Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Brumm.
Suara mesin sepeda motor tua milik Adit memecah keheningan jalanan kota yang berkabut.
Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit.
Adit menghentikan motornya di depan sebuah bangunan cafe dua lantai bernama Kafe Nuansa Malam.
Suasana di sekitar cafe yang terletak di sudut kota itu tampak sepi dan agak remang-remang.
Adit melepaskan helmnya dan merapikan jaket hitam yang dibelinya di pasar kemarin.
Ia memegang ponselnya sejenak sambil menatap layar obrolan dari nomor misterius tadi sore.
"Aku sudah di depan," ketik Adit singkat lalu mengirimkan pesan tersebut.
Ting.
Balasan langsung masuk hanya dalam hitungan detik.
"Meja nomor 7 di lantai dua dekat jendela," bunyi pesan balasan itu.
Adit memasukkan ponselnya ke saku jaket dan melangkah mantap memasuki pintu cafe.
Kling.
Genta kecil di atas pintu kaca berbunyi halus saat Adit mendorong pintu tersebut.
Hawa dingin dari pendingin ruangan dan aroma harum biji kopi menyambut kedatangannya.
Adit menaiki tangga kayu menuju lantai dua tanpa membuang waktu.
Lantai dua cafe itu hampir kosong, hanya diisi oleh beberapa pasangan muda-mudi di sudut ruangan.
Di dekat jendela paling ujung, seorang wanita muda duduk sendirian sambil menyesap cangkir kopi.
Wanita itu mengenakan kemeja denim longgar dan kacamata berbingkai hitam yang modis.
Sebuah kamera DSLR mahal dan Laptop terbuka diletakkan rapi di atas meja kayu.
Adit melangkah mendekati meja nomor 7 itu dengan pandangan yang sangat tenang.
"Apakah kamu yang mengirimi aku pesan ancaman tadi sore?" tanya Adit tanpa basa-basi.
Wanita itu menghentikan gerakan cangkirnya dan menatap Adit dari balik kacamata.
Senyum tipis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah natural.
"Silakan duduk dulu, Mas Aditya Pratama. Namaku Maya Saphira," sapa wanita itu ramah.
Adit menarik kursi kayu di depan wanita itu dan duduk bersedekap dada.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi dengan orang yang mencoba mengancamku," kata Adit dingin.
Maya tertawa pelan, sebuah tawa halus yang terdengar sangat rileks dan santai.
"Jangan galak-galak begitu, Mas Adit. Pesan tadi cuma umpan supaya Mas mau menemui saya di sini."
"Umpan atau ancaman, batasnya sangat tipis untukku," balas Adit tegas.
Maya meletakkan cangkir kopinya dan mendorong komputer jinjingnya mendekat ke arah Adit.
Layar komputer itu menampilkan sebuah dokumen hasil analisis laboratorium dari sebuah lembaga independen.
"Mas Adit tahu apa ini?" tanya Maya sambil menunjuk baris grafik pada layar.
Adit melirik sekilas ke arah angka-angka dan istilah medis yang tertera di sana.
"Hasil lab. Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Adit berpura-pura tidak tahu.
"Ini adalah hasil pengujian sampel air dan jaringan organik dari telur yang dibawa truk Cokro tadi malam," jawab Maya pelan.
"Kandungan nutrisi, antioksidan, dan efek regenerasi sel pada telur puyuh itu tidak masuk akal secara medis."
"Bahkan seorang peneliti senior bilang kalau telur itu lebih mirip obat ajaib daripada makanan," lanjut Maya.
Adit tetap mempertahankan raut wajah datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Lalu? Pak Cokro membeli barangku secara sah dengan kontrak kerja sama resmi," ucap Adit santai.
"Aku tahu, dua miliar rupiah untuk hak distribusi luar daerah, kan?" potong Maya cepat.
Adit sedikit menaikkan alisnya, terkejut karena wanita di depannya tahu nominal pasti kontraknya.
"Kamu membuntuti kargo Pak Cokro?" tanya Adit memastikan.
"Saya seorang jurnalis investigasi independen, Mas Adit. Membuntuti orang kaya adalah pekerjaan sehari-hari saya," jawab Maya bangga.
Maya memajukan badannya dan menatap langsung ke dalam mata Adit dengan penuh keseriusan.
"Tapi Mas Adit tidak perlu khawatir. Saya ke sini bukan untuk membocorkan rahasia telur ajaibmu ke media."
"Lalu apa tujuanmu yang sebenarnya?" tanya Adit mulai penasaran.
"Saya mau menawarkan kerja sama untuk menghancurkan Grup Mahkota dan keluarga Anton," kata Maya berbisik.
Adit tertawa pelan mendengar nama musuhnya disebut oleh jurnalis asing ini.
"Kenapa aku harus percaya padamu? Dan apa hubungannya kamu dengan Anton?"
Maya menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Dua tahun lalu, grup restoran milik keluarga Anton memalsukan dokumen standar bahan makanan."
"Akibatnya, puluhan orang keracunan dan ayah saya yang bekerja sebagai kepala koki dijadikan kambing hitam."
Mata Maya berkilat memancarkan rasa benci yang sangat mendalam saat menceritakan hal itu.
"Ayah saya dipenjara dan namanya hancur, sementara keluarga Anton makin kaya raya dengan bisnis kotor mereka."
"Sejak hari itu, saya bersumpah akan membongkar seluruh kejahatan Restoran Mahkota sampai ke akar-akarnya."
Adit mendengarkan cerita itu dengan cermat tanpa memotong sepatah kata pun.
"Aku mengerti dendammu, tapi apa hubungannya dengan bisnis peternakanku?" tanya Adit lagi.
"Anton menggunakan sisa uang dan pengaruh keluarganya untuk menekan bisnis Mas Adit di desa, kan?"
"Tadi pagi saya juga dapat informasi kalau Kades Supri ditangkap polisi karena memalsukan dokumen atas suruhan Anton."
Maya tersenyum manis melihat ketenangan Adit yang luar biasa.
"Mas Adit punya produk ajaib yang bisa mengguncang dunia kuliner elit di ibukota."
"Sementara saya punya jaringan media, data kejahatan bisnis Anton, dan akses ke lingkaran pengusaha tinggi."
"Kalau kita bergabung, kita bisa menghancurkan kerajaan bisnis keluarga Anton hanya dalam hitungan bulan," tawar Maya penuh ambisi.
Adit mengetukkan jarinya di atas meja kayu beberapa kali sambil memikirkan tawaran itu.
Di dalam kepalanya, suara sistem yang familier mendadak berbunyi nyaring.
[Ting]
[Pemberitahuan Sistem: Terdeteksi Peluang Aliansi Strategis.]
[Karakter Maya Saphira menawarkan bantuan jaringan informasi dan pengaruh media.]
[Analisis Sistem: Tingkat Kepercayaan Target 85%. Risiko Kebocoran Rahasia Sistem 2%.]
[Rekomendasi: Terima Penawaran Kerja Sama untuk mempercepat dominasi pasar.]
Adit tersenyum tipis setelah membaca analisis otomatis dari sistemnya.
Sistemnya sendiri sudah menjamin bahwa rahasia utamanya akan tetap aman dari jurnalis ini.
"Tawaranmu cukup menarik, Maya," kata Adit akhirnya membuka suara.
"Tapi aku punya syarat utama yang tidak boleh dilanggar."
Maya membelalakkan matanya gembira. "Katakan saja, apa syaratnya?"
"Kamu tidak boleh mempertanyakan dari mana atau bagaimana aku menghasilkan bahan-bahan makanan ajaib ini."
"Fokusmu hanya membantu memasarkan produkku dan membongkar kejahatan Anton di media," tegas Adit.
Maya menjentikkan jarinya dengan gembira. "Kesepakatan yang sangat adil!"
"Aku hanya peduli pada hasil akhir dan kehancuran keluarga Anton, bukan pada rahasia dapurmu."
Maya menjulurkan tangan kanannya ke depan meja dengan senyum lebar.
"Selamat bergabung dalam persekutuan rahasia kita, Mas Adit."
Adit membalas jabatan tangan hangat wanita itu dengan cengkeraman yang mantap.
"Semoga kerja sama ini tidak mengecewakanku, Maya."
Tiba-tiba, suara denting sistem kembali bergetar di telinga Adit.
[Ting!]
[Pemberitahuan Sistem: Aliansi Baru Terbentuk!]
[Selamat! Tuan berhasil merekrut Sekutu Strategis: Maya Saphira Jurnalis Investigasi.]
[Mendapatkan Hadiah Aliansi: 500 Poin Pengalaman.]
[Afeksi Maya Saphira terhadap Tuan meningkat menjadi: Tertarik / Kagum.]
Adit tersenyum puas merasakan dorongan Poin Pengalaman baru yang masuk ke dalam statusnya.
Malam itu, di cafe remang-remang ujung kota, sebuah aliansi baru lahir untuk meruntuhkan musuh bersama mereka.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.