NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Berkas Hitam

#

Kantor pelabuhan tua itu udah lama nggak dipake, gedungnya kelabu dimakan usia, catnya udah pada ngelupas, dan beberapa jendelanya udah pecah, cuma ditutupin triplek seadanya. Dulu, katanya, gedung ini pusat administrasi pelabuhan sebelum ada yang baru dibangun lebih deket ke laut, dan sekarang cuma dipake buat nyimpen arsip arsip lama yang, katanya, "belum sempet dimusnahin" tapi juga "nggak penting penting amat buat disimpen di tempat yang lebih aman."

Rendra sama Kirana berdiri di balik pagar besi yang udah karatan, jam dua belas malem, dan udara di situ bau amis, campuran bau laut sama bau lumpur yang nggak pernah bener bener kering.

"Kamu yakin ini tempatnya?" Rendra bisikin, matanya nyapu ke sekeliling, was was.

"Yakin," Kirana jawab, singkat, "penjaganya cuma satu, dan biasanya dia tidur jam segini, apalagi kalo abis minum."

Mereka nyelinap lewat celah pagar yang emang udah bolong di bagian belakang, jalan pelan pelan di antara bayangan gudang gudang tua, dan begitu mereka nyampe di deket gedung arsip, Kirana ngasih isyarat buat berenti, ngintip dulu lewat jendela kecil.

Ada cahaya lampu kecil di pos jaga, dan sesosok orang tidur, kepalanya nunduk di atas meja, suara dengkurannya kedengeran sampe ke luar.

"Aman," Kirana bisikin, dan mereka lanjut jalan, ngelewatin pos jaga itu tanpa suara, sampe ke pintu belakang gedung arsip yang emang udah lama nggak dikunci rapet, mungkin soalnya emang nggak ada yang peduli sama isinya.

Di dalem, debunya tebel banget, bikin Rendra langsung pengen bersin tapi ditahan mati matian, dan rak rak besi berjejer panjang, penuh box box kardus yang udah menguning, label labelnya udah pudar, susah dibaca.

"Kita cari apa persisnya?" Rendra tanya, pelan, senter kecil di tangannya nyorotin rak rak itu satu satu.

"Arsip tahun berapa Ariel meninggal?" Kirana balik nanya.

"Sekitar dua ribu, dari yang saya baca di koran koran lama."

Mereka mulai nyari, rak demi rak, box demi box, dan debunya bikin tangan mereka item item, bikin mata pedih, tapi mereka nggak berenti, soalnya waktu mereka terbatas banget, penjaga itu bisa bangun kapan aja.

Setelah hampir satu jam nyari, Kirana akhirnya ngangkat satu box yang label tulisannya masih agak keliatan, "ARSIP INVESTIGASI 2000, tidak untuk disebarluaskan."

"Ini kayaknya," Kirana bilang, ngangkat box itu, dan mereka duduk di lantai, buka box itu pelan pelan, takut kertasnya rusak soalnya emang udah rapuh banget dimakan waktu.

Di dalemnya, ada tumpukan kertas, laporan laporan lama yang ditik pake mesin ketik, hurufnya udah agak buram tapi masih bisa dibaca kalo diteliti pelan pelan.

Rendra ngambil satu berkas yang paling atas, dan begitu dia baca judulnya, jantungnya langsung berdebar kenceng.

"LAPORAN INVESTIGASI KEMATIAN ARIEL WIJAYA, INSINYUR PT. ***, DIHENTIKAN ATAS PERMINTAAN PIHAK TERKAIT."

"Kirana," Rendra bisikin, suaranya gemeteran, "ini dia. Ini ada laporannya."

Mereka baca bareng bareng, lembar demi lembar, dan makin dibaca, makin jelas kelihatan, kalo penyelidikan awal soal kematian Ariel Wijaya itu, awalnya emang beneran diselidiki, ada beberapa saksi yang bilang, "korban terlihat gelisah beberapa hari sebelum kejadian, mengaku merasa diikuti," ada juga catetan soal kondisi laboratorium yang "menunjukkan tanda tanda gangguan pada sistem sebelum ledakan terjadi, tidak sesuai dengan kesimpulan resmi kecelakaan murni."

Tapi di bagian akhir laporan itu, ada catetan singkat, ditandatangani sama seseorang yang namanya cuma disebut sebagai "Kepala Unit Investigasi", yang isinya bilang penyelidikan dihentikan "atas permintaan resmi dari pihak penyandang dana", dan di kolom pihak penyandang dana itu, bukannya nama lengkap, yang ada cuma inisial.

W.H.

Rendra ngeliatin inisial itu lama banget, tangannya megang kertas itu makin erat, sampe kertasnya sedikit remuk.

"W.H.," dia bisikin, suaranya kayak orang yang lagi nahan napas, "Kirana, ini... ini kan..."

"Wisnu Hartono," Kirana ngelengkapin, suaranya juga pelan, penuh keheranan yang sama, "bapak angkat kamu."

Rendra diem, dadanya kayak dihantem beribu ribu palu sekaligus. Dia inget lagi, jelas banget, malem penangkapan dulu, kalimat yang dia denger lewat celah pintu, "aku sudah lakukan bagianku, jangan sentuh anak itu lagi." Dia inget lagi, catetan kaki transaksi yang nyebutin inisial "P.H." yang nggak ada yang peduliin. Dan sekarang, inisial baru, W.H., muncul lagi, di tengah dokumen yang jelas jelas nunjukin, penyelidikan kematian ayah kandungnya sendiri, dihentikan paksa oleh seseorang yang inisialnya sama persis kayak ayah angkatnya.

"Ini nggak mungkin kebetulan," Rendra bisikin, matanya udah berkaca kaca, campuran antara marah dan sedih yang nggak bisa dia pisahin lagi satu sama lain, "Wisnu, dia... dia tau. Dia tau dari dulu soal kematian ayah saya. Mungkin dia bahkan yang bikin penyelidikan ini dihentiin, biar kebenarannya nggak pernah kebongkar."

Kirana diem, ngeliatin Rendra yang lagi berjuang nahan emosinya sendiri, dan dia naruh tangan di bahu Rendra, pelan, "kita belum tau pasti, Rendra. Inisial doang belum cukup jadi bukti kuat. Tapi ini... ini petunjuk gede banget."

"Kirana, dia ngasih saya rumah. Dia ngangkat saya jadi anak. Dan sekarang saya nemuin, mungkin, dia juga yang bikin ayah kandung saya mati, dan diem diem ngangkat saya cuma buat, buat apa, nutupin dosa dia? Biar keliatan baik di depan publik?"

Suaranya makin lama makin bergetar, dan akhirnya, di tengah gedung arsip yang gelap dan berdebu itu, Rendra nangis, nangis yang beda dari nangis nangis sebelumnya, ini nangis yang keluar dari kemarahan yang bercampur sama rasa kehilangan yang berlapis lapis, kehilangan ayah kandung yang bahkan nggak pernah sempet dia kenal, kehilangan keluarga angkat yang ternyata cuma kedok, kehilangan bertahun tahun hidupnya yang mungkin, mungkin banget, cuma bagian dari rencana seseorang buat nutupin kejahatan yang jauh lebih besar.

Kirana duduk di sebelahnya, nggak ngomong apa apa, cuma nemenin, ngebiarin Rendra ngelewatin momen itu, dan buat pertama kalinya, Rendra ngerasa, meski Kirana nyimpen banyak rahasia sendiri, meski dia sendiri nggak pernah bener bener terbuka soal siapa dirinya, di momen momen kayak gini, dia beneran ada, beneran nemenin, dan itu artinya banyak banget buat Rendra yang udah lama banget nggak ngerasa punya siapa siapa.

Mereka duduk di situ lumayan lama, sampe akhirnya Rendra bisa nenangin diri, ngelap air matanya kasar pake lengan baju, dan dia mulai mikir lebih jernih, lebih strategis, kayak yang udah dia latih berbulan bulan sama Om Timur dan Pak Wahyu.

"Kita harus salin ini," Rendra bilang, suaranya udah lebih stabil, "kita nggak bisa bawa aslinya, ntar ketauan ada yang ilang. Tapi kita harus punya salinannya, buat bukti nanti."

Kirana ngangguk, ngambil hp nya, mulai motoin tiap halaman laporan itu satu satu, pelan pelan, hati hati banget biar nggak ketinggalan detail apapun, dan Rendra bantuin megangin kertas kertas itu biar posisinya pas buat difoto, tangannya masih agak gemeteran tapi tekadnya udah beda, udah lebih keras dari sebelumnya.

Waktu mereka lagi asik motoin halaman terakhir, tiba tiba mereka denger suara langkah kaki dari luar, dan suara batuk batuk yang keliatan familier.

"Penjaganya bangun," Kirana bisikin, panik dikit, "cepet, kita harus balikin ini semua ke box nya, terus keluar sebelum dia ke sini."

Mereka buru buru masukin lagi berkas berkas itu, susunannya diusahain sama kayak semula biar nggak keliatan ada yang ganggu, dan begitu box itu ketutup lagi, mereka nyelinap keluar lewat pintu belakang, jalan cepet tapi tetep berusaha diem diem, jantung mereka berdua berdebar debar kenceng, sampe akhirnya mereka berhasil keluar dari kompleks pelabuhan itu tanpa ketauan.

Di jalan pulang, di dalem mobil butut yang Kirana pinjem dari salah satu kenalannya, Rendra duduk diem, matanya nerawang ke luar jendela, ke jalanan kota yang sepi jam segitu, dan tangannya masih megang hp Kirana yang isinya foto foto berkas tadi, dia buka lagi foto halaman terakhir itu, ngeliatin inisial W.H. yang tertulis rapi di situ, dan dia genggem hp itu erat banget, seolah olah kalo dia lepasin, kebenaran itu bakal ilang lagi kayak dulu dulu.

"Rendra," Kirana manggil, matanya masih fokus nyetir, "kamu nggak apa apa?"

"Enggak," Rendra jawab, jujur, suaranya masih berat, "tapi saya akan baik baik aja. Karena sekarang, saya tau harus mulai dari mana."

Dia ngeliat lagi inisial itu, W.H., dan di kepalanya, satu nama udah kebentuk jelas banget, nama yang selama tujuh bulan terakhir dia coba lupain, dia coba relain, tapi sekarang, malah jadi target pertama dari perjalanan panjang yang bakal dia tempuh.

Wisnu Hartono.

1
Vie
pasti dia sangat tertekan juga dihantui rasa bersalah seumur hidupnya tentang Damar dulu.. 😥
Vie
tetap semangat Damar... 👍🏼👍🏼💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Vie
mungkin dia mencium sesuatu yang janggal dari kasus tersebut, makanya dia tidak berhenti mencari kebenaran kejadian tersebut. apalagi sampai merenggut banyak nyawa, termasuk nyawa Damar... 🤔🤔
Vie
mereka juga mungkin sama aadalah korban juga... karena harus berbohong jadi mereka tenggelam dalam penyesalan tak berujung karena meninggalnya Damar
Vie
oohh pantesan dia ngorbanin Damar dulu mungkin kah karena ini juga?
Vie
nah... gitu.. tetaplah jaga hatimu jangan sampai berubah, apapun yang terjadi... sebab kepercayaan kalau sudah rusak maka akan sulit untuk kamu dapatkan kembali...
Vie
dia merasakan juga apa yang kamu rasakan.. apakah mungkin dia juga sama nasibnya.. mungkin tidak beda jauh dengan kamu....
Vie
nanti juga kamu bakalan nemu jawaban nya sendiri👍🏼👍🏼..
Vie
waaahh beneran gila sih kalau emang beneran gitu... dia seolah hanya dipaksa untuk bekerja mencari hal baru, dan setelah ketemu dibuang gitu aja kayak gak berharga 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️ manusia emang lebih menyeramkan daripada hewan buas sekalipun, malah lebih buas dari hewan buas sekalipun 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan itu yang lebih berbahaya... karena yang bermain adalah otak yang tidak ada jejak fisik nya, karena tidak akan meninggalkan bekas ditubuh...
Vie
ooohhh.... mungkin kah ini alasan kecil dibalik semua kejadian yang menimpa Damar? 🤔🤔
Vie
nah gitu dong.. 👍🏼👍🏼
Vie
nah. begitulah kalau orang yang gak pernah atau jarang berbohong.. sekalinya bohong, dia harus puter otak dulu yang lamaaaaa buat nyari alasan yang tepat juga logis, walaupun hati sudah dag dig dug mau pecah biar bisa dipercaya🤭🤭 tapi kalau orang yang pintar bohong, hanya satu detik dia udah punya jawaban untuk menutupi kebohonganya... tapi orang jujur malah susah untuk hidup aman dan tenang, tapi orang yang gak jujur malah hidupnya tenang2 aja 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan apakah ini adalah kakek nya Damar ya??
Vie
waahh siap tuh Ariel.. yng pasti bukan Noah ataupun ngu ah🤭🤭 apakah dia ayah yang sebenarnya Damar 🤔🤔🤔menarik.... 👍🏼👍🏼
Vie: cari aman kah kak? 😂😂
total 2 replies
Vie
ya... mungkin semua itu pasti ada yang menjadi penyebab utamanya dari semua kejadian yang menimpa Damar....
Vie
waaahh.. siapa tuh???
Vie: iya tau bukan Ariel Noah kok 🤭
total 2 replies
Vie
what 😱😱😱..
Vie: why 🤭🤭
total 2 replies
Vie
sok lah kamu harus bisa pecahin teka teki kehidupan mu sendiri Damar... 💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
Vie
iihh kasian juga si Sahsa jadi korban juga... nih. sebenarnya siapa sih yang punya niat jahat...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!