"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan Penulis dan Prolog
Halo semuanya! Selamat datang di kisah "AKU: Catatan Lelaki yang Mencintaimu"
✨Cerita ini akan ditulis sepenuhnya dari sudut pandang Izang (POV Pria). Kalian akan diajak melihat bagaimana seorang remaja berumur 17 tahun jatuh cinta, berjuang, dan mempertahankan hubungannya di tengah badai ujian kehidupan.
Karena cerita ini sudah selesai saya tulis sepenuhnya, saya akan UPDATE SETIAP HARI agar kalian bisa langsung baca tanpa perlu menunggu lama! Jangan lupa untuk klik tombol Favorit/Subscribe, tinggalkan Komentar, dan beri Like di setiap bab ya, supaya saya semakin semangat untuk merilis bab-bab selanjutnya secara otomatis untuk kalian.
Selamat membaca, semoga kalian suka dengan perjalanan cinta Izang dan Ara! ❤️
— Ayuni Reisz
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
...PROLOG...
"Harus Bandung, Bu?" tanyaku dengan nada suara yang tertahan. Mataku terpaku pada pemandangan di depanku. Kuperhatikan bagaimana jemari ibu yang begitu sibuk dan cekatan memasukkan pakaian demi pakaian ke dalam koper besar yang tergeletak di atas ranjang. Kamarku yang biasanya berantakan, kini mendadak terasa asing dan kosong karena sebagian besar barang-barangku sudah dikemas rapi ke dalam kardus-kardus cokelat di sudut ruangan. Beliau baru menjawab pertanyaanku beberapa detik kemudian. Sambil menghela napas pelan, Ibu menjinjing salah satu koperku yang sebelumnya sudah kutata dengan sangat rapi dan meletakkannya di dekat pintu kamar.
"Iya, anakku sayang. Di sana kan ada keluarganya Ibu. Jadi, kamu juga nggak bakal kesepian setelah kita pindah nanti. Lagipula, kerjaan di sana juga banyak yang bagus dan berkualitas untuk masa depanmu. Memangnya kamu nggak kangen sama keluarga besar kita yang ada di sana?" ibu menatapku lembut, mencoba menenangkan badai kecemasan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku. Aku memalingkan wajah, menatap ke arah luar jendela kamar yang menampilkan langit sore kota Malang. Kota yang telah menyimpan seluruh memori masa kecilku, kota tempatku tertawa, dan kota tempatku menemukan Ara.
"Ya kangen sih, tapi kan aku lahir dan besar di sini, Bu. Udah janjian juga sama anak-anak buat selalu bareng," cetusku sedikit dongkol. Pikiranku langsung melayang pada teman-teman dekatku, dan tentu saja, bayangan wajah seorang gadis yang sangat berarti bagiku langsung melintas begitu saja di dalam kepala. Perasaan sesak mulai menjalar di dadaku. Membayangkan jarak ratusan kilometer yang akan memisahkan kami berdua membuat hatiku terasa ngilu.
"Janjian sama temen atau emang nggak mau pisah sama pacar?" bukannya memberikan kalimat hiburan yang menenangkan, Ibu malah menggodaku dengan senyuman jahil yang khas. Mendengar ucapan frontal dari Ibu, tentu saja aku langsung merasakan wajahku memanas seketika. Aku yakin, tanpa perlu berkaca pun, warna pipiku saat ini sudah berubah memerah seperti tomat masak akibat menahan rasa malu yang teramat sangat.
"Ya dua-duanya sih, Bu," jawabku terus terang pada akhirnya. Aku tidak bisa berbohong lagi di hadapan wanita yang telah melahirkanku ini. Jawaban jujurku itu rupanya berhasil membuat ibu menghentikan gerakannya. Beliau batal memasukkan selembar pakaian terakhirnya ke dalam koper yang masih terbuka. Kulihat beliau menarik napas panjang. Sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat, seolah memikul beban yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat dariku.
"Pasti ada alasan lain kan?" aku menatap ibuku dengan tatapan menuntut yang dalam. Aku tahu ada sesuatu yang sengaja ibu tutupi di balik keputusan mendadak untuk pindah rumah ini. Kamar yang hening mendadak terasa semakin sunyi. Menyisakan detak jantungku yang berpacu cepat demi menunggu jawaban yang akan mengubah seluruh alur hidupku. Dan jawaban ibu yang meluncur kemudian, yang diucapkan dengan suara bergetar namun sarat akan luka masa lalu, dengan terpaksa membuatku luluh. Kalimat sederhana dari ibu inilah yang menekukku pasrah dengan kepindahan kami ke Bandung. Mengubur ego remajaku sedalam mungkin, dengan bersiap meninggalkan Malang dan Ara.
"Ibu ingin cari suasana baru, Nak. Ibu ingin memulai hidup baru dengan bapak tanpa perlu terbayang-bayang ayahmu."
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Ikuti terus perjalanan Izang dan Ara. Bab baru akan rilis secara otomatis setiap hari pada jam 18:00 WIB! Terima kasih sudah membaca.