NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[Arc 1]Jangkar yang Tidak Ingin Berlayar Jauh

Hujan tipis turun di atas Aldenmere sejak subuh, jenis hujan yang tidak cukup deras untuk membuat orang berlari, tapi cukup untuk membuat batu-batu jalan berkilau kelabu dan asap dari cerobong-cerobong toko roti tertahan rendah di udara. Dari jendela lantai dua markas Jangkar Kelabu, Arden Voss bisa melihat siluet Menara Verlanth menjulang di ujung barat kota, bayangan raksasa berwarna batu tua yang puncaknya selalu tertutup kabut, seolah menara itu sendiri enggan menunjukkan seluruh dirinya kepada siapa pun.

Ia sudah cukup lama menatapnya sampai tehnya dingin.

"Kalau kau menatapnya cukup lama, apa dia akan

menatap balik?"

Arden tidak perlu menoleh untuk tahu itu Ilsa Corrin. Hanya dia yang bisa masuk ke ruangan tanpa suara dan tetap berhasil membuat pertanyaannya terdengar seperti ejekan.

"Aku sedang berpikir," jawabnya, akhirnya berbalik.

Ilsa duduk di ambang jendela dengan satu kaki terlipat, pisau kecilnya berputar di antara jari-jarinya, kebiasaan yang lebih untuk menjaga tangan tetap sibuk daripada persiapan tempur. Rambut hitamnya masih basah oleh gerimis, menempel di pelipis.

"Kau selalu 'sedang berpikir' kalau ada laporan dari Ness yang belum ingin kau baca," katanya. "Aku kenal wajah itu. Itu wajah 'aku-tahu-ini-akan-jadi-perdebatan'."

"Bukan perdebatan. Cuma keputusan."

"Keputusan yang, kalau aku tebak, sudah kau buat sebelum kau bahkan membaca isinya." Ilsa menyeringai kecil. "Kau selalu begitu, Arden. Kau memutuskan dulu, baru mencari alasan."

Arden tidak membantah, karena tidak ada gunanya

membantah Ilsa soal hal-hal yang memang benar. Ia meletakkan cangkir tehnya di ambang jendela dan

melangkah menuruni tangga kayu yang berderit di anak tangga ketiga dan ketujuh, bunyi yang sudah begitu akrab hingga terasa seperti detak jantung markas itu sendiri.

Lantai bawah markas Jangkar Kelabu bukan aula megah seperti balai-balai guild besar yang berdiri angkuh di dekat gerbang barat kota. Ini dulunya gudang penyimpanan gandum, dibeli murah dua belas tahun lalu, diubah perlahanlahan menjadi sesuatu yang lebih terasa seperti rumah: meja

panjang di tengah ruangan yang penuh bekas gores pisau dan tumpahan anggur lama, rak-rak senjata di sepanjang dinding yang disusun rapi meski tidak seragam, dan perapian besar di sudut yang selalu menyala kecuali di tengah musim panas.

Di depan perapian itu, Wick Farrow sedang berkutat dengan panci besar, lengan bajunya digulung sampai siku, wajahnya memerah karena uap. Aroma bawang yang ditumis dengan mentega menyebar ke seluruh ruangan, bercampur dengan bau kayu basah dan logam senjata yang baru diminyaki.

"Arden!" seru Wick begitu melihatnya, tanpa menoleh dari pancinya. "Tolong bilang pada kakakku bahwa aku tidak butuh dia mengawasiku memasak seperti aku anak berumur delapan tahun."

Dari sudut lain ruangan, di meja yang penuh gulungan kertas dan sebuah alat pemindai kecil berbentuk prisma, Ilena Farrow tidak mengangkat kepala dari catatannya. "Aku tidak mengawasimu memasak. Aku sedang bekerja, kebetulan mejaku menghadap dapur."

"Kau memindahkan mejamu tiga hari lalu."

"Kebetulan."

Arden tersenyum tipis, satu-satunya jenis senyum yang benar-benar ia biarkan muncul tanpa berpikir dulu. Ada sesuatu yang menenangkan dari perdebatan kecil kakakberadik Farrow ini, sesuatu yang tidak pernah berubah, hujan atau tidak, misi berbahaya atau tidak. Ia mengambil sepotong roti dari keranjang di meja panjang, menggigitnya sambil berjalan ke arah papan pengumuman kayu di dekat pintu masuk, tempat kontrak-kontrak baru biasa disematkan.

Papan itu kosong.

"Kalau kau mencari kontrak baru," suara Ness Calder terdengar dari pintu belakang, membawa map kulit tebal di bawah lengannya, "kau tidak akan menemukannya di sana. Aku belum menyematkannya. Belum yakin kau mau melihatnya."

Ness selalu berjalan seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya, karena memang begitu. Rambut abuabunya disisir rapi meski hujan, jubahnya yang berwarna cokelat tua nyaris tidak pernah kusut, dan di tangannya selalu ada sesuatu untuk ditandatangani, dihitung, atau dinegosiasikan ulang.

"Kenapa tidak?" tanya Arden.

"Karena aku sudah kenal kau tujuh tahun, dan aku tahu tawaran macam apa yang akan langsung kau buang ke laci paling bawah."

Dari meja dekat perapian, Petra Wynn, anggota termuda kelompok, baru delapan belas tahun dengan pedang latihan yang selalu ia bawa ke mana pun meski sedang tidak bertugas, mendongak dengan mata berbinar. "Tawaran besar? Seberapa besar?"

"Cukup besar sampai aku harus menghitung ulang tiga kali,"

kata Ness, meletakkan map di meja panjang dan

membukanya dengan gerakan hati-hati, seperti sedang meletakkan sesuatu yang bisa meledak. "Sebuah keluarga bangsawan dari Ostrenmark ingin menyewa kelompok kecil dan diskret untuk mengawal ekspedisi mereka menuju lantai bawah Menara Kaldreth. Bayarannya," ia menunjuk angka di kertas itu, "cukup untuk membeli markas ini dua kali lipat, dengan sisa untuk memperbarui semua perlengkapan tim."

Ruangan menjadi hening sesaat. Bahkan Wick berhenti mengaduk pancinya.

"Kaldreth," gumam Halden Roos dari kursinya di dekat rak senjata, di mana ia sedang mengasah pedangnya dengan gerakan lambat dan berirama, kebiasaan yang lebih untuk menenangkan pikiran daripada kebutuhan sebenarnya. Suaranya berat dan tenang, khas seorang veteran yang sudah kehilangan minat pada hal-hal yang membuat orang muda gemetar. "Lantai bawahnya dikenal buruk. Tiga ekspedisi guild besar gagal tahun lalu."

"Empat," koreksi Doran Vex dari dekat jendela, tempat familiarnya, seekor Grypin muda bernama Ashe, sedang bertengger dengan bulu-bulu masih berkilat karena hujan. "Aku dengar cerita dari pemburu lain. Yang keempat kembali dengan separuh anggota."

Petra sudah berdiri, matanya menyala. "Itu artinya kalau kita berhasil, nama kita—"

"Tidak," kata Arden.

Satu kata. Tidak keras, tidak tegas berlebihan, tapi cukup untuk membuat ruangan hening lagi. Petra menoleh cepat. "Kau bahkan belum membaca

detailnya."

"Aku tidak perlu membaca detailnya untuk tahu jawabanku." Arden mengambil map dari tangan Ness, melihat sekilas, cukup untuk memastikan sopan santun, bukan untuk mempertimbangkan, lalu menutupnya kembali. "Empat ekspedisi gagal, Petra. Itu bukan tantangan yang menarik. Itu artinya sesuatu di sana lebih besar dari yang bisa

diperkirakan siapa pun yang menawarkan kontrak ini, termasuk keluarga Ostrenmark itu sendiri."

"Kita bisa jadi yang kelima yang berhasil."

"Atau kita bisa jadi angka lima dalam daftar kegagalan yang sama."

Ilsa bersiul pelan dari ambang jendela, sudah turun dan bersandar di dekat rak senjata, menikmati perdebatan ini seperti menonton pertandingan. Corym Duras, yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu, lengannya bersilang, perisai bundarnya masih tersandar di punggung meski ia sudah pulang dari latihan pagi, akhirnya bicara, suaranya lebih pelan dari biasanya.

"Petra ada benarnya soal satu hal," katanya. "Kita tidak selamanya bisa memilih kontrak kecil. Cepat atau lambat, nama kita akan terdengar, mau kita mau atau tidak."

Arden menatapnya. Ada sesuatu di mata Corym yang tidak seperti biasanya, bukan tantangan, lebih seperti kekhawatiran yang dibungkus dengan nada santai. Mereka berdua sudah saling kenal cukup lama untuk tahu kapan yang satu sedang menyembunyikan sesuatu di balik kalimat yang terdengar biasa saja.

"Mungkin," kata Arden akhirnya. "Tapi tidak hari ini, dan tidak lewat Kaldreth."

Ness sudah menutup map dengan gerakan yang

menunjukkan ia sudah menduga jawaban ini sejak awal, meski ia tetap menawarkannya karena itu tugasnya. "Akan kutulis penolakan yang sopan. Mungkin dengan sedikit... penyesalan berlebihan, supaya mereka tidak tersinggung dan tetap mau bekerja sama lain kali."

"Kau selalu tahu cara menolak orang tanpa membuat mereka membenci kita," kata Arden, dengan nada yang mendekati pujian.

"Itu bakat langka," jawab Ness, tanpa senyum, meski matanya berkilat geli.

Petra duduk kembali dengan gerakan agak keras, lengan bersilang, wajahnya cemberut jelas. Halden menepuk bahunya sekali, ringan, tanpa berkata apa-apa, tapi cukup untuk membuat Petra sedikit rileks, seperti seorang murid yang tahu gurunya tidak marah, hanya ingin ia belajar sabar.

"Kalau kita terus menolak tawaran besar," gumam Petra, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun, "kapan orang akan tahu kita layak dipercaya untuk hal besar?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu secara langsung. Tapi Arden mendengarnya, dan sesuatu di dalamnya, sesuatu kecil, yang jarang ia biarkan naik ke permukaan, bergema sejenak sebelum ia mendorongnya kembali ke tempat biasa ia menyimpannya.

Makan malam malam itu adalah salah satu dari sedikit ritual yang benar-benar dijaga ketat oleh Jangkar Kelabu, terlepas dari apa pun yang terjadi hari itu. Wick akhirnya menyelesaikan masakannya, semur daging dengan akarakaran dan roti gandum hangat, dan seluruh dua belas anggota berkumpul di meja panjang, kursi-kursi berderit, piring-piring berdenting, dan suara tawa yang bercampur dengan bunyi hujan di luar yang mulai mereda menjadi gerimis halus.

Brann Oswick, alkemis kelompok, sedang menjelaskan dengan penuh semangat kepada siapa pun yang mau mendengar, kali ini korbannya adalah Tomas Reyk, yang lebih memilih mendengarkan dalam diam sambil membersihkan busur panahnya di sela suapan, soal eksperimen terbarunya membuat ramuan yang bisa membuat api tetap menyala meski terkena hujan deras.

"Masalahnya," kata Brann, mengangkat sendoknya seperti tongkat sihir, "adalah menyeimbangkan komponen anti-air dengan komponen pembakar tanpa membuat keduanya saling meniadakan. Aku sudah coba tujuh formula berbeda dan..."

"Dan yang keenam meledak di wajahmu," sela Ilsa dari ujung meja, tanpa mendongak dari piringnya.

"Itu insiden kecil yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi."

"Alismu belum tumbuh penuh sampai sekarang."

Tawa pecah di sepanjang meja. Bahkan Sister Yuna Solvain, yang biasanya paling tenang di antara semua orang, tersenyum sambil menundukkan kepala, jari-jarinya masih memegang kalung kayu sederhana di lehernya, kebiasaan kecil sebelum ia mulai makan, semacam doa singkat tanpa kata.

Arden duduk di kepala meja, tempat yang selalu ia tempati bukan karena ia menuntutnya, tapi karena begitulah kebiasaan yang terbentuk sejak bertahun-tahun lalu, dan tidak ada yang pernah mempermasalahkannya. Ia menyaksikan semua ini: Brann yang masih membela dirinya, Doran yang diam-diam menyelipkan potongan daging untuk Ashe di bawah meja meski dilarang Ness berkali-kali, Petra yang perlahan kembali ceria setelah kekecewaannya soal Kaldreth, Corym yang tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak pagi.

Dua belas nama. Dua belas orang yang mempercayakan hidup mereka pada keputusan-keputusannya.

Ia tidak butuh Kaldreth untuk merasa bahwa hidupnya sudah cukup penuh.

Setelah makan malam, ketika sebagian besar anggota mulai membubarkan diri (Doran membawa Ashe kembali ke kandang kecilnya di belakang markas, Halden dan Corym bermain kartu di dekat perapian dengan taruhan recehan yang tidak pernah benar-benar dibayar, Sister Yuna pergi ke kapel kecil di sudut markas untuk doa malamnya), Arden menyempatkan diri berkeliling, sesuatu yang selalu ia lakukan tanpa benar-benar merencanakannya, hanya kebiasaan yang tumbuh dari bertahun-tahun memimpin orang yang ia sayangi.

Ia menemukan Petra masih di ruang latihan kecil di belakang markas, berlatih ayunan pedang sendirian di bawah cahaya lentera, meski jam sudah larut.

"Kau seharusnya istirahat," kata Arden, bersandar di ambang pintu.

Petra tidak berhenti mengayun. "Aku baik-baik saja."

"Aku tidak bilang kau tidak baik-baik saja. Aku bilang kau seharusnya istirahat."

Ayunan Petra melambat, lalu berhenti. Ia menoleh, napasnya sedikit terengah. "Kau pikir aku marah soal Kaldreth."

"Aku pikir kau kecewa. Ada bedanya."

Petra menghela napas, menyandarkan pedang latihannya ke dinding. "Aku hanya... aku ingin kelompok ini dikenal karena sesuatu yang besar, Arden. Bukan cuma pengawalan karavan dan pengambilan relik kecil. Aku ingin orang-orang tahu nama Jangkar Kelabu bukan cuma sebagai kelompok kecil yang aman-aman saja."

"Aku tahu." Arden melangkah masuk, duduk di bangku kayu dekat rak senjata latihan. "Dan aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Tapi ambisi itu seperti api, Petra, berguna kalau kau tahu cara mengendalikannya, berbahaya kalau kau biarkan ia membakar segalanya di sekitarmu, termasuk dirimu sendiri."

"Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan orang tua bijak dalam cerita."

Arden tertawa kecil, jarang, tapi tulus. "Mungkin aku

memang mulai terdengar seperti itu."

Petra duduk di sebelahnya, lebih tenang sekarang. "Kau tidak pernah bercerita kenapa kau begitu... hati-hati. Lebih dari kebanyakan pemimpin lain."

Ada jeda kecil, hampir tak terlihat, sebelum Arden menjawab. "Karena aku pernah melihat apa yang terjadi kalau seseorang tidak cukup hati-hati." Ia berdiri sebelum Petra bisa bertanya lebih jauh. "Sekarang istirahatlah. Besok masih ada kontrak-kontrak kecil yang perlu kita urus, seaman apa pun itu bagimu."

Petra tersenyum kecil, setengah menyerah, setengah masih tidak setuju. "Baik, Kapten."

Arden menemukan dirinya sendiri di kamarnya sendirian larut malam itu, jendela terbuka sedikit untuk membiarkan udara dingin pasca-hujan masuk. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya secara refleks bergerak ke leher, di mana sebuah rantai tipis tersembunyi di balik kerah bajunya.

Ia menariknya keluar perlahan. Sebuah liontin perak kecil, sudah usang di beberapa bagian, ukirannya nyaris tak terbaca lagi karena bertahun-tahun disentuh dan digosok tanpa sadar. Ia menatapnya dalam diam, seperti yang sudah ia lakukan ratusan, mungkin ribuan, malam sebelumnya.

Pintu diketuk pelan.

Arden buru-buru menyembunyikan liontin itu kembali ke balik bajunya. "Masuk."

Ilsa membuka pintu, bersandar di kusen dengan lengan bersilang, ekspresinya tidak seringan biasanya. "Aku melihatmu memegang itu lagi."

"Memegang apa?"

"Jangan lakukan itu padaku, Arden. Bukan padaku." Suaranya lembut, tapi tegas. "Kau tahu aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi jangan berpura-pura aku tidak melihatnya."

Arden menghela napas panjang, menatap ke arah jendela, ke kegelapan kota yang basah oleh hujan. "Belum saatnya, Ilsa."

"Kau selalu bilang begitu."

"Karena selalu belum saatnya."

Ilsa menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk sekali, tidak sepenuhnya puas tapi tahu kapan harus mundur.

"Baiklah. Tapi suatu hari, Arden Voss, 'belum saatnya' itu akan habis." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti di ambang pintu. "Untuk apa pun itu."

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Arden duduk sendirian lagi, tangannya kembali ke liontin di balik bajunya, meski kali ini ia tidak mengeluarkannya. Di luar, awan mulai bergerak, membiarkan sedikit cahaya bulan menembus dan jatuh di atas siluet jauh Menara Verlanth, masih berdiri seperti biasa, masih menyimpan kabut di puncaknya, masih tidak menunjukkan seluruh dirinya.

Ia tidak tahu bahwa esok pagi akan membawa sepucuk kertas yang akan mengubah arah hidupnya lebih dari yang bisa ia bayangkan malam itu.

Pagi berikutnya datang lebih cerah, sisa hujan semalam sudah mengering di atap-atap markas, meninggalkan bau tanah basah yang khas dan langit yang untuk sekali ini benar-benar biru tanpa kabut menutupi puncak Menara Verlanth di kejauhan.

Arden baru saja selesai sarapan (roti dengan madu dan teh yang untuk sekali ini masih hangat karena ia benar-benar meminumnya tepat waktu) ketika Ness masuk lagi dengan map kulit lain di tangannya, kali ini lebih tipis dari yang kemarin, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih santai dibanding hari sebelumnya.

"Jangan khawatir," kata Ness, sebelum Arden sempat bertanya, "ini bukan Kaldreth."

"Syukurlah," gumam Petra dari meja lain, meski masih setengah tersenyum menggoda.

Ness membuka map itu di meja panjang, dan kali ini

beberapa anggota lain, Ilena yang baru turun dari ruang kerjanya, Brann yang penasaran seperti biasa, Corym yang berdiri di belakang Arden, ikut mendekat untuk melihat.

"Lord Edmar Draymoor," kata Ness, membaca dari lembar pertama. "Bangsawan lokal, tanahnya di sisi timur Aldenmere. Ia meminta kelompok kecil untuk mengambil sebuah relik dari lantai menengah Menara Verlanth." Ia menunjuk angka di bawah, jauh lebih kecil dari tawaran Ostrenmark, tapi cukup wajar untuk misi yang terdengar rutin. "Bayarannya standar. Risikonya, menurut deskripsi kontrak, rendah, lantai menengah, bukan lantai dalam. Sudah sering dieksplorasi guild-guild kecil sebelumnya."

Arden mengambil map itu, membacanya lebih teliti kali ini. Relik yang dimaksud memang terdengar biasa, sebuah artefak kecil yang menurut catatan sejarah keluarga Draymoor pernah menjadi milik leluhur mereka, hilang sejak lantai itu terakhir dieksplorasi puluhan tahun lalu. Tidak ada indikasi bahaya luar biasa. Tidak ada catatan kegagalan sebelumnya seperti Kaldreth.

Ini persis jenis kontrak yang biasa mereka terima. Kecil, jelas, aman.

"Terlihat baik-baik saja," kata Arden, mulai mengangguk pelan.

"Memang," kata Ness. Lalu ia berhenti sejenak, seperti mempertimbangkan apakah perlu menyebutkan detail berikutnya. "Ada satu catatan tambahan. Sedikit tidak biasa, tapi bukan sesuatu yang aneh untuk klien bangsawan."

"Apa itu?"

Ness menunjuk sebuah baris kecil di bagian bawah kontrak, ditulis dengan tinta yang sedikit berbeda dari bagian utama, seolah ditambahkan belakangan.

"Lord Draymoor secara khusus meminta relik ini diambil secepat dan sediam mungkin," kata Ness. "Tidak ada perayaan, tidak ada laporan publik ke Guild soal detail relik itu sendiri, dan sebisa mungkin tidak menarik perhatian pihak lain."

Ruangan hening sesaat. Corym mengangkat alis, menatap Arden dari balik bahunya.

"Aneh," gumam Brann, menyipitkan mata membaca catatan itu sendiri. "Bukan sesuatu yang mustahil, orang kaya sering paranoid soal barang keluarga mereka dicuri sebelum sampai rumah. Tapi kata-katanya... 'sediam mungkin.' Itu pilihan kata yang cukup spesifik untuk sekadar kehati-hatian biasa."

Arden menatap baris kecil itu lebih lama dari yang

seharusnya, jarinya mengetuk pelan tepi meja, kebiasaan kecil saat ia berpikir. Di sudut ruangan, Ilena yang sejak tadi diam mengamati dari mejanya sendiri, alat pemindainya masih menyala pelan di sampingnya, menatap Arden dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Tapi pada akhirnya, ini hanya kontrak kecil. Lantai

menengah. Rutin. Sama seperti puluhan kontrak lain yang sudah mereka selesaikan tanpa insiden berarti.

Arden menutup map itu dan meletakkannya kembali di meja. "Kita ambil," katanya. "Persiapkan tim. Kita berangkat lusa."

Ness mengangguk, sudah mulai menulis catatan

persetujuan di kertas terpisah. Petra bersorak pelan, senang akhirnya ada misi baru meski bukan yang ia harapkan. Brann sudah mulai berceloteh soal ramuan apa yang perlu ia bawa untuk lantai menengah Menara Verlanth.

Tapi di sudut ruangan, saat semua orang mulai sibuk dengan persiapan masing-masing, Arden menoleh sekali lagi ke arah map yang sudah tertutup di meja, ke baris kecil yang masih terngiang di kepalanya.

Secepat dan sediam mungkin.

Ia tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu terasa seperti sesuatu yang lebih besar dari sekadar permintaan seorang bangsawan yang berhati-hati.

Malam itu, jauh setelah sebagian besar anggota sudah tidur, Ilena masih di mejanya.

Ia sudah biasa bekerja larut, mencatat hasil pemindaian rutin tim setelah setiap misi, menyusun laporan kecil yang tidak pernah benar-benar diminta siapa pun tapi selalu ia buat, karena begitulah cara Ilena menjaga semuanya tetap dalam kendali. Malam ini, lentera di mejanya menyala pelan, dan di sampingnya alat pemindai berbentuk prisma miliknya berdiri diam, cahayanya yang biasanya redup konstan.

Kontrak Draymoor tergeletak di sudut meja, dibiarkan Ness di sana untuk disalin ke buku catatan kelompok sebelum diarsipkan. Ilena tidak benar-benar memperhatikannya, sampai, tanpa alasan jelas, ia meletakkan tangannya di atas kertas itu untuk menggesernya, dan prisma di sampingnya berkedip.

Sekali.

Ia berhenti, menatapnya. Alat itu tidak seharusnya bereaksi terhadap kertas. Ia menunggu, pena masih di tangannya, tapi tidak ada apa-apa lagi selama beberapa detik, hanya cahaya redup biasa, konstan seperti sebelumnya. Ilena mengernyit, mengangkat alat itu, memeriksanya dari berbagai sisi. Tidak ada retakan, tidak ada kerusakan yang bisa menjelaskan kedipan tiba-tiba itu.

Ia menggeser kembali kertas kontrak itu, sengaja kali ini, mendekatkannya ke prisma.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi, menggeser lebih dekat, hampir menyentuhkan kertas ke permukaan alat itu.

Masih tidak ada apa-apa.

Ilena duduk diam sejenak, menatap prisma itu dengan alis berkerut, lalu menghela napas dan menggeleng pelan pada dirinya sendiri. Alat tua, pikirnya. Sudah dipakai bertahun-tahun, wajar kalau sesekali ada gangguan kecil yang tidak berarti apa-apa. Ia menuliskan satu baris singkat di catatan pribadinya, bukan laporan resmi, hanya pengingat untuk dirinya sendiri (periksa kalibrasi prisma, ada kedipan tak wajar), lalu melipat kertas kontrak dan meletakkannya kembali ke tempat semula, memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh malam itu.

Ia tidak melihat bahwa, untuk sepersekian detik setelah ia berpaling, cahaya prisma itu berkedip sekali lagi, lebih redup, nyaris tak terlihat, seolah merespons sesuatu yang sudah tidak ada lagi di dekatnya.

Arden turun untuk mengambil air beberapa saat kemudian, tidak bisa tidur meski sudah larut. Ia menemukan Ilena masih di mejanya, menguap, mulai membereskan kertas-kertasnya untuk akhirnya beristirahat.

"Masih bekerja?" tanya Arden pelan, tidak ingin membangunkan yang lain.

"Baru selesai," jawab Ilena, meregangkan bahunya. "Prismaku sedikit rewel malam ini. Mungkin perlu kukalibrasi ulang besok."

"Rewel bagaimana?"

"Berkedip tanpa alasan jelas. Bukan hal besar." Ilena mengangkat bahu, sudah berdiri, menyampirkan selendangnya. "Alat tua. Kadang begitu."

Arden mengangguk, tidak terlalu memikirkannya, sampai matanya, tanpa sengaja, jatuh ke map kontrak Draymoor yang masih tergeletak di sudut meja Ilena, terlipat rapi seperti biasa. Sesuatu yang kecil, tak berbentuk, membuat tangannya terhenti di udara alih-alih meraih gelas air yang ia tuju.

Ia tidak bisa menjelaskannya. Bukan rasa sakit, bukan juga firasat yang jelas, lebih seperti seseorang memanggil namanya dari kejauhan, terlalu pelan untuk didengar, cukup untuk membuatnya menoleh tanpa tahu ke mana harus menoleh. Dadanya terasa sedikit sesak selama satu tarikan napas, tepat di tempat liontin di balik bajunya biasa bersandar.

Lalu itu hilang, secepat ia datang.

"Arden?" Ilena menatapnya, sudah di ambang tangga. "Kau baik-baik saja?"

"Ya," katanya, meski suaranya sendiri terdengar kurang yakin di telinganya. "Cuma lelah."

Ilena mengangguk, tidak mencurigai apa pun, dan naik ke kamarnya, meninggalkan Arden sendirian di ruangan yang mulai gelap kecuali cahaya lentera terakhir di meja Ilena.

Arden berdiri diam sejenak, menatap map kontrak itu tanpa benar-benar tahu kenapa. Lantai menengah Menara Verlanth. Relik keluarga tua. Kontrak yang seharusnya sesederhana puluhan kontrak lain yang pernah mereka selesaikan.

Secepat dan sediam mungkin.

Ia mengambil gelas airnya akhirnya, meminumnya, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa yang baru saja ia rasakan hanyalah kelelahan biasa setelah dua hari yang panjang.

Tapi ketika ia melewati jendela dalam perjalanan kembali ke kamarnya, matanya terhenti sesaat di siluet Menara Verlanth yang masih bisa terlihat di kejauhan malam itu, diterangi cahaya bulan.

Kabut di puncaknya, kabut yang selalu ada, yang tidak pernah benar-benar hilang seingatnya, untuk sepersekian detik tampak bergerak. Bukan tertiup angin, bukan bergulung seperti biasanya.

Bergeser. Seperti sesuatu di dalamnya baru saja menarik napas.

Arden mengerjapkan mata, dan ketika ia menatap lagi, kabut itu sudah kembali seperti biasa, diam, tebal, menyembunyikan puncak menara seperti yang selalu ia lakukan sejak ia pertama kali mengingat kota ini.

Ia berdiri di sana cukup lama, menunggu apakah itu akan terjadi lagi. Tidak terjadi.

Mungkin hanya bayangan awan. Mungkin hanya matanya sendiri, lelah dan terlalu lama menatap kegelapan.

Meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, sepanjang jalan kembali ke kamarnya, sepanjang malam ia berbaring menatap langit-langit sebelum akhirnya tertidur.

Tidak tahu bahwa dua hari dari sekarang, ketika kakinya benar-benar menginjak lantai menengah Menara Verlanth, ia akan mengingat malam ini, dan bertanya-tanya apakah menara itu sudah mencoba memberi tahu sesuatu padanya jauh sebelum ia mendengarkannya.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!