Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
Suasana di kediaman keluarga Volkov terasa sangat sunyi dan tegang. Para pelayan berjalan dengan langkah sangat hati-hati, berbicara dalam bisikan nyaris tak terdengar, seolah takut memecah keheningan yang menyelimuti seluruh sudut rumah megah itu. Selama empat hari terakhir, suasana ini tak pernah berubah sejak Bellatrix Alexandra Volkov mengalami kecelakaan kereta kuda yang parah, membuatnya terbaring lemah dan tak sadarkan diri sama sekali.
Mereka tinggal di Kerajaan Arcadia, sebuah negeri luas yang makmur dan dihormati, di mana sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Keluarga Volkov memegang gelar dan pangkat Duke salah satu kedudukan bangsawan tertinggi di kerajaan, hanya berada di bawah keluarga kerajaan sendiri. Sebagai keluarga Adipati, mereka memiliki wilayah kekuasaan yang luas, hak istimewa yang besar, serta tanggung jawab menjaga keamanan, kesejahteraan rakyat, dan kestabilan wilayah yang dipercayakan langsung oleh Raja.
Ayahnya, Leonidas Volkov, adalah Duke Volkov kepala keluarga, penguasa wilayah kekuasaan keluarga, sekaligus pemimpin militer yang sangat dihormati karena keberanian, pengalaman perang, dan kekuatan sihir tempur yang luar biasa.
Sementara itu, ibunya, Elara Volkov, adalah Duchess Volkov, pasangan sang Adipati, yang mengelola urusan sosial, adat, serta kesejahteraan rakyat di wilayah kekuasaan mereka dengan bijaksana. Nama Volkov selalu dikaitkan dengan kehormatan, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan kekuatan yang disegani oleh seluruh kerajaan.
Di mata seluruh orang yang mengenalnya, Bellatrix adalah gadis yang dikenal sangat sombong, egois, dan memiliki keinginan yang sangat kuat. Seluruh pikiran dan perhatiannya hanya tertuju pada satu orang saja: sang Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado, pewaris takhta Kerajaan Arcadia. Demi bisa mendekati pria itu, ia rela melakukan apa saja, bahkan menggunakan sihir yang ia pelajari secara diam-diam untuk mengubah penampilan dirinya.
Secara alami, Bellatrix memiliki rambut panjang berkilau berwarna biru terang, secerah dan sejernih langit di siang hari, serta sepasang mata dengan warna yang sama yaitu biru terang yang memancarkan cahaya lembut seperti permata yang terkena sinar matahari. Sementara itu, Thiago memiliki ciri khas rambut blonde dan mata berwarna biru gelap, dalam dan tenang seperti kedalaman lautan malam. Karena terobsesi ingin terlihat serasi dan lebih pantas berdampingan dengan Putra Mahkota, Bellatrix terus-menerus menggunakan mantra penyamaran untuk mengubah warna rambut dan matanya agar menyerupai milik Thiago. Ia pikir dengan cara itu, ia akan terlihat lebih menarik dan mendapatkan perhatian yang ia dambakan. Bahkan untuk mengikat pertunangan itu pun, ia menggunakan segala cara, hingga akhirnya berhasil namun dengan harga harus menjauhi keluarganya sendiri.
Namun, di balik tubuh yang terbaring lemah itu, jiwa asli Bellatrix sudah tiada. Kini, ruang dalam tubuh itu ditempati oleh Eloise Morgan, seorang tentara dari dunia modern yang tewas secara mengenaskan dikhianati oleh rekan yang ia percayai sepenuh hati, hingga nyawanya melayang sia-sia di tengah tugas yang berbahaya.
Saat detik terakhir kesadarannya memudar, ingatan terakhir Eloise hanyalah rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam. Sebelum tertidur untuk selamanya, ia baru saja selesai membaca sebuah novel fantasi populer berjudul Takhta dan Sihir, kisah tentang Kerajaan Arcadia, keluarga bangsawan tinggi Duke Volkov, intrik istana, dan seorang gadis bernama Bellatrix yang berakhir dengan nasib tragis karena obsesinya sendiri. Ia sempat berpikir, “Andai saja dia tidak bodoh, hidupnya pasti akan jauh lebih baik…” sebelum semuanya menjadi gelap.
Ketika ia kembali merasakan kesadaran, ia menyadari sesuatu yang sangat mustahil.
Matahari sudah melambung tinggi di langit, sinarnya masuk lewat celah tirai sutra tebal dan menyinari seluruh ruangan kamar yang luas dan mewah. Waktu sudah hampir memasuki jam makan siang, ketika jemari yang terasa berat dan lemah itu mulai bergerak perlahan. Satu per satu kelopak matanya terbuka, perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya yang terasa menyilaukan. Pandangannya masih kabur, namun dalam sekejap itu, mantra sihir yang selama ini dipaksakan oleh Bellatrix yang lama mulai melemah karena tubuhnya yang masih sangat lemah.
Lapisan sihir itu perlahan memudar, sehingga rambut dan matanya kembali menampakkan wujud aslinya biru terang yang bersinar lembut dan alami di bawah cahaya matahari.
“Ugh…”
Sebuah erangan lembut keluar dari bibirnya. Kepalanya terasa berdenyut sangat hebat, seolah dihantam benda berat berkali-kali. Dan dalam sekejap, aliran memori yang bukan miliknya mengalir deras masuk ke dalam benaknya seperti aliran sungai yang tak terbendung, membawa semua ingatan tentang kehidupan Bellatrix, kebiasaan, pikiran, hingga semua kejadian yang pernah ia lalui.
Eloise tertegun, matanya terbelalak tak percaya. Ia mengenali setiap nama, setiap tempat, dan setiap peristiwa yang terputar di kepalanya ini. Ini bukan sekadar ingatan asing ini adalah dunia yang persis sama dengan dunia di dalam novel yang ia baca sebelum mati! Dan dia sekarang berada di dalam tubuh Bellatrix Alexandra Volkov, putri dari Duke Volkov, tokoh yang nasibnya paling menyedihkan di akhir cerita.
Ia mengernyit kuat, merasa bingung sekaligus kesal membaca sifat dan perbuatan pemilik tubuh ini.
“Sombong, keras kepala, membenci keluarganya sendiri, mengabaikan semua kasih sayang yang tulus, dan rela mengubah dirinya sendiri hanya demi meniru orang yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada… sampai memaksakan pertunangan dengan segala cara yang memalukan. Dasar bodoh sekali gadis ini! Pantas saja berakhir buruk,” geram Eloise dalam hati, namun di sisi lain ia sadar ini adalah kesempatan kedua yang diberikan takdir padanya.
Belum sempat ia mengatur napasnya atau memproses semuanya, suara langkah kaki tergesa namun teratur terdengar mendekat, diikuti suara berat namun sarat kecemasan yang langsung terasa menyentuh hatinya.
“Bellatrix? Putriku… apakah kau sudah sadar?”
Eloise menoleh perlahan, dan matanya terbelalak lebih lebar. Di samping ranjang berdiri seorang pria paruh baya yang berpostur sangat tegap, mengenakan pakaian resmi lengkap dengan lambang kebesaran keluarga Duke Volkov. Wajahnya terlihat tegas dan penuh wibawa, disegani oleh seluruh rakyat, bangsawan, dan pasukan militer, namun saat ini matanya terlihat berkaca-kaca, menatapnya dengan rasa lega yang tak bisa disembunyikan.
Jantung Eloise berdegup kencang. Wajah itu, sorot matanya, bahkan cara ia berdiri dan menatap dengan penuh perhatian… sangat mirip dengan mendiang ayahnya di dunia modern. Ayah yang juga seorang pemimpin tinggi, tegas dan disiplin, namun selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan melindunginya sepenuh hati hanya karena ia adalah anak bungsu yang sedikit dimanja.
Belum sempat ia berkata apa-apa, pintu kamar terbuka lebar dan masuklah seorang wanita berparas cantik yang terlihat sangat lelah. Itu adalah Duchess Elara Volkov, istri dari sang Adipati. Meskipun mengenakan pakaian anggun yang sesuai kedudukannya, raut wajahnya terlihat pucat, matanya bengkak dan ada lingkaran hitam di bawahnya tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak selama empat hari penuh menjaga putrinya. Begitu melihat Bellatrix sudah membuka mata dan menoleh ke arahnya, ketakutan yang membeku di wajahnya langsung berubah menjadi kelegaan yang meluap.
Ia melangkah cepat tanpa memedulikan aturan sopan santun yang kaku, lalu langsung mendekat dan memeluk tubuh Bellatrix dengan erat, seolah takut gadis itu akan lenyap kembali jika dilepaskan.
“Syukurlah… terima kasih kepada Dewi Sihir… akhirnya kau sadar juga, Putriku,” bisik Elara dengan suara bergetar menahan tangis yang hampir meledak.
Eloise tertegun sejenak saat merasakan kehangatan pelukan itu kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan, bahkan sejak ia masih hidup di dunia lamanya. Rasa rindu yang mendalam pada keluarga yang telah tiada, bercampur dengan rasa syukur yang luar biasa karena mendapatkan kesempatan kedua, membuat air matanya tiba-tiba mengalir deras tanpa bisa ditahan.
Ia mengangkat tangannya yang masih terasa lemah, lalu membalas pelukan itu sekuat tenaga yang ia miliki, dan tanpa sadar panggilan yang paling ia kenal dan cintai di hatinya keluar begitu saja dari mulutnya.
“Bunda…”
Suara itu terdengar lirih, sedikit serak karena belum terbiasa, namun penuh dengan rasa rindu dan ketulusan yang mendalam.
Begitu mendengar panggilan itu, tubuh Elara yang sedang memeluknya seketika menegang. Ia perlahan melepaskan sedikit pelukannya, menatap wajah putrinya dengan mata terbelalak penuh keterkejutan.
“B-Bunda?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya mendengarnya.
Selama ini, Bellatrix selalu memanggilnya dengan sebutan resmi, bahkan sering menjawab dengan nada dingin atau malas, seolah merasa terganggu. Belum pernah sekalipun ia mendengar panggilan yang begitu lembut, akrab, dan penuh kasih sayang seperti ini.
Di sampingnya, Duke Leonidas Volkov juga tertegun, matanya melebar melihat perubahan yang tiba-tiba itu. Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sebentar. Saat mereka melihat air mata yang mengalir deras di pipi Bellatrix, melihat tatapan matanya yang kini terasa lebih lembut, jernih, dan tulus bukan lagi tatapan dingin atau penuh obsesi seperti dulu hati mereka yang sempat kaku langsung luluh.
Rasa kaget itu perlahan berubah menjadi rasa haru yang luar biasa. Elara segera mengeratkan kembali pelukannya, membelai rambut panjang putrinya dengan lembut, dan air matanya pun akhirnya tumpah juga.
“Ya… ini Bunda di sini, Nak. Bunda ada di sini,” jawabnya dengan suara yang terasa lebih lembut dari sebelumnya, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, momen indah ini akan hilang begitu saja.
Bellatrix terus menangis, membenamkan wajahnya di bahu Bunda, membiarkan semua rasa sepi, sakit, dan kekecewaan dari kehidupan lamanya luruh bersama air matanya. Ia merasa sangat aman, sangat dicintai, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa punya tempat untuk pulang.
Leonidas mendekat juga, lalu mengusap lembut kepala putrinya dengan tangan besar dan hangat. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini terlihat sangat lembut, matanya berkaca-kaca menahan haru yang meluap.
“Sudah… sudah jangan menangis lagi. Ayah dan Bunda ada di sini, tidak akan pergi ke mana pun. Kau sudah sadar, itu yang paling penting,” ucapnya dengan nada yang menenangkan, suara yang terasa sangat menenangkan hati Bellatrix.
Baru setelah ia agak tenang, Bellatrix mengangkat wajahnya, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh penyesalan. Ia menggenggam tangan mereka satu per satu dengan lembut, lalu berbicara dengan suara yang tulus dan mantap.
“Ayah… Bunda… maafkan Bella ya… maafkan aku yang selama ini keras kepala, tidak mau mendengar nasihat, menjauh dari kalian, dan hanya memikirkan keinginanku sendiri. Aku menyia-nyiakan semua kasih sayang dan perhatian yang kalian berikan, padahal kalian adalah orang-orang yang paling menyayangiku tanpa syarat.”
Air matanya kembali menetes, namun kali ini adalah air mata penyesalan yang tulus.
“Mulai hari ini, aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi anak yang baik, mendengarkan setiap kata dan nasihat Ayah serta Bunda, tidak lagi bertindak sembarangan, dan tidak akan menyakiti hati kalian lagi. Aku ingin menjadi kebanggaan keluarga Volkov, bukan lagi beban atau kekecewaan untuk kalian. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikannya.”
Mendengar pengakuan dan janji itu, hati Leonidas dan Elara terasa sangat terenyuh. Mereka tidak pernah menyalahkan Bellatrix sepenuhnya, namun mendengar permintaan maaf dan tekad yang begitu jelas membuat rasa bahagia mereka meluap-luap.
Elara segera mencium kening putrinya dengan lembut, sementara Leonidas menepuk punggung tangannya dengan penuh keyakinan.
“Kami sudah mengampunimu sejak lama, Nak. Janji itu cukup untuk membuat Ayah dan Bunda sangat bahagia. Jalani saja hidupmu dengan jujur dan apa adanya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” ujar Leonidas dengan suara hangat.
Di dalam hati yang masih berdebar kencang, Bellatrix membuat keputusan yang paling tegas dalam hidupnya. Ia sudah sadar sepenuhnya ia sekarang berada di dunia novel yang ia baca, di dalam tubuh Bellatrix Alexandra Volkov, putri Duke Volkov, dan memiliki keluarga yang jauh lebih baik dan penuh kasih sayang daripada yang ia bayangkan.
“Jika ini adalah kesempatan kedua yang diberikan padaku, maka aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti Bellatrix dulu. Aku tidak peduli lagi pada Putra Mahkota Thiago, tidak peduli pada pertunangan yang dipaksakan, dan tidak akan pernah lagi mengubah diriku hanya demi orang lain. Mulai hari ini, aku adalah Bellatrix Alexandra Volkov yang baru. Aku akan menjaga nama baik keluarga, mendukung tugas Ayah, mendampingi Bunda, dan melindungi mereka dengan segenap kekuatanku, membalas semua kasih sayang yang dulu diabaikan.”
Ia perlahan mengangkat wajahnya, menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang jernih, tegas, namun tetap lembut.
Mereka bertiga hanya duduk berdampingan dalam keheningan yang hangat, menikmati momen yang sudah lama tak terasa di rumah ini.