Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahap Revisi ( Terlempar Ke Zaman Modern)
Suasana pagi di Gedung Apartemen Blue Castle, kamar nomor 22, Kota Beijing terasa begitu tenang.
Matahari sebenarnya telah meninggi sejak satu jam yang lalu, menyelinap malas di antara celah tirai sutra dan menyinari tubuh seorang wanita yang masih bergelut manja di balik selimut tebal.
Bagi Yun Sheren—atau yang kini dikenal di dunia modern sebagai Jia Li—kebebasan ini adalah kemewahan yang sebenarnya.
Tidak ada lagi pelayan yang mengetuk pintu saat fajar, tidak ada protokol istana, dan tidak ada aturan ketat Kekaisaran Awan Emas yang mengikatnya.
Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat sebuah suara mekanis yang dingin dan tak berwujud menggema langsung di dalam kesadarannya.
Ding!
(Selamat pagi, Nona Yun Sheren—atau haruskah saya memanggil Anda Nona Jia Li? Waktu libur satu minggu Anda telah resmi berakhir hari ini.)
Kelopak mata Jia Li langsung terbuka lebar. Rasa kantuknya menguap dalam sekejap saat ia menegakkan tubuhnya di atas kasur empuk.
Jiwa sang Putri Mahkota yang terlempar ke raga ibunya di zaman modern ini langsung siaga. Selama seminggu penuh sejak ia terlempar ke zaman modern---- dengan bantuan sistem yang tertanam di jiwanya, ia telah menyerap semua informasi tentang dunia modern yang gila ini.
Awalnya--- Yun Sheren tidak mengerti kenapa takdir membawanya ke dunia masa depan itu--- namun ia tau satu hal. Ini adalah sebuah kesempatan. Dan mungkin---- pertarungannya yang sesungguhnya berada di tempat ini.
Dulu---- ibunya adalah manusia biasa yang berasal dari zaman modern. Profesi nya adalah seorang dokter yang sangat hebat. Namun takdir membawa jiwa sang ibu melintasi waktu dan memasuki raga Putri dari Kekaisaran Naga Langit.
Sekarang, justru takdir yang mempermainkan kehidupan mereka sekali lagi. Siapa yang menyangka jika takdir Yun Sheren akan sama seperti sang ibu. Terlebih lagi, ia memasuki raga milik sang ibu di zaman modern.
"Aku sudah bangun," sahut Jia Li dengan suara serak khas orang bangun tidur, meski matanya masih mengerjap menyesuaikan cahaya.
Ding!
(Misi pertama diaktifkan: Pergi ke Rumah Sakit Huayuan dan lemparkan surat pengunduran diri tepat di depan wajah direktur rumah sakit tersebut.)
Jia Li mengernyitkan alisnya yang indah, menanti penjelasan lebih lanjut. "Alasannya?"
(Informasi tambahan: Rumah Sakit Huayuan adalah mata-mata yang sengaja dipasang oleh keluarga Jia untuk mengawasi dan mengendalikan setiap gerak-gerik Nona Jia Li. Anda tidak akan bisa bergerak bebas jika terus bertahan di sana.)
(Hadiah misi: Perisai tingkat dewa akan aktif. Deskripsi: Menghalau segala bentuk serangan, baik dari jarak jauh maupun dekat, fisik maupun spiritual.)
Mendengar kalkulasi sistem, kilat amarah di mata Jia Li perlahan meredup, digantikan oleh sebuah senyuman menyeringai yang tampak berbahaya di wajahnya yang secantik dewi. Sudut bibirnya terangkat meremehkan. Keluarga Jia rupanya meremehkan siapa yang sedang mereka hadapi sekarang.
"Mengawasi ibu, ya? Menarik sekali," gumam Jia Li sembari menyibak selimutnya. "Baiklah, mari kita beri mereka sedikit kejutan pembuka."
Dengan gerakan anggun namun tak sabaran, ia melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama baginya untuk bertransformasi.
Ia memilih kaos lengan panjang kasual yang dipadukan dengan blazer panjang berpotongan tegas—memberikannya aura pebisnis muda yang dingin dan berkuasa.
Alih-alih langsung melangkah keluar pintu, Jia Li justru berjalan menuju meja kerjanya. Ia menarik kursi, membuka laptop berlogo apel digigit, dan membiarkan jemari lentiknya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Suara klik-klak dari kibor bergema ritmis di dalam kamar yang elegan itu.
Jika orang dari zaman kuno akan gemetar ketakutan atau kebingungan melihat benda-benda elektronik ini, maka tidak dengan Yun Sheren. Sebagai seorang putri kekaisaran, adaptasi dan taktik adalah makanannya sehari-hari. Baginya, teknologi modern hanyalah jenis 'senjata rahasia' baru yang siap ia taklukkan.
Apa lagi sejak kecil, sang ibu selalu menceritakan nya tentang gedung pencakar langit, kendaraan tanpa kuda, dan kotak musik ajaib berlayar sentuh. Terlebih lagi, ada sistem yang tertanam di benaknya.
“Sistem, surat pengunduran diri ini sudah sempurna, kan?" tanya Jia Li dalam hati, berkomunikasi dengan asisten pribadinya.
【Memproses data, Nona Rumah. Format surat pengunduran diri telah disesuaikan dengan regulasi ketat. Tingkat kecacatan: nol persen. Surat siap dicetak,】 suara mekanis yang dingin namun patuh itu menggema di kepala Jia Li.
"Selesai," gumam Jia Li dengan senyum puas yang tersungging di bibirnya.
Tanpa membuang waktu, ia mengirim dokumen tersebut ke mesin pencetak. Suara deru printer memecah keheningan saat lembaran kertas putih itu keluar, sebelum akhirnya dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam amplop putih panjang.
Jia Li kemudian meraih ponsel pintar di sudut meja. Ia menyapukan ibu jarinya pada layar, membuka aplikasi perbankan digital untuk memeriksa aset sah milik ibunya saat ini.
Namun, begitu angka di layar berkedip dan memunculkan nominal akhir, Jia Li refleks menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, menatap layar itu dengan tatapan tak percaya.
"Ibu... kamu benar-benar miskin," gumam Jia Li sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Angka yang tertera di sana sangat menyedihkan: 30.000 Yuan. Untuk ukuran standar hidup di kota metropolitan ini, jumlah itu hampir tidak ada artinya.
"Sebenarnya, selama ini Ibu bekerja digaji berapa hingga tabungannya sekecil ini?"
Jia Li kembali menghela napas, menyimpan ponsel dan amplop tersebut ke dalam tasnya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan.
Menatap pantulan dirinya, ia merapikan pakaian yang melekat di tubuhnya. Sebuah senyuman menyeringai—tipis, dingin, dan penuh arti—terukir di wajahnya sebelum ia membalikkan badan dan melangkah keluar menuju garasi bawah tanah apartemen.
Di sepanjang koridor, Jia Li dengan santai memutar-mutar sebuah kunci di sela jarinya. Begitu pintu lift terbuka dan menampilkan area garasi, pandangannya langsung disuguhi deretan mobil-mobil mewah berharga fantastis milik penghuni lain.
Namun, matanya langsung tertuju pada satu sudut yang membuatnya lagi-lagi harus memijat pelipisnya sendiri. Sebuah sepeda motor matic berwarna putih yang tampak usang dan murah terparkir di sana—satu-satunya kendaraan roda dua di barisan itu, dan itu adalah milik ibunya.
Jia Li tersenyum canggung, tak mampu menyembunyikan rasa geli sekaligus miris di hatinya. "Bahkan di kehidupan baru ini, ujian pertamaku adalah sebuah kendaraan roda dua," bisiknya pada diri sendiri.
Ia berjalan santai, lalu menaiki motor matic tersebut. Sambil memasukkan kunci ke stopkontak dan merasakan stang motor yang agak longgar, ia bergumam pelan, "Aku hanya berharap besi tua ini tidak mogok dan berhenti di tengah jalan."
Dengan satu gerakan, mesin motor itu menyala, mengeluarkan suara knalpot yang agak serak. Jia Li menarik gasnya perlahan, memutar setir, dan melajukan kendaraan putih itu membelah jalanan kota yang sibuk, menuju satu tujuan: Rumah Sakit Huayuan.
[PERINGATAN!] Suara sistem berubah menjadi nada alarm yang menusuk telinga.
[100 hari menuju hari kiamat. Hitung mundur telah dimulai.]
Jia Li tidak menjawab. Ia hanya menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang penuh arti. Namun, ada kilat dingin dan tajam di matanya—sebuah tatapan dari seseorang yang tahu persis bahwa roda takdir baru saja berputar.
•
•
Maaf untuk yang udah baca di episode pertama, ada perubahan disini dari bab 1-3. Soalnya dari editor nya di suruh Edit🙏🙏. Untuk Bab 3 akan berubah menjadi Bab 1. Sementara Bab 2 dan tiga juga akan di revisi ulang.