Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Angin selat bertiup dingin, mengguncang perahu kecil yang membelah ombak gelap. Semakin dekat ke Pulau Beras, semakin terasa suasana yang berbeda: tidak ada suara burung laut, tidak ada riak air yang tenang—hanya keheningan yang menindih, seolah seluruh alam di sini ikut menjaga rahasia. Dika memegang peta satelit di bawah cahaya senter yang ditutup kain tebal.
“Pantai utara adalah satu-satunya tempat yang tidak dipasang lampu terang,” bisiknya. “Tapi ada kawat berduri dan sensor gerak sepanjang garis pantai. Kita harus mendarat di celah karang yang tersembunyi di sisi barat—tempat yang dulunya dipakai penyelam untuk mengambil teripang.”
Mereka mendarat dengan hati-hati, menarik perahu ke balik bebatuan besar agar tidak terlihat dari atas. Rendra berjalan paling depan, langkahnya pelan mengikuti jejak tanah yang tidak terlalu berumput. Setelah berjalan sekitar setengah jam menanjak, mereka melihat pemandangan yang membuat napas mereka tertahan.
Di tengah pulau yang katanya sudah ditinggalkan itu, berdiri kompleks bangunan beton raksasa yang dikelilingi pagar tinggi. Lampu-lampu terang menyala di setiap sudut, truk besar bergerak masuk ke dalam terowongan bukit, dan helikopter berputar perlahan di atas halaman pusat.
“Ini bukan sekadar gudang,” kata Pak Haris pelan. “Ini markas operasi utama untuk wilayah barat. Lihat struktur bangunannya—dibangun tahan gempa dan tahan serangan. Tidak mungkin hanya untuk menyimpan barang selundupan biasa.”
Asep menunjuk ke arah gerbang utama. “Perhatikan tanda di lengan penjaga. Itu lambang pasukan khusus yang dibubarkan lima tahun lalu. Berarti Rusli mempekerjakan mantan tentara yang tidak punya tempat lain, dan melatih mereka sebagai pasukan pribadi.”
Mereka menyusup lewat selokan air yang tersumbat sampah dan lumut. Jalannya sempit, berbau busuk, tapi langsung menuju bagian belakang kompleks. Di sana, mereka mendengar percakapan dua penjaga yang sedang beristirahat.
“Bulan ini kiriman dari pusat terlambat dua minggu,” kata yang satu sambil menyalakan rokok. “Bos bilang ada gangguan dari Jawa Timur. Tapi pesan terbaru bilang kita harus siap—sebentar lagi ada perpindahan besar barang ke pulau lain.”
“Barang apa lagi?” tanya temannya. “Saya sudah lelah mengangkut kotak bertanda bahaya tanpa tahu isinya. Dan orang-orang yang dibawa ke ruang bawah tanah… tidak ada yang pernah keluar lagi.”
“Jangan tanya apa yang tidak perlu kau tahu. Tugas kita hanya menjaga. Ingat peringatan Bos: siapa pun yang penasaran, akan dikubur di sini juga.”
Mereka berdua pergi setelah itu. Rendra menatap teman-temannya. “Kita harus tahu apa yang ada di ruang bawah tanah itu. Itu kemungkinan besar tempat mereka menyembunyikan bukti atau bahkan orang yang mereka culik.”
Dika menemukan saluran kabel terbuka di dinding. Ia menyambungkan alat kecil, dan layar di perangkatnya langsung menampilkan peta bagian dalam bangunan. “Ruang bawah tanah ada di lantai minus tiga. Ada satu jalan lewat ruang mesin, tapi dijaga ketat. Atau kita bisa lewat terowongan ventilasi yang melewati atas ruangan—tapi jalannya sangat sempit dan penuh kisi-kisi besi.”
Mereka memilih jalan ventilasi. Merangkak dalam kegelapan, debu dan karat menempel di kulit mereka. Di bawah sana, mereka melihat ruangan-ruangan yang berbeda: ruang penyimpanan kotak besi berat, ruang rapat dengan peta seluruh wilayah Indonesia, dan akhirnya ruangan yang mereka cari.
Di ruangan itu tidak ada kotak barang. Hanya deretan sel kaca tebal. Dan di dalamnya, ada orang-orang yang tampak lelah dan kurus—bukan penjahat, melainkan ilmuwan, mantan pegawai negeri, dan saksi-saksi yang dulunya berani menentang kelompok ini. Salah satu dari mereka adalah mantan kepala pertambangan yang menghilang tiga tahun lalu.
“Mereka mengurung orang yang memiliki pengetahuan berharga,” bisik Pak Haris dengan suara bergetar. “Memaksa mereka bekerja, atau menyiksa mereka sampai mati. Rusli bukan sekadar pedagang—dia mengumpulkan kekuatan dan pengetahuan untuk tujuan yang jauh lebih besar.”
Belum sempat mereka bergerak, alarm tiba-tiba berbunyi kencang. Lampu di saluran ventilasi menyala terang—salah satu kisi-kisi bergeser karena berat badan Bapak Harun.
“Mereka tahu kita di sini!” seru Rendra. “Kembali lewat jalan yang sama, sekarang!”
Mereka berbalik merangkak secepat mungkin. Di bawah terdengar suara langkah kaki berlari dan perintah keras. Saat mereka melompat turun dari selokan keluar, gerbang kompleks sudah terbuka lebar—pasukan penjaga mengejar mereka dengan lampu sorot dan senjata terarah.
“Lari ke arah tebing selatan!” teriak Asep. “Ada jalan setapak yang turun ke pantai lain!”
Mereka berlari menembus semak belukar, peluru berdesing di samping telinga. Rendra menoleh sesaat ke belakang—ia melihat Rusli berdiri di balkon lantai atas, menatap mereka dengan tenang, lalu mengangkat tangan memberi isyarat. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya senyum dingin seolah ia sengaja membiarkan mereka melihat sedikit saja rahasianya.
Saat mereka melompat ke perahu dan mendayung sekuat tenaga menjauh dari pulau itu, Rendra menyadari satu hal yang mengerikan: Ridwan menyembunyikan kejahatan, tapi Rusli memamerkannya seolah itu adalah hak miliknya. Dan ia tahu—ini baru sebagian kecil dari apa yang sebenarnya sedang mereka persiapkan.