NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Map Merah di Tangan Ayah

"Ayah..."

Suara Alea nyaris tak terdengar.

Matanya terpaku pada layar ponsel satelit yang dipegang Kirana.

Rekaman CCTV menampilkan halaman rumah keluarga Prameswari secara langsung.

Empat mobil hitam berhenti di depan gerbang.

Belasan pria berpakaian gelap turun dengan langkah teratur.

Mereka bukan perampok.

Mereka datang dengan tujuan yang sangat jelas.

Di beranda rumah...

Pram Prameswari berdiri seorang diri.

Tidak ada raut panik di wajahnya.

Tidak ada usaha untuk melarikan diri.

Di tangan kanannya hanya tergenggam sebuah map merah.

"Ayah sedang menunggu mereka..."

gumam Alea.

Kirana mengangguk pelan.

"Sepertinya begitu."

---

"Tidak!"

Alea langsung berlari menuju mobil.

Raka mengejarnya.

"Alea, tunggu!"

"Aku tidak bisa menunggu!"

"Mereka akan membunuh Ayah!"

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Selama ini ia selalu merasa ayahnya adalah sosok yang kuat.

Namun di layar itu...

Ia melihat seorang ayah yang memilih berdiri sendirian menghadapi bahaya.

Raka memegang kedua bahunya.

"Dengarkan aku."

"Kalau kita datang tanpa rencana..."

"...kita justru memperburuk keadaan."

"Tapi aku tidak bisa diam!"

"Aku tahu."

Raka memeluk Alea erat.

"Dan aku berjanji..."

"...kita akan membawa ayahmu pulang."

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Alea tidak menolak pelukan itu.

Ia menangis dalam diam.

---

Sementara itu...

Di rumah keluarga Prameswari.

Pram memandang pria-pria yang mulai menaiki anak tangga menuju beranda.

Langkah mereka berhenti sekitar tiga meter di depannya.

Seorang pria bertubuh tinggi maju selangkah.

"Pak Pram."

"Sudah lama."

Pram tersenyum tipis.

"Aku mengenal suaramu."

"Meski wajahmu berubah."

Pria itu tertawa kecil.

"Berarti ingatanmu masih bagus."

Pria itu melepas topi dan kacamata hitamnya.

Wajahnya mulai terlihat.

Pram menghela napas panjang.

"Aku sudah menduga..."

"...kamu masih hidup, Leonard."

Pria itu tersenyum.

"Ternyata firasatmu benar."

---

Leonard Mahesa melangkah mendekat.

Tatapannya jatuh pada map merah di tangan Pram.

"Itu yang kami cari."

Pram menggeleng pelan.

"Sudah dua puluh tahun..."

"...kamu masih mengejar benda yang sama."

"Bukan bendanya."

"Melainkan isinya."

Pram mengusap pelan permukaan map tersebut.

"Kalau aku menyerahkannya..."

"...akan ada banyak keluarga yang hancur."

Leonard tertawa.

"Dan kalau tidak menyerahkannya..."

"...keluargamu yang akan hancur."

---

Di sisi lain kota...

Mobil yang ditumpangi Raka melaju membelah jalanan menuju Jakarta.

Adrian duduk di kursi depan sambil terus berkomunikasi dengan timnya.

"Semua akses menuju rumah Pak Pram sudah ditutup."

"Kita tidak bisa mengirim pasukan?"

"Tidak."

"Perintahnya baru turun."

Adrian memukul pelan dashboard mobil.

"Sial!"

Kirana yang duduk di belakang membuka laptop kecilnya.

"Tunggu."

"Aku masih bisa masuk ke kamera rumah."

Beberapa detik kemudian layar menampilkan ruang tamu.

Wajah Leonard terlihat semakin jelas.

Raka mengepalkan tangan.

"Dia benar-benar masih hidup."

---

Tiba-tiba...

Melati yang sejak tadi diam mendadak berkata pelan.

"Pram tidak akan menyerahkan map itu."

"Kenapa?"

Karena...

"...di dalam map merah itu bukan hanya daftar nama."

"Melainkan surat wasiat."

"Wasiat?"

Melati mengangguk.

"Wasiat pendiri Garuda Capital."

Semua menoleh bersamaan.

Melati melanjutkan.

"Kalau surat itu dibuka di pengadilan..."

"...seluruh kepemilikan jaringan Garuda akan berpindah."

"Bukan kepada Leonard."

"Tapi kepada ahli waris yang sah."

Raka mengernyit.

"Siapa ahli warisnya?"

Melati memejamkan mata sejenak.

Lalu menatap Raka.

"Kamu."

Mobil mendadak sunyi.

Bahkan suara mesin seolah menghilang.

"Aku?"

"Kamu pewaris terakhir."

"Karena ayah kandungmu..."

"...adalah salah satu pendiri Garuda Capital yang berusaha membongkar kejahatan dari dalam."

Raka tidak mampu berkata apa-apa.

Selama ini ia mengira keluarganya hanyalah korban.

Ternyata...

Ayah kandungnya adalah bagian dari awal berdirinya organisasi itu.

Dan kini...

Seluruh perburuan bukan hanya demi dokumen.

Tetapi juga demi dirinya.

---

Di rumah Pram...

Leonard mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke dada Pram.

"Kesempatan terakhir."

"Serahkan map merah itu."

Pram tersenyum tenang.

"Kalau memang harus mati..."

"...aku lebih memilih mati sebagai ayah yang melindungi anaknya."

Leonard menghela napas pelan.

"Kalau begitu..."

"...selamat tinggal."

Jarinya mulai menarik pelatuk.

Namun tepat di saat itu...

**DOR!**

Terdengar suara tembakan dari arah luar pagar.

Peluru mengenai tangan Leonard hingga pistolnya terpental.

Semua orang spontan menoleh.

Sebuah mobil hitam menerobos gerbang rumah.

Pintunya terbuka sebelum mobil benar-benar berhenti.

Seseorang keluar sambil membawa senapan.

Begitu melihat sosok itu...

Pram membelalakkan mata.

"Astaga..."

"Kamu masih hidup?"

Orang itu menurunkan senapannya perlahan.

Lalu tersenyum.

"Aku pulang untuk menepati janjiku, Pram."

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!