NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PERTANDINGAN GASING DAN PERSABATAN YANG DIUJI

Kemenangan Rangga di ujian semester membawa kebanggaan tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seluruh Desa Sumbermulyo. Nama Rangga semakin dikenal di kecamatan—bukan lagi sebagai anak buangan yang ditemukan di hutan, tetapi sebagai anak pintar yang berprestasi dan pantang menyerah. Warga desa mulai memanggilnya "Rangga si juara" dengan nada bangga dan penuh kasih sayang. Rangga sendiri tidak menjadi sombong. Ia tetap rendah hati seperti biasa, tetap membantu Nenek di ladang setiap pagi, tetap menjual sayuran di pasar setiap minggu, dan tetap bermain dengan teman-temannya setiap sore. Ia tahu bahwa semua prestasinya tidak akan berarti tanpa dukungan dan kasih sayang orang-orang di sekitarnya.

Suatu sore, Ucok datang berlari-lari dengan wajah bersemangat, matanya berbinar-binar seperti menemukan harta karun. "Rangga! Aku dengar ada lomba gasing antar desa minggu depan! Ini lomba besar! Semua desa di kecamatan ini ikut! Kita harus ikut!" serunya, napasnya tersengal-sengal karena berlari.

Rangga mengangkat alis, rasa penasaran muncul di wajahnya. "Lomba gasing? Di mana diadakannya?"

"Di lapangan desa Kedungwungu, desa sebelah. Aku sudah latihan seminggu, gasing kudaku sekarang berputar sampai delapan menit lebih! Aku yakin kita bisa menang!" Ucok mengeluarkan gasing kesayangannya—berbentuk kuda dengan ukiran rumit dan cat merah menyala yang ia buat sendiri. Gasing itu berkilau di bawah sinar matahari sore.

Rangga tersenyum melihat semangat Ucok. "Kau pasti menang, Ucok. Aku tidak bisa main gasing sepertimu. Kau kan juara gasing di desa kita."

"Tapi kau bisa, Rangga! Aku sudah mengajarimu selama ini. Ingat, kau harus memutar dengan kuat, tapi tidak terlalu kencang. Keseimbangan adalah kunci. Dan jangan lupa tali gulungannya harus rapi, tidak boleh kusut. Kalau kau percaya diri, kau pasti bisa!" kata Ucok dengan serius, matanya menatap Rangga penuh keyakinan.

Rangga memang sudah belajar main gasing dari Ucok selama beberapa bulan terakhir, tetapi ia tidak pernah sehebat Ucok yang sudah bermain gasing sejak masih balita. Namun Ucok terus mendorongnya, tidak pernah menyerah. "Kau ikut saja, Rangga. Untuk bersenang-senang. Lagipula, mungkin kau bisa menang karena keberuntungan! Siapa tahu gasingmu berputar lebih lama!"

Rangga akhirnya setuju. Ia dan Ucok lalu mengajak Dullah dan Karti untuk ikut juga. Mereka berempat berlatih setiap sore di lapangan desa, saling mengadu gasing, saling mengejek dengan candaan, dan saling tertawa. Ucok adalah pelatih yang sabar—sangat berbeda dengan Ucok yang dulu usil dan suka mengejek. Ia mengajari Rangga teknik memutar gasing dengan detail, cara mengatur napas agar tetap tenang, dan cara membaca arah angin agar gasing berputar lebih stabil dan lebih lama.

"Lihat, Rangga. Kau pegang gasing di tangan kiri dengan posisi yang mantap, lalu lilitkan tali di sekelilingnya tiga kali. Jangan terlalu kencang, jangan terlalu longgar. Putar dengan tangan kanan dengan gerakan cepat, lepaskan dengan mantap dan penuh keyakinan. Kalau kau ragu, gasingmu akan jatuh. Percaya diri adalah kunci utama!" kata Ucok sambil mendemonstrasikan gerakan yang sempurna. Gasingnya berputar di atas tanah dengan stabil, berdentum-dentum seperti suara musik.

Rangga mencoba meniru gerakan Ucok. Awalnya, gasingnya jatuh setelah beberapa detik, membuat Dullah dan Karti tertawa terbahak-bahak. Namun ia tidak menyerah. Ia terus berlatih sampai tangannya lecet dan lengannya pegal. Ucok tetap di sisinya, memberi semangat, kadang-kadang mengejek dengan candaan yang membuat Rangga tertawa dan melupakan rasa sakitnya.

"Rangga, kau main gasingnya kayak nenek-nenek! Pelan-pelan banget! Gasingnya kayak mau tidur!" ledek Ucok sambil memegangi perutnya karena tertawa.

"Kau sendiri yang ngajarin pelan-pelan! Sekarang aku ikutin kata-katamu!" balas Rangga, tertawa juga.

"Ah, dasar murid nakal! Nanti aku kasih tahu Nenek Saroh bahwa cucunya tidak bisa main gasing!"

"Kalau kau kasih tahu, aku kasih tahu ibumu bahwa kau mencuri gula di dapur!"

Mereka tertawa bersama, dan di antara tawa itu, persahabatan mereka semakin erat. Rangga menyadari bahwa Ucok, dengan segala kekurangannya, adalah teman yang sangat berharga. Ia mungkin tidak sepintar Joko, tetapi ia setia, ia peduli, dan ia selalu ada saat dibutuhkan. Ucok adalah sahabat yang tulus, dan Rangga berjanji untuk tidak pernah menyia-nyiakan persahabatan ini.

Hari lomba tiba. Lapangan desa Kedungwungu dipenuhi oleh ratusan anak-anak dari berbagai desa di kecamatan. Ada yang membawa gasing besar sebesar kepalan tangan, ada yang membawa gasing kecil mungil, ada yang bahkan membawa gasing dengan lampu berwarna-warni yang berkilauan di siang hari. Suasana sangat meriah, dengan sorak-sorai dan teriakan dari para pendukung. Rangga dan Ucok berdiri di barisan peserta, dengan gasing masing-masing di tangan dan keyakinan di hati.

"Kau siap, Rangga?" tanya Ucok, napasnya sedikit tegang.

"Siap. Tapi kalau aku kalah, jangan ejek aku terlalu keras, ya," jawab Rangga sambil tersenyum, berusaha meredakan ketegangan.

"Janji. Aku hanya akan mengejek sedikit! Mungkin hanya lima menit!" Ucok tertawa, dan Rangga ikut tertawa.

Lomba dimulai. Setiap peserta mendapat giliran memutar gasing di atas papan kayu bundar yang disediakan panitia. Gasing yang berputar paling lama adalah pemenangnya. Beberapa peserta dari desa tetangga menunjukkan kemampuan yang mengesankan—gasing mereka berputar hingga lima atau enam menit, membuat penonton bertepuk tangan. Namun Ucok, dengan gasing kudanya, berhasil memutar hingga delapan menit tiga puluh detik, mengalahkan semua peserta sebelumnya.

"Siapa lagi yang berani menantang!" teriak Ucok dengan penuh percaya diri, tangannya mengepal ke atas.

Tak disangka, seorang anak laki-laki dari desa tetangga melangkah maju. Anak itu berbadan besar dan kekar, dengan wajah angkuh dan senyum meremehkan. Namanya Rudi, anak kepala desa Kedungwungu. Ia dikenal sebagai juara gasing se-kecamatan selama tiga tahun berturut-turut. "Aku lawanmu, Ucok. Kau pikir kau hebat dengan gasing kecilmu itu? Aku juara tiga tahun berturut-turut, bocah Sumbermulyo!" katanya dengan nada yang sangat meremehkan.

Ucok menatapnya dengan tatapan tajam. "Ayo, buktikan di sini, bukan di mulut!"

Rudi memutar gasingnya—sebuah gasing besar dari kayu keras dengan ukiran naga yang sangat indah, berlapis cat emas. Gasing itu berputar dengan stabil dan kuat, berdentum-dentum di atas papan kayu dengan suara yang menggelegar. Waktu berlalu. Satu menit, dua menit, tiga menit… hingga menit kesembilan, gasing Rudi masih berputar dengan stabil. Penonton bersorak. Ucok terpana, matanya membulat.

Ucok kemudian memutar gasing kudanya dengan penuh keyakinan, tetapi kali ini gasingnya oleng dan jatuh setelah hanya enam menit—jauh di bawah rekor Rudi. Rudi tertawa terbahak-bahak, mengejek dengan keras. "Kau kalah, bocah Sumbermulyo! Pulang saja ke desamu yang miskin!"

Ucok menunduk, malu dan kecewa. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia menahannya dengan keras. Rangga, yang melihat sahabatnya terpuruk dan dihina di depan umum, merasa darahnya mendidih. Ia tidak bisa tinggal diam. "Aku mau mencoba," katanya tiba-tiba dengan suara lantang.

Semua mata tertuju padanya. Rudi mendengus sinis. "Kau? Anak kecil kurus dari Sumbermulyo? Kau tidak mungkin mengalahkanku. Kau hanya buang-buang waktu."

Rangga tidak menjawab. Ia berjalan majuk ke papan kayu, menggenggam gasingnya—gasing kayu sederhana pemberian Ucok, tanpa ukiran mewah atau cat khusus. Ia mengingat semua pelajaran yang ia terima dari Ucok, semua latihan yang telah ia lalui dengan sabar, dan semua semangat yang ia dapat dari sahabatnya. Dengan penuh keyakinan, ia memutar gasing itu dengan gerakan yang mantap dan percaya diri. Gasingnya mendarat di atas papan kayu dengan sempurna—berputar, berputar, dan terus berputar. Waktu berlalu. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit… hingga menit kesepuluh, gasing Rangga masih berputar dengan stabil, bahkan lebih stabil dari gasing Rudi.

Rudi tercengang. Matanya membulat, mulutnya terbuka tidak percaya. "Ini tidak mungkin! Gasing kecil seperti itu tidak mungkin berputar selama itu!"

"Ada yang tidak mungkin kalau kau percaya diri, Rudi," kata Rangga dengan tenang, menatap langsung ke mata Rudi. "Aku belajar dari Ucok. Dan dia mengajariku bahwa keseimbangan adalah kunci utama—bukan kekuatan fisik atau ukiran mewah. Ucok adalah guru terbaik yang pernah aku miliki."

Wasit mengumumkan Rangga sebagai pemenang dengan waktu sepuluh menit dua detik. Ucok melompat kegirangan, memeluk Rangga erat-erat, air matanya kini mengalir karena kebahagiaan. "Kau hebat, Rangga! Kau mengalahkan juara bertahan! Aku tidak percaya!"

Rangga tersenyum, memandang Rudi yang masih terpana dan tidak percaya. "Permainan yang bagus, Rudi. Lain kali, kita adu lagi. Dan kau jangan meremehkan orang dari desa kecil. Kita semua punya potensi."

Rudi yang tadinya angkuh dan meremehkan, kini menunduk malu. Ia mengangguk, dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum—senyum yang tulus. "Kau memang hebat, Rangga. Aku mengakui kekalahanku. Dan aku minta maaf sudah menghina desamu. Kau dan Ucok adalah pejuang sejati."

Kemenangan itu membawa kebanggaan bagi Desa Sumbermulyo. Malam harinya, warga desa mengadakan syukuran kecil di balai desa. Ucok tidak berhenti memuji Rangga, bahkan ia membawa gasing kudanya dan memberikannya kepada Rangga sebagai hadiah. "Rangga, kau mengajariku bahwa kekalahan bukan akhir segalanya. Hari ini aku kalah, tapi aku tidak kehilangan teman. Aku kehilangan lomba, tetapi aku memenangkan sahabat sejati. Dan itu lebih berharga dari semua piala."

Rangga menatap Ucok dengan penuh kasih. "Kau juga mengajariku banyak hal, Ucok. Kau mengajariku tentang persahabatan, tentang kesetiaan, dan tentang bagaimana tertawa di saat sulit. Terima kasih telah menjadi sahabatku."

Mereka berpelukan di bawah sinar rembulan, dikelilingi oleh warga desa yang bertepuk tangan. Rangga merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan di istana kacanya dulu. Ia memiliki keluarga—bukan keluarga darah, tetapi keluarga yang dipilih oleh cinta dan pengorbanan.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!