"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026 - Rapat Badai
Senin pukul sembilan pagi, Ruang Rapat Utama PT Surya Teknologi penuh.
Lima puluh orang hadir.
Kepala divisi.
Supervisor.
Perwakilan engineer.
Perwakilan support.
HR.
Legal.
Finance.
Di undangan, tema rapat hanya dua kata: Evaluasi Kinerja.
Herman Wijaya duduk di baris depan dengan jas baru dan dasi merah. Rambutnya mengilap. Wajahnya santai.
Vina Susanti duduk dua kursi di belakangnya. Ia memakai blazer mahal, kuku merah, dan ekspresi bosan. Beberapa karyawan support berbisik saat melihatnya.
"Dia masuk?"
"Baru kali ini lihat."
"Padahal gajinya jalan terus."
Mega berdiri di samping proyektor. Pak Budi duduk di sisi kanan meja utama. Wajahnya tegang, tapi matanya tidak menghindar.
Arya masuk tepat pukul sembilan.
Ruangan langsung diam.
Ia tidak membawa banyak kertas.
Hanya laptop, satu folder hitam, dan flashdisk kecil.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
Suara balasan tidak kompak.
Arya berdiri di depan layar.
"Hari ini kita bicara tentang kinerja. Kinerja perusahaan, kinerja sistem, dan kinerja orang yang diberi kepercayaan."
Herman tersenyum kecil.
"Bagus, Pak. Evaluasi memang perlu."
Arya menekan tombol.
Slide pertama muncul.
PT Sinar Abadi.
Alamat kantor.
Akta perusahaan.
Nama direktur.
Hubungan keluarga dengan Herman Wijaya.
Senyum Herman berhenti.
Ruangan bergerak gelisah.
Beberapa karyawan finance menunduk. Mereka mengenali nama itu, tapi selama ini tidak berani bertanya.
Arya berkata datar, "Vendor konsultasi IT. Total pembayaran dua tahun: Rp 1.400.000.000. Output yang ditemukan: tiga dokumen template."
Ia menekan tombol lagi.
Slide kedua.
Potongan halaman PDF dengan nama perusahaan lain yang belum diganti.
Beberapa orang menarik napas.
Herman mengangkat tangan.
"Pak Arya, konteksnya..."
"Nanti."
Arya menekan tombol.
PT Maju Jaya.
Invoice perangkat jaringan.
Harga pasar.
Harga beli PT Surya Teknologi.
Nomor seri ganda.
"Total indikasi mark-up: Rp 1.900.000.000."
Kepala R&D, Andi, langsung berdiri setengah.
"Pak, beberapa perangkat itu tidak pernah kami terima."
"Duduk dulu, Pak Andi. Catatan Anda sudah masuk lampiran."
Wajah Herman mulai pucat.
Slide ketiga.
PT Karya Mandiri.
Pelatihan internal.
Daftar peserta.
Tanggal resign.
Metadata foto.
Mega membacakan ringkas dari samping.
"Dua puluh peserta dalam daftar sudah tidak bekerja di perusahaan pada tanggal pelatihan. Foto kegiatan berasal dari file lama."
Ruangan pecah dalam bisik-bisik.
Vina mulai menatap ponsel.
Arya menekan tombol lagi.
Slide keempat.
Tujuh belas nama karyawan.
Status: gaji aktif.
Akses gedung: tidak ada.
Email kantor: tidak aktif.
Log kerja: kosong.
Rekening terhubung.
"Ghost employee," kata Arya. "Total pembayaran sekitar Rp 1.200.000.000."
Seorang staf HR menutup mulut.
"Saya tidak pernah proses nama-nama itu," katanya pelan.
Arya mengangguk. "Pernyataan tertulis Anda sudah diterima."
Herman berdiri.
"Pak Arya, ini rapat evaluasi atau pengadilan? Data seperti ini tidak boleh dilempar di depan semua orang."
Arya menatapnya.
"Uang perusahaan diambil di depan semua orang juga. Gaji mereka tertahan. Tim mereka kekurangan orang. Klien mereka marah. Hari ini mereka berhak tahu."
Herman membuka mulut, lalu menutup lagi.
Slide kelima muncul.
Reimburse pribadi.
Hotel Bali.
Restoran.
Spa.
Tas.
Nama tamu: Herman Wijaya & Vina Susanti.
Seluruh ruangan menoleh ke Vina.
Vina langsung berdiri.
"Saya tidak tahu apa-apa."
Mega menjawab tanpa menaikkan suara.
"Mbak Vina menerima gaji sebagai staf administrasi selama dua tahun. Data akses menunjukkan Mbak hadir empat kali. Semua reimburse terkait nama Mbak ada di lampiran."
Vina duduk kembali, wajahnya merah.
Herman berkeringat.
"Ini bisa dijelaskan."
Arya menekan tombol terakhir.
Grafik laba perusahaan.
Tiga tahun.
Garis pendapatan stabil.
Garis laba turun empat puluh persen.
Di bawahnya: estimasi kerugian internal Rp 8.120.000.000.
"Selama tiga tahun, perusahaan ini tetap bekerja. Engineer tetap menulis kode. Support tetap menjawab komplain. Sales tetap mengejar klien. Namun laba turun karena kebocoran yang disengaja."
Arya menatap Herman.
"Pak Herman, silakan jelaskan."
Herman tertawa kering.
"Kamu masih anak kemarin sore. Kamu tahu apa tentang mengelola perusahaan? Saya yang menjaga perusahaan ini hidup. Tanpa saya, finance hancur."
Arya mengangguk.
"Saya cek. Selama Anda menjabat, laba turun empat puluh persen, vendor bermasalah naik, dan tim support ditolak tambahan orang karena alasan anggaran."
Ia berhenti satu detik.
"Jika itu cara Anda menjaga perusahaan, perusahaan lebih sehat setelah Anda berhenti menjaganya."
Ruangan senyap.
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Herman menunjuk Arya.
"Kamu akan menyesal. Kamu tidak tahu jaringan saya."
"Saya tahu sebagian."
Arya menekan tombol.
Foto basement muncul.
Herman menyerahkan amplop kepada Denny Hartono di samping Porsche Cayenne.
Herman terhuyung setengah langkah.
"Itu..."
"Foto diambil Jumat malam. Auditor eksternal sudah menerima salinan. Legal juga."
Pak Budi berdiri.
"Herman, cukup."
Herman menoleh tajam.
"Budi, kamu juga ikut? Kita kerja bersama lima belas tahun."
Pak Budi menjawab pelan, "Saya kerja untuk perusahaan. Kamu kerja untuk kantongmu sendiri."
Beberapa karyawan mulai berbisik lebih keras.
Herman panik.
Ia mengambil ponsel.
"Saya telepon Pak Hartono."
Arya berjalan turun dari depan layar.
Langkahnya pelan.
Herman menekan nomor.
"Halo? Pak Hartono? Mereka mau menjatuhkan saya..."
Arya menekan tombol speaker mati dengan ujung jarinya, lalu mengambil ponsel itu dari tangan Herman.
"Pak Herman, rapat belum selesai."
"Kembalikan."
"Setelah legal mencatat barang bukti."
Pintu ruang rapat terbuka.
Empat petugas keamanan masuk bersama staf legal.
Wajah Herman berubah total.
Dari marah menjadi takut.
Arya berdiri tepat di depannya.
"Mulai hari ini, akses Anda ke sistem perusahaan dibekukan. Semua perangkat kantor diserahkan ke legal. Anda diberhentikan sementara sambil menunggu proses hukum dan audit final."
Herman berusaha tertawa.
"Kamu tidak bisa melakukan ini."
"Saya Direktur Utama. Saya baru saja melakukannya."
Mega menyerahkan dokumen.
"Surat keputusan sudah siap, Pak."
Arya menandatangani di depan semua orang.
Pulpen bergerak singkat.
Satu tanda tangan.
Herman Wijaya kehilangan kursinya.
Vina berdiri dan mencoba keluar diam-diam.
Bayangan satpam langsung menghalangi pintu.
Arya menatap staf legal.
"Catat juga status Mbak Vina. HR membekukan akses sampai pemeriksaan selesai."
Vina memucat.
Herman berteriak, "Kalian semua akan hancur tanpa saya!"
Kali ini tidak ada yang membela.
Di sudut ruangan, seorang engineer muda mulai bertepuk tangan sekali.
Lalu berhenti, takut.
Pak Budi menatapnya dan ikut bertepuk.
Satu demi satu, tepuk tangan menyebar.
Tidak riuh seperti pesta.
Lebih berat.
Seperti napas panjang yang akhirnya keluar setelah tiga tahun ditahan.
Arya tidak tersenyum.
Ia menatap Herman yang kini dikawal petugas keamanan.
"Bawa Pak Herman ke ruang legal. Setelah itu, kita lanjutkan proses."
Herman masih mencoba mengambil ponselnya.
"Pak Hartono akan dengar soal ini!"
Arya menjawab tenang.
"Bagus. Saya memang ingin dia mendengar langsung."