Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Melodi yang Menggetarkan Dunia
Tring…
Hanya satu bunyi notifikasi. Lembut, nyaris tak terdengar. Namun bagi Vano S. Viandra, ketukan pendek itu terasa bagaikan guntur yang membelah langit malam yang sunyi.
Update: Laudys — Reaksi Melodi Gitar [Avenged Sevenfold: Sidewinder]
Ah… Jangan-jangan… Laudys!
Jari-jemari yang sedari tadi bergerak lincah di atas papan ketik, mengendalikan aliran bisnis bernilai triliunan rupiah di seluruh Benua Asia, mendadak membeku di udara. Mata yang biasa menatap tajam hingga membuat pesaing gemetar ketakutan kini membelalak lebar, pupilnya memadat seolah seluruh cahayanya tersedot ke dalam satu baris tulisan itu. Napasnya tertahan di tenggorokan, berhenti sejenak—seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar demi satu nama yang selalu mampu menggetarkan seluruh dunianya.
Tanpa menunda sedetik pun, tanpa mempedulikan tumpukan dokumen penting yang belum terselesaikan, ia menoleh ke depan. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak terbaca kini bergetar, menyembunyikan kegelisahan yang tak biasa.
"Keluar. Tunggu di luar."
Suaranya rendah, namun berwibawa—tak terbantahkan, namun terdengar begitu tertahan, seolah ada beban berat yang sedang ia coba sembunyikan.
Reino, sekretaris pribadinya yang setia, yang selama bertahun-tahun tak pernah sekalipun melihat perubahan ekspresi di wajah atasannya, tertegun sejenak. Ia mengangguk hormat, tanpa bertanya, tanpa ragu.
"Baik, Tuan Vano."
Pintu kabin tertutup perlahan, diikuti bunyi kunci otomatis yang terdengar berat dan dalam—bagaikan pintu gerbang yang memisahkan dua dunia yang sama sekali berbeda. Di luar sana, ia adalah Vano S. Viandra, penguasa tak tertandingi, pria yang disegani dan ditakuti oleh siapa pun yang mengenalnya. Namun di dalam ruang kedap suara ini, di balik pintu tertutup itu, ia bukan lagi seorang penguasa. Ia hanyalah seorang pendengar yang merindukan—seseorang yang akhirnya kembali bertemu dengan satu-satunya hal yang mampu menghangatkan hatinya.
Di dalam kabin Rolls-Royce yang senyap, Vano bersandar di kursi kulit asli yang empuk. Earphone bluetooth premium terpasang di telinganya, dan dengan tangan yang perlahan gemetar, ia menekan tombol putar. Saat nada pertama terdengar, dunia di sekelilingnya lenyap seketika.
Di layar itu, dari sebuah kamar kontrakan yang sempit, sederhana, dan jauh dari segala kemewahan yang kini ia pijak, hadir sosok yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah kesepiannya yang panjang. Meloudy Tanuwirama — dikenal oleh jutaan orang sebagai Laudys.
Wajahnya tak selalu tampak jelas, sering kali tertutup bayangan atau sudut kamera yang sederhana. Namun setiap kali ia mengangkat tangannya, setiap kali jari-jarinya menyentuh senar gitar, sesuatu yang luar biasa. Tato yang memenuhi seluruh lengan kanannya—dari punggung tangan yang mungil, merambat naik menutupi setiap inci kulit hingga ke pundak, bahkan hampir menyentuh bagian leher—bergerak seirama dengan setiap getaran nada. Tato itu hidup, berdenyut bersama musik yang ia mainkan, sama seperti pemiliknya yang bernyawa dan berjuang di tengah keterbatasan yang tak diketahui siapa pun yang menontonnya.
Gitar yang ia peluk erat bukan sekadar kayu dan kawat baja. Itu adalah mahakarya yang dipenuhi tanda tangan asli dari seluruh personel Avenged Sevenfold—band legendaris yang menjadi kiblat bermusiknya, satu-satunya kemewahan yang ia miliki, satu-satunya hal yang tak bisa dibeli dengan uang, melainkan diraih dengan dedikasi dan ketulusan yang mendalam.
Tuk… tuk… tuk…
Hmm… hmm… hmm…
Irama pertama terputar, dan napas Vano tertahan. Ia mengangguk pelan, jari telunjuknya mengetuk pelan di atas meja kabin mobil, mengikuti setiap detak jantung lagu itu. Kilatan cahaya dari layar memantul di matanya yang kini melembut—sesuatu yang tak pernah dilihat siapa pun, baik di kantor, di ruang rapat, maupun di mana pun. Di sini, di dalam ruang tertutup ini, ia bukan lagi penguasa bisnis Asia. Ia hanyalah seorang pria yang sedang mendengarkan satu-satunya hal yang mampu mencairkan dinding es yang telah ia bangun bertahun-tahun lamanya.
Musik metal ini bukan sekadar kegemaran. Ini adalah jembatan kembali ke masa lalu—ke masa sekolah, ke masa ketika ia masih polos, dan setiap kali ia mendengar petikan gitar Laudys, ada getaran yang sama—seolah melodi itu adalah pesan yang dikirimkan dari masa lalu, memanggil-manggil namanya, mengingatkannya pada sesuatu yang telah lama hilang dan tak pernah ia temukan lagi.
Ia menonton, menatap, dan tak berkedip sedikit pun. Jari-jarinya yang terampil memetik senar dengan kecepatan dan ketepatan yang mustahil ditiru oleh kebanyakan master gitar sekalipun. Setiap transisi akor yang rumit, setiap nada yang melengkung dan berteriak, seolah menyampaikan cerita yang tak terucapkan—cerita tentang perjuangan, tentang kesakitan, tentang bertahan meski dunia tak berpihak padanya.
Lagu itu berakhir, gema nada terakhir perlahan menghilang, namun berdenting terus di dalam kepalanya. Vano masih terpaku, menatap layar yang kini berhenti bergerak. Hingga perlahan ia menyadari—waktu telah berlalu begitu cepat, jauh lebih cepat daripada yang ia duga.
"Hah…"
Napas panjang terhembus, penuh kekaguman sekaligus kepedihan yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Matanya perlahan beralih ke jam di pergelangan tangannya, dan ia tersentak bangun seketika.
"Sudah jam segini…!"
Dengan gerakan cepat dan tegas, ia menutup video itu—menyembunyikan kembali dunia rahasianya dari pandangan siapa pun. Tangan-tangannya yang tadi sempat gemetar karena emosi, kini bergerak lincah dan presisi merapikan pakaiannya. Kerutan sekecil apa pun tidak boleh ada. Wibawanya, citranya, topeng dingin yang ia pakai setiap hari—harus kembali sempurna, tak boleh ada satu pun celah yang membiarkan orang lain melihat sisi aslinya. Tak seorang pun boleh tahu. Bahkan Reino, yang setia melayaninya selama bertahun-tahun, sama sekali tidak tahu bahwa di balik wajah dingin itu, tersembunyi seorang pria yang bisa lupa waktu hanya karena mendengarkan musik yang dimainkan oleh seorang wanita yang bahkan belum pernah ia tau.
Ia menekan tombol interkom, suaranya kembali datar, tegas, dingin—tanpa sisa emosi sedikit pun.
"Reino. Kita berangkat sekarang."
"Baik, Tuan!" jawab Reino dari luar, tepat dan cepat, tanpa jeda.
Mobil mewah itu melaju perlahan, lalu semakin cepat membelah jalanan kota yang mulai sibuk. Di dalam kabin yang kembali senyap itu, Vano menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlalu, namun matanya tak benar-benar melihatnya. Wajahnya kembali dingin bagaikan patung marmer yang tak tersentuh perasaan. Namun di balik tatapan kosong itu, satu nama terus bergaung, berulang-ulang, tak mau berhenti, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, satu tekad baru mulai tumbuh perlahan namun pasti di dalam dadanya.
Reino melirik sekilas ke spion.
"Tuan, jadwal kita hari ini—"
"Katakan saja," potong Vano singkat, namun nada itu tak sekeras biasanya.
"Sangat aman, Tuan. Setelah dari kantor pusat, kita langsung menuju rapat dengan klien penting. Tidak ada kendala sama sekali."
"Baiklah."
Vano kembali diam, membiarkan kata-kata itu menguap di udara. Namun di dalam hatinya, melodi itu masih berputar, terus berputar—dan semakin lama, semakin kuat satu pertanyaan yang kini mendesak untuk dijawab.
Laudys… Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau berasal? Dan mengapa setiap nada yang kau mainkan selalu membuatku merasa seolah aku telah mengenalimu sejak lama?
^^^Bersambung...^^^