Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 40: Papa Menentang
“Kalau kerja sama itu harga untuk anak saya, saya lebih baik membayar penalti dan menjual perusahaan.”
Papa Gunawan mengucapkannya dengan suara rendah, tetapi setiap kata menghantam meja.
Arya menutup laptop. “Kirana bukan alat transaksi. Saya tidak akan menerima hubungan yang dibayar kontrak bisnis.”
“Mudah bicara ketika perusahaan kamu lebih besar.”
“Karena itu saya menawarkan audit dan pemisahan keputusan. Kalau Bapak tetap ingin mengakhiri kerja sama, tim hukum akan mengikuti kontrak. Perasaan saya kepada Kirana tidak berubah.”
Kirana menyentuh lengan ayahnya. “Pa, aku bukan korban.”
“Kamu sembilan belas tahun. Dia dua puluh tujuh, dosenmu, dan terbiasa mengendalikan perusahaan. Kamu yakin bisa berdiri sejajar?”
Pertanyaan itu menyakitkan karena menyentuh ketakutan yang pernah ditanam Diana.
“Aku punya pilihan sendiri,” jawab Kirana. “Mas Arya tidak pernah mengatur nilai, pakaian, teman, atau mimpiku.”
“Dia membeli rumah sebelah tanpa bertanya.”
“Dan kami membuat aturan privasi setelahnya. Kalau aku bilang tidak boleh masuk, dia tidak masuk.”
Mama Ratih memandang Arya. “Apa rencanamu setelah semester selesai?”
“Kembali penuh ke DG. Saya juga akan menghapus seluruh konflik akademik sebelum hubungan ini diumumkan.”
“Menikah?”
Arya menjawab tanpa ragu. “Itu tujuan saya, kalau Kirana siap.”
Kirana tersedak air. “Mas.”
Papa memukul sandaran kursi. “Baru pacaran sudah bicara menikah. Kamu terlalu tua dan terlalu terburu-buru.”
“Saya tidak meminta akad besok.”
“Beda delapan tahun tetap beda delapan tahun.”
“Saya tidak bisa mengubah umur. Saya bisa membuktikan cara saya memperlakukannya.”
Mama Ratih bertanya tentang perlindungan jika kelak hubungan gagal. Arya menjelaskan bahwa ia bersedia membuat perjanjian transparan dan memindahkan sebagian saham pribadinya ke Kirana ketika ada komitmen resmi.
“Tidak,” kata Kirana dan Mama bersamaan.
Keduanya saling melihat.
“Aku tidak pacaran untuk saham,” lanjut Kirana.
Mama Ratih mengangguk. “Jaminan tidak harus berupa kepemilikan sekarang. Yang kami nilai adalah sikap.”
Arya menerima penolakan itu. “Baik. Usulan saya tidak akan dijalankan tanpa persetujuan Kirana.”
Papa masih tidak puas. “Kalian tinggal seperti apa?”
“Terpisah,” kata Kirana cepat. “Aku di 803 dengan Winda, Mas Arya di 805.”
“Malam ini kamu ada di tempatnya.”
“Nonton dan mengerjakan tugas.”
“Pakai kaus dia.”
Kirana memandang kaus panjang yang membuat kebohongannya sangat buruk. “Bajuku kena darah.”
Mama Ratih berdeham, menyelamatkan putrinya. “Hubungan kalian kami tahu sekarang. Tapi tidak ada tinggal bersama sebelum komitmen resmi. Tidak menginap diam-diam.”
“Ma.”
“Itu batas kami sebagai orang tua.”
Papa menambahkan, “Saya akan sidak. Jangan pikir jarak Kebayoran ke sini terlalu jauh.”
Arya mengangguk. “Saya menghormati aturan selama Kirana juga menyetujuinya.”
“Jangan berlindung di balik persetujuan untuk membantah orang tua.”
“Saya hanya tidak ingin membuat keputusan atas namanya.”
Mama Ratih menyembunyikan senyum. Papa melihatnya dan semakin kesal.
Mereka akhirnya sepakat pada satu keadaan sementara: orang tua tidak melarang Kirana berpacaran, tetapi Papa belum memberi restu penuh. Hubungan bisnis diperiksa terpisah. Larangan tinggal bersama berlaku, dan Arya harus datang ke rumah keluarga secara resmi.
Mama Ratih meminta waktu lima menit berbicara dengan Kirana di kamar. Begitu pintu tertutup, ia memeriksa wajah putrinya.
“Kamu bahagia?”
“Iya.”
“Pernah merasa takut mengatakan tidak kepadanya?”
“Tidak. Aku justru paling sering membantah dia.”
“Dia pernah membuatmu menjauh dari teman atau keluarga?”
“Tidak. Mas Arya selalu mengingatkan aku menelepon rumah.”
Mama mengangguk. “Mama tidak peduli seberapa besar perusahaannya kalau kamu kehilangan dirimu. Tapi kalau kamu tetap bisa bicara seperti ini, Mama mau mengenalnya.”
“Papa tidak akan mudah.”
“Papa marah karena baru tahu. Dan karena laki-laki itu delapan tahun lebih tua, terlalu tenang, terlalu kaya, serta kelihatan yakin akan membawa anaknya pergi.”
Kirana memeluk ibunya. “Aku tidak pergi ke mana-mana.”
“Semua anak bilang begitu sebelum jatuh cinta.”
Di ruang tamu, Papa juga berbicara empat mata dengan Arya. Ia tidak mengancam perusahaan. Ia hanya berkata, “Kalau Kirana menangis karena kamu, jabatanmu tidak akan melindungi.”
“Saya mengerti.”
“Jangan jawab seolah ini rapat.”
Arya menurunkan suara. “Saya mencintainya, Pak. Saya bisa berjanji akan berusaha, tetapi tidak akan berpura-pura bahwa saya tidak pernah salah. Kalau saya melukainya, Bapak berhak meminta pertanggungjawaban.”
Jawaban itu tidak membuat Papa tersenyum, tetapi ia berhenti memusuhi setiap napas Arya.
“Umur tetap masalah,” kata Papa sambil memakai sepatu. “Jangan kira kartu nama besar menyelesaikannya.”
“Saya tidak mengira begitu.”
Di bawah gedung, Mama Ratih memeluk Kirana. Ia menurunkan suara agar Papa tidak mendengar.
“Kamu sudah dewasa, tapi tetap hati-hati. Pakai perlindungan. Jangan buru-buru punya anak hanya karena laki-laki itu bicara menikah.”
Wajah Kirana terbakar. “Mama!”
“Lebih baik malu lima menit daripada menyesal.”
Papa kembali dari mobil. “Kalian bicara apa?”
“Masalah perempuan,” jawab Mama.
Sebelum masuk mobil, Papa menatap Arya. “Minggu depan datang ke rumah. Tanpa saham, tanpa kontrak, tanpa pasukan perusahaan.”
“Saya akan datang.”
Setelah mobil orang tuanya pergi, kram Kirana kembali menyerang. Ia membungkuk sambil menekan perut. Arya langsung mengangkatnya.
“Aku bisa jalan.”
“Saya tidak sedang meminta pendapat.”
“Tadi Mas bilang tidak membuat keputusan atas namaku.”
Arya berhenti. “Boleh saya menggendongmu?”
Kirana menahan tawa di tengah nyeri. “Boleh.”
Di 805, Arya membuat wedang jahe, menempelkan bantalan hangat, dan duduk di lantai dekat sofa. Kemarahan Kirana karena identitas yang disembunyikan belum sepenuhnya hilang.
“Mas harus cerita semuanya,” katanya.
“Saya akan.”
“Kenapa Mas menyembunyikan jabatan?”
“Orang berubah setelah tahu nama DG. Ada yang takut, ada yang mendekat untuk keuntungan. Di Singapura, kamu memperlakukan saya seperti laki-laki biasa. Saya egois ingin mempertahankan itu.”
“Aku tetap akan menganggap Mas menyebalkan meski tahu.”
“Sekarang saya tahu.”
“Mas harus percaya aku bisa memilih setelah mengetahui seluruh fakta.”
Arya mengangguk. “Saya percaya. Dan saya minta maaf karena terlambat.”
Kirana belum sepenuhnya memaafkan, tetapi ia menerima bahwa permintaan maaf itu tidak disertai pembelaan. Mereka akan membahas bagian lain ketika tubuhnya tidak sedang sakit dan malam tidak lagi dipenuhi interogasi.
“Tidak dicicil sesuka Mas.”
“Baik.”
Arya menyentuh rambutnya. “Tapi satu hal sudah saya katakan jujur. Kamu calon nyonya besar Danuwangsa.”
Kirana hampir menumpahkan minuman. “Jangan panggil begitu. Kita pacaran saja, tidak usah menikah.”
Tatapan Arya menyempit. “Usulan ditolak.”
“Mas tidak bisa menolak rencana hidupku.”
“Saya bisa meyakinkanmu.”
Ia membungkuk dan mencium Kirana, lembut karena tubuhnya sedang sakit, tetapi cukup lama untuk menghapus sisa protes. Ketika mundur, ibu jarinya menyapu bibir Kirana.
“Pacaran boleh,” katanya. “Tapi saya tidak pernah mendekatimu untuk hubungan sementara.”
Di tengah aroma jahe dan panas bantalan, kata calon nyonya besar masih membuat Kirana takut. Namun cara Arya mengatakannya juga membuat masa depan itu terdengar semakin nyata.