NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Dikirimi Seorang Cowok

"Kei, bangun! Angkat teleponnya sekarang juga!"

Suara Vanessa meledak dari ponsel tepat setelah Keira berhasil mematikan panggilan untuk ketiga kalinya. Layar yang baru gelap kembali menyala, disusul rentetan notifikasi WhatsApp tanpa jeda.

Nessa: BANGUN.

Nessa: Ini darurat.

Nessa: Tolong buka pintu unitku.

Keira menarik selimut sampai menutupi kepala. Sabtu pagi adalah satu-satunya waktu ia bisa membayar utang tidur setelah seminggu kuliah, mengajar paruh waktu, dan mengejar tugas terjemahan. Namun Vanessa jelas tidak mengenal belas kasihan.

Ponselnya kembali berdering.

"Kalau gedungmu nggak kebakaran, aku blokir kamu sampai Senin," gerutu Keira begitu mengangkatnya.

"Lebih gawat dari kebakaran. Kamu sudah di depan pintu belum?"

"Aku masih di kasur."

"Kei! Boarding-ku tinggal dua puluh menit. Buka pintu. Ada titipan buat kamu."

Di balik suara sahabatnya terdengar pengumuman Bandara Soekarno-Hatta yang samar. Keira memejamkan mata, mencoba menyusun potongan informasi yang dilemparkan terlalu cepat.

"Kamu mau terbang ke Brasil dan baru sekarang bilang ada titipan? Titipan apa? Dokumen? Koper?"

Vanessa diam selama satu detik. Itu sudah cukup membuat tengkuk Keira meremang.

"Adikku."

"Apa?"

"Reynard. Dia baru lulus dari SMA Kristen Kasih Bangsa. Papa sama Mama masih keliling Eropa, aku harus beresin masalah cabang Brasil, dan Rey nggak mau tinggal di hotel. Unit 8A kosong. Kamu tinggal buka pintu dan pastikan dia nggak mati kelaparan."

Keira duduk tegak. Rambutnya jatuh berantakan di depan wajah.

"Nessa, kamu nggak bisa menitipkan manusia seperti menitipkan paket."

"Bisa. Paketnya sudah sampai."

Bel pintu berbunyi.

Keira menatap pintu unit 8B dengan mata membesar. Vanessa tertawa pendek di ujung sana, lalu suara petugas memanggil penumpang tujuan São Paulo terdengar lebih jelas.

"Aku harus masuk. Kunci unitku ada sama Rey. Tolong, ya. Sayang kamu!"

"Vanessa Hartono, jangan tutup dulu!"

Sambungan terputus.

Bel kembali berbunyi, kali ini dua kali dengan jeda sopan. Keira melompat turun dari kasur, meraih kardigan tipis untuk menutupi kaus tidurnya, lalu berjalan cepat ke pintu. Ia sempat melirik pantulan dirinya di kaca dekat rak sepatu. Wajah bantal, rambut seperti sarang burung, satu sandal terbalik.

Bagus. Sangat pantas untuk menerima paket hidup.

Begitu pintu dibuka, kalimat yang sudah disiapkan Keira lenyap.

Seorang cowok berdiri di lorong dengan koper hitam besar di sebelah kaki. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar di balik kaus putih sederhana, dan rambut hitamnya sedikit berantakan seperti baru berkali-kali disapu tangan. Di belakangnya, seorang pengemudi ojek online sedang menurunkan satu tas terakhir.

Cowok itu menatap Keira. Sudut bibirnya naik perlahan.

"Pagi, Ci Kei."

Keira berkedip. Sekali. Dua kali.

"Reynard?"

"Syukurlah masih dikenali."

Jelas tidak. Keira hanya mengingat Reynard sebagai bocah kurus yang beberapa kali melintas di belakang Vanessa saat mereka masih sekolah. Bocah itu biasanya menunduk, menjawab seperlunya, lalu menghilang ke kamar. Cowok di depannya sama sekali tidak cocok dengan potongan ingatan itu.

Pengemudi ojek menyerahkan tas, menerima ucapan terima kasih, lalu pergi. Tinggallah mereka berdua di lorong lantai delapan, dipisahkan koper yang membuat keadaan terasa semakin tidak masuk akal.

"Nessa benar-benar mengirimmu pakai ojek dari bandara?"

"Dia memesankan mobil. Aku cuma kelihatan seperti paket karena bawa koper." Reynard mengangkat gagang kopernya. "Boleh masuk ke unit Cici dulu? Atau harus tanda tangan bukti penerimaan?"

Keira menahan tawa yang hampir lolos. "Jangan panggil aku Cici terus. Aku cuma lebih tua tiga tahun."

"Baik, Ci Kei."

"Itu sama saja."

Reynard tertawa pelan. Anehnya, suara itu menimbulkan rasa akrab yang tak berhasil Keira tempatkan. Seolah-olah ia pernah mendengar nada itu dalam versi yang lebih muda, jauh sebelum pagi ini.

Ia bergeser memberi jalan. "Masuk dulu. Kita bicarakan kekacauan kakakmu setelah aku minum kopi."

Reynard membawa koper ke depan unit 8A, membuka pintu dengan kunci yang diberikan Vanessa, lalu hanya menaruh barang di dalam. Lima menit kemudian ia sudah duduk di ruang tamu 8B, sementara Keira membaca pesan panjang Vanessa yang baru masuk.

Isinya sederhana: krisis audit di cabang Amerika Selatan, kepulangan tak pasti, nomor darurat, jadwal pembayaran unit, serta permohonan agar Keira sesekali mengecek Reynard.

"Dia menulis seolah kamu anak SD yang ditinggal karyawisata," kata Keira.

"Cici boleh menganggapku anak bawang kalau itu bikin lebih tenang."

"Kamu baru lulus SMA. Bedanya tipis."

"Aku sudah delapan belas. Bisa urus diri sendiri."

Ada ketenangan aneh dalam cara Reynard mengatakannya. Bukan pembelaan remaja yang tersinggung, melainkan pernyataan seseorang yang sudah menghitung semuanya. Tatapannya bergerak singkat ke rak buku, meja makan, lalu dapur tanpa kebingungan sedikit pun.

Keira menyipitkan mata. "Kamu pernah masuk ke sini?"

"Belum."

"Kok kelihatannya hafal?"

"Unit Vanessa tata letaknya sama."

Jawaban itu masuk akal. Terlalu cepat, tapi masuk akal.

Perut Keira berbunyi sebelum ia sempat bertanya lagi. Wajahnya langsung panas. Reynard menunduk, jelas sedang menahan senyum.

"Aku belum sarapan," bela Keira.

"Sudah hampir makan siang."

Keira meraih ponsel. "Aku pesan GoFood. Kamu mau nasi goreng atau ayam geprek?"

"Nggak usah pesan."

"Jangan sok sungkan. Kakakmu menitipkanmu supaya nggak mati kelaparan."

"Aku yang masak."

Keira mengangkat wajah perlahan. "Kamu?"

"Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa." Ia mengamati kaus putih yang bersih dan tangan panjang yang lebih cocok memegang laptop daripada spatula. "Aku cuma belum pernah lihat anak kosan yang hubungannya dekat sama dapur. Apalagi anak bawang keluarga Hartono."

"Kalau masakanku enak, Cici harus berhenti memanggilku anak bawang."

"Kalau dapurku terbakar, aku kirim tagihannya ke Nessa."

Reynard berdiri. Ia membuka jam tangan, meletakkannya rapi di meja, lalu menggulung lengan kaus sampai ke siku. Gerakannya tidak terburu-buru. Terlalu tenang untuk orang yang baru saja ditantang.

Saat melewati Keira, aroma sabun bersih dan udara panas dari lorong ikut menyentuh hidungnya. Jarak mereka hanya sesaat, tetapi cukup membuat Keira tanpa sadar menahan napas.

Reynard berhenti di ambang dapur dan menoleh. Matanya menyimpan sesuatu yang terasa jauh lebih lama daripada perkenalan pagi itu.

"Lihat saja, Ci Kei," katanya. "Aku buktikan kalau aku bisa masak."

Ia menyingsingkan lengan bajunya sekali lagi, lalu melangkah masuk ke dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!