Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: CEMBURU YANG TIDAK DIAKUI
Sesi diskusi kelompok berikutnya jatuh di hari Rabu sore, dan kali ini Kirana sengaja datang lebih awal untuk menata pikirannya sebelum bertemu Alden lagi. Sejak kejadian dengan Reza beberapa hari lalu, dia terus memikirkan kemungkinan yang membuat jantungnya berdebar setiap kali mengingatnya, kemungkinan bahwa Alden benar benar cemburu.
"Kir, tumben datang paling awal," sapa Bagas yang menyusul masuk ruang diskusi, mendapati Kirana sudah duduk sambil membuka laptopnya.
"Iya, biar bisa nyiapin bahan presentasi progress lebih rapi," jawab Kirana, meski alasan sebenarnya lebih rumit dari itu.
Satu per satu anggota kelompok mulai berdatangan, termasuk Dinda yang begitu masuk langsung menghampiri Kirana dengan wajah antusias.
"Kir, Reza nanya nanya soal kamu terus lho ke aku," bisik Dinda, duduk di sebelahnya.
"Katanya dia mau ajak kamu ngobrol lebih lanjut, tapi takut ganggu waktu kelompok."
"Oh," Kirana menjawab singkat, tidak terlalu antusias, meski dia berusaha bersikap sopan.
"Bilang aja makasih udah perhatian, tapi aku lagi fokus kuliah dulu."
"Yah, gitu doang responnya?" Dinda sedikit kecewa. "Padahal Reza orangnya baik lho, Kir."
"Aku percaya kok dia baik, cuma emang belum kepikiran ke arah situ," Kirana mencoba menjelaskan dengan halus, berharap Dinda tidak terlalu memaksa lebih jauh.
Percakapan itu terhenti ketika pintu terbuka dan Alden masuk, membawa map dan laptopnya seperti biasa. Kirana memperhatikan dengan seksama, mencoba membaca ekspresi wajahnya, tapi seperti biasa, Alden berhasil menjaga topeng profesionalnya dengan baik.
"Selamat sore, kita mulai dari update progress minggu ini," kata Alden, duduk di kursinya dan langsung membuka laptop tanpa banyak basa basi.
Sesi diskusi berjalan seperti biasa, membahas kemajuan setiap bagian proyek. Tapi Kirana menyadari Alden masih mempertahankan sikap yang lebih formal dari biasanya, jarang menatapnya langsung, dan pertanyaan pertanyaannya terdengar lebih singkat dan to the point dibanding sebelum kejadian dengan Reza.
"Kirana, laporan analisis finansial yang kamu kirim lewat email udah saya cek," kata Alden, tidak mengangkat wajah dari laptopnya. "Ada beberapa poin yang perlu diperbaiki, saya udah tulis komentarnya di file."
"Baik, Pak, nanti saya perbaiki," jawab Kirana, mencoba tidak terlalu memikirkan nada dingin yang masih terasa di balik kalimat singkat itu.
Diskusi berlanjut sampai hampir dua jam, dan sepanjang waktu itu, Kirana terus memperhatikan pola interaksi Alden, membandingkannya dengan cara dia memperlakukan anggota kelompok lain. Ada perbedaan yang jelas, meski hanya terlihat oleh orang yang benar benar memperhatikan detail sekecil itu.
Begitu sesi diskusi selesai dan sebagian besar anggota kelompok mulai keluar ruangan, Kirana sengaja memperlambat langkahnya, merapikan barang barangnya dengan sengaja pelan sambil menunggu kesempatan bicara berdua dengan Alden.
"Pak," panggilnya begitu ruangan mulai sepi, hanya menyisakan mereka berdua.
Alden mendongak dari laptopnya, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ada yang mau ditanyakan soal proyek?"
"Bukan soal proyek, Pak," Kirana menjawab, memberanikan diri. "Saya cuma... ngerasa Bapak agak beda akhir akhir ini. Lebih formal, lebih jaga jarak dari biasanya."
Alden terdiam sejenak, menutup laptopnya perlahan. "Saya emang lagi coba lebih profesional, sesuai yang udah kita sepakati sebelumnya."
"Tapi ini beda, Pak," Kirana melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Ini mulai berubah sejak Reza dateng ke ruang diskusi kemarin."
Pernyataan langsung itu membuat Alden terdiam lebih lama, matanya menghindari kontak langsung dengan Kirana. "Saya nggak ngerti maksud kamu."
"Pak," Kirana mendesak, meski suaranya tetap lembut, "apa Bapak... cemburu?"
Kata itu terucap begitu saja, membuat suasana di ruangan berubah tegang seketika. Alden menatap Kirana lama, ekspresinya menunjukkan pergulatan batin yang jelas terlihat, antara ingin menyangkal dan tidak mampu berbohong.
"Saya nggak punya hak buat cemburu," jawab Alden akhirnya, suaranya terdengar berat. "Saya dosen kamu, Kirana. Saya nggak punya klaim apa apa atas siapa yang deket sama kamu."
"Tapi itu bukan jawaban dari pertanyaan saya, Pak," Kirana menatapnya lurus, mencoba mencari kejujuran di balik kalimat yang terdengar seperti alasan itu.
Alden menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. "Iya," akunya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Saya cemburu. Dan itu bikin saya sadar, betapa nggak masuk akalnya perasaan saya ke kamu."
Pengakuan itu membuat dada Kirana terasa hangat sekaligus berat di saat bersamaan. "Kenapa nggak masuk akal, Pak?"
"Karena saya nggak punya hak buat ngerasa kayak gitu," Alden menjawab, matanya penuh dengan sesuatu yang sulit Kirana artikan, campuran antara frustrasi dan kelembutan. "Kamu masih mahasiswa saya, masih punya masa depan panjang di depan kamu. Sementara saya, cuma dosen yang harusnya jaga profesionalitas, bukan malah cemburu kayak anak SMA."
Kirana tersenyum kecil mendengar perumpamaan itu, meski hatinya terasa penuh dengan berbagai emosi yang sulit dia urai. "Saya juga ngerasa hal yang sama, Pak. Nggak masuk akal, tapi tetep aja terjadi."
"Kirana," Alden menatapnya lama, suaranya lebih lembut, "saya udah coba berkali kali buat jaga jarak, tapi setiap kali saya coba, rasanya malah semakin susah."
"Mungkin," Kirana menjawab pelan, "karena emang nggak seharusnya kita jaga jarak kayak gitu, Pak. Mungkin kita cuma perlu jujur sama diri sendiri, dan sama satu sama lain."
Alden terdiam, mempertimbangkan kata kata itu dengan serius. "Tapi kejujuran itu punya konsekuensi, Kirana. Kalau ini beneran terungkap, saya bisa kehilangan pekerjaan saya, dan kamu bisa dapet stigma yang nggak adil dari orang lain."
"Saya tau risikonya, Pak," Kirana mengangguk, meski suaranya tetap tegas. "Tapi saya juga capek terus terusan pura pura biasa aja, padahal jelas jelas ada sesuatu di antara kita."
Mereka terdiam sejenak, keheningan yang berat mengisi ruangan itu. Kirana bisa melihat pergulatan batin yang jelas terlihat di mata Alden, antara keinginan untuk jujur dan ketakutan akan konsekuensi yang mungkin terjadi.
"Beri saya waktu," kata Alden akhirnya, suaranya penuh permohonan yang tidak biasa dia tunjukkan. "Saya perlu mikirin ini dengan kepala dingin, bukan cuma berdasarkan perasaan sesaat."
"Saya ngerti, Pak," Kirana mengangguk, meski ada sedikit kekecewaan yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan. "Saya akan tunggu, selama Bapak perlu."
Alden menatapnya dengan tatapan penuh terima kasih, meski wajahnya masih menyimpan keraguan yang besar. "Terima kasih, Kirana. Buat kesabaran kamu, dan buat kejujuran kamu tadi."
Kirana tersenyum kecil, mulai merapikan barang barangnya untuk benar benar pamit. "Sama sama, Pak. Saya cuma pengen kita berdua nggak perlu terus terusan pura pura, meski saya tau situasinya emang rumit banget."
Dia berjalan menuju pintu, tapi sebelum benar benar keluar, dia berhenti sejenak, menoleh ke arah Alden yang masih duduk termenung di kursinya. "Pak, soal Reza, saya nggak ada niat apa apa ke dia. Kontak yang saya kasih cuma buat urusan proyek."
Alden mengangguk pelan, senyum tipis muncul di wajahnya yang masih terlihat lelah. "Saya tau. Tapi terima kasih udah bilang langsung."
Kirana keluar ruangan dengan hati yang terasa lebih ringan meski pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang masa depan hubungan rumit mereka. Sepanjang perjalanan pulang, dia terus memikirkan pengakuan Alden tentang kecemburuannya, sesuatu yang selama ini hanya menjadi dugaan di kepalanya, kini menjadi kenyataan yang diucapkan langsung dari mulutnya sendiri.
Di dalam ruangan yang kini kosong, Alden masih duduk diam, menatap layar laptopnya yang sudah gelap tanpa benar benar melihat apa pun. Pengakuan yang baru saja dia ucapkan terasa seperti membuka gerbang yang selama ini dia coba tutup rapat rapat, dan sekarang, tidak ada jalan untuk kembali ke keadaan seperti sebelumnya, hanya ada pilihan untuk maju dengan segala risiko yang menyertainya, atau mundur dengan rasa sakit yang mungkin akan jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan.