NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##4

Lampu gantung kristal berukuran raksasa di ruang tamu utama mansion keluarga Victoria memantulkan pendar cahaya kekuningan yang dingin.

Ruangan bernuansa klasik modern itu terasa bagaikan sebuah ruang sidang pengadilan tanpa hakim garis tengah. Setiap detak jarum jam dinding berbingkai emas menggelegar seperti dentuman lonceng kematian bagi Lux.

Pukul satu dini hari. Udara dingin dari sistem pendingin udara terpusat menusuk hingga ke tulang, bercampur dengan keheningan mencekam yang pekat.

Lux berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi oleh keluarganya. Di sampingnya, Braxton duduk kaku di atas sofa kulit hitam. Sikap santai dan percaya diri yang tadi ditunjukkannya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh keringat dingin yang mengalir pelan di pelipisnya.

Di hadapan mereka, sebuah meja kaca tebal telah dipenuhi dengan beberapa lembar dokumen berkop hukum.

Dua orang pria berjas rapi—seorang pengacara keluarga Victoria dan seorang pendeta paruh baya berwajah teduh namun tampak bingung—duduk berseberangan dengan mereka.

"Aku tidak akan menandatangani apa pun," ucap Lux dengan suara serak, namun tegas.

Matanya yang sembap menatap lurus ke arah ayahnya. Tangannya mengepal rapat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Marcus Victoria, yang berdiri di dekat perapian padam dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan mahalnya, perlahan berbalik.

Wajahnya tidak lagi menunjukkan amarah meledak-ledak seperti tadi, melainkan sebuah topeng kedisiplinan yang amat dingin—sebuah ekspresi yang biasa ia gunakan saat menghancurkan rival bisnisnya di ruang rapat.

"Kau tidak memiliki pilihan untuk menolak, Lux," ujar Marcus pelan, namun setiap kata yang diucapkannya membawa bobot yang tak tertahankan. "Kehormatan keluarga kita, dan yang terpenting, masa depan anak yang ada di dalam kandunganmu, tidak bisa dikompromikan."

"Daddy! Dengarkan aku sekali saja!" jerit Lux, air mata frustrasinya kembali merebak. "Pria ini bohong! Dia cuma anak muda gila yang ketakutan karena ditangkap pengawalmu! Aku tidak pernah disentuh oleh siapapun! Bagaimana bisa aku hamil?!"

Eleanor, yang duduk di sudut sofa sambil menggenggam saputangan basah, mengusap wajahnya yang pucat. "Lux, cukup... Jangan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh di depan pengacara dan pendeta. Pria ini sudah mengakui semuanya. Dialah ayah dari anakmu."

"Mommy!" Lux menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Mommy selalu mengajariku untuk jujur, dan sekarang saat aku mengatakan kebenaran yang sesungguhnya, Mommy justru lebih percaya pada kebohongan pria asing ini?!"

Braxton menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat batu. Ia melirik Lux dari sudut matanya, merasakan gelombang emosi yang begitu dahsyat memancar dari gadis di sebelahnya.

Ada rasa bersalah yang teramat sangat yang mendadak menyerang dadanya. Ia tahu ia telah melangkah terlalu jauh. Kebohongannya di dalam mobil tadi—yang niat awalnya hanya untuk menyelamatkan kulitnya sendiri dari amuk pengawal tegap Marcus—kini telah menjadi jerat yang mencekik mereka berdua.

Namun, jika ia mengaku sekarang bahwa ia berbohong... apa yang akan terjadi? Marcus Victoria bukan orang sembarangan.

Mengakui bahwa ia memainkan lelucon konyol di depan pria paling berpengaruh ini tentang kehamilan putrinya bisa berujung pada kehancuran nama baik keluarganya sendiri, atau bahkan tindakan hukum yang berat atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelecehan.

Braxton berada di posisi skakmat.

Pengacara keluarga Victoria, seorang pria paruh baya bernama Mr. Vance, berdeham pelan memecah ketegangan. Ia menggeser berkas tebal di atas meja menuju ke arah Braxton dan Lux.

"Ini adalah draf Perjanjian Pra-Nikah dan Berkas Pernikahan Darurat," jelas Mr. Vance dengan nada profesional tanpa emosi. "Mengingat usia Nona Lux dan Tuan Braxton, serta kondisi khusus ini, pernikahan ini akan dicatatkan secara sipil dan keagamaan malam ini juga secara privat. Mengenai aset, seluruh harta bawaan keluarga Victoria dan keluarga Desmon akan tetap terpisah secara hukum. Tuan Braxton tidak memiliki hak atas aset keluarga Victoria, dan begitu pula sebaliknya, kecuali hak pengasuhan dan perlindungan atas anak yang akan lahir."

"Anak yang mana?!" potong Lux tajam, matanya menyala menatap Mr. Vance. "Tidak ada anak! Tidak ada janin! Ini semua gila!"

"Desmon," panggil Marcus, mengabaikan teriakan putrinya dan menatap lurus pada Braxton. "Pena ada di depanmu. Tanda tangani, atau aku akan menghubungi ayahmu, AJ Desmon, detik ini juga dan memastikan seluruh reputasi serta bisnis keluargamu menanggung akibat dari tindakan tidak bertanggung jawabmu."

Ancaman itu diucapkan dengan begitu tenang hingga terdengar semakin mengerikan. Braxton mengepalkan tangannya di atas paha.

Mengabaikan sang ayah, AJ Desmon, sama saja dengan bunuh diri. Ayahnya adalah pria yang keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan.

Jika ayahnya tahu Braxton terlibat dalam skandal kehamilan anak dari keluarga Victoria—ditambah aksi taruhan konyol di depan apotek—pintu rumah keluarga Desmon akan tertutup selamanya untuknya, dan seluruh fasilitasnya akan dicabut dalam hitungan detik.

Braxton menarik napas panjang. Jemarinya yang sedikit bergetar bergerak meraih pena tebal berwarna hitam di atas meja.

"Braxton, jangan..." bisik Lux, suaranya kini terdengar begitu rapuh dan memohon. Matanya menatap jari-jari Braxton yang memegang pena. "Tolong... katakan yang sebenarnya. Jangan lakukan ini..."

Braxton menoleh, menatap langsung ke dalam mata abu-abu Lux yang berkaca-kaca. Untuk sejenak, di bawah pendar lampu kristal, Braxton melihat keputusasaan yang begitu murni. Ia bisa merasakan betapa hancurnya gadis di depannya ini. Namun, rasa takut akan kehancuran dirinya sendiri dan ancaman Marcus menutupi nuraninya.

"Maafkan aku, Lux," bisik Braxton sangat pelan, hampir tak terdengar.

Dengan satu gerakan mantap yang dipaksakan, Braxton menggoreskan tanda tangannya di atas lembar dokumen pernikahan tersebut.

Crat!

Suara gesekan pena di atas kertas tebal itu terdengar seperti sabetan pisau bagi Lux.

"Brengsek... Kau benar-benar iblis," desis Lux, air matanya menetes jatuh membasahi gaunnya.

Marcus mengangguk puas melihat tanda tangan Braxton. Ia kemudian menggeser dokumen itu tepat ke hadapan Lux. "Sekarang giliranmu, Lux. Tanda tangani, atau Daddy sendiri yang akan memegang tanganmu untuk melakukannya."

"Aku benci Daddy," ucap Lux lurus menatap mata ayahnya. Ada dingin yang membeku dalam intonasinya, sebuah keretakan permanen yang kini tercipta dalam hubungan ayah dan anak yang tadinya begitu hangat. "Aku tidak akan pernah memaafkan Daddy atas malam ini."

Dengan tangan gemetar hebat dan amarah yang meluap di dadanya, Lux menyambar pena. Ia menandatangani berkas itu dengan begitu keras hingga ujung penanya hampir merobek kertas.

Setelah kedua tanda tangan tertera, sang pendeta maju mendekat.

Dengan prosesi yang sangat singkat, tanpa gaun pengantin yang indah, tanpa alunan musik organ, dan tanpa kehadiran teman-teman mereka, prosesi pemberkatan itu dilangsungkan di dalam ruang tamu yang dingin.

"Dengan ini, di hadapan Tuhan dan saksi yang hadir, saya menyatakan kalian berdua sah sebagai suami dan istri."

Kata-kata itu terngiang di udara seperti vonis hukuman mati.

Lux berdiri kaku saat Braxton memutar tubuhnya untuk menghadapnya. Sesuai tradisi singkat, pendeta meminta Tuan Rumah untuk membiarkan pengantin baru bertukar simbol. Tanpa cincin, Braxton hanya bisa menatap Lux yang berdiri dengan napas berhembus cepat.

"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku," bisik Lux tajam saat Braxton melangkah satu senti lebih dekat. "Kau hanyalah status di atas kertas. Di mataku, kau tidak lebih dari sampah."

Braxton tidak membalas. Ia menurunkan tangannya yang sempat terangkat, menatap wanita yang kini secara hukum telah resmi menjadi istrinya—sebuah status yang didapat dari taruhan konyol, kesalahpahaman medis, dan ketakutan akan ancaman keluarga.

...°°°°...

Lampu-lampu jalanan Los Angeles mulai redup digantikan oleh garis warna jingga keabuan di ufuk timur. Fajar telah tiba, namun tidak ada kehangatan yang dibawanya ke dalam mansion keluarga Victoria.

Setelah prosesi penandatanganan dan pemberkatan darurat selesai, Mr. Vance dan pendeta pamit pergi dalam keheningan.

Eleanor telah lama mundur ke kamarnya, tidak sanggup lagi menyaksikan raut wajah putrinya yang penuh dengan penderitaan.

Marcus berdiri di dekat pintu keluar ruang tamu, menatap dua anak muda yang kini terikat dalam pernikahan mendadak tersebut.

"Perjanjian kita belum selesai, Braxton," ujar Marcus dingin. "Mulai hari ini, kau tidak akan kembali ke asrama kampusmu. Kau akan tinggal bersama Lux."

Lux yang sedang menyandarkan kepalanya di tepi sofa langsung menegakkan tubuhnya. "Apa?! No! Dad, ini sudah terlalu jauh! Aku tidak mau satu rumah dengan pria ini!"

"Kalian adalah suami istri," tegas Marcus tanpa bantahan. "Seorang suami harus berada di samping istrinya yang sedang mengandung. Aku sudah menyiapkan sebuah Penthouse di kawasan Downtown LA atas nama kalian berdua. Tempat itu cukup luas dan aman dari jangkauan media."

Marcus menatap Braxton dengan pandangan mengintimidasi. "Aku memberi waktu dua jam untuk kalian berdua bersiap-siap. Pukul delapan pagi, pengawal akan mengantar kalian ke Penthouse tersebut. Jangan coba-coba melarikan diri, Braxton. Orang-orangku akan terus mengawasi area sekitar tempat tinggal kalian."

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Marcus berbalik dan melangkah pergi menaiki tangga utama menuju lantai dua, meninggalkan Lux dan Braxton kembali dalam cengkeraman keheningan yang mencekam.

Lux merosot kembali ke sofa, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Bahunya terguncang pelan.

Seluruh kekuatannya terasa telah terkuras habis sepanjang malam yang panjang ini.

Braxton berdiri beberapa langkah dari sofa, menatap sosok Lux yang terlihat begitu ringkih. Pria narsis yang biasanya selalu dipuja oleh para wanita di kampusnya itu kini merasa amat konyol dan tak berdaya.

"Lux..." panggil Braxton pelan.

"Jangan panggil namaku," sahut Lux dari balik lipatan tangannya. Suaranya dingin, tak memiliki emosi.

"Kita harus bicara," desak Braxton, melangkah mendekat dan duduk di ujung sofa yang berseberangan dengan Lux. "Kita tidak bisa terus seperti ini jika harus tinggal bersama di Penthouse itu."

Lux perlahan mengangkat kepalanya. Matanya merah, namun tatapannya tajam menancap ke wajah Braxton. "Bicara tentang apa, Tuan Desmon? Tentang bagaimana kau memanfaatkan situasi ini untuk menyelamatkan diri dari ayahku? Atau tentang bagaimana kau menghancurkan masa depanku dalam waktu satu malam?"

"Aku tidak punya pilihan, Lux!" bela Braxton, suaranya sedikit meninggi namun tetap ditahannya agar tidak memicu kegaduhan. "Kau lihat sendiri bagaimana ayahmu dan para pengawalnya mengepungku! Jika aku membantah dan mengaku bahwa kita tidak saling kenal, ayahmu akan menganggapku melecehkanmu di depan apotek! Aku bisa dipenjara atau dihancurkan oleh keluargamu!"

"Jadi kau memilih untuk mengorbankanku?!" tembak Lux penuh amarah. "Kau mengorbankan namaku, kehormatanku, dan hubunganku dengan orang tuaku hanya demi menyelamatkan kulitmu yang berharga?!"

Braxton bungkam. Kalimat Lux menghantam tepat di pusat rasa bersalahnya. Ia tidak bisa membantah kenyataan itu.

"Dengar," ujar Lux seraya bangkit dari sofa, berdiri menjulang di hadapan Braxton. "Pernikahan ini adalah lelucon, dan kau tahu itu. Jangan pernah sekali pun berpikir bahwa kau adalah suamiku. Kita akan tinggal di Penthouse itu karena kita dipaksa oleh ayahku, tapi di dalam rumah itu, kau dan aku adalah orang asing."

Lux melangkah mendekati Braxton, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka saling berhadapan. Sensasi aroma parfum citrus mahal milik Braxton menusuk hidung Lux, mengingatkannya pada ciuman paksa di apotek tadi malam.

"Kau akan tidur di kamar tamu, kau tidak boleh menyentuh barang-barangku, dan yang paling penting: jangan pernah mengurusi hidupku," ancam Lux dengan intonasi rendah yang penuh penekanan. "Jika kau berani melanggar satu saja dari aturan ini, aku bersumpah, aku tidak akan segan-segan membuat ayahku benar-benar menghancurkan hidupmu."

Setelah mengucapkan ancaman tersebut, Lux berbalik dan melangkah pergi menaiki tangga menuju kamarnya untuk berkemas, meninggalkan Braxton sendirian di dalam ruang tamu yang megah namun terasa asing itu.

Braxton menghembuskan napas keras, menyandarkan kepalanya ke belakang sofa kulit. Ia menatap langit-langit berukir indah di atasnya, meratapi nasib sialnya yang luar biasa.

Malam yang seharusnya diisi dengan pesta bersama teman-teman asramanya dan kemenangan atas taruhan konyol, kini berubah menjadi awal dari sebuah pernikahan paksa dengan seorang wanita galak yang memancarkan aura permusuhan murni padanya.

...~~~~...

Pukul delapan pagi tepat, sebuah SUV hitam—berbeda dari yang semalam, namun dengan tingkat kegelapan kaca yang sama—telah terparkir di pelataran depan mansion Victoria.

Dua buah koper besar milik Lux telah dimuat ke dalam bagasi oleh pengawal. Lux turun dari tangga utama dengan mengenakan jaket kulit hitam, kacamata hitam yang menyembunyikan matanya yang sembap, serta celana jeans longgar. Penampilannya terkesan acuh tak acuh dan penuh pembangkangan.

Eleanor berdiri di dekat pintu depan, menatap putrinya dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ia melangkah mendekat, mencoba memeluk Lux.

"Lux, Sayang..." panggil Eleanor lembut.

Namun Lux melangkah mundur, menghindari sentuhan ibunya. Pandangannya lurus ke depan, enggan menatap mata Eleanor.

"Jaga dirimu baik-baik, Mommy," ucap Lux datar, tanpa kehangatan yang biasanya selalu melingkupi sapaannya. "Terima kasih atas 'kepercayaan' yang Mommy berikan padaku selama ini."

Kalimat itu menancap dalam di dada Eleanor, membuat wanita paruh baya itu semakin terisak. Lux berbalik tanpa ragu, melangkah keluar dan langsung masuk ke kursi belakang SUV hitam tersebut.

Braxton menyusul di belakangnya, tidak membawa barang apapun—Pakaian di badannya adalah satu-satunya barang yang ia miliki karena ia belum sempat mengambil pakaian di asramanya. Ia memberikan anggukan sopan yang canggung pada Eleanor, yang dibalas dengan tatapan dingin dari sang ibu mertua mendadak, sebelum akhirnya menyusul masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju meninggalkan kawasan perumahan elite.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Los Angeles, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka.

Lux menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap deretan gedung-gedung tinggi yang mulai terlihat di kejauhan. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai rencana.

Ia tahu hasil tes kehamilan di klinik itu salah. Ia harus menemukan cara untuk melakukan pemeriksaan ulang secara mandiri tanpa sepengetahuan pengawal ayahnya.

Begitu ia mendapatkan bukti medis yang sah bahwa ia tidak hamil dan masih suci, ia akan melempar bukti itu tepat di hadapan ayahnya, membatalkan pernikahan konyol ini, dan menendang Braxton keluar dari kehidupannya selamanya.

Namun sampai saat itu tiba, ia harus bertahan hidup di bawah satu atap bersama pria yang paling ia benci saat ini.

Penthouse yang disiapkan oleh Marcus Victoria terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit bernuansa ultra-modern di kawasan Downtown Los Angeles.

Begitu pintu lift pribadi terbuka langsung menyajikan pemandangan dalam Penthouse, terlihat jelas betapa mewahnya tempat itu.

Dinding-dinding kaca setinggi tavand menyajikan pemandangan panorama kota LA yang membentang luas. Furnitur bergaya minimalis dengan dominasi warna putih, abu-abu, dan kayu gelap tertata rapi. Dapur terbuka dengan konter marmer hitam berkilat melengkapi kesan elegan tempat tersebut.

Pengawal yang mengantar mereka meletakkan koper-koper Lux di dekat pintu masuk.

"Tuan Marcus telah menyiapkan semua kebutuhan dasar di dalam lemari dan kulkas," ujar pengawal tersebut dengan nada formal. "Petugas keamanan gedung telah diberi instruksi, dan orang-orang kami akan berjaga di area lobi bawah. Jika Tuan dan Nyonya memerlukan sesuatu, Anda bisa menghubungi nomor darurat yang sudah diletakkan di konter dapur."

Setelah memberikan kunci kartu digital tambahan, pengawal itu membungkuk sopan dan melangkah kembali ke dalam lift, meninggalkan Lux dan Braxton sendirian di dalam Penthouse yang amat luas itu.

Suasana mendadak menjadi begitu canggung.

Braxton mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang megah itu. "Well... paling tidak ayahmu memiliki selera yang bagus untuk sebuah 'penjara'," celetuk Braxton mencoba mencairkan suasana dengan humor khasnya.

Namun Lux tidak tertawa. Ia melepas kacamata hitamnya, melemparnya ke atas meja kopi, lalu berbalik menatap Braxton dengan pandangan dingin.

"Aturan nomor satu," ucap Lux memotong ucapan Braxton. "Ini adalah batasanmu."

Lux melangkah ke arah koridor utama yang menghubungkan ruang tamu dengan kamar-kamar tidur. Penthouse itu memiliki dua kamar tidur utama yang berukuran sangat besar.

Lux menunjuk pintu kamar di sebelah kiri. "Itu kamarmu. Dan kamar di sebelah kanan dengan balkon pribadi adalah kamarku. Kau dilarang keras melangkahkan kaki melewati batas pintu kamarku."

Braxton mengangguk pelan. "Adil. Lalu bagaimana dengan area bersama? Dapur? Ruang tamu?"

"Gunakan sesukamu, tapi jangan pernah ada di ruangan yang sama denganku dalam waktu yang bersamaan," lanjut Lux tanpa kompromi. "Jika aku sedang berada di dapur, kau harus berada di kamarmu atau di area lain. Jika aku ada di ruang tamu, bersihkan dirimu dari pandanganku."

Braxton tertawa kecil, menggelengkan kepalanya merasa lucu sekaligus herannya. "Lux, kita tinggal di satu tempat yang sama. Bisakah kau sedikit rasional? Kita bukan anak sekolah dasar yang membuat garis kapur di tengah ruangan."

"Aku tidak peduli!" tegas Lux, melangkah satu senti mendekati Braxton. "Aku melakukan ini agar aku tidak muntah setiap kali melihat wajahmu! Kau mengerti?!"

Senyum di wajah Braxton perlahan memudar. Karakter ketampanan dan pesona narsisnya yang biasanya dengan mudah menaklukkan siapa saja kini merasa tertantang dan tersinggung oleh penolakan mentah-mentah yang diberikan Lux.

"Kau tahu, Nyonya Desmon..." panggil Braxton dengan intonasi mengejek, sengaja menekankan nama belakang barunya pada Lux. "Kau mungkin bisa membenciku sepuasmu, tapi kenyataannya sekarang kita terikat secara hukum. Kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu."

"Tutup mulutmu!" desis Lux, matanya berkilat penuh kebencian.

Braxton melangkah satu langkah lebih dekat, sengaja memangkas jarak di antara mereka untuk membalas intimidasi Lux. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat Lux harus mendongak untuk menatap matanya.

"Aku juga tidak meminta situasi ini terjadi, Gadis Galak," ujar Braxton dengan suara berat yang menekan. "Tapi karena kita berdua sudah terjebak di neraka yang sama, sebaiknya kau turunkan sedikit ego tinggimu itu. Aku bukan tawananmu, dan aku tidak akan tunduk pada perintah konyolmu."

Kedua anak muda itu kini saling tatap dalam jarak yang begitu dekat, memancarkan gelombang ketegangan yang mendidih. Dendam, amarah, dan taruhan konyol yang memicu semua ini membakar udara di antara mereka, menandai awal dari sebuah kehidupan pernikahan paksa yang jauh dari kata damai.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!