Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
"Aira belum kelihatan, Pak Agus?" tanya Baskara saat mobilnya baru saja diparkirkan di halaman parkir Mabes Ad.
Pak Agus, anak buahnya itu menoleh ke kanan dan kiri. Belum ada tanda-tanda calon istri komandannya itu tiba di sana.
Baskara menatap tajam jam tangannya. Sudah lebih lima belas menit dari janji. Wajah Baskara berubah masam, rahang kokohnya mengeras seketika saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Aira, calon istrinya melalui ponsel pintarnya.
Aira : Bas, maaf agak telat. Macet.
Baskara membuang napas kasar.
"Alasan klise!" ujar Baskara sedikit menahan kesal.
Pak Agus pun menoleh seketika.
"Siap, salah, Komandan," ujarnya cepat.
"Bukan Pak Agus, tapi Aira. Masa dia bilang telat karena macet. Alasan klise, kan? Harusnya bisa lebih diprioritaskan, dong. Ini,kan, mau pengajuan. Masa telat. Dokter kok jam karet!" ucap Baskara kesal.
Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi, mulai bosan menunggu kedatangan Aira. Baskara bahkan bergantian melihat jam tangan dan ponselnya. Terkadang juga menggeram kesal. Ia melirik tajam manakala sehuah mobil putih datang dan parkir tepat di samping mobilnya.
"Itu, Ndan?" tanya Pak Agus.
Baskara mendengus. "Biarin dulu aja, Pak. Nggak usah dibuka pintunya. Biarin aja dia celingukan bingung," ucap Baskara kesal saat melihat Aira baru saja turun dari mobil mengenakan pakaian warna hijau pupus yang menjadi seragam Persit, tas hitam, dan sepatu hitam.
Baskara mengerutkan dahi saat melihat goddie bag merah di tangan Aira.
"Ndan, ini yakin, ni, calonnya dibiarin nunggu diluar? Kalau digodain yang lain gimana,Ndan?"
Baskara yang masih melirik menatap keluar jendela mobilnya pun berdehem. Ia merapikan pakaiannya, sebelum akhirnya membuka pintu.
"Ehem!" ucap Baskara seraya mengenakan topi ped hijaunya.
Aira sedikit terkejut. Ia pun tersenyum saat melihat Baskara di sampingnya. Tangannya menjulur sejurus dengan goddie bag yang ia bawa.
"Halo, Ibas, sorry telat. Ini ada sedikit bingkisan buat kamu," ucap Aira mencoba ramah.
Baskara mengangguk acuh seraya mengambil bingkisan itu dan meletakkannya asal di dalam mobil.
"Makasih bingkisannya. Kamu udah siap?" tanya Baskara tanpa menatap lawan bicaranya.
Aira masih berusaha tersenyum, meski hatinya ingin berteriak dan menangis melihat sikap dingin Baskara.
"Udah."
Baskara mengangkat alis kanannya. "Yakin, udah siap?"
Aira mengerutkan dahi. Ia mulai memeriksa pakaian, tas, berkas, dan sepatu. Semua sudah persis seperti yang disampaikan Baskara dalam pesan.
"Iya. Udah, kok."
Baskara menunjuk bagian rambut panjang Aira yang terurai.
"Itu, rambutnya kenapa enggak dicepol? Di chat kemarin, kan, aku sudah bilang rambutnya dikucir atau dicepol. Kamu beneran udah baca dan paham isi chat-nya atau belum, sih?" ucap Baskara ketus.
Aira menahan napasnya. Terkejut mendapat respon tidak biasa dari Baskara. Ia segera berlari, kedalam mobil mencari karet atau cepol untuk mengikat rambutnya. Dengan cepat rambutnya sudah terikat rapi. Berulang kali Aira mengembuskan napas panjang. Sepertinya, Aira harus belajar sabar menghadapi sikap Baskara.
"Kamu sudah baca semua tentang aku, kan? Berkas yang aku kirim kemarin?"
Aira hanya mengangguk. Tidak menjawab. Hal itu membuat Baskara sedikit kesal. Ia menarik lengan Aira dan meminta Aira untuk menatap ke arahnya. Sedetik kemudian, Baskara sadar jika air mata Aira sudah mulai mengambang.
"Kamu nangis?" tanya Baskara.
Aira cepat-cepat berdehem dan mengedip-ngedipkan mata agar air matanya tidak jatuh.
"Enggak. Ada bulu mata yang masuk tadi. Ini udah aman,"jawab Aira mencoba tetap tersenyum.
Baskara mengangguk tak acuh. Mereka kembali berjalan dan duduk untuk menunggu giliran wawancara dengan Aspers Kasad (Asisten Personalia Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Suradi. Atas permintaan ayah Baskara, Jenderal Gunawan Wibisono lewat "surat sakti" yang diterbitkan, proses pengajuan menikah Baskara bisa dipangkas.
Berulang kali Aira mengembuskan napas seraya mencoba tersenyum saat bertemu dengan atasan Baskara.
"Jadi, kamu anak Bang Hendra, ya? Wah, saya nggak mengira kalau Bang Hendra dan Bang Gun jadi juga besanan," ucap Mayjend Suradi.
Baskara dan Aira tampak tersenyum. Mereka sepakat untuk menampilkan raut wajah bahagia penuh cinta, alih-alih rasa kesal karena harus menikah jalur perjodohan.
"Saya nggak usahlah ngetes calon istrimu dengan menanyakan hal-hal dasar. Saya anggap calonmu ini sudah hapal perkara NRP dan pangkat serta kedinasanmu, Bas. Saya akan menanyakan hal lain. Boleh, Bas?" tanya Mayjend Suradi pada Baskara.
Baskara dengan lantang berucap siap. Ia menatap Aira melalui ekor matanya. Gadis itu tampak sangat gugup meskipun wajahnya tersenyum lebar.
"Aira, apa kamu sudah benar-benar siap menikah dengan Baskara? Saya beri bocoran saja, ya, Aira, Letnan Baskara ini termasuk prajurit berprestasi, cerdas, dan berdedikasi. Dia sering mendapat misi-misi yang memungkinkan kalian menjalani long distance marriage. Kamu sudah siap, Aira?"
Aira menggigit bibir bagian bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram rok, dari situ Baskara dapat merasakan jika Aira tidak benar-benar siap untuk menikah. Sama seperti dirinya. Baskara memperhatikan ketika Aira menjawab. Semua dijawab dengan tutur kata yang sopan, baik, dan tertata rapi. Baskara merasa sedikit berbangga karena calon pasangannya termasuk orang terpelajar.
"Setelah ini sudah selesai, kan?" tanya Aira sesaat setelah keluar dari ruang kerja Mayjend Suradi.
Baskara mengangguk.
"Makasih udah datang. Surat izin menikah tinggal menunggu dan setelah itu akad nikah bisa segera dilakukan."
Aira menahan napas sejenak saat mendengar kata "akad". Ia tahu dirinya dan Baskara memang sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Mereka melakukannya demi kebaikan bersama.
"Kalau begitu, aku pamit," ucap Aira seraya melambaikan tangan dan masuk ke mobil pribadinya.
Sementara itu, Baskara yang sudah duduk di dalam mobil terus memperhatikan mobil Aira yang kian menjauh. Pandangannya tertuju pada goddie bag merah yang diberikan Aira tadi. Baskara mengerutkan dahi manakala ia menemukan sebuah lunch box dengan lauk model bento di dalamnya. Nasi goreng yang dibentuk jadi boneka teddy bear, berselimutkan telur dadar, dengan brokoli rebus dan wortel yang dibentuk jadi bunga. Ditambah nugget bentuk huruf yang sengaja membentuk nama BASKARA.
Senyumnya mengembang seketika.
Selamat makan, aku effort banget masaknya. Semoga suka.
Baskara membuka penutup lunchboxnya dan mengambil gambar bekalnya. Ia mengirimkan pesan singkat pada Aira dengan gambar itu.
Baskara: Makasih bekal lucunya.
___________________