NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Bab 1: Insiden Mobil Estetik

​"SIAPA YANG BERANI BIKIN MOBIL GUE KEGORES SEPANJANG INI?!"

​Raungan keras nan dingin itu sukses membelah keheningan. Area parkir SMA elite Nusa Bakti, yang beberapa detik lalu riuh oleh suara knalpot dan tawa siswa, mendadak senyap bagai kuburan. Tak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras. Tatapan mereka tertuju pada satu titik: Dereen Hilton.

​Cowok jangkung berpostur hampir dua meter itu menatap tajam baret panjang yang menganga di pintu mobil sport hitam kesayangannya. Rahangnya mengeras, menampilkan urat leher yang menegang. Sebagai kapten basket, pentolan geng, sekaligus penguasa tak resmi sekolah ini, tak ada yang pernah berani menyentuh barang miliknya.

​"Gue udah cek CCTV, Ren. Yang bikin ulah anak baru. Namanya Nadiva," lapor Andrew santai. Cowok yang menjabat sebagai tangan kanan Dereen itu bersandar di kap mobil sambil bersedekap.

​Mata Dereen menyipit tajam. "Bawa ke sini. Gue mau lihat seberani apa nyali orang yang berani nyari mati sama gue pagi-pagi."

​Tak sampai sepuluh menit, area parkir kembali berdengung. Dua siswa suruhan Dereen tampak menggiring seorang gadis mungil. Kontrasnya luar biasa. Di tengah kerumunan siswa berseragam modis bergaya khas anak ibu kota, gadis bernama Nadiva itu hadir dengan rok panjang dan jilbab syar'i putih yang menjuntai rapi. Tingginya yang hanya 150 sentimeter dengan pipi chubby kemerahan membuatnya terlihat seperti anak SMP yang tersasar.

​Dereen menunduk, menatap cewek di depannya dengan kilat membunuh. "Jadi, lo cewek aneh yang berani ngerusak barang gue?" desisnya, suaranya berat dan mengancam.

​Alih-alih gemetar atau menangis minta ampun, gadis itu malah mendongak. Bukannya ciut, Nadiva justru menyengir tanpa dosa hingga matanya menyipit.

​"Hehe, maaf ya, Kak. Tadi aku niatnya mau langsung minta maaf, tapi keburu disuruh ke ruang guru buat urus pendaftaran." Nadiva menunjuk sepedanya yang terparkir jauh di ujung. "Tadi sepedaku oleng, eh nggak sengaja nyerempet. Tapi lumayan kan, mobil Kakak jadi ada motifnya. Lebih estetik."

​Keheningan kembali menyergap. Beberapa siswa menahan napas ngeri. Estetik katanya?!

​Rahang Dereen makin kaku. Ia maju selangkah, mengikis jarak hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Nadiva. "Lo pikir ini lucu, hah?! Otak lo di mana?!" bentaknya kasar.

​Senyum ceria Nadiva langsung pudar. Bahunya sedikit menurun, menyadari candaannya tidak tepat sasaran. "Maaf, Kak...."

​Melihat suasana yang makin panas, Mex buru-buru menengahi. "Udahlah, Ren. Dia kan nggak sengaja. Anak baru, wajar kalau masih kaku bawa sepeda di parkiran sini," belanya, berusaha meredam emosi sahabatnya.

​Dereen mendengus sinis. Matanya memindai Nadiva dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Oke. Sebagai ganti rugi, lo jadi babu gue selama satu bulan. Impas."

​Alih-alih panik, wajah Nadiva kembali tenang. Ia mendongak menatap lurus ke netra gelap Dereen. "Sebutin aja nominal perbaikannya berapa, Kak. Insyaallah aku ganti sekarang juga."

​Sudut bibir Dereen terangkat, membentuk seringai meremehkan. "Lima juta. Lo sanggup?" tantangnya pelan namun menusuk.

​Nadiva hanya ber-oh ria. Sedetik kemudian, tangan mungilnya dengan santai merogoh saku rok, mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru. "Minta nomor rekeningnya, Kak. Atau ada QRIS?"

​Dereen mengernyit bingung, namun Andrew yang iseng membacakan nomor rekening Dereen. Jemari Nadiva menari cepat di atas layar.

​Ting!

​Nadiva menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Dereen. "Udah masuk ya, Kak, lima juta. Sekali lagi, aku minta maaf karena udah bikin mobilnya lecet. Assalamualaikum."

​Setelah menundukkan kepala sekilas sebagai tanda hormat, Nadiva berbalik. Ia melangkah pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Dereen beserta seluruh antek-anteknya yang mematung dengan mulut setengah terbuka.

​"Gila...." Andrew terkekeh pelan, memecah keheningan. "Baru kali ini ada cewek yang berani skakmat lo, Ren. Mulus banget lagi."

​Dereen tak menjawab. Tangannya mengepal kuat di dalam saku celana, sementara matanya tak lepas menatap punggung berbalut jilbab putih yang perlahan menghilang di belokan koridor. Awas aja lo, cewek aneh. Bakal gue bikin hidup lo kayak keripik gosong di sekolah ini, batinnya kesal. Harga dirinya baru saja diinjak-injak dengan cara paling sopan yang pernah ada.

​Di dalam Kelas 12A

​Nadiva baru saja mendaratkan bokongnya di bangku kosong dekat jendela ketika seorang siswi berambut sebahu menghampirinya.

​"Hai, anak baru, ya?" sapa siswi itu ramah. "Gue Karin."

​"Iya, namaku Nadiva." Gadis itu tersenyum manis membalas jabatan tangan Karin.

​Karin duduk di bangku sebelah Nadiva, menopang dagu sambil memperhatikan penampilan teman barunya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Santai aja, Div. Lo beda banget ya." Karin tersenyum simpul. "Gue salut sih. Berani banget lo masuk sini dengan gaya syar'i begini. Tapi tenang aja, nggak usah overthinking. Walaupun ini sekolah elite yang isinya anak-anak hedon, gue jamin lo bakal aman duduk sama gue."

​Obrolan mereka mengalir cepat. Karin ternyata tipe gadis supel yang tahu segalanya tentang isi sekolah. Teringat kejadian menegangkan di parkiran tadi, rasa ingin tahu Nadiva mendadak muncul.

​"Rin, mau nanya dong. Cowok galak yang tingginya kayak tiang listrik di parkiran tadi itu... siapa sih namanya?" tanya Nadiva polos.

​Mata Karin seketika membulat sempurna. "Siapa? Tiang listrik?!" pekiknya tertahan. "Jangan bilang lo baru aja berurusan sama The Most Wanted Prince sekolah ini? Si Dereen?!"

​"Mungkin? Tadi sepedaku nggak sengaja nyerempet mobilnya. Tapi dia orangnya gampang meledak ya, marah-marah terus, nggak asyik," keluh Nadiva santai, mengedikkan bahu.

​Karin bergidik ngeri, merinding membayangkan apa yang baru saja dilakukan teman sebangkunya ini. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Nadiva, berbisik serius. "Dengerin gue, Div. Kalau lo mau lulus dari sini dengan tenang, jangan pernah, gue ulang, jangan pernah berurusan lagi sama Dereen dan gengnya! Apalagi sama cewek-cewek Chillideers, fanclub garis keras pemuja Dereen. Mereka itu manusia-manusia paling ribet sedunia. Gue aja yang masih sepupuan sama Mex males banget urusan sama mereka!"

​Nadiva menghela napas panjang, menopang pipi chubby-nya dengan lesu. "Ya, gimana lagi, Rin. Namanya juga musibah. Tadi kan murni ketidaksengajaan."

​Belum sempat Karin membalas, bel sekolah berbunyi nyaring, memutus obrolan mereka dan menandakan dimulainya jam pelajaran pertama. Tanpa Nadiva sadari, bel itu juga menjadi penanda dimulainya hari-hari panjang penuh drama di SMA Nusa Bakti.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!