu Ino tahu, bahwa Cia bekerja di rumah sakit yang sama dengan orangtua dan kakaknya.
Maminya kenal dekat dengan Cia begitu juga papinya. Hal ini membuat Ino semakin percaya diri mendekati sosok introvert yang cendrung mandiri. Dia adalah anak pewaris perusahan ikan besar di Biak namun dia tidak terlena dengan warisan itu, dia tetap bekerja sesuai dengan cita - citanya menjadi seorang apoteker.
Katanya dia merasa senang, ada di dunia kerjanya ketika Ino perna iseng bertanya kenapa mau susah- susah bekerja padahal perusahaannya membutuhkan figur anak pendiri. Hal ini membuat Ino semakin percaya diri, dia mengejar Cia sampai ke Jepang untuk menyatakan cintanya di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun. Cia baru dua puluh dua tahun waktu itu. Setahun berikutnya mereka menikah. Dan sekarang Cia sedang mengandung anaknya. Diusia dua puluh lima tahun dan Ino tiga puluh tahun.
Namun ada hal yang mengkuatirkan Ino bahwa dia harus tugas belajar bersama Fransiska Theo mantan pacarnya. Waktu pertama dia tahu akan kembali belajar ke San Fransisco di California Amerika, Ino memang rencana membawa Cia istrinya karena dia mau terus bersama istrinya, Cia meninggalkan pekerjaannya sebagai apoteker dan CEO perusahaan Ikan miliknya yang di wariskan lewat akta oleh kedua orangtuanya. Dan perusahaan itu di percayakan kepada papa dan om- om serta tantenya yang adalah adik - adik dari almarhum mamanya Anastasya.
Informasi bahwa di dalam enam orang yang tugas belajar dari kesatuan itu ada Mayor Fransiska Theo juga, hampir Cia tidak jadi berangkat. Bukan karena Ino mau bersama Siska. Namun saat mereka putus Siska mengancam akan merusak rumah tangganya atau wanita yang mendekatinya. Namun Cia tetap mau pergi bersama suaminya. Dan tidak alasan Ino menyuruh Cia tidak berangkat.
"Ini pekerjaan rumah ku yang harus kulakukan adalah menjaga perempuan yang sedang mengandung calon anakku."
"Mas... Kenapa melamun dari tadi, tugas pekerjaan rumah, menjaga perempuan yang mengandung anak kamu?? Siapa?? Mas punya wanita lain??" Ink kaget.
"Sayang .... Sayang.... Dengar mas. Mas ngak punya wanita lain. Dan wanita yang hamil itu kamu sayang. Istri mas yang mas cintai." Ino langsung membawa tubuh Cia istrinya kedalam pelukannya. Dan mencium keningnya.
"Mas bohong." Cia mau melepaskan pelukan suaminya. Namun oleh Ino semakin dipeluk sangat erat. Tenaga Cia tidak bisa melawan tenaga suaminya.
"Demi Tuhan mas bersumpah sayang. Hanya kamu wanita hamil yang mas cintai." Ciuman bertubi - tubi di wajah dan leher Cia membuat Cia terhanyut dan tidak ada kecurigaan lagi.
Melihat istrinya tertidur nyenyak, setelah olah raga malam satu ronde yang dilakukan dengan lembut namun kenikmatan tetap dirasakan membuat Ino bahagia dan semakin mencintai sosok perempuan ini. Dalam hatinya dia harus berkata jujur, tentang siapa Fransiska Theo sebelum Cia tahu sendiri. Karena dia tahu sifat Cia, Jika dia tidak suka maka dia akan berdiam dan menghilang. Karena sakit yang dia alami, bukan saat putus dengan Max baru ada luka itu, Luka yang sudah lama di alami saat bersama - sama berjuang bersama mamanya saat mamanya tetap mempertahankan rumah tangganya.
Satu jam Cia tertidur, dia tidak tahu, bahwa Ino sudah membersihkan dirinya.
"Mas... Mas yang gunakan baju ini."
"Iya sayang mas takut kamu masuk angin, meskipun mas senang melihat kamu tanpa busana. Sekarang kan beda, ada dede bayi buah cinta kita di dalam perut kamu sayang."
"Terima kasih ya mas. Adek hamil kali ini lemas dan pemalas."
"Kan bawaan dede bayi diperut kamu sayang." Cia memeluk suaminya yang tadi waktu melihat Cia bangun sudah ke tempat tidur.
"I love you mas."
"I love you more."
"Apa adek pulang saja ke Indonesia, biar mas ngak repot urus adek."
"Kok ngomong gitu sih."
"Mas kan harus belajar, nanti adek repoti mas."
"Mas mau di repoti adek. Mas janji akan bagi waktu dan tenaga mengurus kamu. Beri mas kesempatan sayang."
"Terima kasih mas." Cia memeluk suaminya dan mereka kembali tidur melewati sisa malam ini.