NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Bertaruh

Sehari sebelum jamuan, dapur satuan berubah menjadi pusat komando.

Daftar besar menempel di dinding. Setiap bahan yang masuk ditimbang, diperiksa, lalu dipindahkan ke zona warna. Darman memegang map resep. Sari mengatur piring dan kain meja. Dua prajurit mencuci sayur di bak terpisah.

"Daun jangan dicuci malam ini," kataku. "Besok pagi supaya nggak layu. Kentang untuk sop dipotong mendekati waktu masak dan direndam. Daging keringkan sebelum masuk bumbu."

Darman mengulang perintah kepada tim, memastikan bukan hanya dia yang mendengar.

Beberapa bumbu sulit ditemukan. Ebi yang bagus tinggal sedikit, lada datang terlambat, dan tepung kiriman pertama terlalu lembap. Darman pergi ke pemasok resmi dengan surat penggantian dan kembali membawa bahan sesuai spesifikasi serta kuitansi.

Tepung lembap itu tidak dibuang. Kami timbang, segel, dan kembalikan sebagai barang tidak sesuai. Hendra memotret nomor lot. Penggantian diterima di depan dua saksi agar tidak ada tuduhan kami mengambil bahan tambahan diam-diam.

"Ribet sekali cuma tepung," keluh pembantu dapur.

"Besok kalau bakpau bantat, orang nggak menyalahkan kelembapan. Mereka menyalahkan tangan yang masak," jawab Darman. "Jadi ikuti."

Aku menatapnya bangga. Beberapa minggu lalu ia menakar garam dengan firasat. Sekarang ia sendiri menjaga jejak bahan.

Lada terlambat karena kendaraan pemasok bocor ban. Kami punya stok cadangan kecil yang cukup untuk isi bakpau, tetapi tidak untuk sop. Aku menyesuaikan rempah sop dengan pala dan merica putih yang masih ada, lalu menuliskan perubahan pada resep hari H.

Tidak ada kepanikan. Hanya masalah, pilihan, catatan, lalu keputusan.

"Nggak ada sulap," katanya sambil menyerahkan dokumen. "Semua tercatat."

"Bagus. Besok kalau ada yang bertanya, kita punya jawaban."

Hendra memeriksa stok sore hari. Jumlah cocok. Suhu lemari pendingin aman. Menu tambahan bakpau memiliki lembar persetujuan sendiri.

Sukandar muncul saat pemeriksaan hampir selesai. Kali ini ia ditemani seorang staf, sehingga aku tidak sendirian.

"Saya dengar ada bahan dikembalikan," katanya.

Hendra menunjukkan berita acara. "Tepung lembap, Mayor. Sudah diganti pemasok dengan nomor lot baru. Tidak ada penambahan biaya."

Sukandar membaca cepat, lalu menatapku. "Teliti sekali."

"Untuk keamanan dan konsistensi, Mayor," jawabku.

"Kadang terlalu banyak catatan membuat orang lambat."

Darman menjawab sebelum aku sempat bicara. "Justru karena ada catatan, penggantiannya selesai dua jam, Mayor. Kalau besok baru ketahuan, jamuan gagal."

Sukandar mengembalikan dokumen. Ia tidak bisa menyerang prosedur yang dilakukan benar. Sebelum pergi, ia mengingatkan pertemuan siang dan tersenyum seolah tahu sesuatu yang belum kuketahui.

"Setelah dapur dikunci malam ini, akses hanya petugas sif," katanya. "Nama dan jam masuk dicatat."

Aturan itu juga mencegah siapa pun mengganggu bahan.

Aku melakukan pengarahan terakhir. "Kalau saya tertahan di pertemuan, jadwal tetap jalan. Jangan menunggu. Darman keputusan dapur. Sari keputusan penyajian. Kalau ada masalah keamanan pangan, berhenti dan lapor Hendra. Lebih baik satu menu batal daripada semua tamu sakit."

Semua mengangguk.

"Kita bukan berjudi dengan makanan," lanjutku. "Kita bertaruh pada kerja yang sudah dilatih."

Menjelang malam, kami membuat isi bakpau. Ayam dicincang, ditumis dengan bawang, lada, sedikit kecap, lalu didinginkan cepat dalam wadah dangkal. Aku memeriksa tekstur, garam, dan kelembapannya.

Wadah diberi label waktu masak dan batas penggunaan. Sari menghitung piring, mangkuk, sendok, serta satu set cadangan untuk meja utama. Taplak disetrika, tetapi belum dipasang agar tetap bersih.

Di sudut lain, dua prajurit memanggang tulang dan rempah untuk kaldu. Aroma gurih memenuhi ruangan, bercampur bunyi pisau, air, dan halaman resep yang dibalik.

Tak ada orang berteriak tanpa tujuan. Setiap suara menandai pekerjaan.

Aku berjalan dari satu meja ke meja lain, bukan untuk mengerjakan semuanya, melainkan memastikan setiap orang tahu kapan harus berhenti dan siapa yang menerima hasil berikutnya. Itulah pelajaran tersulit: mempercayai tangan lain.

Darman mencicipi. "Kurang manis dari uji kemarin."

"Wardhana tidak suka terlalu manis. Rasa gurih harus lebih jelas."

"Informasi Adi?"

"Sumber lapangan."

Ia tertawa.

Setelah isya, tepung untuk kulit ditimbang. Aku menunjukkan sekali lagi cara menguleni: dorong dengan pangkal telapak, lipat, putar, jangan merobek. Adonan perlahan berubah dari kasar menjadi licin.

Darman mencoba. Bahu kanannya cepat lelah, jadi ia mengubah posisi dan memakai berat tubuh, bukan memaksa sendi.

"Begini?"

"Benar. Jangan lawan cedera. Ubah teknik."

Dua pembantu bergantian sampai semua adonan awal selesai. Kami hanya membuat satu batch uji malam itu; produksi utama menunggu pagi agar segar.

Tuti membawa Sena untuk menyusu. Bayi itu mengantuk, pipinya menempel di bahuku sementara tanganku masih berbau tepung.

"Mama kerja dulu, Le," bisikku. "Besok setelah semua selesai, kita tidur lama."

Kata itu keluar begitu saja.

Mama.

Bukan ibu susuan dalam surat tugas. Bukan perempuan yang dibayar memberi susu. Hanya mama.

Sena membuka mata dan menyentuh daguku.

"Ma."

Dadaku menghangat. Aku memeluknya sedikit lebih erat.

Tuti memperhatikan tanpa bicara. Setelah Sena kenyang, ia membawanya kembali ke kamar dan berjanji tidur di sana malam ini agar aku bisa menjaga persiapan.

"Terima kasih."

"Besok bayar pakai bakpau dua."

"Satu. Jatah harus rata."

"Pelit. Cocok jadi orang dapur."

Menjelang tengah malam, Bram datang memeriksa. Ia memakai pakaian lapangan, wajah lelah setelah rangkaian persiapan keamanan.

"Kenapa belum tidur?"

"Sif saya selesai lima belas menit lagi. Setelah itu Darman ganti."

Ia membaca daftar akses, memeriksa segel lemari, lalu melihat tanganku yang memerah karena adonan.

"Sarung tangannya?"

"Nggak bisa dipakai menguleni. Sudah pakai salep."

"Besok kamu ikut pertemuan lalu jamuan. Kalau kurang tidur, kamu jatuh."

"Saya akan tidur empat jam. Cukup untuk satu malam."

"Bukan kebiasaan."

"Siap, Bram."

Nama itu membuatnya berhenti. Darman pura-pura sibuk mengecek panci.

Bram menurunkan suara. "Besok duduk dekat Tuti dan Sari. Kalau Sukandar memotong pembicaraanmu, jawab ke forum, bukan kepadanya pribadi."

"Saya ingat."

"Setelah pertemuan, Adi antar ke dapur."

"Saya bisa jalan sendiri."

"Adi antar."

Aku memilih tidak berdebat. "Baik."

Ia pergi setelah memastikan aku benar-benar menyerahkan sif kepada Darman.

Pukul empat pagi, aku kembali. Dapur sudah hidup. Air mendidih, bahan keluar sesuai urutan, dan tim mengenakan penutup kepala bersih.

Darman menyerahkan laporan sif malam. Tidak ada akses tanpa nama, suhu stabil, isi bakpau tersimpan aman. Ia tidur dua jam di ruang istirahat dan wajahnya tampak lebih segar daripada dugaanku.

"Bapak benar-benar tidur?"

"Dua pembantu jadi saksi. Saya bahkan mendengkur."

"Bagus. Hari ini jangan jadi pahlawan sendirian."

"Kalimat itu untuk kamu juga."

Kami saling menatap, lalu tertawa. Taruhan kami bukan pada satu orang berbakat. Taruhan kami ada pada tim yang akhirnya bekerja sebagai tim.

Darman berdiri di tengah ruangan dengan map di tangan.

"Semua posisi siap?"

"Siap!"

Matahari belum muncul. Dari gedung utama terdengar kendaraan tamu mulai masuk.

Darman mengangkat sendok kayu seperti komandan mengangkat aba-aba.

"Hari ini kita balikkan keadaan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!