Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kepanikan Satu Organisasi
Senin pagi bergulir membawa atmosfer yang sangat berbeda di mansion Ardiansyah, setelah melewati hari Minggu yang damai tanpa senjata, hari pertama kerja di minggu yang baru ini justru dibuka dengan kepanikan yang tak terduga.
Pukul tujuh pagi, meja makan utama tampak kosong. Justin, yang biasanya sudah rapi dengan setelan kemeja kerja dan siap memberikan instruksi dinginnya, belum juga turun dari lantai dua.
Di ruang tengah, Marco sudah berdiri kaku dengan berkas operasional pelabuhan di tangannya, sesekali melirik jam dinding dengan cemas.
Di dalam kamar tidur utama, gorden beludru abu-abu masih tertutup rapat, menghalangi sinar matahari pagi.
Di atas ranjang king size, sang penguasa kegelapan metropolitan terbaring tak berdaya di balik selimut tebal.
Wajah tegas Justin tampak agak memerah, dan napasnya terdengar berat serta panas.
Kimberly duduk di tepi ranjang, menempelkan punggung tangannya ke dahi Justin, wajah gadis desa itu langsung dipenuhi rasa khawatir.
"Astaga, Mas... dahimu panas sekali. Mas Justin demam."
Justin membuka matanya perlahan, sepasang mata elang yang biasanya memancarkan kilat sadis itu kini tampak sayu dan berair.
"Aku tidak apa-apa, Kim... hanya pusing sedikit. Ambilkan jas hitamku, aku harus memimpin rapat koordinasi wilayah timur jam sembilan ini," ucap Justin, suaranya serak dan parau.
Pria itu mencoba bangkit, namun baru saja mengangkat kepalanya beberapa senti dari bantal, dia langsung mengerang pelan dan kembali ambruk karena pusing yang hebat.
"Tidak ada rapat-rapat hari ini, Mas!" tegas Kimberly, menahan dada bidang Justin dengan kedua tangan kecilnya agar suaminya tidak nekat bangun.
"Singa kalau sedang sakit itu tetap harus meringkuk di dalam sarang. Mas tidur saja yang tenang, biar aku yang urus semuanya di sini."
Kimberly segera bangkit dan membuka pintu kamar, di luar, Marco langsung membungkuk hormat dengan wajah tegang.
"Nyonya Besar, Tuan Besar sudah terlambat lima belas menit dari jadwal biasanya. Apakah ada masalah darurat?"
"Mas Justin demam tinggi, Marco. Hari ini seluruh jadwalnya harus dibatalkan. Dia tidak boleh keluar kamar," ucap Kimberly cepat.
Mendengar kata 'demam tinggi', mata Marco langsung terbelalak, wajah kakunya berubah pucat pasi seolah baru saja mendengar kabar bahwa markas pusat mereka diserang rudal.
"T-Tuan Besar sakit? Sebentar, Nyonya! Saya akan segera menghubungi tim medis khusus The Syndicate, memanggil dokter spesialis terbaik dari rumah sakit internasional, dan memperketat penjagaan berlapis di sekitar kompleks!"
Bagi organisasi sebesar The Ardiansyah Syndicate, kesehatan sang pemimpin tertinggi adalah stabilitas politik.
Jika musuh mencium kabar bahwa Justin sedang melemah, faksi-faksi kecil di luar sana bisa saja memanfaatkan celah untuk bergolak.
Kimberly menepuk dahinya pelan melihat reaksi Marco yang terlalu ekstrem.
"Aduh, Marco, jangan lebay begitu. Mas Justin itu cuma demam biasa, mungkin karena kelelahan dan kemarin sore terlalu lama duduk di kebun belakang kena angin malam. Tidak perlu panggil helikopter medis. Tolong pesankan saja es batu untuk kompres dan ambilkan air hangat ke sini."
"B-Baik, Nyonya Besar," jawab Marco gugup, segera berbalik setengah berlari menuruni tangga untuk melaksanakan perintah.
Satu jam kemudian, suasana di dalam kamar utama berubah menjadi ruang perawatan tradisional khas desa.
Kimberly tidak menggunakan obat-obatan kimia dosis tinggi yang biasa tersimpan di kotak obat mewah milik Justin, sebagai anak dari pembuat jamu, dia tahu betul apa yang harus dilakukan.
Di dapur bawah, Kimberly telah merebus ramuan jahe merah, kencur, dan daun sereh yang ditambahkan sedikit gula batu untuk meredakan panas dari dalam.
Sekarang, dia kembali ke kamar membawa mangkuk ramuan tersebut dan sebotol minyak kayu putih alami, Justin menatap mangkuk yang dibawa istrinya dengan pandangan pasrah.
"Kim... apa aku harus minum cairan aneh lagi?"
"Ini bukan brotowali yang pahit itu, Mas. Ini wedang jahe hangat dicampur kencur supaya keringat reogmu keluar dan panasnya turun," ucap Kimberly lembut, membantu Justin untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Dengan telaten, Kimberly menyuapkan sendok demi sendok ramuan hangat itu ke mulut Justin, sang mafia yang ditakuti seluruh kota hanya bisa menurut seperti anak kucing yang patuh, menelan ramuan herbal itu hingga tetes terakhir, setelah itu, Kimberly meminta Justin untuk membuka kaos oblongnya.
"Mau diapain lagi, Kim?" tanya Justin serak, menatap botol minyak kayu putih di tangan istrinya.
"Mau dikerok, Mas. Punggung Mas Justin ini kaku sekali, pasti karena masuk angin parah," jawab Kimberly santai, mengeluarkan sebuah koin logam seribuan lama dari saku celemeknya.
Di dunia luar, punggung Justin adalah tempat di mana tato naga hitam besar meliuk dengan gagah, simbol kekuasaan yang tak tersentuh.
Namun hari ini, di bawah jemari terampil Kimberly, punggung kokoh itu diolesi minyak kayu putih hingga licin, lalu digosok perlahan menggunakan koin logam secara berurutan.
Sret... sret... sret...
"Ugh..." Justin mengerang pelan saat koin itu menekan kulitnya.
Rasa hangat cenderung panas langsung menjalar, membuat pori-pori kulitnya terbuka. Dalam beberapa menit, garis-garis merah tua langsung terbentuk di sepanjang sisi tulang belakangnya, kontras dengan warna hitam tato naganya.
"Tuh, kan! Merah sekali warnanya, Mas. Ini namanya masuk angin tingkat dewa. Untung segera dikerok," ujar Kimberly puas, membersihkan sisa minyak di punggung suaminya dengan kain bersih sebelum memintanya kembali berbaring dan menyelimutinya dengan tebal.
Sementara Justin mulai tertidur lelap karena efek rileks dari kerokan dan kehangatan jahe, di ruang tengah lantai bawah, ponsel pintar milik Marco terus bergetar tanpa henti. Grup obrolan terenkripsi "The Core" kembali gempar luar biasa.
Leon_West: Marco! Kenapa rapat distrik timur dibatalkan tiba-tiba?! Apakah ada pergerakan musuh yang tidak kami ketahui? Apakah Tuan Besar sedang merencanakan serangan senyap?!
Kael_Fin: Seluruh tim finansial menahan napas di sini. Tolong berikan kode situasinya, Marco! Status merah atau hitam?
Marco_Right: Status: Mas Justin sedang dikerok pakai koin seribuan oleh Nyonya Besar karena masuk angin.
Hening melanda grup selama dua menit penuh, sebelum Leon kembali membalas.
Leon_West: Dikerok?! Koin?! Benda tajam jenis apa lagi itu?! Apakah itu teknik penyiksaan baru dari desa untuk mengeluarkan informasi?!
Gavin_South: Bodoh kau, Leon! Itu pengobatan tradisional biar anginnya keluar! Marco, tolong pastikan Nyonya Besar membuatkan sup ayam kampung hangat untuk Tuan Besar. Dan jangan biarkan beliau terkena angin AC dulu!
Marco hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perdebatan di grup tersebut, dia meletakkan ponselnya, merasa lega karena di bawah kendali sang nyonya besar, bos mereka berada di tangan yang paling aman.
Pukul dua siang, Justin terbangun dari tidur nyenyaknya, tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan peluh keringat dingin membasahi kaos yang dipakainya, tanda bahwa demamnya mulai mereda.
Pusing di kepalanya yang tadi pagi terasa melumpuhkan, kini telah hilang hampir sepenuhnya.
Dia menoleh ke samping dan menemukan Kimberly sedang tertidur pulas dalam posisi duduk di kursi samping ranjang, dengan kepala yang bersandar di tepi kasur.
Tangan kecil istrinya masih memegang saputangan basah yang tadi digunakan untuk mengompres dahinya.
Justin menatap wajah damai istrinya dengan tatapan yang dipenuhi kehangatan dan rasa cinta yang tak terukur.
Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut pipi merona Kimberly tanpa ingin membangunkannya.
Bagi dunia luar, seorang Justin Devano Ardiansyah adalah sosok monster pelindung yang tak pernah boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Namun di dalam kamar ini, di hadapan gadis desa yang kini menjadi istrinya, menunjukkan kerapuhan bukanlah hal yang menakutkan.
Karena dia tahu, sekujur tubuhnya yang dipenuhi dosa dan kelelahan perang akan selalu disembuhkan oleh ketulusan ramuan jahe, kerokan koin seribu, dan kasih sayang murni yang dibawa Kimberly ke dalam hidupnya.
Justin tersenyum tipis, menarik selimutnya sedikit untuk menutupi bahu Kimberly yang tertidur, menikmati momen Minggu-Senin yang aneh namun paling membahagiakan dalam sejarah hidup rumah tangga mereka.