"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Yang Terlambat
“Mas Bastian.”
“Hm,” gumam Bastian tanpa mengangkat wajah. Tatapannya masih terpaku pada berkas-berkas di atas meja, jemarinya sibuk membalik halaman demi halaman.
Diandra berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Pemandangan itu sudah begitu akrab baginya.
Selama dua tahun menjadi istri Bastian, pria itu seolah selalu memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada dirinya. Pekerjaan, rapat, telepon, berkas, atau sekadar kesibukan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali Diandra ingin berbicara.
“Aku mau ngomong sama Mas.”
“Ngomong aja.”
Singkat. Datar. Bahkan tanpa sedikit pun usaha untuk menatapnya.
Diandra mengembuskan napas perlahan. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya sejak beberapa hari terakhir, tetapi melihat sikap suaminya, keberaniannya kembali goyah.
“Mas nggak bisa berhenti sebentar dan lihat aku?”
Tangan Bastian berhenti membalik halaman.
Namun hanya sesaat.
“Diandra, kalau ini soal hal sepele, nanti aja. Aku lagi banyak kerjaan.”
Hati Diandra mencelos.
Hal sepele.
Entah sejak kapan perasaannya selalu dianggap seperti itu oleh suaminya sendiri.
“Buat Mas mungkin sepele,” ucap Diandra lirih. “Tapi buat aku, ini penting.”
Bastian akhirnya mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, Diandra hampir lupa bagaimana caranya bernapas. Bukan karena tatapan itu penuh kasih, melainkan karena mata pria yang menjadi suaminya selama dua tahun itu terasa begitu asing.
“Ada apa?”
Diandra menggenggam jemarinya sendiri.
“Aku capek, Mas.”
Kening Bastian berkerut.
“Capek?”
“Iya.”
Diandra tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Capek menjadi istri yang rasanya nggak pernah benar-benar punya suami.”
Nggak perlu repot-repot mempertahankan aku.”
Bastian menatap map itu, lalu kembali menatap wajah istrinya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Diandra bukan sedang mengancamnya.
Perempuan itu benar-benar sudah menyerah.
“Ini kan yang kamu mau?” tanya Diandra lirih.
Bastian membeku.
“Selama ini aku berusaha menjadi istri yang kamu butuhkan. Tapi ternyata aku hanya menjadi seseorang yang keberadaannya kamu anggap pasti.”
Diandra mengusap sudut matanya.
“Sekarang aku akan pergi. Mungkin setelah aku tidak ada, rumah ini akhirnya bisa terasa lebih tenang buatmu.”
Ia berbalik.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Bastian terdengar.
“Diandra.”
Langkahnya terhenti.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara Bastian terdengar panik.
“Jangan pergi.”
“Lalu apa yang membuat kamu lelah?”
Diandra menatap Bastian cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Kamu.”
Bastian mengerjapkan mata, jelas tidak mengerti.
“Aku?”
“Iya. Kamu.”
“Apa yang aku lakukan sampai membuat kamu lelah?”
Nada suara Bastian terdengar benar-benar bingung. Seolah-olah selama ini ia merasa sudah menjadi suami yang sempurna.
“Aku membebaskan kamu melakukan apa pun yang kamu mau. Mau jadi ibu rumah tangga, silakan. Mau bekerja, juga silakan. Aku nggak pernah melarang kamu memakai uangku, pergi ke mana pun, atau bertemu siapa pun.”
Diandra mengepalkan tangannya.
“Aku cuma punya satu permintaan. Jaga anak-anak dengan baik.”
Bastian berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang.
“Kalau di rumah pun aku nggak pernah macam-macam sama kamu. Aku jarang bicara, memang. Tapi aku juga nggak pernah membentakmu, nggak pernah memarahimu, bahkan aku nggak pernah ikut campur urusanmu. Kamu bebas melakukan apa saja.”
Demi Tuhan, Diandra ingin sekali mengambil benda di atas meja dan melemparkannya ke wajah pria itu.
Bagaimana mungkin Bastian bisa mengatakan semua itu dengan wajah setenang itu?
Dia tidak pernah melarang.
Dia tidak pernah memarahi.
Dia membiarkannya bebas.
Namun ternyata, Bastian tidak pernah memahami bahwa pernikahan bukan tentang seberapa banyak kebebasan yang diberikan.
Pernikahan juga tentang kehadiran.
Tentang perhatian.
Tentang merasa dicintai.
“Mas Bastian,” ucap Diandra dengan suara tertahan, “aku nggak butuh kebebasan seperti itu.”
“Lalu kamu butuh apa?”
“Aku butuh suamiku.”
Bastian terdiam.
“Aku butuh seseorang yang bertanya bagaimana hariku. Aku butuh seseorang yang menyadari ketika aku sedang sedih. Aku butuh seseorang yang melihatku bukan hanya sebagai perempuan yang mengurus rumah dan anak-anak.”
“Diandra…”
“Aku istrimu, Mas. Bukan pengurus rumah yang kebetulan tinggal di rumah yang sama denganmu.”
Bastian mengusap wajahnya kasar.
“Jangan seperti ini. Aku malas kalau harus menikah lagi dan memulai semuanya dari awal.”
Diandra menatapnya tidak percaya.
“Jadi itu alasan Mas mempertahankan aku?”
“Aku cuma berpikir tentang keluarga.”
“Kasihan Azzam dan Azzura,” lanjut Bastian. “Mereka sudah sayang sama kamu. Mereka sudah menganggap kamu ibu mereka.”
Air mata Diandra akhirnya jatuh.
“Kalau anak-anak memang sayang sama aku, aku akan tetap menyayangi mereka.”
Ia mengusap pipinya.
“Tapi kalau kamu?”
Bastian terdiam.
“Kamu sayang sama aku nggak, Mas?”
Pertanyaan sederhana itu membuat suasana mendadak sunyi.
Bastian tidak langsung menjawab.
Diandra tertawa lirih.
“Kenapa diam?”
“Apa itu penting?”
Mata Diandra membulat.
“Apa?”
“Yang penting semuanya baik-baik saja.”
Diandra menatap suaminya seolah tidak mengenali pria yang selama dua tahun terakhir hidup bersamanya.
“Apanya yang baik-baik saja, Mas?”
Suaranya pecah.
“Rumah tangga kita? Aku yang setiap hari tidur sendirian? Makan sendirian? Menunggu suami pulang sampai tertidur di sofa? Atau pernikahan yang cuma terlihat baik dari luar?”
Bastian membisu.
“Mas bilang aku bebas.”
Diandra tersenyum pahit.
“Memangnya aku bebas untuk merasa dicintai oleh suamiku sendiri?”
Bastian tidak mampu menjawab.
“Selama ini aku pikir suatu hari kamu akan sadar.”
Diandra menggeleng pelan.
“Ternyata aku yang terlalu bodoh karena terus menunggu.”
Bastian bangkit dari kursinya. Melihat Diandra hendak menjauh, ia refleks meraih lengannya dan menahannya agar perempuan itu kembali duduk.
Namun Diandra justru memalingkan wajah.
“Lihat aku.”
Bastian mengangkat dagunya perlahan agar wajah mereka saling berhadapan.
Saat itulah ia terdiam.
Ada air mata yang menggenang di sudut mata Diandra.
Selama dua tahun menikah, baru kali ini Bastian melihat istrinya menangis di hadapannya.
“Kamu menangis?”
Diandra tertawa hambar.
“Kenapa? Kaget?”
Air matanya jatuh.
“Tanpa kamu sadari, setiap malam aku menangis, Mas.”
Dada Bastian terasa sesak.
Selama dua tahun, ia selalu mengira rumah tangganya baik-baik saja.
Diandra selalu bangun pagi dengan senyum yang sama. Menyiapkan pakaian kerjanya, membuat sarapan, mengurus Azzam dan Azzura, memastikan segala kebutuhannya tersedia.
Tidak pernah ada keluhan.
Tidak pernah ada tuntutan.
Bahkan ketika dulu Bastian mengatakan bahwa dirinya belum siap menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri sepenuhnya, Diandra hanya tersenyum dan menerima keputusan itu.
Perempuan itu tidak pernah menuntut lebih.
Tidak pernah memaksanya.
Bastian mengira Diandra mengerti keadaannya.
Ternyata ia hanya tidak pernah benar-benar bertanya.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Diandra menatapnya dengan mata sembap.
“Gimana aku mau bilang?”
Suaranya bergetar.
“Kamu dari pagi sampai sore sibuk kerja. Pulang ke rumah, perhatianmu langsung tertuju kepada anak-anak. Setelah itu kamu makan, membuka laptop atau memeriksa ponsel, lalu tidur.”
Bastian terdiam.
“Begitu terus selama dua tahun.”
Diandra menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya.
“Aku masih sanggup menahan capek secara fisik. Mengurus rumah, anak-anak, semua pekerjaan itu masih bisa aku jalani.”
Ia menekan telapak tangannya ke dada.
“Tapi yang satu ini…”
Suaranya pecah.
“Aku lelah sendirian di dalam pernikahanku sendiri.”
Bastian menatapnya tanpa berkedip.
“Aku setiap hari berada di rumah yang sama denganmu, tidur di kamar yang sama denganmu, tapi rasanya seperti aku hidup sendirian.”
Air mata Diandra kembali mengalir.
“Dan yang paling menyakitkan, Mas… aku selalu berpikir mungkin besok kamu akan berubah.”
Ia tersenyum getir.
“Besok ternyata selalu menjadi hari yang sama.”
Bastian tidak mampu berkata-kata.
Untuk pertama kalinya, semua hal yang selama ini ia anggap biasa terasa begitu berbeda.
Senyum Diandra bukan tanda bahwa ia bahagia.
Diamnya bukan berarti ia baik-baik saja.
Dan kesabarannya selama ini ternyata bukan karena ia tidak membutuhkan apa-apa.
Melainkan karena ia terlalu lama menunggu suaminya menyadari bahwa ia juga ingin dicintai.
“Diandra…”
“Jangan.”
Diandra menggeleng.
“Aku sudah terlalu lama mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus mengerti kamu.”
Ia menatap Bastian dengan mata penuh luka.
“Tapi sekarang aku ingin sekali ada seseorang yang mau mengerti aku.”
Selama dua tahun, Diandra menyimpan semuanya seorang diri.
Ia terus meyakinkan dirinya untuk bertahan sedikit lebih lama. Demi Azzam dan Azzura. Demi rumah tangga yang sejak awal ia pikir bisa diperbaiki.
Namun ternyata, kesabaran juga memiliki batas.
“Dan kamu tahu apa yang paling menyakitkan buatku?”
Bastian menatapnya tanpa menjawab.
“Kamu bisa meluangkan waktu untuk Serly.”
Ekspresi Bastian berubah.
“Kenapa jadi bawa-bawa Serly?”
“Karena aku melihatnya sendiri, Mas.”
Suara Diandra bergetar.
“Kamu masih punya perasaan untuk dia, kan?”
“Jangan asal menyimpulkan.”
“Aku nggak asal menyimpulkan.”
Diandra mengusap air matanya.
“Cara kamu melihat Serly berbeda. Cara kamu bicara dengannya juga berbeda. Kamu bisa bersikap lembut kepadanya. Kamu bisa meluangkan waktu ketika dia membutuhkanmu.”
Bastian terdiam.
“Bahkan waktu aku dan Serly sama-sama sakit, kamu memilih mengantarnya ke dokter hanya karena dia demam.”
Diandra tertawa getir.
“Sedangkan aku?”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku pernah jatuh di kamar mandi sampai hampir kehilangan banyak darah. Aku bahkan nggak tahu harus meminta bantuan kepada siapa karena kamu nggak ada.”
Wajah Bastian seketika menegang.
“Diandra…”
“Selama dua tahun aku berusaha memahami semuanya.”
Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Dua tahun, Mas.”
Diandra menatap Bastian dengan luka yang selama ini ia sembunyikan.
“Selama dua tahun kita menikah, kamu bahkan tidak pernah benar-benar mendekatiku sebagai seorang istri.”
Bastian membisu.
“Aku sampai bertanya-tanya setiap malam, sebenarnya apa yang salah denganku?”
Suaranya semakin lirih.
“Apa aku kurang cantik? Apa aku nggak cukup menarik buat kamu? Apa ada sesuatu dari diriku yang membuatmu nggak bisa melihatku sebagai perempuan yang kamu cintai?”
Bastian mengepalkan tangannya.
“Berkali-kali aku berdiri di depan cermin dan mencari kekuranganku sendiri.”
Diandra tersenyum pahit.
“Aku sampai hampir gila karena terus mencari jawaban yang bahkan nggak pernah kamu berikan.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Bastian tidak memiliki satu pun kalimat yang mampu membantah ucapan istrinya.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini Diandra bukan tidak pernah membutuhkan dirinya.
Ia hanya terlalu lama menunggu untuk dipilih.
Dan sekarang, setelah dua tahun, perempuan itu akhirnya berhenti menunggu.
Bastian menundukkan pandangan.
Tidak ada satu pun pembelaan yang terdengar dari bibirnya.
“Kamu nggak perlu menjawab apa pun, Mas. Aku sudah tahu jawabannya.”
Diandra mengusap air matanya, lalu menarik napas panjang.
“Aku akan mengurus surat perceraian kita. Setelah semuanya selesai, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan bersama perempuan itu.”
Bastian langsung menatapnya.
“Diandra, tunggu—”
Namun Diandra sudah berbalik.
Ia tidak ingin mendengar penjelasan apa pun lagi.
Kalau selama dua tahun Bastian bisa membuatnya merasa tidak dibutuhkan, kali ini Diandra ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
Ia meninggalkan ruang kerja itu dengan langkah yang berusaha dibuat tegar, meskipun hatinya terasa seperti sedang diremukkan.
Perpisahan ini bukan sesuatu yang ia inginkan.
Bagaimanapun, Bastian adalah laki-laki yang sangat ia cintai.
Justru karena itulah semuanya terasa begitu menyakitkan.
Namun, mencintai seseorang yang setiap hari berada di sampingnya tetapi terasa seperti orang asing ternyata jauh lebih menyakitkan.
Sesampainya di kamar, Diandra menutup pintu.
Begitu sendirian, seluruh kekuatan yang sejak tadi ia pertahankan runtuh.
Ia menjatuhkan tubuh ke atas kasur, menarik selimut hingga menutupi kepalanya, lalu membekap wajah dengan bantal.
“Jahat…”
Isakannya pecah.
“Aku benci kamu, Mas. Aku benar-benar benci.”
Tangannya memukul bantal berkali-kali, seolah benda itu adalah Bastian.
Dua tahun.
Selama dua tahun ia bertahan.
Enam bulan terakhir bahkan terasa jauh lebih berat sejak Serly kembali hadir dalam kehidupan Bastian.
Diandra sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankan rumah tangganya. Ia mencoba menjadi istri yang lebih baik, lebih pengertian, lebih sabar.
Namun, sekuat apa pun ia berusaha, bagaimana mungkin ia bisa memenangkan hati seorang suami jika di dalam hati pria itu masih tersimpan nama perempuan lain?
Mungkin selama ini Diandra memang tidak pernah memiliki kesempatan.
Air matanya kembali mengalir.
Ia mengira Bastian akan menjadi tempatnya pulang.
Ternyata, justru di rumah itu ia merasa paling sendirian.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka.
Diandra langsung menghentikan tangisnya.
Ia buru-buru membelakangi pintu dan berpura-pura tidur.
Beberapa langkah kaki terdengar mendekat.
Kasur di belakangnya sedikit bergerak ketika seseorang duduk di tepinya.
“Diandra.”
Perempuan itu memejamkan mata rapat-rapat.
“Aku mau tidur.”
“Kita perlu bicara.”
Diandra terdiam sesaat.
Kemudian, tanpa menoleh, ia menjawab dengan nada datar.
“Aku sibuk.”
Bastian mengernyit.
“Sibuk apa? Kamu cuma rebahan.”
Diandra akhirnya membuka mata.
Sudut bibirnya terangkat dalam senyum getir.
“Bukankah dulu Mas juga begitu?”
Bastian terdiam.
“Waktu aku datang ke ruang kerja Mas dan bilang ingin bicara, Mas bilang sedang sibuk.”
Diandra menarik napas panjang.
“Sekarang aku sedang sibuk, Mas.”
“Sibuk apa?”
“Mencoba berhenti mencintai suamiku sendiri.”
“Ya, sibuk rebahan.”
Bastian menghela napas panjang, jelas mulai kehilangan kesabarannya. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Diandra hingga wajah perempuan itu terlihat.
Diandra langsung melotot.
“Aku mau tidur!”
Ia berusaha menarik kembali selimutnya.
“Aku nggak mau bicara lagi sama Mas. Keputusanku sudah bulat. Aku tetap mau cerai.”
“Duduk dulu.”
“Nggak mau.”
“Diandra.”
“Aku bilang nggak mau!”
Bastian menahan bahunya dan membantunya duduk. Diandra langsung menepis tangan suaminya.
“Aku nggak mau bicara sama Mas. Lepas!”
Bastian akhirnya melepaskan tangannya.
Mereka saling menatap dalam diam.
Untuk sesaat, Bastian terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Selama ini kamu benar-benar ingin aku memperhatikanmu?”
Diandra mengerutkan kening.
“Sekarang baru tanya?”
“Aku serius.”
“Sudah terlambat.”
Diandra hendak beranjak, tetapi Bastian kembali menahannya.
“Dengar dulu.”
“Aku sudah terlalu banyak mendengar.”
Suasana kembali hening.
Bastian menatap wajah istrinya. Mata Diandra masih sembap akibat menangis.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat betapa banyak luka yang selama ini disembunyikan perempuan itu.
“Kalau aku bilang aku nggak mau kehilangan kamu?”
Diandra tertawa hambar.
“Jangan mengatakan sesuatu yang baru kamu rasakan setelah aku menyerah.”
“Aku tahu aku terlambat.”
“Bukan terlambat, Mas. Mas bahkan nggak pernah mencoba.”
Bastian terdiam.
Ia menelan ludah sebelum berkata pelan,
“Kalau begitu… beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.”
Diandra menggeleng.
“Aku sudah memberikan dua tahun.”
“Dan aku akan menggantinya.”
“Dengan apa?”
Bastian menatapnya lekat-lekat.
“Aku akan belajar menjadi suamimu.”
Diandra terdiam.
Kalimat sederhana itu seharusnya membuat hatinya luluh. Namun setelah semua yang terjadi, ia justru merasa takut kembali berharap.
“Jangan gunakan perasaanku hanya karena kamu takut kehilangan kenyamanan ini.”
“Aku nggak sedang bicara tentang kenyamanan.”
Bastian mendekat, tetapi kali ini berhenti sebelum menyentuhnya.
“Aku sedang bicara tentang kamu.”
Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau memang kamu menginginkanku sebagai istrimu, buktikan.”
Bastian mengangguk pelan.
“Aku akan membuktikannya.”
Diandra mengusap air matanya.
“Tapi aku tetap akan mengurus perceraian itu.”
Bastian terdiam.
“Kalau setelah itu kamu masih ingin mempertahankan aku, jangan pakai kata-kata. Tunjukkan.”
Ia bangkit dari kasur.
“Karena aku sudah terlalu lama hidup dari janji yang nggak pernah benar-benar kamu tepati.”
Bastian hanya bisa menatap punggung istrinya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mempertahankan Diandra bukan perkara mengucapkan satu kalimat manis.
Ia harus berjuang untuk mendapatkan kembali hati perempuan yang selama ini ia sia-siakan.
Plak.
Bastian tersentak ketika tiba-tiba Diandra menampar pipinya.
“Bahkan setelah aku menjelaskan semuanya panjang lebar, Mas masih nggak mengerti kenapa aku minta cerai?”
Tamparan itu membuat Bastian terdiam.
Ia mundur, lalu duduk di tepi kasur. Diandra juga segera mengambil selimut dan menutup tubuhnya, masih berusaha mengendalikan emosi yang sejak tadi bergejolak.
“Aku mengerti,” jawab Bastian akhirnya.
Diandra menatapnya dengan mata menyipit.
“Kamu cuma ingin kita lebih dekat sebagai suami istri, kan?”
“Mas!”
Diandra sampai kehilangan kata-kata.
Ia tidak tahu harus menganggap suaminya terlalu polos, terlalu tidak peka, atau memang benar-benar tidak memahami inti masalahnya.
“Jadi menurut Mas, aku minta cerai cuma karena itu?”
Bastian menggeleng.
“Aku cuma mencoba memahami.”
“Kalau masalahnya hanya itu, aku sudah meminta cerai sejak tahun pertama.”
Bastian terdiam.
“Tapi aku tetap bertahan sampai dua tahun.”
Diandra menarik napas panjang.
“Karena aku berharap kamu akan berubah. Aku berharap suatu hari kamu melihatku sebagai istrimu, bukan sekadar seseorang yang kebetulan tinggal serumah denganmu.”
“Lalu apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?”
“Perhatian.”
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Bastian terdiam.
“Aku ingin kamu benar-benar hadir dalam pernikahan ini. Aku ingin kamu peduli ketika aku sedih. Aku ingin kamu bertanya ketika aku diam. Aku ingin kamu mengingat bahwa aku juga punya perasaan.”
Diandra mengusap air matanya.
“Bukan sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga atau menjalankan kewajiban.”
Bastian menundukkan kepala.
“Diandra…”
“Aku sudah capek menjelaskan.”
Diandra kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
“Percuma bicara dengan orang yang baru sadar setelah semuanya terlambat.”
Bastian memandang istrinya dalam diam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Sebab ternyata selama ini ia bukan hanya gagal menjadi suami yang baik.
Ia bahkan gagal memahami apa yang sebenarnya diinginkan perempuan yang setiap hari berada di sisinya.
Mungkin Bastian memang benar-benar tidak peka.
Atau mungkin, jauh di dalam dirinya, ia sengaja menghindari kenyataan karena tidak ingin menghadapinya.
Apa pun alasannya, Diandra sudah mengambil keputusan.
Ia akan mengurus perceraian mereka.
Sementara itu, Bastian masih duduk di tepi kasur. Tatapannya tertuju pada punggung Diandra yang membelakanginya.
Untuk pertama kalinya, pria itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
“Diandra.”
“Hm?”
“Kamu nggak mau bicara lagi?”
“Nggak.”
Diandra menarik selimut sedikit lebih tinggi.
“Aku ngantuk.”
Bastian mengembuskan napas panjang.
Ia menatap perempuan yang selama dua tahun selalu ada di rumah itu.
Jujur saja, Bastian belum pernah benar-benar mencintai Diandra.
Ketika menikahinya, perasaan bukanlah alasan utama.
Saat itu, Bastian hanya membutuhkan seseorang yang bisa menjadi ibu bagi Azzam dan Azzura.
Diandra adalah mantan sekretarisnya. Ia mengenalnya sebagai perempuan yang lembut, sabar, cerdas, dan mampu mengendalikan keadaan tanpa banyak mengeluh.
Bastian berpikir Diandra akan menjadi sosok yang tepat untuk keluarganya.
Dan selama dua tahun, Diandra memang menjalankan perannya dengan sempurna.
Ia mengurus rumah.
Menyiapkan segala kebutuhan anak-anak.
Menemani Azzam dan Azzura setiap hari.
Bahkan ketika Bastian terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Diandra tidak pernah membuatnya merasa terbebani dengan keluhan.
Yang lebih mengejutkan, kedua anaknya justru sangat menyayangi Diandra.
Mereka sudah menganggap perempuan itu sebagai bagian penting dari keluarga.
Selama ini Bastian juga selalu melihat Diandra tersenyum.
Tidak pernah menangis di hadapannya.
Tidak pernah meminta macam-macam.
Tidak pernah memaksanya memberikan perhatian.
Karena itulah Bastian mengira semuanya baik-baik saja.
Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik senyum yang selalu dilihatnya, istrinya menyimpan luka yang begitu dalam.
Bastian menatap punggung Diandra lebih lama.
Tiba-tiba muncul pertanyaan yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Sejak kapan perempuan itu mulai merasa tidak bahagia?
Dan kenapa ia baru menyadarinya setelah Diandra memutuskan untuk meninggalkannya?
Bastian mengepalkan tangan.
Untuk pertama kalinya, kemungkinan kehilangan Diandra terasa jauh lebih menakutkan daripada yang ingin ia akui.