NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Seminggu berlalu. Rutinitas kembali berjalan seperti biasa—pagi narik, siang mencari tempat berteduh sambil menunggu order, dan sore pulang menemani kakeknya minum teh. Sesekali ia masih mengantar Profesor Surya ke kampus, namun mereka tidak lagi membahas motor tua itu. Seolah keduanya diam-diam sedang menunggu hari yang dijanjikan.

Hari Sabtu, Zain datang ke laboratorium tepat setelah makan siang. Profesor Surya sudah mengenakan baju kerja berwarna biru tua dengan lengan yang digulung sampai siku. Di atas meja telah tersusun berbagai peralatan: oli baru, busi, aki, kunci ring, hingga kunci sok.

"Siap, Pak?"

Profesor mengangguk. "Hari ini kita lihat apakah dia masih mau bernapas."

Zain tersenyum. "Kasihan juga kalau tiga puluh tahun tidur."

Profesor hanya tertawa kecil.

Pekerjaan dimulai. Oli lama dikeluarkan, warnanya sudah hitam pekat.

"Bukan oli lagi ini," celetuk Zain. "Sudah kayak kopi."

Profesor ikut tertawa. "Bahkan kopi masih lebih encer."

Setelah itu mereka mengganti busi, membersihkan karburator, menguras tangki bensin, dan mengganti selang bahan bakar yang mulai getas. Semua dikerjakan perlahan, tidak terburu-buru. Sesekali Profesor menjelaskan fungsi suatu komponen, dan sesekali Zain mengangguk sambil mengingat kembali pelajaran kuliahnya.

"Pak."

"Hm?"

"Kalau dulu saya dapat dosen kayak Bapak, mungkin IPK saya lebih bagus."

Profesor terkekeh. "Belum tentu."

"Lho?"

"Ilmu itu tetap harus dikejar sendiri."

Sore menjelang, semuanya selesai. Profesor menuangkan sedikit bensin ke dalam tangki.

"Lumayan juga deg-degan," kata Zain.

Profesor mengangguk. "Saya juga."

Ia membuka keran bensin, menunggu beberapa saat, lalu menginjak pedal starter.

Ceklek... Tidak ada suara.

Ia mencoba lagi. Ceklek... Masih diam.

Zain mendekat. "Coba saya, Pak."

Profesor mengangguk sambil bergeser.

Zain menarik napas, lalu menginjak starter dengan sedikit tenaga. Ceklek... ceklek... Belum menyala.

"Hmm..." Ia berpikir sebentar. "Bensinnya sudah turun belum?"

Profesor melihat selang transparan. "Sudah."

"Busi baru. Kompresi juga masih ada." Zain memegang gas perlahan. "Kalau gitu..."

Ia menginjaknya lagi.

Brak!

Brett...!

Mesin seperti batuk, lalu mati lagi.

Mata Profesor Surya langsung berbinar. "Masih hidup!" serunya.

"Sedikit lagi." Zain tersenyum lebar. Ia kembali mencoba—sekali, dua kali, tiga kali.

Tiba-tiba...

Bret... bret... bret... brummmmm...

Suara mesin memenuhi ruangan. Tidak halus, masih pincang, namun hidup. Asap putih tipis keluar dari knalpot.

Zain spontan tertawa. "Hidup!"

Profesor Surya tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri memandangi motor itu. Tangannya perlahan menyentuh setang, matanya berkaca-kaca. Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia tidak pernah lagi mendengar suara mesin tersebut.

Zain mematikan mesin setelah beberapa menit. "Selamat."

Profesor menarik napas panjang. "Terima kasih. Bukan karena motornya hidup, tapi..." Ia memandang Zain. "...karena hari ini saya jadi yakin."

"Yakin apa?"

Profesor tersenyum kecil. "Bahwa saya belum terlambat."

Zain mengernyit. "Maksudnya?"

Profesor tidak menjawab. Ia hanya menepuk tangki motor tua itu pelan. "Masih ada beberapa bagian yang harus disiapkan. Kalau semuanya sudah selesai..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Zain. "...ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan."

Zain kembali penasaran. Selama ini Profesor Surya selalu berkata nanti atau belum saatnya. Entah apa sebenarnya yang sedang ia persiapkan.

Namun satu hal mulai disadari Zain. Motor tua itu bukan sekadar kenangan. Profesor Surya memang sedang menunggu saat yang tepat untuk menggunakannya kembali.

Minggu pagi. Zain memutuskan tidak menarik sejak subuh. Tubuhnya terasa pegal, sementara tangannya masih sedikit kaku karena kemarin berkutat dengan motor tua milik Profesor Surya.

Ia membantu Kakek menyapu halaman. Daun-daun mangga berguguran setelah hujan semalam.

"Kok hari ini santai?" tanya Kakek.

"Libur dulu sehari."

"Bagus. Kamu juga butuh istirahat."

Zain mengangguk. Sesekali memang ia sengaja meliburkan diri. Pendapatannya memang berkurang, tetapi tubuhnya tidak bisa dipaksa terus-menerus.

Selesai menyapu, mereka duduk di teras. Kakek membuka koran Minggu, sementara Zain sibuk membersihkan helmnya.

Tiba-tiba Kakek bertanya, "Kalau benar kamu bisa balik ke tahun delapan puluhan..."

Zain langsung tertawa. "Kakek mulai lagi."

"Jawab dulu."

Zain berpikir sejenak. "Paling cari kerja. Terus nabung, beli rumah, nikah."

"Habis itu?"

"Hidup tenang."

Kakek melipat korannya. "Lalu kalau kamu sudah bahagia... apa kamu bakal balik lagi ke zaman sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Zain terdiam.

"Iya juga ya..." Selama ini ia selalu membayangkan pergi, tidak pernah membayangkan pulang. "Kayaknya..." Ia menggaruk kepala. "...enggak tahu."

Kakek tersenyum. "Makanya. Setiap keinginan selalu punya harga. Kalau bisa dapat sesuatu... biasanya ada yang harus ditinggalkan."

Zain memandangi halaman rumah. Angin pagi meniup pelan jemuran yang tergantung di samping rumah. Entah kenapa, ucapan Kakek terasa berat.

...

Siang harinya, Zain menerima pesan dari Profesor Surya: *Kalau senggang, mampir sebentar. Tidak lama.*

Zain yang memang sedang libur langsung berangkat. Namun kali ini tujuannya bukan ke laboratorium, melainkan Profesor memintanya datang ke rumah—rumah tua yang sudah beberapa kali ia datangi untuk menjemput sang profesor.

"Masuk saja."

Profesor sudah menunggu di ruang tamu. Ruangan itu dipenuhi rak buku—ada buku fisika, teknik, sejarah, bahkan novel-novel lama. Di sudut ruangan berdiri sebuah gramofon tua dan radio jadul yang masih mengilap.

"Wah, barang antiknya banyak ya, Pak."

"Saya memang susah membuang barang." Profesor tersenyum. "Masing-masing punya cerita."

Zain berjalan pelan sambil melihat-lihat. Di dinding tergantung foto-foto hitam putih. Sebagian besar adalah foto kampus, laboratorium, dan beberapa foto keluarga.

Namun ada satu foto yang membuatnya berhenti—foto seorang perempuan yang pernah ia lihat di motor merah marun itu. Usianya sekitar dua puluh tahunan dengan senyum yang hangat. Di bingkai foto itu terselip setangkai bunga melati yang sudah mengering.

"Itu... istri saya." Suara Profesor terdengar pelan.

Zain menoleh. "Maaf, Pak."

Profesor menggeleng. "Tidak apa-apa."

"Istri Bapak sekarang..."

"Sudah lama meninggal."

Ruangan mendadak sunyi. Profesor tidak terlihat sedih, justru wajahnya sangat tenang, seperti seseorang yang telah berdamai dengan kehilangan.

"Beliau sakit?" tanya Zain hati-hati.

Profesor mengangguk pelan. "Iya. Sudah lama. Tahun... sembilan puluh sembilan."

Zain tidak bertanya lagi. Ia merasa itu sudah cukup.

Profesor berjalan ke arah jendela, memandang pohon mangga di halaman. "Kadang saya berpikir..." katanya pelan. "...seandainya waktu memberi manusia satu kesempatan lagi. Satu saja. Apa yang akan saya ubah?"

Zain ikut memandang ke luar jendela. "Kalau saya..." Ia tersenyum kecil. "...saya malah pengin mulai hidup dari tahun delapan puluhan."

Profesor tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Kalau begitu... keinginan kita ternyata berbeda."

Zain mengernyit. "Beda?"

"Saya..." Profesor menatap foto istrinya. "...tidak ingin hidup di masa lalu. Saya hanya ingin..."

Kalimat itu terhenti di bibirnya. Ia menarik napas panjang. "Lupakan saja."

Zain tidak memaksa. Namun untuk pertama kalinya, ia melihat alasan di balik penelitian Profesor Surya.

Mungkin selama ini lelaki tua itu bukan sedang mengejar penemuan terbesar dalam sejarah, tetapi sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah penyesalan.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!