Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyy Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerasnya Senopati dan Suara dari Langit
Hujan deras mengguyur kawasan Senopati malam itu, membiaskan pendar lampu kuning dari balik kaca-kaca kafe elite Jakarta Selatan. Di luar atap pelindung, Shevi berdiri mematung. Kaos oblong putihnya yang sudah melar menempel basah di kulitnya yang ditiup angin malam. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, mengalir melewati pelipis dan merembes ke celana jeans bagian lututnya yang robek.
Jemarinya yang memar dan kaku mencengkram erat gagang ember plastik hitam. Air sabun di dalamnya sudah lama dingin, keruh, dan bercampur kotoran oli rantai. Rasa perih di kuku jarinya yang terkelupas sama sekali tidak sebanding dengan hantaman sesak di dalam dadanya.
Dua meter di hadapannya, di bawah kanopi kafe yang kering, berdiri Sarah. Gadis yang dua tahun terakhir menemaninya berbagi semangkuk mi instan di akhir bulan itu menatapnya dengan tatapan yang membuat dada Shevi ngilu—pandangan asing yang memancarkan rasa enggan.
Tangan Sarah melingkar di pinggang seorang pemuda berbadan tegap yang mengenakan jaket kulit mahal. Karel, pemuda yang belakangan sering memamerkan mobil sport di area kampus.
"Nih, ongkos cuci motor gua. Dua puluh ribu, kan?" suara Karel memecah deru air hujan.
Dengan gestur santai, Karel menarik selembar uang kertas dari dompetnya, lalu melepaskannya begitu saja. Lembaran itu melayang pelan sebelum mendarat di genangan air kotor tepat di ujung sepatu Shevi yang sobek.
Shevi menatap lembaran basah di dalam kubangan air itu, lalu mendongak menatap mata Sarah. Tenggorokannya terasa tersumbat. "Sar... seminggu ini HP kamu gak aktif. Kamu... benar-benar pergi sama dia?"
Sarah menarik napas panjang, membuang pandangannya ke jalan raya seolah menolak berlama-lama menatap wajah Shevi. "Shev, please. Bikin malu tahu gak? Ini Senopati! Anak-anak kampus aku pada nongkrong di dalam. Kamu datang cuma bawa ember kotor sama lap kumal gini? Aku capek, Shev. Capek hidup ngikutin kamu yang gak pernah ada kejelasan!"
"Tapi kita udah janji berjuang dari nol, Sar? Aku mutar keliling cuci motor panggilan ini juga demi..."
"Demi apa?!" potong Sarah tajam, nada suaranya bergetar menahan kejengkolan yang menumpuk.
"Masa depan? Masa depan apa yang bisa dijamin dari kuli cuci keliling? Buat bayar sewa kontrakan petakan kamu di Tambora aja bulan ini kamu nunggak! Aku butuh kepastian hidup, Shev. Karel bisa kasih aku kehidupan yang layak tanpa harus mikirin esok hari makan apa. Sementara kamu? Kamu mau nyeret aku hidup susah selamanya?"
Karel tertawa pelan, melangkah maju sembari menyapu ujung sepatunya yang bersih dengan tisu. "Denger sendiri kan? Ambil tuh duitnya di kubangan air, terus pergi. Keberadaan lu di sini cuma ngerusak pemandangan."
Darah Shevi berdesir panas. Pembuluh darah di lehernya menegang. Jemarinya mengepal begitu kuat hingga jarinya memutih, merintih ngilu menahan letupan amarah yang mendesak dadanya untuk melompat menghantam wajah sombong Karel. Rasanya ingin sekali dia meremukkan kepalan tangannya ke rahang pemuda itu.
Namun, di tengah gelombang amarah yang membakar, bayangan Emak di rumah kontrakan Tambora mendadak melintas di benaknya—Emak yang terbatuk-batuk hebat hingga memegangi dadanya setiap kali menahan sakit paru-paru yang menggerogoti fisiknya.
“Shev, sekeras apa pun orang menghina keadaanmu, jangan pernah tukar harga dirimu dengan amarah yang bikin kamu hilang arah...” suara parau Emak seolah berbisik di telinganya.
Shevi memejamkan mata rapat-rapat. Dia mengatupkan rahangnya keras-keras, menghembuskan napas berat dari hidung untuk memaksa jantungnya mereda. Dengan jemari yang bergetar menahan guncangan emosi, Shevi membungkuk. Dia memungut lembaran dua puluh ribu rupiah yang basah dan kotor dari genangan air. Itu haknya. Itu hasil peluhnya memeras tenaga selama satu jam penuh menggosok kerak mesin motor Karel.
"Terima kasih uangnya," ucap Shevi dengan suara rendah dan serak, menahan agar tidak pecah.
Tanpa menunggu tanggapan apa pun, dia berbalik, mencengkeram gagang ember plastiknya, dan melangkah menembus lebatnya hujan malam. Tawa kecil Karel dan helaan napas Sarah perlahan tenggelam di balik gemuruh angin.
Langkah kaki Shevi menyusuri trotoar terasa amat berat. Setiap pijakannya bagaikan menyeret beban berkuintal-kuintal. Bukan hanya luka pengkhianatan Sarah yang menusuk, tetapi kenyataan pahit di rumah kontrakan petakannya yang terus menghimpit, obat batuk Emak sudah habis sejak kemarin sore, dan pemilik kontrakan sudah mengancam akan memasang gembok besar jika tunggakan tiga juta rupiah tidak dibayar lusa.
Di saku celananya saat ini, total uang yang dia miliki hanya empat puluh lima ribu rupiah.
"Gusti... kalau usaha keras dan kerja keringat sendiri masih belum cukup buat nyambung hidup Emak, saya harus cari jalan ke mana lagi?" batinnya merintih dalam keheningan malam.
Ting...!
Sebuah nada halus berdenting lembut di dasar kesadarannya, memotong bisingnya lalu lintas jalan raya.
Shevi mendadak menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon ketapang dekat halte bus yang sepi. Napasnya tersengal. Dia menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada, tetapi tidak ada seorang pun di sekitarnya.
Sekilas pendar cahaya tipis membayang di ruang matanya, membentuk guratan kalimat samar yang melayang anggun:
[Resonansi Jiwa Terdeteksi: Menahan Diri di Bawah Tekanan Ekstrem]
[Status Kesadaran: Integritas Diri Terjaga]
[Bonus Poin Pertama: +10 Poin]
Pikiran Shevi menegang. Dia mengusap matanya menggunakan lengan kaus yang basah, mengira pandangannya kabur akibat kelelahan dan bayangan emosi. "Apa... aku mulai gila karena stres?" gumamnya lirih.
Guratan cahaya itu meredup, berganti menjadi sebuah getaran hangat yang perlahan meresap ke dalam jemari tangannya yang memar. Tidak ada perubahan ajaib yang serta-merta mengubah nasibnya. Tidak ada uang tunai jutaan rupiah yang jatuh dari langit.
Namun, getaran hangat itu seolah memberikan kejelasan pikiran yang mendalam—sebuah naluri teknis yang membuat ingatannya tentang alur mekanis mesin dan sirkulasi perkakas terasa jauh lebih tajam dari biasanya.
Shevi menatap telapak tangannya yang gemetar.
Sistem unik itu tidak menyelesaikan masalah uang sewanya secara instan, tetapi kehadiran getaran itu menyadarkannya pada satu hal: dia masih memiliki tangan yang sehat dan keahlian teknis untuk berjuang.
Uang tiga juta rupiah untuk sewa kontrakan Tambora dan biaya obat Emak masih menjadi gunung besar yang harus dia panjat esok hari.
Namun rasa putus asa yang tadi mencekik lehernya perlahan terangkat.
Shevi mengusap sisa air hujan di wajahnya, meremas lembaran uang basah di dalam sakunya untuk membeli obat batuk herbal di apotik 24 jam terdekat, lalu melangkah mantap menembus kegelapan malam menuju pemukiman Tambora.