Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam dengan suasana duka di kediaman mewah keluarga Raharja.
kemegahan kini terasa menyesakan, di sertai aroma buhur dan sisa doa yasin yang baru saja di panjatkan dalam acara tahlilan.
Doa-doa yang di panjatkan itu masih menggantung di udara, berbagai hidangan dengan aroma makanan yang tersaji di atas meja marmer.
Namun dengan makanan yang enak-enak itu, tak ada yang menyentuhnya.
Di ruang makan yang dengan cahaya temaram.
Suasana nampak sunyi dengan detak jam dinding, Raisa dan Dion kini duduk berhadapan dalam keheningan yang menyakitkan.
Terlihat keduanya nampak rapuh saat ini, hati mereka sangat terpukul dan bercampur sedih.
Raisa mengenakan balutan abaya hitam polos dengan selendang tipis berwarna senada yang disampikan di kepalanya.
Baju yang di kenakannya sebagai tanda hormat dan duka atas almarhum ibu mertuanya.
Wajahnya kini sangat pucat dan lesuh, dengan mata sembab---dan jejak air mata yang mengering di pipinya.
"Mama...sekarang Raisa sendiri," isak Raisa bicara dalam hatinya.
Di hadapannya sebuah tumpeng nasi kuning megah di kelilingi berbagai lauk-pauk tradisional seolah mengejek suasana duka yang keduanya rasakan.
Raisa hanya bisa terdiam, dengan mata sembab.
Tatapannya kosong ke arah makanan itu, tangannya seolah meremas ujung abaya yang ada di bawah meja makan.
"Ma...maafin Raisa yang nggak bisa di samping mama saat terakhir mama," kata Raisa dalam batinnya yang menjerit yang paling dalam.
"Raisa menyesal...Raisa sangat menyesal," lanjutnya dengan rasa bersalah.
Air mata baru kini kembali luruh, membasahi pipinya yang kian tirus.
Raisa merasa gagal menjadi menantu, setelah merasa gagal sebagai seorang anak yang berbakti---saat kematian kedua orang tuanya tak ada di sampingnya.
Merasa gagal karena selama menjaga Nyonya Raharja, tapi malah di isolasi oleh Dion selama sebulan terakhir.
Tepat di sebrang meja tempat Raisa duduk, Dion juga tengah duduk tegak dengan kemeja hitam lengan pendek.
Auranya Dion tetap dominan meski sedang berduka.
Matanya menatap tajam ke depan seolah ada kehampaan menyelimuti dirinya, Dion tetap tak merasa bersalah karena sudah mengurung Raisa.
Namun, pikirannya saat ini tengah meratapi kematian sang ibu, bukan doa----namun sebuah keputusan yang sudah di ambilnya.
"Mama sekarang udah nggak ada, dan pernikahan ini udah nggak berguna buat gua," pikir Dion seolah tanpa hati nurani.
Dion memikirkan bagaimana agar dirinya bisa bercerai dari Raisa, karena jujur dirinya masih sangat membenci Raisa.
Namun, Dion tak sadar jika Raisa adalah wasiat dari sang ibu yang harus di jaga.
"Sekarang sudah nggak ada alasan lagi untuk mempertahankan sandiwara pernikahan ini, sudah waktunya saya ceraikan Raisa," ujar Dion yang sudah di pikirkannya.
Bagi Dion, kematian ibunya adalah satu-satunya cara untuk alasan menceraikan Raisa.
Raisa kini tak lebih dari beban reputasi yang ingin segera di lepaskannya.
Di dapur yang berdekatan dengan ruang makan, beberapa asisten rumah tangga tampak sibuk membereskan peralatan makan.
ART itu dengan langkah kaki yang pelan, tak berani memecah keheningan yang mencekam di antara majikan mereka.
Bi Astrid.
Bi Lis.
Bi Yanti.
Bi Yanti tengah sibuk menyuguhkan makanan kepada para tamu yang hadir di tahlilan Nyonya Raharja.
Namun, kedamaian itu hancur seketika oleh wanita yang berteriak dengan suara melengking dari arah depan.
"Dion!! Dion, keluar kamu!! Dimana kamu, Dion!!" teriak seorang wanita.
Suara heels itu menghantam keheningan ruang tamu seperti ledakan bom atom seolah menciptakan kekacauan, dengan para tamu yang melihat tingkah wanita itu.
Di ruang tamu.
Di bawah lampu kristal yang menggantung dengan cahaya mewah, sebuah pemandangan yang sangat tak pantas terjadi di depan mata para tamu---suasana tak pantas saat keadaan duka.
Para tamu yang masih tersisa, melihat bagaimana perangai wanita ini, para ibu-ibu saling berbisik satu sama lain.
Pintu ganda kayu jati yang tengah terbuka lebar karena banyak orang, di ruang tamu Chelsea berdiri selayaknya orang kesetanan.
"Dion!! Dion dimana kamu, Dion!!" teriak seorang Chelsea.
Chelsea tampil sangat kontra seolah tak pantas dengan suasana rumah ini yang sedang berduka.
Chelsea mengenakan gaun merah menyala dengan kelap-kelip, atasnya bermodel kemben ketat dengan belahan paha yang tinggi sampai atas pahanya.
Sebuah pakaian yang tak pantas untuk norma kesantunan di acara duka ini.
Rambut Chelsea terlihat berantakan, dan di sampingnya tas selempang hitam kecil berayun di pundaknya.
"Chelsea! Sadar kamu! Ini rumah duka!" teriak Leon dengan nada parau.
Chelsea berusaha meronta saat Leon dan bapak-bapak lainnya memegang tubuhnya, untuk menghentikan tingkahnya.
Leon yang malam ini mengenakan baju koko pendek warna hitam dan peci warna senada dengan bajunya.
Leon segera mengambil tindakan, karena jika nama sahabatnya terseret, namanya juga ikut terseret---karena Chelsea juga termasuk gundiknya.
Tangan Leon mencengkram lengan Chelsea dengan kuat, meski wanita itu terus berontak.
"Lepasin gue, Leon! Gue harus ketemu Dion! Dia nggak bisa buang gue begitu aja setelah acara kenegaraan itu!" teriak Chelsea semakin histeris.
"Chel jangan teriak gitu! Ini lagi suasana duka!" sahut Leon dengan nada berteriak.
Beberapa tamu yang mengenakan busana muslim atau ibu-ibu, menutup mulut mereka dengan tangan dan ada yang mengelus dada.
Wajah mereka seolah menatap jijik pada Chelsea, wanita dengan pakaian tak seronok berteriak-teriak di tengah acara tahlilan.
Dion segera keluar hanya demi menghentikan gundiknya itu, menuju ruang tamu.
Chelsea wajahnya memerah karena amarah yang bercampur cemburu.
"Chelsea diam!" teriak tegas Dion berjalan mendekati Chelsea.
Dion melangkah menuju ruang tamu hanya agar Chelsea diam, dan tak membuat drama di acara duka ini.
Matanya melihat bagaimana penampilan Chelsea dalam balutan warna merah mencolok, seolah busana yang tak pantas jika di acara duka begini.
Raisa mengikuti di belakangnya, dan matanya membelalak saat melihat kehadiran wanita yang selama ini menjadi gundik suaminya.
"Ya allah...ternyata Mas Dion masih berhubungan sama perempuan itu," bisik Raisa menatap penampilan Chelsea.
"Chelsea ikut saya, kita jangan bicara disini!" ucap Dion.
"Bodo amat! Gua mau bilang sama orang disini bahwa gua pacar lo!" teriak Chelsea di hadapan orang banyak.
Sontak semua orang yang mendengar itu langsung kaget, nampak tak percaya---seorang pengacara terkenal yang sangat sayang pada istrinya memiliki seorang gundik.
*
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu