NovelToon NovelToon
Terlarang, dengan Sengaja

Terlarang, dengan Sengaja

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Dark Romance / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ophelia Blaire

Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.

Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.

Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.

Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.

Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.

Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter-001

Bab 1: Teras di Kediaman Adiwijaya

"Umurmu dua puluh," kata Bram. "Bilang saja pada ibumu kau mau menemuiku."

"Bagus sekali. Nanti kau sendiri yang jelaskan bagian soal pacar itu padanya."

Kirana Adiwijaya sudah berpacaran dengan Bram Kusuma selama enam bulan. Keluarganya masih belum tahu. Ulang tahun kakeknya jatuh di hari yang sama dengan ulang tahun Bram, dan ia tak punya pilihan pesta mana yang harus dihadiri. Kini ia berdiri di teras taman, meminta maaf pada kekasihnya yang ada di kota lain.

Bram tertawa—itu pertanda membaik. Kirana bersandar ke pagar teras dan menyelipkan satu tumit keluar dari sepatunya. Gaun payetnya menuai banyak pujian malam itu. Ia rela menukar beberapa pujian itu demi kesempatan melepasnya.

"Aku benar-benar merindukanmu," katanya, lebih lembut.

Pintu teras terbuka di belakangnya.

Kirana berbalik. Kakak perempuannya, Rosalia, melangkah keluar bersama tunangannya, Krisna Kusuma. Krisna juga kakak kandung Bram.

Kirana mengembalikan tumitnya ke dalam sepatu.

"Nanti kutelepon lagi," ujarnya pada Bram, lalu mengakhiri panggilan.

"Ternyata di sini," kata Rosalia. "Mama tadi mencari-cari ke mana kau pergi."

"Cuma cari angin."

Rosalia tampak begitu nyaman dalam gaun berwarna gadingnya. Kirana menahan dorongan untuk membetulkan bagian dada gaunnya sendiri sebelum berpaling ke pria di sebelah kakaknya.

"Pak Krisna."

"Kirana."

Krisna melirik ponsel di tangannya, lalu menatap matanya. Wajahnya bergaris tegas, alisnya gelap, dan tatapannya bertahan sedetik lebih lama dari yang Kirana kira—melewati saat ia menyangka pria itu akan memalingkan pandang.

Kirana menurunkan pandangan ke simpul rapi dasi hitam Krisna. Ketika mengangkat wajah lagi, ia berbicara pada Rosalia.

"Kutinggal kalian berdua, ya."

Kakaknya mengangguk, dan Kirana menyelinap melewati mereka masuk ke ruang pesta.

Bram sudah mengirim pesan.

*Bram:* Ada apa?

*Kirana:* Kakakmu keluar bareng kakakku. Dia juga melewatkan ulang tahunmu, lho.

*Bram:* Aku nggak minta dia. Aku minta kamu.

Kirana tersenyum menatap layar. Itu tidak adil. Ia nyaris berhenti merasa bersalah.

*Kirana:* Aku tahu. Nanti kutebus.

*Bram:* Datang besok.

*Kirana:* Aku ada kuliah.

*Bram:* Bolos saja.

Tante Yohana, istri pertama ayahnya, mencegatnya di dekat meja untuk berkomentar bahwa Rosalia tak pernah menghilang di tengah pesta keluarga. Tante Yohana tak pernah memaafkan ibu Kirana, Wanda, atas perselingkuhan itu.

"Maaf, Tante. Aku lupa waktu."

Kirana menyimpan ponselnya dan melempar senyum minta maaf yang biasanya menyelamatkannya dari sisa ceramah.

Ketika pesta akhirnya usai, Kirana langsung naik ke atas.

Sepatu haknya terlepas di ambang pintu kamar. Ia mencabuti jepit dari rambutnya dan menaruhnya di samping cermin, lalu meraih ritsleting gaunnya di punggung.

Ia menyiapkan air terlalu panas dan berendam sampai kulitnya memerah. Dengan kepala bersandar ke porselen dan kaki akhirnya lepas dari lantai, ia mulai merasa jauh lebih baik.

Kirana keluar dari bak dan berdiri meneteskan air di depan cermin. Uap mengaburkan tepi bayangannya, tapi tidak bentuk tubuhnya. Payudaranya penuh dan berat saat ia mengangkatnya dengan kedua tangan, putingnya mengeras oleh udara. Air mengalir turun menyusuri perut dan di antara pahanya.

"Ya sudah, mau bagaimana lagi," gumamnya, mencoba dalih yang begitu sering ia berikan pada Bram.

Tanpa Bram di sana untuk memercayainya, dalih itu terdengar kurang meyakinkan.

Kemudian, terbungkus jubah mandi, Kirana membuka laci tersembunyi di nakasnya. Ia mengeluarkan kantung beludru kecil dan melonggarkan talinya.

Ia menginginkan seks jauh lebih sering daripada dugaan siapa pun. Hampir setiap malam, ia tak bisa tidur sebelum memuaskan dirinya sendiri.

Enam bulan bersama, dan Bram masih mengira dialah yang ingin menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!