Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Manis di Balik Rahasia
Gerimis tipis yang membasahi kaca jendela kedai kopi sore itu seolah ikut menggambarkan suasana hati Kirana yang masih abu-abu. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu baru saja melangkah keluar dari sebuah hubungan masa lalu yang menyisakan luka. Hidupnya sederhana, datar, dan tidak muluk-muluk. Sebagai seorang gadis yang tumbuh di dalam keluarga biasa, tanpa gelar sarjana berderet di belakang namanya, Kirana selalu sadar diri tentang posisinya di dunia ini.
Namun, sore itu, takdir memutuskan untuk memutar kompas kehidupannya melalui sebuah pertemuan yang tidak pernah dia duga.
"Kirana, kenalin, ini Mas Dimas. Temen sekantorku yang sering aku ceritain itu," ucap sahabat Kirana, memecah lamunan Kirana sembari menunjuk pria yang baru saja duduk di kursi kosong di hadapan mereka.
Kirana perlahan mendongakkan wajahnya. Detik itu juga, sepasang mata Kirana langsung bertubrukan dengan tatapan teduh dari seorang pria matang berpenampilan sangat rapi dan berwibawa. Kemeja batiknya tampak pas di tubuhnya yang tegap, dan senyuman yang terukir di bibirnya memancarkan aura ketenangan yang luar biasa sejuk.
"Dimas," ucap pria itu dengan suara baritonnya yang sangat lembut dan sopan, sembari mengulurkan tangannya yang hangat.
"Kirana, Mas..." jawab Kirana dengan sangat canggung, menyambut uluran tangan itu dengan detak jantung yang mendadak melewatkan satu ketukan.
Ada jarak usia tiga belas tahun yang benderang terbentang di antara mereka. Dimas sudah mapan, matang, dan memiliki pembawaan seorang pria dewasa sejati yang tahu bagaimana cara menghormati seorang wanita. Jauh di dalam silsilah keluarganya, Dimas mengalirkan darah biru keraton—sebuah garis keturunan bangsawan dari pulau seberang yang sangat dihormati. Seluruh garis keluarganya adalah kaum terpelajar, orang-orang berpangkat, dan menyandang gelar sarjana setinggi langit.
Sangat kontras dengan Kirana yang hanya gadis biasa dari kalangan rakyat jelata.
Namun, perbedaan kasta yang menjulang tinggi itu seolah-olah menguap begitu saja di minggu-minggu pertama kedekatan mereka. Dimas bukanlah pria hidung belang yang datang membawa bualan kosong. Dia adalah sosok pelindung, pria penyayang yang memperlakukan Kirana seolah-olah Kirana adalah barang pecah belah yang sangat berharga dan harus dijaga dengan segenap jiwa raganya.
"Kamu kurusan, Kirana. Jangan terlalu sering begadang dan telat makan ya," ucap Dimas suatu sore, sembari mengelus rambut Kirana dengan lembut saat mereka sedang menikmati makan malam bersama di sebuah restoran keluarga.
Setiap kali mereka jalan-jalan atau sekadar makan bersama, Dimas tidak pernah membiarkan Kirana mengeluarkan uang sepeser pun.
Perhatian intens yang tanpa jeda Dimas berikan untuk Kirana, perlahan tapi pasti, berhasil meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanan di hati Kirana. Gadis itu jatuh cinta sedalam-dalamnya pada sosok Dimas.
Sampai akhirnya, tepat setelah beberapa bulan kedekatan yang manis itu, Dimas menyatakan perasaannya secara resmi. Di bawah pendar lampu taman yang remang, pria itu menatap mata Kirana dengan penuh keseriusan yang mutlak.
"Kirana... Mas benar-benar ingin kamu menjadi pendamping hidup Mas. Mas serius dan ingin menikahi kamu suatu hari nanti," bisik Dimas dengan nada suara yang terdengar sangat tulus hingga menyentuh relung hati Kirana yang paling dalam.
Kalimat itu membuat kebahagiaan Kirana melambung tinggi menembus awan. Namun, tepat di saat kebahagiaan itu membuncah, sebuah kenyataan pahit langsung menarik kaki Kirana kembali menginjak bumi dengan keras.
Ada dinding raksasa tak kasat mata yang berdiri kokoh menghalangi jalannya janji manis tersebut. Keyakinan mereka berbeda arah. Dimas adalah seorang pria taat yang lahir dari keluarga besar yang memegang teguh tradisi keagamaan leluhur secara kuat dan konservatif, sementara Kirana tumbuh besar di bawah didikan keluarga yang terbiasa menengadahkan tangan di rumah ibadah yang berbeda. Dua keyakinan yang berbeda, dua cara mengadukan doa yang tak sama, di bawah langit yang satu.
"Mas... tapi bagaimana dengan hubungan kita? Keluargamu... perbedaan kita..." lirih Kirana, sepasang matanya mendadak berkaca-kaca, menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang menghimpit dadanya.
Dimas menghela napas panjang, mengecup kening Kirana dengan penuh kehangatan. "Untuk sekarang, kita jalani ini dulu ya, Sayang. Kita rahasiakan dulu hubungan kita dari keluarga Mas. Backstreet adalah jalan terbaik sampai Mas menemukan waktu dan cara yang tepat untuk bicara dengan orang tua Mas. Percaya sama Mas, cinta kita pasti akan menemukan jalannya."
Kirana mengangguk pelan, mencoba menepis segala kecemasan yang mendadak menari-nari di dalam kepalanya. Dia memilih untuk percaya pada janji manis pria darah biru di hadapannya itu. Hubungan rahasia selama dua tahun pun benar-benar dimulai sejak detik itu.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia