NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abi Baik, Abi Gak Jahat.

​Winta masih bertafakur di atas sajadah usai salat Subuh dan berzikir, ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk.

​"Assalamualaikum, Umi. Sudah selesai salat?"

​Winta tersenyum tipis.

"Waalaikumsalam, Abi. Sudah."

​"Umi jogging pagi ini?"

​"Kayak enggak deh, Bi. Di luar gerimis."

​"Oke, lanjut istirahat ya. Abi mau siap-siap berangkat kerja dulu."

​"Iya, Bi. Hati-hati."

​Winta kembali meraih Al-Qur'an, tetapi detak jantungnya mendadak tak beraturan. Ada desir aneh yang menyusup di dadanya. Padahal, dia sama sekali belum pernah bertemu Rangga secara langsung.

​Semua berawal dari TikTok. Entah mengapa, saat menatap foto-foto Rangga di layar ponsel, Winta merasa bisa melihat menembus jauh ke dalam matanya. Winta wanita yang biasanya dingin dan tak pernah peduli pada komentar netizen, tanpa ragu memberikan nomor WhatsApp-nya saat pria itu meminta.

​"Boleh enggak, kalau aku panggil Umi?"

pesan Rangga saat pertama kali bertukar nomor.

​"Kenapa Umi? Karena usiaku jauh lebih tua?"

balas Winta ragu.

​"Bukan. Abi enggak peduli soal usia. Abi beneran jatuh cinta sama Umi."

​"Tapi kita, kan, belum pernah tatap muka?"

​"Umi mau kita ketemu?"

​Tangan Winta gemetar menahan ketakutan. Maraknya berita penipuan dan kejahatan bermodus kenalan di media sosial menari-nari di kepalanya. Bagaimana jika pria yang tuturnya selembut sutra ini ternyata berniat jahat?

Lagipula, mana mungkin dia bisa keluar?

​"Umi? Kok diam?"

​"Umi takut sama Abi?"

​"Enggak... enggak takut," ketik Winta cepat.

​"Kalau gitu, mau Abi jemput sekarang?"

​"Jangan! Nggak usah, Bi. Umi tinggal sama anak. Umi hampir enggak pernah keluar rumah."

​"Masa enggak pernah keluar sama sekali? Belanja pasar atau ke supermarket gitu?"

​"Enggak pernah. Kalaupun keluar, pasti diajak atau diantar anak."

​Hening sejenak sebelum balasan Rangga muncul.

"Tapi Abi kangen banget... pengin banget tatap mata Umi langsung."

​"Maaf ya, Bi. Umi belum bisa..."

​"Ya sudah, enggak apa-apa. Lain kali aja ya, Umi."

​Itulah awal mula hubungan mereka. Meski tulus, Winta sering dibuat bingung karena WhatsApp Rangga kerap hanya centang satu atau mendadak tidak aktif.

Namun, hari demi hari berlalu, rasa canggung itu terkikis habis.

​Winta sudah enam tahun menjanda, sementara Rangga mengaku sudah sepuluh tahun hidup sendiri setelah dikhianati istrinya.

Di kota yang sama, dua jiwa yang sepi itu saling menautkan hati.

​Hingga pada suatu malam, percakapan mereka bergulir makin dalam dan hangat.

​"Abi serius masih sendiri? Kenapa bisa tertarik sama Umi? Umur Umi sudah tua, Bi... mungkin sebaya sama mama Abi,"

bisik Winta lewat pesan teks, mencoba menguji keberadaannya di hati Rangga.

​"Cinta itu enggak punya kalender, Umi. Enggak mengenal umur,"

balas Rangga cepat.

"Hati Abi cuma milih Umi."

​Dada Winta berdesir hangat. Kalimat sederhana itu berhasil melambungkan perasaannya.

​"Abi cium Umi dari jauh ya... Muaaach!"

​Deg!

​Jantung Winta bagai meloncat. Sentuhan imajiner itu seolah benar-benar mendarat lembut di bibirnya. Aneh, tapi nyata rasanya.

​"Hush! Enggak boleh gitu, Ah!"

tegur Winta dengan pipi merona merah di kegelapan kamar.

​"Kenapa? Kan enggak kena, Umi."

​"Iya, tapi kan dosa, Bi..."

​"Kalau dipikirin dosa terus, Abi nge-chat Umi tiap malam begini juga sudah dosa karena kangen,"

goda Rangga, diselingi stiker tertawa.

"Umi marah ya Abi cium?"

​Winta menahan senyum di balik selimutnya.

"Enggak..."

​"Nah, gitu dong! Abi cium lagi ya... Muaaakh!"

​"Ihh... Abi! Sudah, dong!"

​Ruang kosong yang hampa setelah enam tahun ditinggal almarhum suaminya kini mendadak penuh dengan warna. Winta merasa muda kembali.

​Namun, kenyataan tak seindah angan. Sejak pindah ke rumah anaknya, Winta merasa seperti burung dalam sangkar emas. Rumah lamanya dikontrakkan karena sang anak khawatir ibunya tinggal sendirian. Namun di sini, ruang geraknya amat terbatas.

​Anaknya berulang kali mewanti-wanti agar tidak sembarangan membawa orang asing masuk. Bahkan ketika Winta sesekali pergi arisan, anaknya yang berada di luar kota akan langsung melakukan video call hanya untuk memastikan ibunya aman dan tidak berada di tempat aneh.

​Setiap malam, tepat pukul sepuluh, pintu kamarnya yang terkunci rapat akan diketok dari luar.

​Tok! Tok! Tok!

​"Mama sudah tidur?"

suara anaknya terdengar memanggil.

​Winta bergegas mematikan pendar layar ponselnya.

"Iya... ini sudah mau tidur."

​"Ya sudah, tidur ya, Ma. Sudah malam, enggak usah main HP terus."

​"Iya..."

​Begitu langkah kaki anaknya menjauh, Winta menghela napas panjang. Dengan jemari pelan, dia membuka aplikasi WhatsApp, mengubah pengaturannya menjadi 'tidak terlihat online', lalu kembali mengetik pesan rahasia untuk pria yang berhasil mencuri hatinya di balik jeruji kasih sayang sang anak.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!