Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tumbal Keluarga Pradipta
"Jangan membantah, Mireya! Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi anak yang egois dan tidak tahu balas budi!"
Suara bariton yang menggelegar itu seketika memecah keheningan ruang tamu berlantai semen itu. Mireya, gadis berusia dua puluh satu tahun yang mengenakan gaun katun lusuh bermotif bunga, tersentak mundur. Kedua tangannya yang mulus bergetar, meremas ujung bajunya dengan erat.
Di hadapannya, berdiri dua orang paruh baya dengan pakaian yang tampak sangat kontras dengan isi rumah panggung ini. Ardan Pradipta, sang ayah, mengenakan kemeja katun bermerek yang kusut di bagian lengan, sementara istrinya, Fiona Pradipta, berdiri di sampingnya sembari terus mengipas lehernya yang berkeringat menggunakan dompet kulit mahal.
"Tapi, Papa... Reya tidak kenal siapa Tuan Calix David. Kenapa Reya harus menikah dengannya secara mendadak seperti ini? Lagipula..." Mireya menggantung kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Reya sudah punya Naren. Kami sudah berjanji akan—"
Plak!
Fiona menggebrak meja kayu tua di dekatnya, memotong ucapan Mireya dengan kejam. "Naren lagi! Naren lagi! Apa pemuda kampung yang cuma bisa mengandalkan hasil kebun itu bisa menyelamatkan perusahaan Papa yang mau bangkrut? Bisa dia membiayai pengobatan adikmu, Aiden?"
"Mama..." lirih Mireya, air matanya mulai luruh membasahi pipi ranumnya. "Kenapa selalu Reya yang harus mengalah? Sejak kecil Reya ditaruh di desa ini bersama Nenek, sedangkan Aiden..."
"Cukup, Mireya!" Ardan menyela dengan nada dingin, sorot matanya tajam tanpa ada kehangatan seorang ayah. "Adikmu menderita hemofilia parah. Saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit kota, butuh transfusi dan obat-obatan yang harganya ratusan juta tiap bulan. Sementara bisnis properti Papa ditipu rekan bisnis. Kita di ambang kehancuran!"
"Lalu apa hubungannya dengan Tuan Calix, Pa? Kenapa harus Reya?" tanya Mireya dengan suara serak, menuntut keadilan yang tidak pernah ia dapatkan sejak lahir.
Fiona melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Mireya dengan cengkeraman yang terasa menyakitkan. "Karena Tuan Calix David hanya mau membantah rumor miring tentang dirinya dengan cara menikahi gadis yang masih polos, bersih, dan... bersedia menandatangani kontrak rahim selama satu tahun."
Mireya mematung. Kepalanya mendadak pening. "Kontrakan... rahim?"
"Benar," jawab Ardan, memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap mata tulus putrinya yang penuh luka. "Kamu hanya perlu menikah dengannya selama satu tahun. Tugasmu adalah mengandung dan melahirkan anak untuk David Group. Setelah anak itu lahir, kamu akan diceraikan, dan Papa akan mendapatkan suntikan dana segar senilai lima puluh miliar rupiah. Itu lebih dari cukup untuk menyelamatkan kita semua, termasuk mengobati adikmu."
"Satu tahun, Reya. Hanya satu tahun!" Fiona menguncupkan jemarinya, memohon dengan air mata buaya yang mulai dipaksakan keluar. "Tolong kasihanilah Aiden. Dia adik kandungmu. Apa kamu tega melihatnya mati perlahan karena kita tidak punya uang untuk membeli obatnya?"
Mireya menggelengkan kepala perlahan, merasa dunia di sekitarnya mendadak berputar. "Ini gila, Ma. Ini salah. Reya bukan barang yang bisa disewakan. Bagaimana dengan masa depan Reya? Bagaimana kalau... kalau rumor itu benar?"
"Rumor yang mana?" tanya Fiona cepat.
"Reya pernah dengar dari orang-orang kota yang berkunjung ke desa... Tuan Calix David itu pria yang kejam, berdarah dingin, dan dia... dia impoten. Dia tidak bisa memberikan keturunan, makanya dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun!" jerit Mireya frustrasi.
Ardan mendengus remeh. "Impoten atau tidak, itu bukan urusanmu. Tugasmu hanya berusaha. Kalau dalam satu tahun kamu tidak bisa hamil, itu salahmu karena tidak becus melayaninya! Yang jelas, dokumen kontrak sudah Papa bawa. Kamu harus ikut kami ke kota sore ini juga!"
"Tidak mau, Pa! Reya tidak mau!"
Mireya berbalik, berniat berlari menuju kamar belakang tempat neneknya yang sedang sakit tertidur. Namun, langkahnya langsung dihadang oleh dua pria berbadan tegap—pengawal yang sengaja dibawa oleh Ardan dari kota.
"Lepaskan! Lepas!" teriak Mireya saat kedua lengannya dicekal kuat. "Nenek! Nenek, tolong Reya!"
"Jangan berteriak, Mireya! Nenekmu yang jompo itu sedang tidur setelah minum obat. Jangan buat dia jantungan dan mati mendadak karena ulahmu!" bentak Ardan, suaranya naik satu oktav.
Mireya langsung bungkam. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi dadanya yang naik turun akibat napas yang memburu. "Papa jahat... Mama jahat... Kenapa Papa dan Mama hanya menyayangi Aiden? Apa karena Reya lahir sebagai perempuan?"
Fiona menghela napas panjang, lalu memberi kode kepada pengawal untuk melonggarkan cekalannya. Dia mendekati Mireya, mengusap helai rambut putrinya dengan pura-pura lembut.
"Reya, dengarkan Mama. Tuan Calix itu pria terkaya di kota ini. Umurnya memang tiga puluh lima tahun, beda jauh darimu yang baru dua puluh satu tahun. Tapi wajahnya sangat tampan. Kamu tidak akan kelaparan di sana. Semua fasilitas mewah akan kamu dapatkan," bujuk Fiona dengan nada manis yang berbisa.
"Reya tidak butuh kemewahan, Ma. Reya cuma mau hidup tenang di desa ini..."
"Tapi desa ini tidak bisa menyelamatkan nyawa adikmu!" potong Ardan keras. Pria itu mengeluarkan selembar kertas bermaterai dari dalam tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja kayu. "Tanda tangani ini sekarang, atau Papa akan menghentikan seluruh biaya pengobatan Nenekmu di desa ini. Biarkan dia mati bersama egoismu!"
Mireya menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih perih daripada sayatan pisau. Pria di hadapannya ini adalah ayah kandungnya, namun tega mengancam nyawa ibu kandungnya sendiri—sang Nenek—hanya demi uang dan bisnis.
"Kenapa Papa sekejam ini pada Reya...?" bisik Mireya lirih. Tenaganya seolah menguap ke udara.
"Papa tidak punya pilihan, Reya. Sekarang, pilih. Selamatkan Aiden dan Nenekmu dengan menandatangani kontrak ini, atau biarkan keluarga kita hancur bersama-sama?" Ardan menyodorkan sebuah pena hitam ke tangan Mireya yang gemetar.
Mireya memandangi pena itu, lalu beralih ke dokumen yang bertuliskan 'Surat Perjanjian Pranikah dan Kontrak Keturunan David Group'. Pikirannya melayang pada wajah Naren, kekasihnya yang berjanji akan melamarnya setelah panen cengkih bulan depan.
Maafkan aku, Kak Naren... Kita tidak akan pernah bisa bersama, jerit Mireya dalam hati.
Dengan tangan yang terus bergetar hebat dan air mata yang mengaburkan pandangan, Mireya menggoreskan tanda tangannya di atas materai tersebut. Begitu pena itu diangkat, Fiona langsung merebut kertas itu dengan wajah penuh kemenangan.
"Bagus! Anak pintar. Sekarang, tidak usah bawa baju-baju kampungmu yang kumal ini. Di kota, Tuan Calix sudah menyiapkan segalanya untukmu," kata Fiona riang, lenyap sudah wajah sedihnya yang tadi.
"Reya mau pamit sama Nenek dulu, Ma..." lirih Mireya.
"Tidak usah! Waktu kita mepet, Tuan Calix sudah menunggu di hotel bintang lima kota untuk pertemuan pertama malam ini. Ayo jalan!" Ardan langsung menarik lengan Mireya tanpa memedulikan langkah gadis itu yang tersandung-sandung.
Mireya hanya bisa menoleh ke belakang, menatap rumah masa kecilnya yang semakin menjauh. Di dalam mobil mewah yang melaju kencang meninggalkan desa, Mireya meremas dadanya yang sesak. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya yang damai telah berakhir. Dia telah resmi menjadi barang sewaan demi rahimnya, untuk seorang pria misterius bernama Calix David.
semangat terus ya Thor...