Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Shena..
Varren, Sylas, dan Tavian menjadi pusat perhatian karena ketampanan mereka. Bukan apa-apa, Sylas yang berwajah sangat dingin kontras dengan Varren yang terlihat humble dan welcoming, bahkan sesekali ia tersenyum menyapa perempuan di sana. Sama dengan Tavian yang sesekali heboh melihat perempuan cantik. Sylas hanya tak bersuara menatap tingkah Varren dan Tavian.
"Gile seksi beut tu. Lihat bodynya." ujar Tavian menggerakkan tangannya seperti menggambarkan body perempuan yang dia lihat.
Varren di sana bersorak mengangguk. "Asli sih. Bohay uy." ujar Varren terbahak. Tavian di sana bertepuk tangan pada Varren. Varren sudah terbiasa akan hal semacam ini, bukan apa-apa. Hidup menjadi laki-laki seumur hidup sejak dirinya bayi, Varren sudah terbiasa mengatakan hal-hal tak senonoh seperti pria pada umumnya.
Sylas berdecap melihat keduanya. "Kita jadi nggak sih belanja?" tanya Sylas terdengar.
Varren dan Tavian mengangguk. "Cekileh bos, sesekali lihat kecantikan lirik dikit napa. Diem baek. Kayak gay loe tau nggak..!!" ujar Varren menepuk pundak Sylas.
Sylas melepaskan tangan Varren di pundaknya menatap Varren sengit. Varren cengengesan menatap Sylas. "Bercanda. Yaampun muka loe kayak orang belum gajian." lanjut Varren mencibirnya.
Sylas mendengus malas mendengar ejekan Varren. Tavian merangkul bahu Varren. "Udah lah Ren. Bos mah jaim terus sama cewek. Kita aja yuk." ujarnya. Varren menaik turun alisnya melirik Sylas yang menatap keduanya malas. Varren mengambil satu troli besar dan langsung ditarik oleh Sylas. Varren meliriknya dan menaikkan satu alisnya.
"Biar gue aja." ujarnya.
Varren mendengarnya berdehem pelan lalu segera menjauh menuju rak makanan pertama. Camilan. Sylas hanya diam mendorong troli menuju tempat menjual makanan di sana tenang dengan Varren memilah-milah barang.
"Ini Ren enak." ujar Tavian memberikan satu snack yang akan dibeli. Varren berdehem memilih barang yang akan dimasak.
Sampai troli penuh, Varren dan teman-temannya siap mengantri.
"Biar gue yang bayar." ujar Sylas saat di depan kasir.
"Eh bagi dua aja gimana?" tanya Varren pada Sylas.
Sylas menatap Varren kesal. "Gue mampu bayar semuanya kali." ujarnya malas.
Tavian menepuk pundak Varren dan berbisik. "Sylas kaya jadi nggak usah khawatir." bisiknya pelan.
Varren diam mengangguk mendengarnya, melirik Sylas yang menyelesaikan semua pembelian.
"Kita beli roti dulu yuk buat sarapan. Gue suka beli roti di sana." ujar Varren pada teman-temannya.
"Gue juga suka beli di sana." ujar Sylas menyahut.
Varren menatapnya berbinar. "Emang enak sih." ujar Varren. Segera ketiganya menuju tempat membeli roti. Tak tanggung mereka membeli berbagai jenis roti yang bisa disiapkan untuk seminggu mendatang. Lumayan untuk sarapan di pagi hari.
"Varren.."
Varren melirik ke belakang dan menatap kaget sosok tersebut. Shena yang berjalan bersama dua pengawalnya. Di samping Shena, ada seorang pria muda tampan yang menggandeng lengannya erat—Davin, berondong Shena yang selalu ia bawa ke mana-mana. Hanya Varren yang tahu hubungan sebenarnya antara mereka.
Sylas dan Tavian melirik Shena yang datang dengan raut wajah dingin dan tajam, lalu di susul oleh Amel yang berjalan di belakangnya. Sialan.
"Sedang apa kamu di sini? Mengapa tidak pulang?" tanya Shena pada Varren saat sudah di depan mereka.
Varren menatap Shena dingin dan tak suka. "Karena nggak ada rumah." ujar Varren tenang.
"Wah kamu semakin lama semakin berani yah sama mama." ujar Shena dingin.
Varren hanya diam menatap ibunya dingin lalu melirik Amel yang tak angkat suara.
"Siapa Ren?" tanya Tavian pada Varren yang diam tak lagi bicara pada Shena. Sylas diam-diam mengamati keseluruhan antara mereka berdua.
Varren mengibas tangannya. "Nyokap gue." ujar Varren kesal.
"Wah loe anak bu Shena." ujarnya kaget. Varren meliriknya dan berdehem. "Gilek. Orkay loe coy. Gue pikir loe anak siapa. Eh siang bu, saya temannya Varren." ujar Tavian hendak menyalami tangan Shena.
Sedangkan Shena hanya menatap tangan Tavian dingin enggan menanggapinya. Tavian menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan melirik temannya malu. Varren melihat ibunya sangat kesal.
"Pulang Varren. Mama ada yang mau dibicarakan sama kamu." ujar Shena dingin tak senang pada Varren.
Varren menatap ibunya kesal. Tau dirinya Shena hanya marah karena dirinya tidak mau olimpiade matematika, ibunya pasti akan menghukumnya. Varren melirik Tavian dan Sylas yang diam saja melihatnya malas.
"Mau bicara masalah apa?" tanyanya mencoba tenang.
"Varren.." tegas Shena.
Varren mengibas-ngibas tangannya melirik ibunya tak senang. "Iya nanti Varren pulang." ujar Varren menjauh.
"Udah Varren mau pergi dulu. Bay." ujar Varren pada Shena dingin.
"Varren.. ini masalah anak pembantu itu." jelas Shena dingin pada Varren.
Varren mengepalkan tangan mendekati Shena dingin. Shena menyeringai menatap Varren yang mendekatinya.
"Basi Mah. Basi. Varren udah cape nurutin semua kemauan mama. Mama mau apa lagi ha???" tanya Varren dengan suara bergetar menahan amarah.
Shena mengepalkan tangannya. "Mama besarin kamu bukan buat kamu jadi pembangkang."
"Iya soalnya mama besarin Varren karena obsesi mama kan??? Bilang aja mama cacat nggak bisa punya anak laki-laki." bisik Varren menyeringai pada Shena.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Varren. "Varren..!" Tavian mendekati Varren kaget saat Varren ditampar kuat oleh Shena di depan umum. Bahkan Varren hampir terjungkal jika tidak ditahan oleh Tavian.
Varren memegang pipinya yang lebam menatap ibunya dingin. Sylas diam menatap lamban Shena dingin.
"Bahkan mama nggak bisa terima kenyataan kan?" tanya Varren.
Shena menatap Varren tersenyum miring dan berdehem. "Varren, kamu salah main-main dengan mama…" gumamnya lalu menjauh dari Varren. Davin yang menggandeng lengannya dan pergi dengan ekpresi yang sulit di tebak ke arah Varren sebelum mengikuti Shena pergi.
Varren mengepalkan tangan menatap Shena dingin. Sialan, mati saja kau bedebah.
"Ren loe nggak apa-apa? Nyokap loe kenapa mukul loe?" tanya Tavian pada Varren khawatir.
Varren mengusap pipinya yang terasa kebas dan mengangkat bahu acuh. "Biasalah. Nggak apa-apa, santuy aja lah." ujar Varren padanya.
Tavian meringis mendengarnya. "Gue berasa beruntung nggak punya nyokap kalo gini caranya." gumamnya pelan.
"Nyokap loe kemana?" tanya Varren menaikkan satu alisnya.
"Udah jadi ubi," jelas Tavian polos.
"Si anj. Nyokap udah meninggal di-roasting." ujar Varren menepak kepala belakang Tavian.
Tavian malah terbahak mendengarnya. "Lah iya anjir. Nyokap orang nggak ada di tanem di tanah, dia malah ditanem dan jadi ubi." ujar Tavian terkekeh sedangkan Varren ikut tertawa hambar. Sebab tahu sebenarnya Tavian sudah menerima kenyataan tapi tetap ada rasa sakit saat pengucapan.
"Kita obatin aja luka loe dulu." ujar Sylas kepada Varren.
Varren mengambil plaster di sakunya. "Santuy lah. Ini tu luka kecil." ujar Varren mengusap pelan pipinya. Lalu menaruh handiplas di luka yang menurutnya pas.
"Udah kan." ujar Varren menaik turun alisnya.
Tavian menggeleng mendekati Varren. "Miring cok." ujarnya.
"Ahk peri." Tavian menarik lagi plaster yang dipasang.
Tavian terbahak saat Varren kesakitan. "Katanya luka kecil, tapi kesakitan." ujarnya menepuk pipi Varren yang terluka.
Varren menatap Tavian penuh permusuhan. "Ya kali nggak ngerasa sakit. Gue nggak nuntut ilmu kebal cok." ujar Varren.
"Varren anjing." ujar Tavian membuat Varren terbahak.
Sylas hanya diam melihat Varren dan Tavian.
Kenapa mereka sangat dekat?
Perasaan aneh merayap di dadanya. Sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Ia mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada hal lain. Tapi matanya terus kembali ke arah Varren—ke senyumnya, ke caranya tertawa, ke cara ia menyembunyikan rasa sakit di balik candaan.
Sylas menghela napas pelan.
Ini gila.
Bersambung...