Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga dari Sebuah Warisan
Memiliki Tombak Awan Kelabu ternyata bukan sekadar anugerah tanpa konsekuensi.
Pagi setelah Tetua Wang menyerahkan senjata itu, Chu Feng mencoba memperagakan rangkaian gerakan dasar yang sudah ia kuasai dengan tombak latihannya selama ini—namun begitu qi-nya mulai mengalir ke dalam bilah tombak baru itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Tombak itu bergetar hebat, seolah menolak aliran qi yang ia berikan, dan sebuah hentakan energi balik menjalar ke sepanjang lengannya, membuatnya terjungkal mundur beberapa langkah dengan tangan yang terasa kebas.
"Ugh," Chu Feng meringis, mengguncang tangannya yang mati rasa, menatap tombak yang kini tergeletak di tanah dengan campuran frustrasi dan kebingungan. "Kenapa ini terjadi?"
"Senjata seperti ini tidak sesederhana yang kau kira," suara di dalam dirinya menjelaskan, nada sedikit geli namun juga serius. "Ia bukan sekadar alat, melainkan memiliki semacam kesadaran dasarnya sendiri—terbentuk dari ratusan tahun menyerap qi para pemilik sebelumnya. Ia menerimamu sebagai pemilik baru, tapi itu tidak berarti ia akan langsung menyerahkan seluruh potensinya begitu saja."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Buktikan dirimu padanya. Setiap senjata bertuan memiliki caranya sendiri untuk menguji pemilik barunya. Mungkin butuh waktu, mungkin butuh sesuatu yang lebih spesifik. Kau harus mencari tahu sendiri."
Chu Feng mendesah, mengambil kembali tombak itu dengan hati-hati, mencoba lagi dengan aliran qi yang jauh lebih kecil dan terkontrol. Kali ini tidak ada hentakan balik yang keras, namun tombak itu tetap terasa berat dan kaku di tangannya, jauh berbeda dari kelincahan yang ia harapkan dari senjata legendaris semacam ini.
Selama beberapa hari berikutnya, ia berjuang menyesuaikan diri dengan senjata barunya—latihan yang seharusnya menjadi peningkatan justru terasa seperti mundur kembali ke titik awal, mempelajari ulang teknik-teknik dasar yang sudah ia kuasai namun kini terasa asing di tangan tombak yang berbeda.
"Kau terlihat frustrasi," komentar Zhao Lin suatu sore, menyaksikan Chu Feng gagal untuk keempat kalinya menyelesaikan rangkaian gerakan sederhana tanpa tersandung akibat berat tombak yang tidak biasa.
"Aku pikir mendapatkan senjata warisan akan membuatku lebih kuat, bukan malah membuatku terasa seperti pemula lagi," Chu Feng mendesah, mengelap keringat di dahinya.
"Terkadang begitulah cara sesuatu yang berharga bekerja," Zhao Lin tersenyum bijak, meski usianya tidak jauh lebih tua dari Chu Feng. "Kekuatan sejati tidak datang instan, bahkan dengan warisan legendaris sekalipun. Mungkin ini justru pelajaran yang perlu kau pahami—bahwa tidak semua hal bisa kau kuasai secepat yang sudah-sudah."
Kata-kata itu terngiang di benak Chu Feng lebih lama dari yang ia duga. Selama ini, kemajuannya memang selalu terasa lebih cepat dibandingkan orang lain—kultivasi, teknik tombak, bahkan pengakuan dari Tetua Wang, semuanya datang dengan kecepatan yang nyaris tidak wajar. Menghadapi sesuatu yang benar-benar menolaknya, yang tidak bisa ia taklukkan hanya dengan bakat dan ketekunan biasa, terasa seperti pengingat yang menyakitkan sekaligus perlu.
Butuh hampir dua minggu penuh sebelum Tombak Awan Kelabu akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda menerima Chu Feng sepenuhnya—dan itu pun terjadi bukan karena latihan teknik semata, melainkan momen yang tidak terduga.
Suatu sore, saat berlatih sendirian di lapangan belakang yang sepi, Chu Feng nyaris terkena serangan mendadak dari seekor monster kecil berbisa yang entah bagaimana berhasil menyusup ke area sekte dari hutan sekitar—sebuah kejadian langka namun bukan tidak mungkin di wilayah yang dikelilingi alam liar seperti ini.
Dalam momen kepanikan sesaat, ketika insting bertahan hidup mengambil alih dari perhitungan teknis, ia menghunuskan Tombak Awan Kelabu tanpa berpikir panjang, mengarahkan tusukan murni dari naluri, bukan dari teknik yang telah dipelajari.
Kali ini, tombak itu merespons.
Bilahnya berkilau terang, dan tusukan itu melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui apa yang pernah Chu Feng capai sebelumnya, menembus tubuh monster kecil itu dengan presisi yang nyaris sempurna, mengakhiri ancaman itu dalam sekejap.
Chu Feng berdiri terengah, menatap tombak di tangannya dengan takjub. Untuk pertama kalinya sejak menerimanya, senjata itu terasa ringan, alami, seolah menjadi perpanjangan dari tubuhnya sendiri.
"Sekarang kau mengerti," suara di dalam dirinya berkata, nada puas terdengar jelas. "Senjata seperti ini tidak menguji keterampilan teknis semata, melainkan naluri sejati pemiliknya—keberanian bertindak tanpa keraguan di saat genting. Kau baru saja membuktikan dirimu, meski dengan cara yang tidak terduga."
Chu Feng tersenyum lega, mengelus permukaan bilah tombak itu dengan rasa hormat baru. Ia telah belajar sesuatu yang penting—bahwa tidak semua kemajuan datang dari kerja keras yang terjadwal rapi, terkadang justru datang dari momen-momen tak terduga yang menguji sisi dirinya yang paling jujur.
Beberapa hari kemudian, seluruh sekte dikumpulkan di aula utama untuk pengumuman penting dari Tetua Wang.
"Aku baru menerima kabar dari beberapa sekte tetangga," katanya, suaranya menggema ke seluruh aula yang dipenuhi murid-murid yang penasaran. "Kompetisi Sekte Wilayah Selatan akan diadakan dalam waktu tiga bulan dari sekarang—sebuah turnamen antar-sekte yang mempertemukan perwakilan terbaik dari setiap sekte di wilayah ini, termasuk beberapa sekte yang jauh lebih besar dan lebih terkenal dibandingkan kita."
Gumaman antusias sekaligus cemas menyebar di antara para murid. Kompetisi semacam ini bukan hanya soal gengsi—hasil yang baik bisa membawa sumber daya, murid baru yang berbakat, dan reputasi yang bisa membantu sekte kecil seperti Sekte Awan Langit bangkit kembali dari keterpurukan yang sudah berlangsung satu dekade.
"Aku tahu sekte kita belum benar-benar pulih sejak tragedi sepuluh tahun lalu," lanjut Tetua Wang, nadanya penuh keyakinan yang jarang sekali ia tunjukkan secara terbuka. "Tapi aku percaya, dengan persiapan yang tepat, kita punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa Sekte Awan Langit masih layak diperhitungkan."
Matanya melirik sekilas ke arah Chu Feng, sebuah senyum tipis penuh makna terbentuk di wajahnya.
"Tiga bulan ke depan, kita akan mempersiapkan tim terbaik yang bisa kita bentuk. Latihan akan lebih intensif dari biasanya, dan aku ingin setiap murid memberikan yang terbaik—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kehormatan sekte yang telah lama terlupakan ini."
Sorak-sorai penuh semangat membahana di aula, sebuah tekad baru mulai terbentuk di antara murid-murid yang selama ini terbiasa dipandang sebelah mata oleh sekte-sekte lain.
Chu Feng, berdiri di antara mereka dengan Tombak Awan Kelabu tersampir di punggungnya, merasakan tekad yang sama menyala di dadanya.
Tiga bulan, pikirnya, menatap ke arah Liu Bo dan murid-murid lain yang kini menatapnya dengan campuran hormat dan semangat kompetitif yang sehat. Waktu yang cukup untuk benar-benar menguasai warisan ini, dan membuktikan bahwa sekte kecil ini pun mampu bersaing dengan yang terbesar sekalipun.
"Sebuah tujuan yang jelas," komentar suara di dalam dirinya. "Manfaatkan waktu ini dengan baik, Pangeran Ketujuh. Karena aku curiga, kompetisi ini bukan hanya soal pembuktian sekte semata—ini juga akan menjadi panggung yang menarik perhatian lebih banyak mata, termasuk mata-mata yang tidak kau inginkan."
Chu Feng mengangguk dalam hati, menyadari kebenaran dalam peringatan itu. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk fokus pada apa yang bisa ia kendalikan—latihan, persiapan, dan tekad untuk terus berkembang, apa pun bahaya yang mungkin menanti di masa depan.
(Bersambung ke Bab 23)